Organisasi dan Budaya Perilaku

Gambar Organisasi dan Budaya Perilaku
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Belum ada yang berani memastikan kapan organisasi sebagai sebuah keilmuan pertama kali digunakan di Indonesia. Kapan sebuah organisasi untuk pertama kali dipraktikkan dari hasil kajian teori. Secara nyata, seseorang tersadar memanfaatkan organisasi setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan yang melibatkan orang lain. Mereka lebih merasakan manfaatnya, dari pada proses yang mereka lalui.

Nenek moyang kita, secara nyata telah menggunakan organisasi untuk membangun sebuah kebudayaan. Sebagai contoh, sekumpulan orang yang membangun perkampungan. Mereka sadar bahwa untuk membangun sebuah rumah diperlukan bantuan orang lain. Mereka mengetahui bahwa pemukiman yang ditata perlu kesepakatan bersama. Kesepakatan dalam keragaman sangat diperlukan bagi masyarakat yang berbeda alam pikiran dan latar belakangnya. Budaya yang mereka ciptakan tak lain adalah untuk kemaslahatan, makanya diperlukan kebersamaan.

Manusia yang modern adalah masyarakat yang berbudaya dimana antar individu saling memahami sehingga tatanan dalam masyarakat menimbulkan keharmonisan. Untuk mencapai itu semua diperlukan organisasi, meskipun sangat sederhana. Memang harus diakui bahwa, sampai saat ini organisasi yeng terbentuk di Indonesia masih berasaskan kegotongroyongan dan kebersamaan. Batasan antar individu yang mestinya mengedepankan keahlian masih kabur.

Astrid Susanto mengemukakan bahwa suasana organisasi dan budaya organisasi khas Indonesia yang sedikit banyak masih ditandai oleh sifat budaya tradisional seperti solider organik, hierarkis, rukun dan musyawarah. Hal ini bisa dilihat pada suasana santai, akrab dan suasana seperti di rumah yang dibawa ke tempat kerja. Kebiasaan mengobrol dan bekerja yang santai pada jam kerja menunjukkan adanya nilai keakraban sosial yang masih dianggap lebih penting daripada sikap lugas terhadap waktu kerja.

Kebiasaan mengobrol dan bekerja yang santai pada jam kerja menunjukkan adanya nilai keakraban sosial yang masih dianggap lebih penting
Kebiasaan mengobrol dan bekerja yang santai pada jam kerja menunjukkan adanya nilai keakraban sosial yang masih dianggap lebih penting (Sumber : Designed by katemangostar / Freepik)

Namun demikian langkah demi langkah organisasi professional satu demi satu bermunculan. Kalangan ini mengatakan bahwa, harus ada batas yang jelas antara kekerabatan dengan kinerja sehingga jangan sampai hubungan kekeluargaan membuat organisasi mandeg atau berjalan perlahan.

Sudah banyak contoh organisasi yang mampu melepaskan diri dari ketergantungan budaya kekeluargaan. Organisasi yang demikian ini mampu menghasilkan produk yang membanggakan. Mengapa bisa tercipta suasana yang demikian? Karena era keterbukaan tidak ada lagi sekat yang membedakan kaya atau miskin, kalangan atas dan bawah sehingga setiap orang memiliki hak yang sama untuk berprestasi. Dengan kondisi tersebut tenaga professional lebih banyak tercipta, orang lebih memilih bidang keahlian yang lebih spesifik dan kita sudah mulai menapaki era kompetensi.

Nilai-nilai seperti gotong royong dan sebagainya tidak lagi diikuti sehingga pimpinan lebih menunjukkan individualisme dan konsentrasi pada keberhasilan pribadi. Atasan akan merasa sangat kecewa, malah sakit hati jika apa yang dilihatnya sebagai hasil pekerjaan tidak bisa mencapai target.

Ada empat macam budaya yang melekat dalam organisasi berdasarkan kekuasaan, peran, tugas dan orang. Keempat macam tersebut dapat saya kutipkan menurut beberapa ahli.

1. Budaya berdasarkan kekuasaan budaya.

Yang seperti ini paling banyak terdapat di Indonesia. Strukturnya bisa digambarkan seperti jaring laba-labanya berada di pusat. Pusat kekuasaan tidak harus selalu merupakan seseorang individu sebagai penguasa tunggal, melainkan dapat juga terdiri dari sekelompok kecil manusia yang memegang kekuasaan organisasi. Pada umumnya organisasi seperti ini merupakan suatu organisasi politis mengingat keputusan organisasi lebih merupakan hasil imbangan kekuatan yang ada daripada hasil prosedur atau tindakan yang wajar dan masuk akal.

Kekuatan organisasi semacam ini terletak pada kecepatan pada tindakan dan lebih tanggap dalam menghadapi ancaman dan perubahan-perubahan. Bagi karyawan yang berorientasi politis, senang berkuasa, suka mengambil atau mencari resiko dan kurang mementingkan keamanan, organisasi semacam ini merupakan lingkungan kerja yang paling menawan hati. Pengendalian kekuatan dan arah kegiatan dilakukan atas dasar pengendalian dana dan sumber dana.

2. Budaya atas dasar peran budaya.

Menurut Weber organisasi yang berdasarkan birokrasi yang benar umumnya lebih sempurna dibandingkan organisasi bentuk lain dikarenakan memiliki ketepatan dan kecepatan bertindak serta mengurangi biaya bahan maupun biaya pegawai. Penalaran mengenai efektivitas birokrasi adalah disiplin yang superior dan adanya pengendalian atas tingkat peran.

Semua pekerjaan dilakukan secara teratur, sistematis dan rutin. Organisasi berperan sangat efisien dan efektif dalam lingkungan yang stabil atau bilamana lingkungannya dapat dikendalikan dengan jalan monopoli misalnya. Organisasi jenis ini khususnya berguna bagi organisasi yang lebih memerlukan skala ekonomi besar.

Kelemahannya adalah kurangnya kepekaan terhadap perubahan lingkungan dan lambatnya melakukan penyesuaian yang diperlukan. Bagi karyawan yang menyukai kepastian, dan jaminan hidup bekerja dalam organisasi, organisasi semacam ini memberikan ketenangan besar. Sebaliknya bagi mereka yang ingin mengendalikan pekerjaannya sendiri atau menginginkan kekuasaan, organisasi semacam ini sangat mengecewakan baginya.

3. Budaya atas dasar tugas budaya.

Organisasinya dapat digambarkan antar fungsi atau keahlian pekerjaan. Pengaruhnya bersumber pada kekuatan keahlian dan bukan pada kedudukan atau atas dasar kekuatan pribadi seseorang. Tugas ini merupakan budaya tim atau budaya gotong-royong. Organisasi tipe ini harus dapat mengatasi konflik yang dapat timbul karena perbedaan kepentingan pribadi, perbedaan status dan cara kerja.

Keunggulannya yaitu peka atau lentur terhadap perubahan lingkungan dan sangat berguna bilamana organisasi menghadapi pasar yang sangat bersaing, terutama jika produk yang dihasilkan bersiklus pendek. Namun ada juga segi negatifnya yaitu pengendaliannya agak sukar dan mudah bergeser menjadi budaya peran atau kuasa. Pengendalian hanya dapat dilakukan oleh pucuk pimpinan dengan jalan memberi atau tidak memberi tugas, tambahan dana atau sumber daya manusia.

4. Budaya berdasar orangnya.

Mengingat organisasi diciptakan biasanya hanya untuk melayani anggotanya, seperti kelompok sosial, pagayuban, dan juga organisasi informal maka budaya jenis ini didasarkan atas pribadi-pribadi dan umumnya jarang digunakan untuk tujuan ekonomis. Praktik organisasinya tidak terstruktur dan hanya merupakan sekumpulan manusia mempunyai tujuan bersama serta kurang mementingkan tujuan masing-masing.

Jenjang kewenangan dan alat pengendalian sukar tumbuh dalam budaya seperti ini, kecuali saling mufakat sebelumnya. Unsur pemersatu yang diperankan oleh seseorang dalam kedudukan lebih tinggi tidaklah ada. Kalaupun ada sesuatu kekuasaan itu hanya bersumber pada pengaruh kepribadian seseorang.

Bahan Bacaan : Manajemen Indonesia oleh Endang Sulistya Rini, SE, M.Si. (Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Sumatra Utara).

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait