Nagara Krtagama, Majapahit dan Sunan Giri

Gambar Nagara Krtagama, Majapahit dan Sunan Giri
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Sampai sekarang, Kitab Nagara Krtagama masih dijadikan rujukan utama bagi penulisan sejarah Majapahit. Naskah asli kitab Nagara Krtagama itu disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dengan kode 5023, walaupun itu sesungguhnya hanya merupakan hasil salinan oleh yang sering disebutkan dilakukan oleh Arthamapamasah pada tahun 1622 saka atai 1700 masehi. Naskah itu ditemukan oleh DR. J.L. A. Brandes pada tahun 1894 di Perpustakaan Puri Cakranaegara Kasultanan Lombok.

Berkaitan dengan kitab Nagara Krtagama, yang sering disembunyikan adalah fakta bahwa Kitab Nagara Krtagama adalah kitab yang ditulis sebagai persembahan kepada Giri Natha yang tak lain adalah Sunan Giri. Disebutkah dalam Pupuh 94 Padha ke-1 Gatra ke-3: “anhing stutya i jong bhatara girinatha patnanika mogha sanmatan” yang artinya “Untuk menjadi pujian di bawah naungan yang mulia Giri Natha yang selalu mendampingi segala kejadian dengan pandangan yang luas (sebagai Prabu satmata)”.

Para sejarahwan kolonial dan dilanjutkan para pengikutnya berusaha untuk menyembunyikan sosok Giri Natha tersebut. Pigeaud mengutip Prof. Kern mengartikan Giri Natha atau Parwata Natha sebagai Bethara Guru yang tak lain dikatakan merupakan perwujudan Dewa Siwa. Pandangan bahwa Giri Natha adalah Siwa kemudian juga dipakai oleh Prof. Ketut Riana dalam bukunya diterbitkan oleh Penerbit Kompas. Saya jelas-jelas mengeyampingkan pendapat ini. Memasukkan nama Bethara Guru (Siwa) untuk menggantikan Giri Natha adalah hal yang sangat mengada-ada. Selain itu bagaimana saya bisa menerima pendapat mereka semua yang menganggap Mpu Prapanca (penulis Nagara Krtagama) seorang petinggi agama Budha di satu sisi dan menyimpulkan Mpu Prapanca menulis sebagai persembahan kepada Dewa Siwa. Pembelokan Giri Natha sebagai Bethara Siwa adalah upaya penyembunyian sejarah yang sangat mengada-ada serta merupakan pandangan yang kacau dan layak dikesampingkan.

Untuk mengkaji kitab Nagara Krtagama, perlu dipahami bersama terlebih dahulu mana kitab yang bisa kita jadikan rujukkan untuk dibahas. Pertama, kita perlu sepakat bahwa kitab-kitab yang disebut Nagara Krtagama temuan setelah tahun 1973 sebagaimana keberadaannya yang digembar-gemborkan Prof. Slamet Muljana dalam buku tulisannya, tidak bisa dipakai sebagai rujukan kecuali sekedar bacaan pelengkap saja. Angka 1973 diambil dari kunjungan Ratu Juliana dari Belanda yang salah satu komitmennya adalah mengembalikan (salinan) Kitab Nagara Krtagama ke Indonesia yang kemudian menjadi koleksi Perpustakaan Nasional RI dengan kode NB 9. Pada tahun itu juga pemerintah Belanda menyumbangkan beberapa set 4 jilid buku “Java in The Fourteenth Century” karya DR. TH Pigeaud yang lalu disimpan di beberapa perpustakaan di kampus-kampus ternama di Indonesia, dimana buku tersebut terdapat transkrip dan seluruhnya membahas kitab Nagara Krtagama.

Untuk mengkaji kitab Nagara Krtagama, perlu dipahami bersama terlebih dahulu mana kitab yang bisa kita jadikan rujukkan untuk dibahas
Untuk mengkaji kitab Nagara Krtagama, perlu dipahami bersama terlebih dahulu mana kitab yang bisa kita jadikan rujukkan untuk dibahas (Sumber gambar : klik disini)

Setelah adanya Kitab Nagara Krtagama di Indonesia memudahkan upaya penyalinan oleh beberapa pihak dan ditaruh di berbagai tempat lalu digembar-gemborkan adanya temuan baru kitab Nagara Krtagama, maka angka tahun 1973 di atas menjadi penting untuk batas naskah yang kita bicarakan. Sebagai kajian keilmuan, apa yang saya sampaikan tersebut harus dilihat dari sudut pandang ilmiah untuk menegaskan mana sumber yang bisa kita gunakan sebagai kajian keilmuan dan mana yang tidak bisa. Salah satu hal yang paling jelas dari naskah salinan baru itu adalah semakin hilangnya istilah Nagara Krtagama dan menegaskan nama Desa Warnnana judul kitab tersebut. Terjadi juga beberapa perubahan isi pada naskah yang sesudah 1973 itu. Sebagai contoh kalimat “Para wiku sai sogata” yang bisa berarti “para ulama menuntaskan pengajaran” lalu pada naskah sebelum tahun 1973 tiba-tiba ditulis “Para wiku saiwa sogata” yang oleh Prof. Ketut Riana diartikan “Para Pendeta Siwa dan Budha” sama dengan penerjemahan Prof. Slamet Muljana.

Naskah Kitab sebelum tahun 1973 pun—yang diperkenalkan oleb DR Brandes—tak lepas dari kritik berkaitan dengan keasliannya. Beberapa sarjana, salah satunya Prof. Poerbatjaraka, menganggap kitab tersebut mengandung beberapa Pupuh tambahan. Pupuh-pupuh yang bermasalah itu ialah Pupuh 95 sampai Pupuh 98. Terhadap Pupuh-pupuh itu Prof. Poerbatjaraka menyatakan sebagai berikut dengan ringkas: “…pikiran yang sangat kusut itu tidak berasal dari pujangganya sendiri, melainkan dari penyalinannya” pikiran itu tidak memiliki arti sama sekali. Kekusutan yang lebih hebat dan kekacauan yang lebih besar tidak mungkin terduga, kecuali dalam bagian tidak asli seperti ini. Dengan kata lain, kekusutan dan kekacauan pikiran itu merupakan ciri lahiriah yang membuktikan kepalsuannya.

Untuk Pupuh 94 tidak ada yang meragukan keasliannya, dan dalam tulisan ini saya pun tidak meragukan keasliannya. Justru berdasar pupuh 94 itu, sebagaimana telah dibahas di depan, jelas tertulis pujasastra yang menunjukkan bahwa kitab itu ditulis sebagai persembahan untuk Giri Natha. Hanya di Padha ke-4 pada Pupuh 94 itu yang tampak ditambahkan untuk menjembatani masuk ke Pupuh-pupuh selanjutnya yang oleh Prof. Poerbatjaraka disebut palsu.

Lalu bagaimana bisa Giri Natha itu diartikan Sunan Giri sementara dalam Candra Sengkala disebutkan penulisan Nagara Krtgama dilakukan pada tahun pada tahun 1287 Saka atau 1365 masehi sedangkan Sunan Giri diperkirakan baru lahir tahun 1442 Masehi? Pupuh 94 Padha ke-2 memang mengatakan selesainya penulisan dengan: “ring sakadrigajaryya maswayuja masa subhadiwasa purnnacandrama” yang bernilai angka tahun yaitu1287 saka (1365 M). Tapi itu adalah tahun akhir sejarah pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit yang ditulis dalam kitab itu, bukan tahun penulisan. Artinya tidak keseluruhan pemerintahan Hayam Wuruk yang dalam catatan sejarah berlangsung sampai sekitar tahun 1389 masehi diceritakan dalam Kitab itu namun hanya diceritakan sampai tahun 1365 masehi saja, setahun setelah wafatnya Gajahmada.

Secara lebih lengkap pada Pupuh 94 Padha ke-2 Gatra 1 dan 2 disebutkan: ring sakadri gajaryyamaswayujamasa subhadiwasa purnnacandrama / nka hingan rakawin pamarnnana khadigwijayanira narendra (ring praja)”. Terjemahannya: “Sepanjang tahun saka adrigajaryyama (artinya: melejitnya pemimpin terhormat yang telah mampu mengendalikan nafsu), yang bernilai angka tahun 1287 Saka atau 1365 Masehi, menjadi manusia suci dalam periode cemerlang sempurna sebagaimana dinyatakan / Sampai di situlah pujangga menggambarkan besarnya kekuasaan sang Rajadiraja bagi seluruh dunia.”

Lalu kapan penulisan Kitab Nagara Krtagama dilakukan? Setelah mencermati sekian lama, saya temukan tahun penulisan itu pada Pupuh 94 itu juga justru ketika saya mendapati keanehan analisa Prof. Slamet Muljana terhadap Pupuh itu. Prof. Slamet Muljana pada Bab X sub Bab “Prapanca dan Hasil Karyanya” menyebutkan Pupuh 94 memberitakan bahwa Mpu Prapanca menggubah beberapa Kakawin selain Nagara Krtagama, yaitu Tahun Saka (tertulis Sakabda atau Saka Kala), Lambang, Parwwa Sagara, Bhisma Sarana, Sugata Parwwawannana. Keanehannya adalah pada nama-nama kakawin itu dan juga sampai sekarang tidak pernah kita dengar adanya temuan kakawin dengan nama-nama tersebut. Dari keanehan itu saya menemukan tahun penulisan Nagara Krtagama dilakukan dalam dua tahap, yaitu dimulai tahun 1512 saka (1590 M) dan diselesaikan pada tahun 1516 saka (1594 M).

Pupuh 94 Padha ke-3 itu berbunyi demikian: “nirwya teki lawasnira srin aniket kakawin awtu bhasa ring karas / tembeyanya sakabda pingrwanika lamban i tlas ika parwwa (sagara) / nahan teki caturtthi bhismasaranantya nika sugataparwwa (warnnana) / lambang mwang sakakala tang winaluyan gatinikan ameweh turung pgat.”

Terjemahannya: “Tiada kelebihan (dengan penuh keterbatasan) selama ini dia tekun menulis kakawin merangkai kata-kata pada karas (bahan untuk menulis) / Dimulai tahun saka pingrwanikalambang—1512 saka (1590 M) menyelesaikan (samudera) pembukaan / Cermatilah pembahasan mengenai sarana membangun kewibawaan tertinggi (negara) melalui pengajaran cerita (yang digambarkan) / Penulisan lagi tahun saka tangwinaluyan gatinika—1516 saka (1594 M) menghindari keterputusan.”

Adapun Sunan Giri yang disebut dalam Kitab Nagara Krtagama tidak lain adalah Sunan Giri Prapen, sang Giri Nata ke-4, memimpin pemerintahan dari Giri Kedaton pada tahun 1548-1605 M. Dia adalah Giri Natha terbesar karena wilayah kekuasannya sangat luas hingga sampai ke bagian timur Nuswantara, termasuk Lombok. Dalam Babad Lombok, dikisahkan penyebaran Islam yang dilakukan oleh Pangeran Parepen (Sunan Giri Prapen), atas suruhan ayahnya. Jadi pengislaman Lombok oleh Sunan Giri Prapen dilakukan sebelum tahun 1548 M. Dan perlu diingat bahwa di Lombok inilah, Brandes menemukan naskah Kitab Nagara Krtagama.

Perlu dipertegas mengenai nama Nagara Krtagama tidak ada dalam isi kitab tersebut tetapi ada dalam Kolofon (semacam catatan yang dibuat oleh penyalin, bukan penulis aslinya) dengan tulisan “iti nagarakrtagama samapta” yang artinya kurang lebih “demikian Kitab Nagara Krtagama diselesaikan (disalin).” Hal ini, yaitu tidak adanya nama Nagara Krtagama dalam isi kitab tetapi disebutkan dalam kolofon, bisa dibaca dalam dua kemungkinan. Pertama, ada isi kitab yang telah dihapus lalu diganti sehingga nama Nagara Krtagama hilang dalam Kitab tersebut. Kedua, meskipun nama kitab tersebut bukan kitab Nagara Krtagama tapi penyalin menyaksikan sendiri bahwa kitab tersebut dijadikan manual untuk “Nagara Krtagama” yaitu membangun Negeri berlandaskan tradisi suci (agama).

Jika kita simak naskah temuan Brandes, pada kolofon pertama nama Nagara Krtagama dikenalkan dan diberi keterangan: “Iti nagarakrtagama samapta, sarikatha sri maharaja wilwatikta tkeng nusa pranusa kacayeng sira, makadi balirajya pratistankana, makanimitang sanghyang prasasti wasita, tkeng yawadwipa samanta.”

Terjemahannya kurang lebih: “Demikianlah Nagara Krtagama diselesaikan, kisah kebesaran Raja Wilwatikta (Majapahit), yang dari berbagai pulau dan kepulauan menjadikannya cermin, sebagaimana negeri Wali yang melebur didalamnya, tempat berkuasanya yang dimuliakan dari seluruh tanah Jawa karena ajaran kebijaksanaannya.”

Kata samanta bisa berarti seluruh, tapi bisa juga sama artinya dengan satmata yang merupakan gelar Sunan Giri Natha. Sehingga artinya bisa: “Demikianlah Nagara Krtagama diselesaikan, kisah kebesaran Raja Wilwatikta (Majapahit), yang dari berbagai pulau dan kepulauan menjadikannya cermin, sebagaimana negeri Wali yang melebur didalamnya, tempat berkuasanya Satmata dari tanah jawa yang dimuliakan karena ajaran kebijaksanaannya.”

Kitab Nagara Krtagama ditulis oleh Mpu Prapanca (untuk nama penulis ini mungkin masih ada yang mendebat) sebagai persembahan kepada Sunan Giri Prapen. Dan kitab ini oleh orang-orang dari berbagai pulau dan kepulauan dijadikan cermin, sebagaimana negeri Wali, tempat berkuasanya yang dimuliakan dari seluruh tanah Jawa karena ajaran kebijaksanaannya. Atau dengan kata lain kitab ini menjadi manual untuk “Nagara Krtagama” yaitu membangun Negeri berlandaskan tradisi suci (agama). Artinya adalah kitab Nagara Krtagama menjadikan Majapahit Masa Hayam Wuruk sebagai Model Penyelenggaraan Kasultanan.

Kitab Nagara Krtagama memang tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa Majapahit adalah sebuah Kasultanan. Tetapi karena Majapahit digunakan menjadi manual bagi penyelenggaraan Kasultanan, maka jelas sekali bahwa banyak yang ada pada Majapahit oleh penulis kitab Nagara Krtagama dianggap bernilai kasultanan. Karena itu berdasar Kitab Nagara Krtagama, menyebut Majapahit sebagai sebuah kerajaan Islam akan menjadi lebih logis jika dibandingkan menyebut Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budhha.

Referensi :
  • Pigeaud, DR. TH., 1960-18962, Java In The 14TH Century Vol. I-IV, The Hauge: Martinus Nijhoff.
  • Muljana, Prof. Dr. Slamet, 2006, Tafsir Sejarah Nagara Kretagama, Yogyakarta: LKiS (sebelumnya terbit tahun 1979 oleh Penerbit Bhrathara).
  • Suparman, Lalu Gde, 1994, Babad Lombok, Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Wacana, Lalu, 1979, Babad Lombok, Proyek  Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Suparman, Lalu Gde, 1994, Babad Lombok, Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan;
  • Wacana, Lalu, 1979, Babad Lombok, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Darban, Drs Ahmad Adabi, SU, 1989, Dari Sunan Giri Hingga Pangeran Dipanegara (Ulama Di Jawa dalam Perspektif Sejarah), Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
  • Brandes, DR, J. 1903, Bechrijving der Javaansche, Balineesche en Sasaksche Handschriften, Batavia: Landsdrukkerij

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...