Optimalisasi Kecerdasan Spiritual

Gambar Optimalisasi Kecerdasan Spiritual
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Manusia adalah makhluk yang paling cerdas. Makhluk lain tak bisa menandinginya. Karena memang manusia adalah makhluk yang terpilih. Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. Beberapa ahli berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling unggul dan akan menjadi unggul asalkan bisa menggunakan keunggulannya. Kemampuan menggunakan keunggulan sebagai faktor yang membedakan antara orang jenius dan orang yang tidak jenius di bidangnya.

Sayangnya, menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia meletakkan kecerdasan bukan pada tempatnya. Kecerdasan dikondisikan sia-sia karena manusia tidak mengetahui bahwa kecerdasan diberikan kepada setiap manusia. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan.
Aristoteles sebagai seorang filosof dan psikolog boleh berbangga yang telah meletakkan dasar-dasar metode untuk mengukur kecerdasan manusia, yaitu dengan mengukur Intellegence Quotient (IQ). Dalam perjalanan IQ ini dikritik, karena menafikan sisi kemanusiaan. Hanya otak yang penuh kalkulasi yang bisa diandalkan. Hanya kemampuan intelektual yang diperhitungkan manusia. Beruntung Daniel Goleman menemukan sisi lain tentang keberadaan manusia yaitu Emotional Quotient (EQ). EQ merupakan prasarat dasar untuk penggunaan IQ. Pada akhir abad keduapuluh, ada interseksi antara psikologi, neurologi, ilmu antropologi dan kognitif untuk menunjukkan sisi yang ketiga yaitu Spiritual Quotient (SQ).

Lebih jauh Thorndike, salah satu ahli yang membagi kecerdasan manusia menjadi tiga, yaitu kecerdasan Abstrak — Kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa, Kecerdasan Kongkrit — kemampuan memahami objek nyata dan Kecerdasan Sosial – kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional

Dalam tulisan berikut, ada beberapa indikator yang dapat mengoptimalkan keberadaan SQ :

1. Berdo’a

Berdo’a bukan berarti lemah. Do’a justru akan mendorong meningkatkan motivasi dalam memacu usaha seseorang. Berdo’a juga sebagai salah satu yang membuat kita sadar akan keberadaan sang Khalik.  Dialah yang mencipta, dan Dialah tempat kita akan kembali.

Dalam melakukan do’a sebaiknya menggabungkan 4 unsur yang ada dalam diri kita yaitu : hati, pikiran, ucapan dan tindakan. Keempat unsur ini saling terkait. Tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa, siapa saja yang berdo’a pasti dikabulkan. Firman Allah ini memberi motivasi yang sangat besar kepada manusia bahwa, berdo’a merupakan separo dari usaha. Memberikan dorongan agar dalam setiap menjalankan aktifitas apapun jangan lupa untuk berdo’a.

Manusia juga diajarkan untuk tidak berburuk sangka kepada Allah. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan. Berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya, ingin hidup sehat. Hati sudah diluruskan dengan  niat agar hidupnya selalu sehat. Do’a juga sudah dilantunkan dengan penuh kehibaan. Pikiran sudah dioptimalkan bagaimana agar hidup sehat selalu menyertai dalam setiap kegiatan. Namun, tindakannya tidak sesuai dengan niatan, ucapan dan pikirannya.

2. Ritual

Ritual adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bila berdoa adalah aktifitas yang lebih banyak melibatkan hati. Kalau ritual adalah semua kegiatan yang mendekatkan kepada sang khalik. Karena hanya Dialah satu-satunya tumpuan hidup. Pelaksanaan ritual tentu berbeda cara antara satu dengan lainnya. Tapi inti dari ritual adalah dalam rangka mohon pertolongan agar mengenyam kehidupan ini semakin termotivasi.

Dalam bahasa agama, lebih tepat bila ritual dimaknai dengan beribadah sesuai dengan proporsional. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang tata cara pelaksanaannya telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh lebih tak boleh kurang. Tepat ukurannya. Sedangkan ibadah yang menyangkut keduniaan, manusia diberi keleluasaan untuk mengembangkan, selama masih dalam koridor kemaslahatan umat.

3. Membaca

Untuk menambah wawasan perlu membaca. Semakin luas wawasan semakin bijak dalam berpikir dan bertindak. Rasulullah Muhammad SAW, diperintah pertama kali dengan membaca. Aktifitas membaca tidak mengenal usia, waktu dan tempat. Untuk berkhidmat agar mampu membedakan benar dan salah yaitu dengan jalan membaca. Untuk menjadi trampil dalam kemaslahatan perlu membaca.

Saat ini sedang digalakkan budaya literasi di sekolah.  Diharapkan lewat sekolah virus literasi menyebar seperti deret ukur. Perkembangannya berlipat ganda. Seperti diketahui bahwa tingkat budaya membaca di Indonesia termasuk dalam golongan yang rendah. Padahal membaca adalah pintu gerbang dalam membangun budaya. Tidak mungkin masyarakat yang berkemajuan akan tercapai bila tidak dibarengi dengan kegiatan membaca.

Bila di sekolah ada aktifitas wajib membaca meskipun hanya 15 menit, mestinya di masyarakat digalakkan pula wajib membaca. Di manapun berada. Perpustakaan yang semula terbengkelai, dibangkitkan lagi. Supaya ada kesinambungan antara kegiatan di sekolah dan di masyarakat. Ada banyak cara untuk mensukseskan budaya membaca. Jadikan bacaan sebagai sahabat yang paling setia dalam suka maupun duka.

4. Menulis

Setelah membaca menjadi bagian dari kehidupan, tahapan berikutnya adalah menulis. Budaya menulis lebih rendah lagi bila dibandingkan dengan membaca. Mengapa menulis perlu digalakkan? Karena tulisan adalah bentuk dokumen. Bentuk prasasti yang tidak pernah lupa, selama tulisan masih utuh.

Al-Qur’an adalah dokumen tertulis wahyu Ilahi yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an ditulis karena penghafal saat itu satu demi satu meninggal. Islam mengajarkan bahwa apapun yang diketahui oleh manusia agar ditulis. Karena tulisan sebagai salah satu sumber pengetahuan. Tulisan menjadi bukti yang kuat manakala terjadi perselisihan pendapat. Apalagi bila menyangkut perjanjian.

Budaya menulis memang bukan barang yang mudah untuk ditegakkan. Menulis perlu latihan. Menulis perlu melihat fenomena di lingkungan. Menulis perlu pondasi referensi. Sehingga isi tulisan memiliki kadar yang kuat, karena didasari dengan fakta.

Menulis juga merupakan alat komunikasi. Antara komunikan dengan pembaca dapat terjalin hubungan yang dialogis. Tercipta ruang untuk saling unjuk gagasan. Penulis melontarkan gagasan, pembaca mengkritisi isi tulisan.  Dengan menulis berarti separo kehidupan telah tercapai. Pena menjadi sahabat yang setia dalam keadaan apapun.

Tuhan melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks
Tuhan melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait