MOU untuk membuat sistem yang terpadu bisa direalisasikan tahun depan

Dr. Ariswan, M.Si., DEA
Dr. Ariswan, M.Si., DEA – Ketua DIKDASMEN PDM Kota Yogyakarta

Berikut wawancara Reporter Majalah Mentari dengan DR. Ariswan selaku Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Yogyakarta tentang Sisterm Terpadu Perguruan Muhamadiyah.

Bagaimana Dikdasmen melihat urgensi pembentukan sekolah dg sistem berkelanjutan dari SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah?

Harus kita diskusikan dahulu lebih matang; pertama soal adopsi sistem di SD Misalnya pendirian SMP Muhammadiyah Sapen. Itu harus kita lihat konsep dasar persyarikatan Muhammadiyah di mana? Pendidikan Muhammadiyah sudah punya sistem, nah kalau itu kita lakukan. Jangan- jangan pengembangan ini terkait dengan kepentingan personal di sistem itu dan tidak mengakar pada sistem di Muhammadiyah, saya punya kekhawatiran itu. Itu perlu pemikiran untuk  mengembangkan sistem yang telah ada, misalnya kita belum bisa menghubungkan kultur dan sistem pendidikan antara SD Muhammadiyah Sapen dengan SMP Muhammadiyah 2. Bagaimana kita buatkan MOU dengan difasilitasi Majelis Dikdasmen untuk meningkatkan kualitasnya sehingga mampu bersaing dengaan SMP unggulan di kota ini.

Dengan pengembangan SMP atau SMA yang ada, bagaimana memastikan siswa di SD Muhammadiyah melanjutkan di sekolah Muhammadiyah?

Maka sistem dikembangkan terpadu, misalnya di SMP Muhammadiyah 2 yang sudah bagus diinputkan ke SD Muhammadiyah Sapen. Nanti ada MOU kedua sekolah agar alumni SD Muhammadiyah Sapen dididik secara khusus bekerjasama dengan PDM melanjutkan program sebelumnya dalam rangka prestasi. Image yang dikembangkan di masyarakat bagaimana anak SD Muh Sapen yang berprestasi akan berprestasi juga di SMP Muhammadiyah 2. Tapi untuk mendirikan yang baru kita masih membutuhkan pemikiran jangan- jangan orientasinya pada personal, bukan pada sistem pengembangan.

Kepentingan personal yang dimaksud siapa?

Kepala sekolah misalnya yang punya koneksitas dengan beberapa orang. Siapa yang menjamin orang- orang tersebut berfikir tentang muhammadiyah sehingga patut dikhawatirkan akan keluar dari sistem yang telah berjalan di Muhammadiyah karena Muhammadiyah itu harus disadari memang harus berprestasi tetapi harus sadar semua yang ada di dalamnya adalah milik Muhammadiyah. Ini akan menjadi susah diperbaiki kalau tidak dijelaskan sejak awal.

Artinya wacana ini penting tetapi tidak harus membuat SMP dan SMA Baru sesuai dengan nama SD nya?

Iya, sementara untuk imej bisa dibuat kebijakan baru, misalnya antara SD Muh Sapen dan SMP Muh 2 dengan kolaborasi membuat kelas khusus dengan jaminan prestasi bagi anak- anak Sapen akan mencapai puncak prestasi di SMP Muhammadiyah 2 itu di bawah kendali Majelis Dikdasmen kota misalnya. Dengan demikian sistem yang dibangun masih sesuai dengan sistem persyarikatan. Namun kalau mendirikan sekolah baru dengan orientasi nama saja saya khawatir nama tersebut terkait dengan kepentingan individu. Meskipun sebenarnya bisa saja asal ada jaminan sistem Muhammadiyah di dalamnya. Harus dikawal bahkan yang menginisiasi adalah orang- oranga yang ditentukan oleh Majelis Dikdasmen PCM Maupun PDM. Masalahnya layak atau tidak? Jangan- jangan sudah dibuat sekolah baru namun siswanya tidak semua dari SD dengan nama yang sama karena orang tua juga tertarik dengan sekolah negeri favorit. Misalnya seorang anak dengan NEM yang dapat masuk di sekolah favorit di kota ini, apakah orang tua di SD Muhammadiyah akan memasukkan ke SMP lanjutanya meski dengan nama yang sama? Belum tentu.

Secara regulasi apakah sekolah dengan nama cabang apakah tidak melanggar?

Ini tidak bisa karena ada birokrasinya. Jadi nama kalau SD harus berkaitan dengan cabang kalau SMP di kota sesuai urut. Muhammadiyah sudah punya sistem dan harus dipertahankan.

SD mana yang bisa dijadikan pilot konsep ini?

Menurut saya yang paling memungkinkan adalah SD Muhammadiyah Sokonandi dengan SMP Muhammadiyah 2. Ini satu kelompok di situ ada komplek perguruan, bahkan kalau bisa SD Muh Sokonandi, SMP Muh 2 dan SMA Muh 2. Kurikulumnya harus terpadu jadi utamanya misalnya akidah akhlak dan hafal alquran, target pencapaianya harus berurutan dari SD sampai SMA. Kedepan yang akan dirintis adalah TK ABA dengan SD Muhammadiyah. Prinsipnya kalau mau membuat SMP dan SMA baru dengan nama yang sama dengan SD Muhammadiyah perlu riset dulu, sedangkan kalau dua atau tiga sekolah yang ada mau MOU untuk membuat sistem yang terpadu bisa direalisasikan tahun depan.

Apa pertimbangan mempertemukan dua pihak sekolah?

Dua sekolah harus punya atmosper pendidikan yang sama. Seperti SMP Muh 2 dan Sapen relatif sama, maka kita buat piloting dulu tidak semuanya. Untuk SD dan tiga akan kita buat sekota. Maka tahun depan semua harus terhubung antara TK ABA da SD Muh.

Apakah Dikdasmen sudah ada political will untuk merealisasikan SMP dan SMA berkelanjutan?

Sudah, yang kompleknya dekat kita dorong tapi belum intensif. Tetapi tahun depan yang siap adalah TK dan SD. SMP dan SMA saya realistis karena orang tua atau wali murid SD Muh Sapen dengan NEM 29 bisa masuk ke SMP negeri mana saja. Maka kita dorong SMP Muh 2 untuk MOU dengan Sapen untuk menjamin keberlangsungan prestasi anaknya di SD Muh Sapen.

Bagaimana mengatasi egosentris masing- masing pihak SD atau SMP sehingga mau bertemua untuk MOU?

Itu peranan Majelis, jadi Dikdasmen berperan di sana. Saya selalu katakan bahwa Dikdasmen bertanggung jawab dan fokus pada sistem pengembangan pendidikan Muhammadiyah. Maka orang majelis kakinya harus menyentuh kebumi sekolah itu, jangan di atas meja. Kepala sekolah harus diajak berfikir pada pengembangannya. Kita dorong para kepala sekolah agar tidak hanya bangga pada sekolah yang ia pimpin tetapi harus bangga pada semua sekolah Muhammadiyah di kota Jogja. Nanti kita kluster utamanya pusat kota yaitu kauman, bagaimana semua sekolah di sana kuat semua.

Apa problemnya saat ini?

Problemnya adalah SDM kita.  Juga kebijakan PDM karena tidak semua pimpinan kita paham pendidikan. Kita di majelis paham masalah tetapi sibuk semua dengan banyak pikiran. Kemudian pendanaanya ada di PDM yang kadang tidak match. Kita punya banyak anggota di Majelis tetapi yang aktif itu- itu saja.


Daftar Laporan Khusus “Sistem Terpadu perguruan Muhammadiyah“.

Reporter : Fuad Hasyim

Liputan ini pernah dimuat di Rubrik Fokus Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar MOU untuk membuat sistem yang terpadu bisa direalisasikan tahun depan
Fuad Hasyim, S.S, M.A
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Yogyakarta, Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia, Pimpinan Redaksi Majalah Mentari

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...