Muhammadiyah Perlu Mengevaluasi Diri

PENULIS Ahmad Na’im Azhari (Guru SMP Muh 8 Yogya)

Kita semua tahu bahwa tujuan paling asasi dari Muhammadiyah adalah mewujudkan masyarakat Islami yang sebenar-benarnya. Kita juga tahu bahwa Muhammadiyah adalah salah satu ormas yang bergerak untuk dakwah Islam. Dengan demikian harus sadar bahwa tujuan utama membawa masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Namun menurut  hemat penulis ada beberapa hal yang juga harus dilakukan oleh Gerakan Dakwah Muhammadiyah untuk melakukan evaluasi serta mereposisikan gerakan dakwahnya, diantaranya,

1. Muhammadiyah Harus Mengaktualisasikan Kembali Visi, Misi dan Tujuan

Visi, Misi dan tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan Tauhid, menyebarluaskan Al Qur’an dan Al Hadits serta mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian sadar betul bahwa dalam bergerak karena ingin menegakkan Islam. Itulah kunci paling fundamental dari Gerakan Muham­madiyah, yang perlu diaktulisasikan un­tuk semua pengurus disetiap ortom juga seluruh kader-kadernya. Dengan demi­kian Muhammadiyah seharusnya merasa senang dan bisa bersikap lebih arif bila ada gerakan dakwah Islam lain turut berperan dalam dakwah ini. Bagaimana jika fenomena kekhawatiran Muham­madiyah di atas bisa kita cari hikmahnya? Apakah Muhammadiyah tidak mungkin sebagai pelopor kerjasama dengan ge­rakan dakwah lain? Atau “cukup” sebagai kesempatan untuk ber-fastabiqul khairat? Muhammadiyah tidak perlu merasa tersaingi atau ketakutan, tapi bagaimana bisa mawas diri kemudian bergerak, menjaga kader-kader yang ada juga menciptakan kader-kader baru. Anggap­lah semua itu sebagai tantangan yang ha­rus dihadapi untuk meningkatkan kua­litas ke dalam tanpa sedikitpun rasa tidak senang terhadap gerakan dakwah yang lain. Seorang aktivis gerakan dakwah apa pun yang ikhlas berdakwah karena Allah pasti akan senang apabila tatanan Islam atau masyarakat Islami ini segera terwu­jud. Mungkinkah gerakan dakwah kita yang berskala nasional ini bisa mewujud­kan tatanan Islam ini sendiri? Untuk saat ini sangat kecil kemungkinan satu gerak­an dakwah saja dapat melakukan peru­bahan dengan baik, tanpa peranserta yang lain.

2. Mengedepankan Sikap Ukhuwah dan Menjauhi Sikap Ashabiyah

Ukhuwah Islamiyah adalah salah satu karunia Allah yang diberikan kepada orang yang bertakwa. Dengan ukhuwah yang baik seharusnya antara gerakan dakwah yang ada dapat saling bekerja sama. Ukhuwah adalah ikatan karena akidah yang harus meninggalkan kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Ikatan ukhuwah tidak dibatasi tembok-tembok rapuh duniawi seperti beda suku, partai, ormas, gerakan dakwah, golongan, ras, kaya miskin dan lain-lain. Karenanya tidak serta merta ghi­bah, namimah, tajasus menjadi halal lantaran bukan sama seorganisasi. Siapa pun dalam ikatan iman dan akidah me­miliki “kesakralan” ukhuwah yang harus dijaga. Apakah Muhammadiyah bisa mempelopori?

Sedangkan ashabiyah adalah rasa bangga yang berlebihan terhadap kelompok dan merendahkan yang lain. Al-Qur’an menyeru kita untuk melepaskan dan belenggu-belenggu fanatisme: Katakanlah: “Jika bapak-bapakanak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA”, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At­-Taubah: 24). Rasulullah mengingatkan kita dengan sabdanya. “Bukanlah golong­anku orang yang berperang atas dasar fanatisme dan bukan golonganku orang yang mati membela fanatisme.” (HR Abu Daud). Untuk itu sudah saatnya kita se­mua menanggalkan sikap terlalu bangga dan mengagungkan kelompok kita. Bu­kankah Islam mengajarkan kepada kita untuk saling berkenalan, mengikat hati, dan berlomba-lomba dalam kebaikan untuk meraih ketakwaan.

3. Penekanan pada Pembinaan dan Pengaderan

Gerakan dakwah yang baik pasti me­ngedepankan pola pengaderan yang jelas, baik sistem, maupun cara. Selain itu perlu adanya kurikulum dan materi­materi yang mendukung untuk terben­tuknya kader dengan baik. Kader ibarat pigura atau bingkai sebuah gambar. Bingkai itu melindungi dan menjaga serta menambah baik, menjadi kuat dan tahan lama sebuah gambar, serta dapat menjaga gambar tetap baik. Bagi Muhammadiyah keberadaan kader menjadi sangat strategis jika tidak ingin gerakan dakwah ini hilang tinggal kenangan. Karena itu sudah saatnya membuat suatu grand design tentang pengaderan yang baik efektif dan efesien serta up to date. Bisakah sekolah-sekolah Muhammadiyah difungsikan menjadi tempat pengaderan yang baik? Selama ini Muhammadiyah baru melakukan pengaderan secara temporal dalam waktu dua atau tiga hari berturut-turut. Pengaderan semacam itu sudah waktunya untuk diubah karena dalam waktu yang singkat tersebut sangat kecil kemung­kinan untuk dapat menjadikan kader-­kader yang militan. Biasanya setelah pe­ngaderan selesai kader dilepas untuk bisa berperan di Muhammadiyah dan meng­hadapi derasnya arus kehidupan, tanpa pendampingan yang berkesinambungan. Bisa jadi ada anggota-anggota yang belum memahami Islam dengan baik bisa men­duduki posisi strategis dalam lembaga dakwah karena longgarnya sistim seleksi. Bisa jadi ada anggota yang masuk ke organisasi karena kepentingan pribadi, baik materi, politik, atau lain-lainnya. Bisa kita lihat ketika terjadi pemilihan pengurus sedikit banyak telah ada move-move tertentu yang dilakukan atau digalang untuk kepentingan tertentu. Bisa jadi tidak karena pertimbangan dakwah murni.

4. Mengutamakan Kerja daripada Slogan

Pola dakwah yang berorientasi pada massa biasanya lebih banyak mengan­dalkan slogan dari pada substansi. Gerakan dakwah apabila tidak mampu mengubah slogan menjadi kenyataan lama-lama akan kehilangan kehor­matannya. Akhimya tidak mampu mewu­judkan tujuan-tujuan yang lebih besar. Bisa jadi dalam aktivitasnya ada yang bertentangan dengan slogan-slogan yang di kedepankan. Mantan Ketua PD. Mu­hammadiyah disebuah kabupaten dalam kesempatan Tausiyah mengatakan “ada isteri seorang pengurus ortom Muhammadiyah pergi ke pasar tidak memakai jilbab”. Jika kembali kita tengok buku Himpunan Putusan Tarjih di situ jelas ma­salah hijab atau tabir dalam pertemuan­-pertemuan warga sangat diperhatikan. Walaupun Hijab dan tabir tidak harus dengan kain, tapi secara substansi harus terpenuhi. Sedangkan Islam memberikan perhatian yang lebih terhadap subtansi. Sudah menjadi keharusan slogan-slogan itu diterjemahkan dalam kehidupan yang nyata dengan keteladanan. Agar ke depan segera terwujud di negeri ini, baik aspek moral maupun undang-undang.

5. Mengutamakan Kualitas dari Kuantitas

Sebuah gerakan bisa terjebak dengan banyaknya jumlah anggota walaupun kuantitas sendiri juga memiliki nilai sen­diri. Kita begitu gigih memperluas dan mempertahankan anggota kita untuk memperkukuh dan memperkuat gerakan ini, tapi kadang lupa kita menjaganya se­cara berkelangsungan dengan pening­katan kualitas. Seseorang sudah dianggap baik bila telah rajin ikut pertemuan­-pertemuan baik yang diadakan di daerah, cabang, atau ranting. Sedangkan penga­jian-pengajian diadakan bulanan, atau bahkan selapanan dan itu dilaksanakan dengan massal. Pengajian massal bila ditinjau dari segi pembinaan atau pe­ngaderan bisa dikatakan kurang efektif. Ustadz tidak bisa memantau, mengeva­luasi, atau mengetahui dengan baik pe­serta pengajian. Bahkan kadang ustadz-­ustadz yang lucu yang menjadi idola. Jika kondisi demikian bagaimana secara kualitas kader Muhammadiyah akan meningkat khususnya atau masyarakat Islami ini akan terwujud. Pembinaan yang inten­sif dalam kelompok-kelompok kecil disemua ortom di tiap-tiap Ranting, mungkin satu solusi. Di situlah nanti akan penjagaan, pembinaan dan pemantauan secara istimrar, sehingga muncul kader­-kader baik bagi Islam ini. Perang Badar dapat dimenangkan karena kualitas pa­sukan bukan kuantitas. Sedangkan Perang Hunain sebagai saksi kehancuran bahwa kuantitas yang banyak bisa dika­lahkan ketika dicampuri penyakit riya dan takabur. Dan ingatlah Perang Hunain, yaitu, diwaktu kamu menjadi congkak ka­rena banyakjumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas ini terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai (At Taubah :25)

Oleh karena itu Muhammadiyah be­serta kader-kader pendukungnya untuk segera bersama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi teladan bagi keluarganya, tetangga dan masya­rakatnya. Saya yakin Muhammadiyah dengan seluruh kadernya tahu bagai­mana benar-benar meluruskan niat, serta mawasdiri semata karena Allah untuk menegakkan nilai-nilai Islam dengan Muhammadiyah bukan Menegakkan Muhammadiyah dengan Islam.

Muhammadiyah perlu mengevaluasi diri
Muhammadiyah untuk melakukan evaluasi serta mereposisikan gerakan dakwahnya (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Muhammadiyah Perlu Mengevaluasi Diri
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...