Muhammadiyah dan Pembaharuan di Bidang Politik

Oleh : Ahmad Na’im Azhari (Guru SMP Muh. 8 Yogya)

Proses pemberdayaan politik mensyaratkan adanya lembaga yang betul-betul concern dan memiliki komitmen social yang tinggi lembaga tersebut tidak memiliki kaitan baik secara langsung maupun tidak dengan partai politik tertentu. Ini menjadi penting ditekankan dengan harapan proses penyadaran politik masyarakat betul-betul teraktualisasi dalam langgam demokrasi yang sejati. Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang berkomitmen pada pengembangan masyarakat tanpa terjebak dalam hiruk pikuk politik memiliki peluang dan peran yang sangat strategis bagi pemberdayaan politik masyarakat.

Ada beberapa keuntungan yang didapat baik oleh Muhammadiyah maupun masyarakat, apabila proses pemberdayaan tersebut dapat terwujud. Pertama, masyarakat akan terbebas dari beban politisasi, karena Muhammadiyah merupakan organisasi sosial, bukan organisasi politik atau yang berafiliasi pada partai politik tertentu. Kedua, dari proses tersebut akan tercipta sebuah interaksi yang lebih kondusif antara masyarakat dengan organisasi sosial. Ketiga, munculnya kritisisme masyarakat terhadap partai politik, dan menjadikan ormas sebagai rujukan moral politik dan sosial sekaligus.

Pada akhirnya proses ini akan meletakkan masyarakat sebagai subyek politikbukan sebaliknya. Mereka menjadi kekuatan partisipatif yang independen yang mampu menentukan pilihan-pilihan politiknya secara rasional, bukan menjadi kekuatan yang dimobilisir dan mudah dipermainkan oleh kepentingan partai politik.

Muhammadiyah memiliki kekuatan untuk melaksanakan pendidikan politik tersebut, karena dari awal Muhammadiyah telah berkomitmen untuk menjadi kekuatan moral baik pada level politik, melalui keteladanan-keteladanan yang diperlihatkan oleh anggota Muhammadiyah diberbagai partai, maupun pada level ekonomi dengan menyucikan diri dari praktik-praktik korupsi dan kolusi. Muhammadiyah dapat membangun garis tegas antara dirinya, sebagai ormas, dengan partai politik yang memiliki tanggungjawab politik bagi masyarakat.

Sejatinya Muhammadiyah memiliki beban historis sekaligus teologis untuk merekonstruksi persoalan politik bangsa. Salah satu langkahnya adalah dengan melakukan tajdid (pembaharuan) politik sebagaimana menjadi misi awal eksistensi Muhammadiyah itu sendiri. Sebagaimana misi awal kemunculannya. Muhammadiyah merupakan organisasi yang berusaha melakukan pembaharuan atau tajdid terhadap praktik-praktik keagamaan yang dianggap menghambat terhadap kemajuan umat Islam.

Kalau Muhammadiyah dari awal dikenal sebagai organisasi pembaharuan dalam hal keagamaan maka ditengah suasana dinamika politik yang begitu menggairahkan Muhammadiyah harus bisa menjadi organisasi yang memberi garansi moral khususnya bagi warga Muhammadiyah yang aktif dipartai maupun masyarakat secara umum. Pembaharuan atau tajdid politik yang diperlukan tentu lebih bersifat nilai-nilai, bukan dalam bentuk gerakan politik praktis. Karena kalau pilihan kedua, politik praktis, ini yang dipilih, maka Muhammadiyah akan menjadi kekuatan yang menyempit dan terbatas. Dengan kata lain peran organisasi sosial seperti Muhammadiyah memiliki wilayah peran yang jauh lebih luas dan lebih strategis dibandingkan partai politik. Karena didalam organisasi sosial beragam unsur dan latar belakang bisa menyatu tanpa terjebak oleh kepentingan ideologi tertentu dan problem yang harus di selesaikanpun lebih luas yang di dalamnya juga persoalan sosial – politik.

Tajdid politik pada akhirnya akan melahirkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, terbangunnya kesadaran dikalangan elit politik tentang adanya tanggungjawab sosial. Muhammadiyah sebagai ormas memiliki cukup gigih untuk melakukan ini, disamping karena sebagai elit politik memiliki keterkaitan emosional dengan Muhammadiyah, juga karena Muhammadiyah merupakan organisasi yang memiliki massa terbesar dan menyebar. Kedua, dengan basis massa yang kuat, Muhammadiyah bisa melakukan kontrol sosial  terhadap dinamika politik, sehingga tidak melahirkan sikap dan perilaku politik yang tidak produktif. Ketiga, keteladanan politik. Kalau para elit politik saat ini telah tercemar oleh ulahnya sendiri, maka Muhammadiyah walaupun bukan organisasi politik dapat menjadi pelopor yang dapat memantulkan nilai-nilai dan sikap politik yang dapat menjadi teladan bagi elit politik sendiri misalnya dalam proses pemilihan kepemimpinan di Muhammadiyah yang dilangsungkan secara sportif terbuka dan tanpa money politics. Keempat, kontrol moral. Ekspresi politik yang hadir saat ini cenderung meninggalkan kontrol moral. Para elit lebih berpijak pada kepentingan. Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan memiliki legitimasi teologis untuk melakukan kontrol moral terhadap perilaku politik para elit.

Melihat wilayah dan agenda publik yang semakin luas, maka sudah seharusnya Muhammadiyah meluaskan wilayah “dakwah”nya pula. Bagi Muhammadiyah, politik bukanlah barang asing. Secara historis Muhammadiyah sudah merasakan dunia politik dengan segala dampaknya. Kini Muhammadiyah telah menjadi organisasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara sosial. Kalau selama ini Muhammadiyah dianggap berhasil membangun basis sosial budaya, maka kini harus pula menggarap wilayah politik tanpa melibatkan dirinya secara langsung, tetapi melalui penanaman nilai-nilai yang menjadi rujukan para politisi. Inilah wilayah tajdid politik yang bisa menjadi garapan Muhammadiyah sebagai ormas yang tetap tak tergoda untuk berpolitik praktis.

Secara historis Muhammadiyah sudah merasakan dunia politik dengan segala dampaknya
Secara historis Muhammadiyah sudah merasakan dunia politik dengan segala dampaknya (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait