Pembinaan Generasi Muda di Kampung

Gambar Pembinaan Generasi Muda di Kampung
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Perkembangan ilmu pengetahuan pasti akan selalu berdampak pada tata kelola kehidupan di masyarakat. Tidak ada seorangpun akan mampu menghentikan perkembangannya. Masyarakat Indonesia sekarang ini dan di masa mendatang merupakan masyarakat yang berbudaya teknologi, yaitu bahwa perkembangan teknologi telah berlangsung sedemikian rupa hingga tersebar luas dan mempengaruhi segenap bidang kehidupan.

Perkembangan teknologi masa kini berkembang sangat pesat. Teknologi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia sehari – hari karena teknologi adalah salah satu penunjang perkembangan manusia dibelahan masyarakat; teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi, pangan, dan masih banyak lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya inovasi-inovasi yang telah dibuat di dunia ini. Dari yang canggih hingga yang sederhana bahkan yang menghebohkan dunia.

Di masa awal Muhammadiyah menjejakkan kaki dan disosialisasikan kepada masyarakat, banyak yang menentang kehadirannya. Bukan hanya ejekan yang diterima, namun sudah menjurus kekerasan fisik. Kyai Dahlan dan sahabatnya bukanlah tipe orang yang rapuh terhadap godaan. Bagi mereka keyakinan memurnikan ajaran Islam adalah mutlak. Oleh karenanya Muhammadiyah tetap tawadlu pada pendirian yaitu amar makruf nahi mungkar.

Sebagai salah satu komponen dalam berbangsa dan bernegara, Muhammadiyah senantiasa memberi kontribusi dan sumbangsih untuk keutuhan warga Negara. Tidak mengherankan bila kader persyarikatan selalu terlibat keputusan yang krusial dalam menentukan masa depan Indonesia. Kyai Dahlan sendiri terlibat dalam setiap kegiatan yang dilakukan ortom. Beliau sangat dekat dengan murid dan kader persyarikatan. Sifat beliaulah yang memberi warna bagi Pimpinan yang selalu mengutamakan kader dalam menggerakkan organisasi.

Tidak berlebihan bila Pimpinan selalu berdialog dan tatap muka langsung dengan semua unsur yang ada di bawahnya. Pimpinan yang tidak lupa terhadap warga. Sebagai penggerak langsung dengan aktifitas organisasi, pimpinan ranting senantiasa mengajak kader untuk bersama-sama memikirkan lengkah-langkah Muhammadiyah agar tepat sasaran.

Sekarang saya melihat wajah pemuda berumur seputar 18 tahun ke bawah. Saya menganggap sesuatu yang positif. Dengan adanya anak seumuran seperti itu berada di kampung dan ikut aktif menggerakkan masyarakat, berarti roda aktifitas masyarakat akan selalu berputar. Karena mereka rata-rata masih sekolah SLTA dan kebanyakan masih ikut dengan orangtua. Belum merantau untuk kuliah atau bekerja diluar kota.

Ada 3 saran yang saya lontarkan dalam pertemuan yang diselimuti dingin yang menyengat :

  1. Pengembangan Pribadi

Rata-rata Pimpinan Ranting PM, NA, IPM didominasi oleh anak-anak sekolah di SMA atau SMK. Psikolog memandang anak usia SMA/SMK sebagai individu yang berada pada tahap yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa.

Bagi Ortom, kondisi ini sangat ideal untuk pembinaan. Pengembangan pribadi yang sangat bermanfaat sebagi bidang garap yang perlu diupayakan secara terus menerus. Aktifitas yang tepat adalah perluasan wawasan berbangsa, berpengetahuan, iptek, atau penanaman karakter. Meningkatkan keterampilan dan mengembangkan wawasan harus menjadi prioritas utama. Ilmu yang didapatkan saat ini, tahun depan mungkin sudah tidak relevan lagi, apalagi bila bergerak dalam bidang teknologi. Sebelum mengurus orang lain, sebelum menekuni organisasi, ciptakan pribadi yang mandiri dan berkompeten.

  1. Berorganisasi

Beruntunglah ortom yang memiliki Muhammadiyah. Berorganisasi bagi setiap Pimpinan adalah lahan. Lahan untuk beribadah, berorganisasi dan bermasyarakat. Organisasi menjadi tempat atau ruang yang sangat positif dalam pengembangan kepribadian seorang remaja. Melalui organisasi seorang remaja akan memiliki tempat belajar untuk mendapatkan pengalaman yang positif.

Pengalaman berorganisasi mampu membentuk kepribadian seorang remaja melalui proses belajar berinteraksi dengan orang lain seperti belajar bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan bersama. Belajar untuk mau dan mampu melakukan sesuatu hal. Belajar untuk memahami potensi yang dimiliki dalam dirinya.

Berorganisasi adalah sarana untuk belajar menjadi Pemimpin atau dipimpin. Organisasi menjadi tempat yang sangat baik untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam hal kepemimpinan dan manajemen yang baik. Proses interaksi dan kerjasama yang terjadi antara kepengurusan organisasi dan anggotanya mampu membangun sikap bagi peran dan tanggungjawab seseorang untuk bersikap profesional. Sehingga seseorang mampu memahami tanggungjawab sesuai dengan porsinya masing-masing.  Memahami tugas dan tanggungjawab yang dimiliki adalah hal yang paling utama dalam berorganisasi.

  1. Program Kerja

Ada orang, ada organisasi, bila tak ada program kerja sama saja orang mengobrol. Ada program tapi tidak ada yang menggerakkan sama saja dengan teks mati. Membuat program kerja yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain juga tidak mudah, karena organisasi itu terdiri dari beberapa orang yang setiap kepala punya kemauan yang berbeda. Menjalankan kegiatan sesuai dengan program kerja juga membutuhkan ketrampilan. Memerlukan seni berkomunikasi.

Dikarenakan  yang akan melaksanakan anak yang baru belajar, apa salahnya bila program kerjanya disesuaikan dengan ketrampilan yang dimiliki. Oleh karenanya Pimpinan Persyarikatan supaya menyediakan sarana berupa kegiatan yang menunjang kompetensi anak. Buat kegiatan sesuai dengan jurusan anak namun sifatnya menghibur.

Dalam menjalankan roda organisasi, pengurus atau fungsionaris seringkali terjebak dalam paradigma bahwa yang membuat perencanaan program kerja organisasi adalah pimpinan organisasi. Paradigma tersebut tidak benar.

Dalam membuat perencanaan program kerja organisasi, seluruh pelaku organisasi haruslah terlibat secara aktif. Dari membuat analisa kondisi dan sumber daya organisasi hingga pada penetapan program yang tepat bagi organisasi pada satu periodesasi kepemimpinan. Dengan melakukan analisis kebutuhan dan penyusunan program secara bersama-sama, maka pada saat pelaksanaan program tersebut kendala dari internal organisasi dapat diminimalisir. Selain itu seluruh pelaku organisasi akan mampu mengeksekusi program tersebut dengan baik dikarenakan merekalah yang merencanakan dan memahami secara benar indikator dari keberhasilan program tersebut.

Dalam membuat perencanaan program kerja organisasi, seluruh pelaku organisasi haruslah terlibat secara aktif
Dalam membuat perencanaan program kerja organisasi, seluruh pelaku organisasi haruslah terlibat secara aktif (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait