Pedulilah Pada Isyarat Anak

PENULIS Hadi Nuryanto

Anak tak selamanya hidup bersama kita, orang tuanya atau gurunya. Diantara tugas kita sebagai orang tua adalah membesarkan dengan kasih sayang, mengasuh, dan mendidiknya agar bisa hidup mandiri “lepas” dari kita.

Memiliki anak yang sempurna adalah harapan setiap orang tua. Alangkah bahagianya para orang tua apabila anaknya tumbuh berkembang dengan baik, tidak bermasalah, mudah beradaptasi terhadap lingkungan, patuh kepada orang tua, serta taat beribadah. Akan tetapi bagaimana jika ternyata anak kita, buah hati yang sangat kita cintai sepenuh hati, bermasalah?

Anak bermasalah yang dimaksud adalah anak yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orang tua, tidak sesuai dengan norma-norma atau nilai-nilai agama.

Berikut ini akan saya sampaikan contoh-contoh kasus anak yang ini sebenarnya merupakan isyarat yang menunjukkan anak bermasalah dilingkungan sosialnya baik anak kita sebagai pelaku maupun sebagai korbannya yaitu tentang mewaspadai perilaku pemalak cilik.

Pemalakan atau pengompasan sekarang ini terjadi tidak hanya pada orang dewasa saja tetapi sudah banyak kejadian pada anak baik di lingkungan pergaulan anak di masyarakat maupun  di lingkungan sekolah, baik itu di tingkat SMA, SMP, dan juga sudah mulai terjadi di tingkat SD.

Kejadian di sekolah seringkali dengan cara teman sekolah meminta paksa, dan membuat kesepakatan setiap hari harus setor. Karena ancaman, anak (korban) menjadi ketakutan, pendiam, mulai berbohong kepada orang tua, dan mulai berani mencuri. Maka orang tua atau guru harus waspada pada isyarat seperti ini. Sebab kecenderungan anak-anak menyembunyikan masalahnya. Mereka takut membicarakannya karena khawatir ancaman si pemalak akan jadi kenyataan. Maka yang terjadi anak  hidup dari hari ke hari dibawah rasa tidak nyaman.

Ilustrasi pemalakan di pendidikan
Pemalakan adalah salah satu fenomena buruk di dunia pendidikan (Sumber gambar : klik disini)

Contoh Kasus 1 : Kurban pemalakan berani mencuri.

Jaja seorang siswa  kelas empat di salah satu SD Swasta di Sleman. Ia sangat penurut kepada orang tua. Ibunya tak percaya “si penurut” itu tiba-tiba sampai hati mencuri. Namun, itulah kenyataannya.

“Untuk apa uang itu, Ja?” Tanya ibunya. Ibunya berpikir keras dan mencari alasan mengapa anaknya harus mencuri uang sebesar Rp 50.000,00 dari dompetnya. Soalnya Ia tak pernah mempersulit bila anak itu membutuhkan uang.

Jaja menunduk, menggaris-gariskan ujung kakinya ke lantai. Ia tak bisa menyangkal karena tiba-tiba ibunya memergoki saat ia tengah membuka tas ibunya dan mengambil dompet serta mengeluarkan selembar uang yang bergambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai.

Setelah sekitar setengah jam “diinterogasi”, barulah Jaja mengaku, ia dipaksa kakak kelasnya “menyetor” uang. Terbuka pula, sudah enam bulan siswa kelas empat di Sleman ini dimintai uang David kakak kelasnya secara paksa. Mula-mula Rp 1.000,00, kemudian Rp 5.000,00, Rp 10.000,00 dan sampai ketika ketahuan setoran mencapai angka Rp 50.000,00.

“Pantas”, sejak duduk di kelas empat, setiap Jaja ditanya uang sakunya tidak pernah sisa, dan kegiatan menabung pun tidak rutin seperti ketika di kelas tiga. Maka keesokan harinya ibu Jaja bersama ayahnya langsung melaporkan masalah Jaja kepada wali kelas dan kepala sekolah. Akhirnya David si pemalak/pengompas dan orang tuanya dipanggil ke sekolah. David mendapat peringatan keras dan diskors. Namun kedua orang tua Jaja kepalang jengkel, mereka merasa tidak Nyaman lagi menitipkan anaknya di sekolah itu. Akhirnya Jaja dipindahkan ke sekolah lain.

Contoh Kasus 2 : Kurban Pemalakan menjadi Malas dan Takut

Dimas seorang murid kelas 3 sebuah SD di Kota Yogyakarta. Ia murid yang rajin, ceria, dan selalu semangat dalam belajarnya. Namun bapaknya yang setiap hari mengantar dan ibunya yang selalu menyiapkan sarapan dan perlengkapan sekolahnya merasa bingung dengan sikap Dimas belakangan ini. Karena setiap pagi harus merayu ketika mau berangkat sekolah.

“Kenapa kamu kelihatan lemas dan tidak cepat-cepat bersiap untuk berangkat, Mas? Tanya ibunya. Padahal setiap pagi-pagi bapaknya sudah mengeluarkan mobil dan selalu siap mengantar, sarapan dan perlengkapan sekolahnya pun telah disiapkan ibunya. “Kamu sakit, Mas?”. Dimas menggelengkan kepala.

Pada siangnya, ibu Dimas pergi ke sekolah untuk menemui wali kelasnya. Setelah bertemu wali kelas, ibu Dimas menanyakan perkembangan putranya dalam belajar dan juga keadaan ketika pelajaran di kelas. Ibunya semakin penasaran ketika wali kelasnya juga menceritakan bahwa sejak semester 2, Dimas kelihatan kurang semangat dan sering melamun ketika di kelas. Wali kelasnya pun juga baru mencari penyebabnya. Karena setiap Dimas ditanya selalu menjawab “tidak apa-apa”.

Sore harinya kedua orang tua Dimas bermaksud memeriksakan ke dokter.  Mereka khawatir ada penyakit yang menyerang Dimas. Namun Dimas menangis dan tidak mau diajak periksa.

Setelah ditanya apa yang terjadi selama ini dengan diiming-imingi hadiah, Dimas malah menyampaikan kalau minta pindah sekolah. Orang tuanya semakin penasaran. Maka dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang ibunya bertanya permasalahan yang sebenarnya, Akhirnya terbukalah teka-teki orang tuanya selama ini. “Kenapa Dimas menjadi  malas-malasan, pendiam, dan tidak ceria seperti dulu?”  Ternyata sudah satu semester Dimas dinakali teman dan kakak kelasnya. Hidupnya di sekolah dibawah ancaman geng kecil dari kakak kelas 6 dan juga teman sekelasnya.

Dimas setiap hari harus setor kepada kakak kelasnya, Dadang melalui teman sekelasnya Rian. Dadang dan Rian memang bertetangga, tempat tinggalnya di dekat terminal. Dimas harus memberi uang setiap hari Rabu dan Sabtu Rp 1.500,00 saat ada jadwal pelajaran penjasorkes. Kalau hari yang sudah ditentukan tersebut tidak memberikan maka kena denda tambahan Rp 500,00.

Betapa terkejutnya kedua orang tua Dimas mendengar cerita tentang peristiwa yang selama ini menimpa anaknya. Yang juga mengherankan, kenapa perbuatan tercela itu tidak tercium oleh siapapun. Sudah sedemikian rapikah strategi yang mereka jalankan?.

Ibunya langsung menelpon bu Rina, wali kelas Dimas. Ia menyampaikan tentang cerita peristiwa yang menimpa anaknya selama ini dan minta agar diselidiki kebenaran cerita anaknya dan meminta diselesaikan secepatnya. Setelah diadakan penyelidikan ternyata peristiwa itu benar, bahkan tidak hanya menimpa Dimas. Ada beberapa murid yang juga mengalami nasib yang serupa namun tidak satu murid pun yang melapor kepada guru atau orang tuanya. Guru pun tidak curiga karena kelihatannya mereka rukun, tidak pernah bertengkar atau berkelahi.

Akhirnya para orang tua pelaku pun dipanggil ke sekolah dan  murid-murid pelaku diadakan pembinaan.

Contoh Kasus 3 : Kurban Pemalakan Suka berbohong.

Endang menjadi heran, Arya “si pendiam” yang duduk di kelas 5 SD di Bantul itu akhir-akhir ini sering minta uang ketika mau berangkat sekolah. Padahal jatah uang sakunya setiap hari selalu diberikan.

“Untuk apa uang itu, Arya?” Tanya ibunya setiap meminta uang. Ada saja jawaban Arya untuk keperluan yang harus dibayarkan. Apa itu iuran beli buku, menjenguk teman sakit, iuran untuk hadiah ulang tahun temannya dan sebagainya. Ibunya pun percaya dan selalu memberinya.

Namun pada suatu hari ketika Arya minta uang Rp 75.000,00 dengan alasan untuk membeli buku, ibunya tidak langsung memberi. Bahkan bu Endang, ibu Arya menanyakan tentang surat edaran untuk pembelian buku tersebut. Mendapat pertanyaan itu, Arya menjadi kebingungan, namun tetap bisa berkilah bahwa pemberitahuan beli buku hanya diumumkan lesan tidak memakai edaran.

Secara diam-diam siang hari ketika menjemput, ibu Arya datang lebih awal dan  menemui wali kelas untuk menanyakan tentang perkembangan belajar anaknya dan yang lainnya. Betapa terkejut ibu Arya ketika wali kelas menyampaikan bahwa selama ini sekolah tidak pernah ada himbauan untuk beli buku dan juga iuran-iuran yang lain. Hanya setiap hari Jum’at seluruh siswa dilatih untuk infaq secara suka rela dan uangnya untuk kebutuhan kelas. Adapun iuran-iuran yang lain pasti secara resmi sekolah akan membuat edaran kepada wali siswa.

Di rumah setelah makan malam bersama, bapak dan ibu Arya sengaja mengajak ngobrol Arya. Mulanya Arya tidak mengaku dan mengatakan bahwa di sekolah tidak ada apa-apa dan baik-baik saja. Namun setelah ibunya menjelaskan bahwa siang tadi bertemu wali kelas dan akan membayarkan uang buku sebesar Rp 75.000,00 yang diminta, Arya terkejut, bingung, dan tidak bisa menutupi kebohongannya selama ini. Maka terbukalah rahasia selama ini, bahwa anaknya di sekolah hidup di bawah ancaman “sang pemalak cilik” kakak kelasnya.

“Pantas, belakangan ini banyak betul keperluan anaknya, untuk iuran beli buku, teman sakit, teman ulang tahun, dan iuran-iuran yang lain.” Padahal ternyata iuran dan setoran kepada sang pemalak.

Akhirnya perbuatan anak bermasalah ini pun ditangani dengan cepat oleh sekolah bersama para orang tua murid.

Mengungkap Pemalak dan Penyelamatan

Jaja, Dimas, dan Arya pada cerita kasus diatas merupakan contoh para  korban dari perilaku anak bermasalah. Ternyata fenomena pemalakan, ada di setiap sekolah. Hanya karena rapinya perbuatan tercela tersebut tidak semuanya bisa mengungkap. Bila orang tua tidak waspada pada isyarat dan sinyal-sinyal kemungkinan anak menjadi korban lebih jauh lagi, akhirnya masalah ini terabaikan. Karena korban cenderung menyembunyikan masalahnya, terkadang malah kelihatan sangat akrab. Seperti Jaja, Dimas, dan Arya, mereka tidak mengatakan dan mengadukan kepada guru atau orang tuanya lantaran takut ancaman pemalak akan “menghukumnya.”

Kurban pemalakan akan menyebabkan perilaku menyimpang, bisa mencuri, berbohong, menjadi pemalas dan bahkan bisa menjadi pelaku baru pemalak anak dibawahnya lagi.

Jangan mengira pelaku pemeras yang biasa disebut “pemalak” datang dari anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi. Acapkali mereka berasal dari keluarga mampu. Uang yang mereka dapatkan pun cuma sebagai pemuas nafsu jajan saja. Atau mereka ada perasaan bangga bisa memaksa anak lain mengikuti kemauannya. Ada unsur kekuasaan bermain di sini. “Bukan karena uang jajan mereka tak cukup, tapi untuk enjoy saja.”[1]

Adapun kurban pemalakan biasanya anak yang lemah dan cukup mampu secara material. Pendapat ini didukung hasil penelitian Dr. Dan Olweus, yang telah meneliti 150.000 anak dari kelas 2 hingga 9 (kelas 2 SD sampai kelas 3 SMP) menemukan bahwa kurban biasanya anak-anak pasif, sensitive dan secara fisik lemah.

Menurut Evita (Psikolog), permasalahan palak-memalak ini kompleks sekali. Penyebabnya tidak Cuma faktor ekonomi tetapi juga faktor psikologi, Sosial, dan bahkan politik. Maka dalam hal ini orang tua harus waspada terhadap anaknya jangan sampai menjadi pelaku pemalakan atau menjadi korban.

Apabila anaknya menjadi korban hendaknya melaporkan masalah ini kepada guru atau wali kelasnya. Guru harus bersikap proaktif untuk mengadakan konsultasi. Menurut pakar pendidikan Dr. Arief Rachman, M. Pd. Praktek pemalakan di kelas harus diselesaikan di kelas itu sendiri. Dengan bantuan guru dan walikelas anak menyelesaikan masalahnya sendiri di antara mereka.

Adapun untuk menyelamatkan pelaku pemalakan, ada empat langkah untuk mengatasinya, antara lain:

  1. Metode Informatif. Semuanya harus dilibatkan, baik itu orang tua, guru, dan teman anak. Lingkungan pelan-pelan menyampaikan himbauan bahwa memberi itu jauh lebih utama dari meminta, lebih-lebih dengan cara memaksa dan mengancam.
  2. Langkah Edukatif. Anak bermasalah harus diajak bicara supaya tahu sumber masalah mengapa anak memilih perilaku menyimpang. Jika ternyata perilaku itu disebabkan anak ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungannya – supaya diakui jagoan dan dipandang lebih di mata teman-teman – arahkanlah dia untuk mengaktualisasikan diri sesuai minat dan bakatnya. Namun jika sumber masalah perilaku memalak lantaran orang tua si anak tidak pernah memberinya uang jajan maka orang tua perlu disarankan untuk mencukupi kebutuhan anak.
  3. Langkah Rehabilitatif. Jika langkah pertama dan kedua sudah tidak mampu mengembalikan kesadaran anak untuk berperilaku wajar, maka perlu upaya terapis untuk menyembuhkannya. Untuk itu, perlu dilibatkan guru BP, Psikolog, dan Rohaniawan. Orang tua dan guru masih perlu terlibat.
  4. Langkah Represif. Jika tiga upaya itu tidak mampu menyelesaikannya, hanya ada satu cara, anak patut dihukum. Tentunya hukuman yang tetap mendidik, seperti membuat surat pernyataan tidak mengulang sampai tahap menskors anak.

Akhirnya tentu kita sadari bahwa membesarkan dan mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang paling utama dan hakiki. Anak adalah generasi penerus bangsa yang akan meneruskan perjuangan kita dikemudian hari. Oleh karena itu, saat anak dikatakan bermasalah, selaku orangtua harus bijaksana dalam menanganinya. Tinggalkan cara lama yang penuh amarah dan emosi, beralihlah pade teori baru yang penuh kasih sayang dan penghargaan. Jadilah orangtua yang bijak dan siapkan generasi penerus yang tumbuh berkembang secara menyenangkan, sesuai dengan harapan orang tua dan keluarga.

Perhatikan perlakuan anak, apakah ada perilakunya yang aneh atau berubah dari kebiasaan. Lihat dari hal yang sederhana, seperti :

  1. Tiba-tiba malas, enggan sekolah, ekspresi wajahnya ketakutan.
  2. Tuntutan uang saku/jajan lebih dari biasanya.
  3. Minta uang yang tidak sewajarnya dari yang dia butuhkan.
  4. Tertangkap tangan mengambil uang.

Demikian, semoga dapat menambah wawasan kita dalam melaksanakan kewajiban kita sebagai orang tua atau guru untuk membesarkan dan mendidik anak-anak dan murid-murid kita.

[1] Hasil Wawancara dengan pemalak.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 7 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Pedulilah Pada Isyarat Anak
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...