Nilai Kepribadian

Gambar Nilai Kepribadian
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Dalam setiap aktifitas apalagi dalam bekerja kita pasti dinilai oleh orang lain. Sebagai karyawan akan dinilai oleh atasan, sebagai dosen akan dinilai rektor atau tim penilai, sebagai guru dinilai oleh kepala sekolah dan sebagai pedagang akan dinilai oleh pelanggan. Penilaian ini tak lepas dari pengalaman dan kesukaan hati. Tingkah laku atau kepribadian seseorang ada kalanya sama/mirip atau bahkan berlawanan dengan kepribadian kita. Cara menilai atau memandang tak pernah lepas dari kehidupan sebagai cermin kapan kita bergerak pada saat tertentu dan kapan kita diam.

Nilai adalah rekaan atau ide umum tentang tujuan yang baik dan yang buruk. Menilai berarti mengukur tentang benar atau salah, yang bisa diterima ataupun tidak. Ada yang menggambarkan bahwa nilai adalah tuntutan manusia yang bersifat universal. Namun ada pula nilai yang spesifik yaitu nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tertentu karena mereka hidup dalam lingkungan tersendiri.

Kepribadian, secara umum dirumuskan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu. Seseorang mendapat kepribadian tertentu, karena sesuai dengan kerakteristik yang melekat pada dirinya. Misalnya kepada orang lain takut diberi atribut penakut, kepada orang lain berperilaku supel maka ia mendapat predikat berkepribadian supel.

Kepribadian menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang dimiliki seseorang apabila berhubungan dengan orang lain.

Nilai seseorang dianggap lebih dan kurang yaitu pada saat suka atau tidak suka, positif atau negatif, baik secara personal maupun kelompok. Penilaian ini tidak ada tolak ukur yang disepakati. Karena peristiwa berlangsung dalam masyarakat, oleh karenanya implikasi terhadap peristiwa benar-salah, baik-buruk tak dapat dihindari.

Dalam kehidupan beragamapun akan terjadi bias. Contoh kecil adalah tentang ikhlas. tidak ada ukuran yang pasti tentang ikhlas. Ikhlas hanya dapat dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Menyerahkan segala sesuatu untuk orang lain secara utuh tanpa pamrih. Belum ditemukan iasmar yang tepat untuk menilai kepribadian ikhlas. Karena nilai ini sangat spesifik. Sampai sejauh mana nilai pribadi dapat diterima oleh masyarakat tanda mengorbankan prinsip kehidupan.

Sampai sejauh mana nilai pribadi dapat diterima oleh masyarakat tanda mengorbankan prinsip kehidupan
Sampai sejauh mana nilai pribadi dapat diterima oleh masyarakat tanda mengorbankan prinsip kehidupan (Sumber gambar : klik disini)

Karena muatan nilai ini sangat penting, maka yang perlu diperhatikan oleh kita adalah karakteristik nilai.

1. Kebebasan (freedom)

Sebagai bagian dari masyarakat, ada keluarga yang membawa nilai atau pola kebebasan. Kebebasan merupakan suatu masalah yang kompleks, yakni dengan pemaknaan bahwa kebebasan yang dianggap sebagai kemampuan individu untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya yaitu sesuai dengan kepentingan, keinginan, dan selera seseorang.

Demikian pula dalam suasana lingkungan pekerjaan. Aturan dalam kelembagaan telah disepakati iasma. Benar-salah telah ditetapkan oleh institusi. Karena nilai yang hendak dibangun adalah tujuan tertentu yang telah ditetapkan oleh iasma itu. Kebebasan pribadi tetap masiH ias dimiliki tanpa melanggar aturan yang berlaku.

Kebebasan bagi suatu masyarakat dianggap sebagai suatu ideal, dengan mengadakan perlindungan terhadap kebebasan tersebut, yakni dengan memberikan ruang yang cukup kepada pelaksanaan kebebasan tersebut. Akan tetapi pelaksanaan kebebasan seseorang tersebut berhadapan dengan pelaksanaan kebebasan orang lain. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan kebebasan individu tidak boleh mengabaikan pelaksanaan kebebasan individu yang lain.

2. Kenikmatan (pleasure)

Setelah kebebasan diatur sesuai dengan porsinya, tata kerja ataupun pola aturan telah ditetapkan, dan setiap individu sepakat untuk melaksanakan maka akan menghasilkan kenikmatan iasma. Semua orang bekerja, semua orang melakukan aktifitasnya. Bagian satu dengan yang lain saling terhubung, meski bidang profesinya berbeda.

Bila kenikmatan dalam bekerja telah tergenggam, buah hasil jerih payah siap untuk dipetik tanpa ada gesekan sosial. Alat ukur kenikmatan ini tentu saja sudah melalui kesepakatan iasma. Tinggal bagaimana kita ias menikmati kenikmatan yang diperoleh.

3. Harga Diri

Harga diri adalah penilaian individu terhadap kehormatan diri melalui sikap terhadap dirinya sendiri. Sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga dan kompeten.

Harga diri bisa mencakup dua bagian, profesi dan kepribadian. Profesi lebih mengarah pada finansial. Seseorang dinilai dari kecakapan yang dimiliki. Keahlian yang ia peroleh dengan pelatihan akan bernilai dihadapan orang lain. Harga seorang kepala bagian tentu berbeda dengan harga penjaga gudang.

Perolehan gaji yang didapatkan masing-masing orang juga tergantung pada nilai tanggung jawab. Walaupun sama-sama kepala bagian, tapi efek tanggung jawabnya berbeda. Maka penghargaan secara profesi terhadap orang, masing-masing berbeda. Bila harga diri akan meningkat, tentu harus diimbangi dengan kompetensi diri yang meningkat pula. Ada saluran khusus untuk meningkatkan harga diri, yaitu dengan istilah karier. Sedangkan secara kepribadian, telah diuraikan pada alinea di atas.

4. Kejujuran

Kejujuran mestinya tidak harus dilembagakan. Karena kejujuran sejatinya bawaan. Mengapa sifat kejujuran sebagai bawaan? Karena nilai tersebut lebih banyak didapatkan dalam keluarga. Keluarga dan masyarakat berperan cukup besar dalam membentuk karakter kejujuran seseorang. Namun karena pengaruh lingkungan, kejujuran seperti makhluk hidup yang selalu diikat dan dikendalikan. Bekerja di perkantoran pasti terikat dengan aturan. Bekerja sama dalam membentuk komunitas tertentu, selalu ada tata tertib yang harus dijunjung bersama. Aturan ditegakkan dalam rangka menjunjung kejujuran. Sebaliknya kejujuran senantiasa dirawat agar nilai-nilai kejujuran menjadi mesin penggerak pekerjaan di kantor atau dimanapun berada.

5. Keadilan

Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai suatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menjadi kewajiban atasan untuk berbuat adil terhadap orang yang dipimpin. Kewajiban orang tua adalah untuk mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Bawahan memiliki rasa tanggung jawab dan adil untuk melaksanakan semua perintah yang ia terima. Anak juga wajib adil terhadap semua keinginan orang tua, tanpa harus mengorbankan prinsip.

Masing-masing memiliki tugas yang telah dibebankan. Keadilan tidak harus sama rata, sama rasa. Tapi menempatkan di suatu tempat dengan pas, itulah keadilan.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 1 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaGrand Opening Toko An Ni’mah
Artikel BerikutnyaValue Keluarga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait