Pemberdayaan Organisasi Non Profit

Gambar Pemberdayaan Organisasi Non Profit
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Harus diakui bahwa Muhammadiyah yang telah berumur 1 abad ini, tidak pernah diduga sebesar ini. Muhammadiyah, saat awal tumbuh hanya ingin mengaplikasikan ayat-ayat dalam al-Qura’an ke dalam bentuk karya nyata sesuai dengan kondisi lingkungan. KHA Dahlan, rekan dan murid-muridnya mampu mengoptimalkan harta dan kemampuan berfikir mendarma baktikan kepada masyarakat. Dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan, tidak mampu berfikir logis, hingga kejumudan yang menghinggapi masyarakat kala itu.

Muhammadiyah adalah organisasi yang mandiri, menghidupkan organisasi dengan tenaga dan biaya dari anggotanya sendiri. Tak pernah melakukan transaksi sejumput dana dengan keyakinan yang telah menjadi identitas Muhammadiyah. Hingga kini kondisi seperti ini masih tetap utuh dijaga. Oleh karenannya orang tidak akan pernah sanggup membeli Muhammadiyah.

Ada yang menggolongkan bahwa Muhammadiyah adalah salah satu organisasi masyarakat non profit. Organisasi yang tidak mencari keuntungan. Maka secara umum banyak orang yang memiliki persepsi bahwa berorganisasi itu adalah kegiatan berkumpul bersama untuk menuju suatu tujuan tanpa memikirkan laba. Organisasi ini melakukan aktifitasnya melayani masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan. Kegiatan dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan para anggota atau pengurus.

Lembaga non profit atau nirlaba merupakan salah satu komponen dalam masyarakat yang peranannya terasa menjadi penting. Saat ini semakin banyak lembaga nirlaba tumbuh dan berkembang. Semangat berorganisasinya dilandasi atas semangat berbagi.

Keuntungan atau profit dalam organisasi non profit bukanlah prioritas utama. Motif organisasi non profit pada umumnya berbasis motif altruistik, motif moral, dan motif sosial. Altruistik merupakan semangat untuk memperhatikan kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Ghirah ini bisa tumbuh karena sikap terhadap perhatian agama, dimana ajaran agama memerintahkan supaya bersikap adil terhadap orang lain. Perilaku menjunjung tinggi perintah agama merupakan perintah tertinggi, sehingga altruisme harus dikedepankan. Karena altruisme adalah lawan dari egoisme.

Pertumbuhan organisasi

Tahap awal dari organisasi non profit adalah ide. Gagasan untuk membentuk organisasi non profit bisa dari perorangan atau kelompok. Gagasan ini terus menggelinding dan membesar tanpa dapat dibendung karena melihat situasi. Peristiwa dari sebuah ide sampai pada sebuah gerakan dinamakan sebuah organisasi.

Pada awalnya Kyai Dahlan resah terhadap perilaku kehidupan agama yang tidak sesuai dengan tuntunan  Rasulullah. Perilaku takhayul, bid’ah dan khurafat dipelihara bahkan oleh tokoh agama. Untuk meluruskan kehidupan beragama yang demikian itu bukan perkara yang mudah. Tantangan justru dari datang dari lingkungannya. Hanya beberapa kerabat keluarga yang mampu melihat kemana arah dan tujuan Kyai Dahlan. Sehingga tatkala setelah Langgarnya dirobohkan, kerabat keluarganya mampu meluluhkan hati Kyai agar tidak pergi dari rumah dan membangun kembali Langgar yang lebih bagus.

Fase kedua Pelembagaan. Tahap ini kebijakan atau aturan mulai dibuat dan diberlakukan pada seluruh sumber daya manusia yang ada. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, organisasi ini telah mengarah ke professional. Tujuan telah ditetapkan secara tertulis. Dasar-dasar organisasi juga diterapkan. Pembagian tugas juga telah dibuat, dipisahkan sesuia dengan profesi.

Setelah mendapat pengakuan dari masyarakat dengan gerakan riil untuk pencerahan, Kyai Dahlan melebarkan sayap dengan melakukan pendidikan yang dikemas dalam bentuk sekolah. Meskipun masih mendapat cemooh dari masyarakat, Kyai dan kerabat terus melakukan perbaikan. Salah satunya berguru pada perkumpulan Boedi Utomo.  Dari ilmu yang didapat, Kyai Dahlan mulai menyusun struktur organisasi. Mengapa Kyai Dahlan mendapat perlakuan yang istimewa dihadapan Boedi Utomo. Karena kesupelan beliau dan organisasi yang dikembangkan telah menjadi barang yang siap ditawar. Artinya, bahwa Kyai Dahlan bisa menunjukkan sebuah gerakan yang oleh orang lain mendapat nilai lebih. Posisi tawar inilah Kyai Dahlan lebih leluasa untuk mengembangkan.

Periode berikutnya adalah pengembangan organisasi. Di tahap ini organisasi mulai mendistribusikan tugas dan kewenangannya serta perluasan struktur dalam rangka mencapai cita-cita. Periode ini juga ditandai dengan meningkatnya jumlah anggota yang bergabung.

Setelah 14 tahun lamanya Muhammadiyah berkutat di Yogyakarta, maka pada tahun ke-15 mulai melebarkan sayap ke Surabaya. Rapat Muhammadiyah ke-15 ini sebagai jembatan agar Muhammadiyah sudah mulai memikirkan anggotanya di luar Yogyakarta. Menyapa anggota merupakan ciri khas. Disinilah orang lain digembirakan, sehingga orang akan tertarik terhadap gerakan Muhammadiyah. Imbasnya, orang diluar jawapun kepincut terhadap Muhammadiyah. Maka konggres ke-19 pada tahun 1930 Muhammadiyah mulai merambah di luar jawa.

Tahap selanjutnya koordinasi. Fase ini jaringan semakin luas, mitra kerja semakin banyak, interaksi dengan lembaga lain semakin intensif. Kinerja yang diperlukan  adalah koordinasi agar kebijakan cabang tidak melenceng dari induk. Tahap ini merupakan tahap alamiah pertumbuhan organisasi dalam menjawab sejumlah persoalan yang muncul.

Awal Muhammadiyah berdiri, sesungguhnya kita harus berterima kasih kepada para saudagar atau pedagang. Dari tangan dan ketelatenan beliau-beliau Muhammadiyah dapat menjalar sampai pelosok tanah air. Mereka berdagang sambil berdakwah. Tidak ada uang saku untuk mengajarkan misi Kyai Dahlan. Masa itu memang kaum pedagang menguasai kendali tatanan masyarakat.

Setelah pemerintahan Indonesia mulai membaik dalam mengelola kehidupan sosial kemasyarakatan, maka kaum birokrat mulai menguasai alur pemerintahan. Birokrat menjadi kelas baru dalam masyarakat. Muhammadiyahpun tak luput dari budaya yang dianut oleh pemerintah. Cara-cara mengelola Muhammadiyah mengikuti perilaku birokrasi yang ada dalam pemerintah.

Tahap berikutnya stabilitas. Periode ini merupakan puncak dari organisasi non profit. Kegiatan yang sering dilakukan biasanya pembakuan aturan, kebijakan, standarisasi aktivitas, penerapan system atau prosedur. Organisasi mulai membuka diri terhadap organisasi atau lembaga lain dalam menggalang kerja sama. Disinilah jati diri organisasi diuji. Organisasi yang tetap berpegang pada khittahnya akan semakin disegani.

Orde reformasi, merupakan masa penjungkir balikkan keadaan. Periode militerisme telah berakhir berganti dengan fase sipil yang semakin kuat. Alam keterbukaan semakin transparan dan sangat jelas teknisnya. Tidak ada lagi yang bisa ditutupi. Muhammadiyah telah mengenal transparasi sejak lahir. Dalam beberapa segi, kebijakan seperti pengkaderan dalam Muhammadiyah telah dipakai oleh lembaga lain, bahkan oleh pemerintah.

Muhammadiyah saat ini jelas berbeda dengan sepuluh atau lima tahun yang lalu.  Bila Muhammadiyah hanya sebagai tujuan berorganisasi, mata tunggulah saat kepunahannya. Namun kalau Muhammadiyah sebagai sarana untuk berkreasi, memberdayakan, dan meningkatkan kompetensi baik pribadi ataupun kelompok, ada harapan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi non profit  tetap eksis yang akan mengantarkan manusia menuju tujuan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Semangat berorganisasi NGO dilandasi atas semangat berbagi
Semangat berorganisasi NGO dilandasi atas semangat berbagi (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait