Pencegahan Tindak Korupsi Sejak Dini

Oleh : M. Afnan Hadikusumo (Anggota DPD-RI dari Daerah Pemilihan DIY)
Oleh : M. Afnan Hadikusumo (Anggota DPD-RI dari Daerah Pemilihan DIY)

Menarik ketika kita mengikuti kabar di media masa yang memberitakan keputusan Pengadilan Inggris menolak permohonan pemerintah Indonesia untuk bisa mengintervensi kasus pencairan uang di Banque Nationale de Paris (BNP) Paribas sebesar 36 juta euro oleh Garnet Investment (perusahaan milik Tommy) karena diduga hasil korupsi. Dapat dikatakan Tommy Soeharto menang melawan pemerintah RI dalam sengketa pencairan uang sebesar 36 juta euro atau setara dengan Rp 500 milyar di Pengadilan Kerajaan Inggris atau Court Buckingham Palace. Ada pula ribut-ribut masalah wisma atlet, masalah Hambalang, penyimpangan dana Sea Games, bahkan juga penyimpangan dalam penyelenggaraan PON di Riau.

Ironisnya, dalam waktu yang sama kondisi menyedihkan tampak kota-kota besar dimana jalanan dijejali para pengemis yang mengharapkan rejeki dari para dermawan, sehingga fenomena membanjirnya pengemis di jalanan ini membuat masyarakat dan pemerintah resah, ujung- ujungnya MUI sempat akan mengeluarkan fatwa haram mengemis di jalan.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melansir kerugian negara akibat korupsi mencapai Rp 39,3 triliun sepanjang 2004-2011. Padahal, Indonesia dapat membangun berbagai infrastruktur dan memperbaiki kualitas hidup orang Indonesia jika korupsi dapat ditekan.

Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas, menjelaskan, kerugian negara tersebut dapat dipergunakan untuk membangun 393 ribu unit rumah baru, pendidikan gratis untuk 68 juta anak Sekolah Dasar selama setahun penuh, dan membelikan 7,9 juta unit komputer di sekolah-sekolah sebagai sarana belajar.

Korupsi yang sudah mendarah daging di negeri ini memunculkan perdebatan panjang tentang siapa yang harus memberantasnya. Hal ini terjadi karena sudah terjadi distrust kepada para aparat penegak hukum bahkan juga di kalangan legislatif. Oleh karenanya dibentuklah lembaga khusus yang menangani persoalan ini yang bernama KPK dengan payung hukum berupa Undang-undang. Lembaga ini sempat membuat para koruptor lari lintang pukang, tapi selain itu para koruptor tersebut ternyata juga menyusun kekuatan kembali dan melakukan reorganisasi serta remodifikasi modus operandi.

Menurut Bagir Manan mantan Ketua MA, awal korupsi itu bersumber dari tingkah laku politik, birokrasi, dan prilaku sosial. Sehingga, untuk pencegahannya itu harus dilakukan oleh pihak-pihak di luar penegak hukum. Semakin tinggi jabatan, kewenangan dan kekuasaan seseorang, semakin terbuka peluang untuk menyalahgunakannya. Dan setiap orang yang memiliki kekuasaan, kewenangan dan jabatan, cenderung memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan pribadi, golongan maupun kelompok, menggunakan jurus aji mumpung.

Oleh karena itu korupsi bisa dikatakan sebagai kejahatan keji, karena satu pihak diuntungkan sedangkan pihak lain (Negara/masyarakat) dirugikan. Sehingga pemberantasan korupsi tidak hanya tugas aparat penegak hukam saja, akan tetapi seluruh elemen masyarakat.

Korupsi

Ada beragam cara untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi. Salah satu yang terpenting adalah melalui pendidikan, pendidikan di lingkungan keluarga maupun di sekolah.

Keluarga merupakan tempat pertama bagi individu untuk bersosialisasi. Oleh karena itu keluarga sangat penting dalam mendidik watak dan karakter individu. Sikap yang penting ditanamkan adalah seperti kejujuran, bertanggung jawab, taat aturan dan sebagainya. Seorang anak di dalam keluarga hendaknya sejak dini dididik untuk sadar akan nilai-nilai hukum dan moral. Orang tua hendaknya mengajari anaknya agar senantiasa bersikap jujur dalam kesehariannya. Di Jepang misalnya, budaya malu pada masyarakat pun dicontohkan oleh para pemimpin Jepang sebagai upaya mendidik warganya mewujudkan kultur anti- korupsi. Para pemimpin Jepang berani mundur dari jabatannya ketika tersandung kasus korupsi. Perilaku birokrat negeri sakura ini merupakan pembelajaran yang sungguh mulia dan elegan guna mendukung terwujudnya kultur antikorupsi secara jitu.

Sekolah juga penting dalam mendidik anak muridnya agar memiliki mental yang tegas dan sadar akan nilai-nilai hukum dan moral. Sikap kejujuran bisa diupayakan seperti dengan diciptakannya kantin kejujuran di sekolah serta upaya-upaya lainnya seperti dilarang berbohong, mencontek, menyogok teman dan sebagainya. Sekolah juga bisa memasukan materi pelajaran mengenai pendidikan anti korupsi demi memupuk watak yang baik bagi murid-muridnya. Agaknya Indonesia perlu mencontoh Jepang dalam penerapan pendidikan karakter. Di negeri yang kini tengah berduka oleh bencana tsunami, pendidikan karakter diajarkan dalam pelajaran “seikatsuka” atau pendidikan tentang kehidupan sehari-hari. Siswa SD diajari tatacara menyeberang jalan, adab di dalam kereta, yang tidak saja berupa teori, tetapi guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktikkannya. Norma dalam masyarakat Jepang sangat terkait dengan ajaran Shinto dan Budha, tetapi menariknya agama ini tidak diajarkan di sekolah dalam bentuk pelajaran wajib, seperti halnya di Indonesia. Nilai-nilai agama diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Karenanya, pendidikan moral di sekolah Jepang tidak diajarkan sebagai mata pelajaran khusus, tetapi diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. (Murni Ramli: 2008)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari terbitan MPI PDM Kota Yogyakarta No. 6 tahun ke – 19, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait