Museum sebagai sarana belajar siswa

PENULIS Nurani Handayani (Guru Bahasa Jawa SMP Muhdasa Jogja)

Belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman. Belajar adalah sebuah kegiatan dimana seseorang atau siswa berusaha untuk mengetahui atau mengulang tentang apa yang mereka lihat dan mereka dengarkan atau apa yang mereka amati. Belajar dapat dilakukan dengan cara membaca, medengarkan, mengamati bahkan melihat apa yang mereka temukan. Kegiatan belajar berkaitan dengan kegiatan sekolah. sekolah merupakan tempat untuk belajar peserta didik menuntut ilmu. Ilmu yang disampaikan oleh guru kepada siswa.

Dengan belajar kita dapat mengetahui berbagai macam ilmu, baik bahasa, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, budaya dan ketrampilan lain yang kita dapat dari sekolah. tidak hanya itu belajar bagi siswa adalah wajib. kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah siswa belajar di dalam suatu ruang kelas dengan sarana guru memberi ilmu di depan dengan menyajikan gambar-gambar atau video yang berhubungan dengan materi yang sedang diajarkan.  kemudian untuk mata pelajaran praktek juga mata pelajaran-pelajaran tertentu yang memang di dalam kurikulum terdapat kegiatan belajar praktek yaitu Olah raga, ketrampilan, seni budaya, bahasa, ilmu pengetahuan alam yang notabene kegiatan berada di lingkungan sekolah.

Kegiatan belajar di luar lingkungan sekolah dapat dilaksanakan dengan cara mengunjungi museum. Di Yogyakarta ada empat puluh depalan museum yang dapat dikunjungi untuk belajar. Museum menurut kamus besar adalah /mu·se·um/ /muséum/ n gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno. Sedangkan secara umum museum adalah lembaga yang diperuntukkan untuk masyarakat umum. Museum berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan studi, penelitian dan kesenangan atau hiburan, dan juga melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Di Yogyakarta terdapat berbagai macam museum yaitu museum perjuangan.

Dengan berkunjung ke museum siswa dapat melihat benda nyata peninggalan sejarah yang dapat diamati secara langsung, dengan memperkenalkan benda-benda sejarah kepada siswa, dapat merangsang otak siswa untuk memahami akan fungsi dan manfaat museum. Berbagai museum yang dapat dikunjungi di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ada sekitar empat puluh delapan museum yang terbagi dalam beberapa macam yaitu ada museum pendidikan, museumTNI, museum budaya dan museum seni.

Berkaitan dengan museum sebagai sarana belajar bagi siswa, Dinas kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, telah membuat kegiatan program bagi sekolah-sekolah yang ditujukan untuk peserta didik, dengan nama kegiatan “WAJIB KUNJUNG MUSEUM” dinas kebudayaan memberikan fasilitas kepada sekolah-sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka pembelajaran di museum dengan fasilitas yang disediakan oleh dinas kebudayaan Yogyakarta. Cara mengajukan kegiatan wajib kunjung museum yaitu sekolah mengirim proposal ke dinas kebudayaan Yogyakarta di bagian wajib kunjung museum. Dengan berkunjung di museum benda dan peninggalan sejarah para pejuang, pahlawan dan seniman yang telah memberikan berbagai ilmu dan pengetahuan dapat kita jadikan sebagai tolok ukur dan cerminan kehidupan masa lampua. Jadi dengan belajar di museum dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam pembelajaran di ruang kelas.

SD Muh Ngupasan kunjungan ke Museum
Wajib Kunjung Museum merupakan program Dinas kebudayaan DIY tmerupakan program bagi sekolah yang ditujukan untuk peserta didik (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Edukasi Majalah Mentari Bulan 7 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Museum sebagai sarana belajar siswa
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...