Negosiasi Bagi Organisasi

Gambar Negosiasi Bagi Organisasi
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Untuk mewujudkan tujuan organisasi diperlukan adanya komunikasi. Mensosialisasikan keberadaan organisasi dapat dilakukan dengan komunikasi intern, yaitu dengan anggotanya dan komunikasi ekstern dengan cara mengenalkan kepada orang lain. Diperlukan komunikasi yang tepat agar tujuan organisasi dapat dicerna oleh anggota maupun orang lain. Namun tidak mudah untuk melakukan komunikasi yang mengena, yang dapat dimengerti meskipun telah dibantu dengan alat visual.

Permasalahan umum yang terjadi di dalam komunikasi adalah menerima kiasan yang tidak mudah dipahami pada saat proses komunikasi berlangsung. Faktor terbesar hambatan dalam melakukan komunikasi adalah pemberi dan penerima pesan. Hambatan tersebut bisa terjadi karena rendahnya mutu komunikasi sebagai akibat dari kiasan-kiasan yang tidak penting disertakan dalam komunikasi.

Proses lain yang menyebabkan komunikasi tidak bermutu adalah menelan begitu saja tanpa terlebih dahulu menganalisis kebenaran dan kesahihan dari fakta atau pesan tersebut. Faktor lain yang bisa disebutkan yaitu, biasanya orang lebih percaya pada informasi yang diberikan oleh orang yang dianggap pemimpin atau yang dituakan. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan tersebut diperlukan kualitas dari individu untuk menginterpretasikan.

Negosiasi merupakan bagian dari komunikasi. Ibarat perang, negosiasi merupakan pasukan kecil yang bertugas menjadi mata-mata untuk mencari data secara detail pasukan musuh. Islam dapat berkembang di luar jazirah Arab berkat pasukan mata-mata untuk menaklukkan di daerah tertentu tanpa menimbulkan kekerasan. Pasukan itu menawarkan model pemerintahan yang baru dengan cara memberi contoh tanpa memaksa

Negosiasi dalam berorganisasi sangat penting, karena organisasi itu akan mengembangkan sayap dengan cara menawarkan model yang lebih baik. Hasilnya akan lebih dirasakan langsung oleh masyarakat. Muhammadiyah yang merupakan salah satu organisasi tidak lepas dari aktifitas negosiasi. Pengalaman yang telah dirasakan bahkan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan negosiasi. Trik-trik negosiasi yang dilakukan oleh Muhammadiyah tidak lepas dari gagasan agar Muhammadiyah tetap berkembang sesuai dengan tujuannya.

Pengalaman negosiasi dengan pemerintah khususnya atau dengan masyarakat, Muhammadiyah memiliki standar yang tidak tertulis untuk melakukan tawar-menawar. Ada tiga pegangan dalam melakukan proses negosiasi :

(1) Seimbang

Negosiasi dapat berjalan minimal ada dua pihak. Nogisiasi dapat berjalan dengan baik bila kedua belah pihak dalam keadaan seimbang. Dalam perdagangan tawar menawar dilakukan bila yang dibicarakan dalam keadaan seimbang. Satu pihak menawarkan barang atau jasa, dipihak lain membayar barang sesuai dengan harga yang berlaku saat itu. Tidak mungkin dari kedua belah pihak saling dirugikan.

Di dunia yang berbeda, proses tawar menawar bisa pula berlangsung tanpa harus berupa barang atau jasa. Dalam politik sudah jamak dilakukan tawar menawar jabatan. Karena tujuan pendek dari politik adalah kekuasaan. Pihak satu dengan pihak lain dapat berkompromi dalam tawar menawar, meskipun ujung-ujungnya tetap uang. Mengabaikan kepentingan masyarakat menjadi nomor ke sekian setelah negosiasi politik telah tercapai.

Dari berbagai pengalaman, Muhammadiyah melakukan negosiasi dengan mengedepankan tujuan organisasi. Manakala tujuan organisasi harus dikorbankan, lebih baik untuk sementara waktu tidak melakukan negosiasi. Mencari celah dan waktu yang tepat agar tidak mengorbankan tujuan Muhammadiyah. Pembaca dapat membaca sejarah perjalanan Muhammadiyah selama 1 abad (hitungan miladiyah). Bernegosiasi dengan pemerintah, partai politik, sesama ormas, bahkan menentukan startegi tawar menawar dengan pihak luar negeri.

Jadi, proses negosiasi dapat berjalan dengan baik manakala pihak-pihak yang terlibat dalam posisi seimbang.

(2) Tidak Mengorbankan Ideologi

Dalam melakukan negosiasi, masing-masing pihak memiliki harta yang dimiliki. Harta inilah yang apabila tidak dibawa dengan hati-hati akan lepas. Karena kalah dalam melakukan tawar menawar. Lebih mengenaskan lagi bila harta itu menjadi satu-satunya yang dimiliki. Dalam organisasi, harta tersebut adalah ideology. Oleh karenannya ada organisasi tertentu yang menggadaikan ideologi hanya ditukar dengan rupiah yang tidak seberapa banyak.

Resep Muhammadiyah awet hingga saat ini adalah mempertahankan ideologi dengan cara kelenturan. Tidak kaku atau tidak lembek. Persahabatan dengan pihak selalu dijaga. Karena prinsip Muhammadiyah memperbanyak kawan. Proses negoisasi pasti dilakukan. Tidak mungkin organisasi yang besar ini mengurung diri, tidak terlibat dalam gempita membangun bangsa.

Negosiasi mengalami pasang surut. Sama seperti pergantian pimpinan. Setiap periode memiliki keunikan tersendiri. Setiap zaman memiliki cara tersendiri. Setiap pimpinan mengalami model dalam melakukan negosiasi. Dari sekian era yang dialami Muhammadiyah tak pernah meninggalkan ideologi sedetik pun dalam melakukan tawar menawar. Meskipun ada yang melakukan dengan cara tersembunyi, tarik ulur, atau dengan pendekatan personal.

(3) Kompromi dalam Hal Kemasyarakatan

Hasil keputusan Muktamar sampai hasil keputusan Musyawarah Ranting akan menjadi sia-sia manakala tidak dilakukan komunikasi dengan benar. Rekomendasi kepada persyarikatan atau pemerintah akan menjadi prasasti tertulis kalau tidak dilakukan silaturahmi.. Menjalin hubungan dengan pihak lain tidak dalam posisi responsif, tapi harus aktif. Proses negosiasi ada dalam pelaksanaan silaturahmi.

Muhammadiyah menelurkan kebijakan organisasi selalu respon terhadap perkembangan zaman. Sejak dari perumusan sampai tahap sosialisasi. Muhammadiyah tidak akan malu merevisi keputusan setelah terjadi proses dialog dengan masyarakat. Kompromi dalam masalah-masalah keduniaan dijunjung tinggi, selama masih segaris dengan keyakinan Muhammadiyah.

Produk-produk yang dihasilkan oleh Muhammadiyah yang selama ini dipandang sebagai nilai-nilai kepribadian bisa saja direkonstruksi, sehingga cita-cita pendiri Muhammadiyah “Aku Titipkan Muhammadiyah Kepadamu” tidak akan terkubur dalam kubangan sejarah. Namun menjadi ruh dalam menggerakkan roda organisasi.

Ibarat perang negosiasi merupakan pasukan kecil yang bertugas menjadi mata-mata untuk mencari data secara detail pasukan musuh
Ibarat perang negosiasi merupakan pasukan kecil yang bertugas menjadi mata-mata untuk mencari data secara detail pasukan musuh (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait