Misi Sosial Ranting Muhammadiyah dalam Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah

Gambar Misi Sosial Ranting Muhammadiyah dalam Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Misi sosial Ranting Muhammadiyah pada dasarnya adalah perwujudan dari shodaqoh jariyah. Arti dari kata jariyah sendiri ialah mengalir, sehingga shodaqoh jariyah sering diartikan shodaqoh yang pahalanyaa terus mengalir meskipun orang yang melakukannya telah meninggal dunia. Makna shodaqoh tidak hanya berbentuk pemberian barang atau uang kepada yang membutuhkan, namun sangat luas cakupannya. Rasulullah bersabda : “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah shodaqoh.” (HR. Tirmidzi).

Bahkan dalam sebuah sabdanya Rasulullah meyebutkan bahwa hubungan intim suami istri pun bernilai shodaqoh. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh“. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala” (HR. Muslim no. 2376).

Secara fungsional shodaqoh adalah suatu usaha “menggembirakan” orang lain yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Meskipun beberapa ulama mengartikann shodaqoh jariyah itu adalah wakaf, namun dengan pengertian di atas bisa kita simpulkan bahwa semua usaha untuk menggembirakan orang lain yang berkelanjutan (tidak hanya dirasakan sekali saja manfaatnya) bisa digolongkan sebagai shodaqoh jariyah. Tentu saja jika hal itu tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Allah.

Misi sosial untuk “menggembirakan” dalam gerakan dakwah yang dilakukan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah setidaknya ada dua: 1)  Pelayanan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah; dan 2) Penataan kehidupan bermasyarakat.

1. Pelayanan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).

Ada dua syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan sesuai dengam tuntunan Rasulullah. Syarat pertama mendasari gerakan meluruskan niat dalam dakwah akar rumput, dan dalam hal ini masuk dalam misi keilmuan. Sedang syarat kedua mendasari gerakan pelayanan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah, dan dalam hal ini masuk dalam misi sosial.

Salah satu bentuk pelayanan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ialah meluruskan shaf sholat di masjid atau mushola yang dikelola sehingga dengan pelurusan itu maka setiap orang yang sholat di sana akan mengirimkan pahala yang terus mengalir bagi mereka yang berjasa meluruskan shaf sesuai tuntunan Rasulullah itu. Itu hanyalah satu contoh kecil dari misi sosial dalam bentuk pengelolaan masjid/mushola sesuai tuntunan Rasulullah. Secara umum ada beberapa bentuk pelayanan ibadah ini yang merupakan bagian dari misi sosial, yaitu: a) Pengelolaan masjid/mushola sesuai tuntunan Rasulullah; b) Penataan tata cara dan sistem perawatan jenazah; c) Penataan pengumpulan dan penyaluran ZIS atau Zakat Infaq Shodaqoh; d) Penyiapan sarana dua sholat ‘idh.

1.a. Pengelolaan masjid/mushola sesuai tuntunan Rasulullah

Masjid dan mushola pada prinsipnya didirikan sebagai tempat ibadah, meski dalam GJDJ atau Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah peran masjid tidak hanya itu. Sebagai tempat ibadah, maka pengelolanya punya amanah untuk berusaha dengan sungguh-sungguh agar pelayanan ibadah di dalamnya benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Untuk menjamin terselenggaranya peribadatan seperti itu secara terus menerus maka dibutuhkan:

          • Pembinaan Imam (agar sholatnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, dengan bacaan Qur’an yang baik, dan hafalan Qur’an yang memadai)
          • Pembinaan Khatib/Penceramah (agar yang disampaikan kepada jamaah benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah)
          • Pembinaan Takmir (agar masjid tetap dalam komitmen mendukung GJDJ atau terikat secara organisatoris dengan dakwah akar rumput seperti halnya dengan PRM)

1.b. Penataan tata cara dan sistem perawatan jenazah

Perawatan jenazah adalah kegiatan sosial yang sesungguhnya penting dalam misi sosial dakwah justru karena menyinggung persoalan budaya setempat dan dalam beberapa aspek menyentuh problematika kemiskinan di wilayah-wilayah tertentu. Perawatan jenazah meliputi pemandian jenazah, pengkafanan, penjelasan tentang adanya kewajiban penanggungan hutang jenazah, mensholatkan jenazah, dan upacara pemberangkatan jenazah, serta penguburan. Untuk mendukung perawatan jenazah tersebut butuh prasarana dan sumber daya manusia yang memadai.

Perlu dipertegas, sebenarnya misi sosial perawatan jenazah hanya cukup sampai di penguburan. Hanya saja tak jarang karena faktor budaya, dalam praktik di beberapa tempat, setelah jenazah dikuburkan keluarga yang menyandang duka masih harus ketanggungan untuk mengadakan tahlilan atau yasinan selama beberapa hari dan kemudian masih ada peringatan kematian pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari setelah jenazah meninggal dunia. Hal ini perlu perlakuan dakwah yang tegas namun dengan cara bijak, karena menyangkut tradisi yang mengakar di satu sisi dan persoalan kemiskinan di sisi lain.

Dari beberapa temuan, karena hal itu seakan menjadi keharusan tak jarang sebuah keluarga yang miskin harus mengada-adakan doa setelah peguburan dan peringatan kematian itu dengan berhutang kesana kemari. Orang-orang kaya di wilayah tersebut punya peran dalam menciptakan kondisi seakan-akan ada keharusan ada doa, tahlilan, atau yasinan serta peringatan kematian setelah penguburan jenazah. Karena mereka punya uang dan melakukan hal itu, maka yang miskin-miskin juga menganggap hal itu menjadi hal yang penting dan disyariatkan dalam agama sehingga berusaha melakukan itu sampai mengada-adakan dengan berhutang segala.

Dalam tulisan ini tidak akan diperinci bagaimana tata cara pemandian jenazah, pengkafanan, penjelasan tentang adanya kewajiban penanggungan hutang jenazah, mensholatkan jenazah, dan upacara pemberangkatan jenazah, serta penguburan. Namun prinsipnya adalah bagaimana Pimpinan Ranting Muhammadiyah dapat menyediakan pelayanan perawatan jenazah sesuai tuntunan Rasulullah termasuk juga membuatkan sistemnya di kampung atau desa wilayah dakwahnya.

Praktik di PRM Wirobrajan Yogyakarta bisa dijadikan contoh. Mereka menunjuk orang untuk melayani perawatan jenazah yang disebut Rois. Ada dua orang Rois yang secara keimuan sudah dibekali untuk perawatan jenazah, satu Rois bertugas untuk kampung sebelah barat jalan dan satu Rois bertugas di wilayah kampung yang sebelah timur jalan. Rois tersebut yang melayani pemandian jenazah, pengkafanan, menjelaskan proses upacara pemberangkatan jenazah, serta memimpin doa setelah penguburan.

1.c. Penataan pengumpulan dan penyaluran ZIS atau Zakat Infaq Shodaqoh

Zakat Infaq Shodaqoh yang selanjutnya disingkat ZIS merupakan potensi yang ada di masyarakat untuk melakukan penyantunan bagi mereka yang tak mampu. Penyantunan tersebut selama ini hanya bersifat karitas atau hanya sekedar memberi, tidak peduli apakah pemberian itu memiliki efek pemberdayaan pada yang diberi atau tidak. Bahkan di beberapa tempat, ZIS bukan disalurkan ke orang-orang yang tak mampu tapi mengumpul di ustadz yang tak jarang sudah kaya raya karena tanahnya yang luas. Walaupun seorang ustadz bisa termasuk fisabilillaah yang menjadi golongan penerima zakat, tapi dia bukan satu-satunya yang berhak menerima zakat.  Masih ada 7 golongan lain yang berhak menerima zakat.

Pengelolaan modern ZIS sekarang ini dikelola oleh Lembaga Amil zakat yang disingkat LAZ. Ada beberapa keuntungan pengelolaan Zakat melalui LAZ. Pertama, bisa menjamin kepastian dan disiplin pembayaran zakat. Kedua, pengelolaaannya dapat lebih professional. Ketiga, bisa mencapai efisiensi dan efektifitas dalam sasaran dan dalam  penggunaan harta zakat menurut proritas yang ada pada suatu wilayah. Keempat, bisa memudahkan pelaporan dan pertanggungjawaban ke publik. Kelima, bisa memudahkan koordinasi dan konsolidasi data muzakki dan mustahiq.

Sesungguhnya dengan manajemen LAZIS yang baik maka bisa saja dirancang sebuah sistem zakat produktif, agar bantuan yang diberikan kepada yang tidak mampu bisa memberdayakan yang dibantu. Beberapa pendapat ulama mendukung adanya zakat produktif ini. Pendapat Ibnu Qudamah seperti yang dinukil oleh Yusuf Qaradhawi mengatakan “Sesungguhnya tujuan zakat adalah untuk memberikan kecukupan kepada fakir miskin….” Hal ini juga seperti dikutip oleh Masjfuk Zuhdi yang membawakan pendapat Asy-Syafi’i, An-Nawawi, Ahmad bin Hambal serta Al-Qasim bin Salam dalam kitabnya Al-Amwal, mereka berpendapat bahwa fakir miskin hendaknya diberi dana yang cukup dari zakat sehingga ia terlepas dari kemiskinan dan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya secara mandiri.

Salah satu hal yang penting dalam pengelolaan ZIS ini adalah pembuatan sistem santunan untuk pendidikan. Harus ada jaminan anak-anak yang kurang mampu tetap bisa mengeyam pendidikan minimal sampai SMA/SMK di kampung atau desa tempat dakwah akar rumput dijalankan. Caranya bisa dengan pendirian sekolah melalui sistem subsidi silang, atau bisa juga dengan pemberian bea siswa bagi anak-anak yang kurang mampu itu. Bisa juga dengan mengkoordinir gerakan orang tua asuh misalnya melalui Pimpinan Ranting Aisyiyah atau yang lainnya.

Sekarang ini dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat setiap orang termasuk Takmir Masjid dilarang dengan sengaja bertindak selaku amil zakat, yaitu melakukan pengumpulan, pendistribusian, atau pendayagunaan zakat, tanpa izin pejabat yang berwenang. Menurut Undang-undang tersebut, amil zakat yang tak berizin itu diancam pidana kurungan paling lama 1 tahun dan/atau denda paling banyak 50 juta rupiiah. Untuk tidak terjerat pada pelanggaran itu, Pimpinan Ranting Muhammadiyah dalam menjalankan fungsi amil zakatnya menggunakan label Lazismu (Lembaga Amil Zakat Infak dam Shodaqoh Muhammadiyah) yang telah mendapatkan izin dengan SK Kementrian Agama RI No 457 tahun 2002. Untuk itu status Lazis di Ranting Muhammadiyah adalah selaku UPZ (Unit Pengumpul Zakat) Lazismu.

1.d. Penyiapan sarana dua sholat ‘idh

Penyiapan sarana sholat ‘idh merupakan bagian dari misi sosial karena ada unsur syiar dalam penyelenggaraan sholat ‘idh. Tempat sholat ‘idh idealnya di lapangan terbuka sebagaimana dilakukan Rasulullah, kecuali jika hujan. Dengan jumlah massa yang besar terkumpul di lapangan, memunculkan rasa kebanggaan sebagai seorang muslim dan berdampak pada kualitas ukhuwah islamiyah. Alhasil, yang demikian mendukung usaha untuk menata kehidupan bermasyarakat.

Di PRM Ngoro-oro Gunung Kidul, bahkan sampai memiliki wakaf untuk lapangan hari raya agar sholat ‘Idh bisa senantiasa dilakukan di lapangan. Tentu saja tidak semua bisa menyediakan lapangan khusus untuk sholat ‘idh ini, namun minimal bisa jauh-jauh hari menyiapkan peminjaman alun-alun milik pemerintah, lapangan sepak bola, atau lapangan terbuka lainnya yang menampung jamaah yang banyak. Idealnya untuk di perkotaan, satu kecamatan hanya ada satu tempat sholat ‘idh agar syiar Islam benar terasa dengaan jumlah massa yang banyak berkumpul. Sedang pelaksanaan di pedesaan bisa disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masyarakat.

2. Penataan kehidupan bermasyarakat

Penataan kehidupan bermasyarakat dilakukan dengan tiga pilar GJDJ, yaitu: a. Majelis/Lembaga; b. Jamaah; c. Organisasi otonom. Pembuatan majelis/lembaga dilakukan untuk menangani bidang-bidang garap dakwah yang spesifik. Pembentukan jamaah-jamaah untuk melakukan pembinaan berbasis komunitas, yaitu komuitas berbasis hobi, profesi, kewilayahan, maupun kelompok pengajian. Sedang pendirian organisasi otonom dilakukan untuk mengorganisir penggerak dakwah dengan spesifikasi tertentu. Misalnya dibentuk NA untuk menampung para remaja putri yang akan menjadi penggerak dakwah. Untuk penggerak dakwah ibu-ibu bisa dibentuk Aisyiyah.

2.a. Pembuatan Majelis/Lembaga

Pembuatan Majelis atau Lembaga bisa dilakukan setelah memiliki konsep yang matang tentang apa bidang garap Majelis / Lembaga yang akan didirikan. Setelah ditentukan siapa yang akan diberi amanah untuk memegang Majelis atau lembaga tersebut, selanjutnya dalam kerjanya Majelis atau Lembaga tersebut segera membuat prioritas-prioritas program untuk menjawab problematika umat di desa atau  kampung tersebut.

Di depan telah dicontohkan salah satu lembaga yang penting untuk dibentuk, yaitu LAZIS. Selain itu bisa pula dibentuk Majelis Tabligh untuk menata pengelolaan masjid dan mushola, serta merancang pengajian atau majelis ilmu yang dibutuhkan. Majelis Pendidikan Kader juga penting dibentuk untuk mengawal penyiapan kader-kader dakwah akar rumput. Sedang untuk untuk menyantuni warga dalam hal kesehatan bisa dibentuk Majelis Pelayanan Kesehatan Umat. Untuk mengurusi wakaf bisa dibentuk Majelis Wakaf. Untuk pemberdayaan masyarakat bisa dibentuk Majelis Pemberdayaan Masyarakat. Untuk mendukung dakwah dengan seni bisa dibentuk lembaga Seni Budaya. Untuk menggerakkan bisnis pendukung dakwah bisa dibentuk Majelis Ekonomi.

2.b. Pembentukan jamaah

Jamaah dibentuk berdasarkan potensi yang ada di kampung atau desa setempat. Jika disederhanakan, tujuan dari pembentukan jamaah dalam Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah ini ada dua. Pertama, ialah untuk mengikat sumber daya manusia yang ada sesuai karakter yang dipunyai sehingga bisa memperkuat dakwah Muhammadiyah. Kedua, ialah untuk pembinaan sumber daya manusia yang bisa ditampung oleh jamaah yang mereka itu akan turut serta menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pembentukan jamaah tersebut bisa berbasis hobi, profesi, kesamaan wilayah, dan pengajian.

Tujuan pertama dari pembentukan jamaah di atas, untuk mengikat sumber daya manusia yang ada sesuai karakter yang dipunyai sehingga bisa memperkuat dakwah Muhammadiyah, berangkat dari kesadaran perlunya merangkul sebanyak mungkin orang untuk menjadi penggerak dakwah. Jika dakwah hanya digerakkan oleh orang yang berasal dari kelompok pengajian, maka menjadi terbatas orang yang bisa terlibat. Padahal, orang bisa terikat dengan dakwah Muhammadiyah  melalui hobi, profesi yang digeluti, atau karena kesamaan wilayah.

Tujuan kedua dari pembentukan jamaah, untuk pembinaan sumber daya manusia, berangkat dari kesadaran perlunya penataan masyarakat dengan suatu program yang menggembirakan. Program pembinaan yang menggembirakan itu disesuaikan pada hobi, profesi, kesamaan wilayah, atau dalam keanggotaan jamaah pengajian yang menjadi pengikat jamaah tersebut. Dengan demikian diharapkan anggota jamaah bisa gembira meningkatkan kualitas diri sehingga muncul semangat merealisasikan kehidupan Islam yang sebenar-benarnya.

2.c. Pembentukan organisasi otonom

Pembentukan organisasi otonom di Ranting Muhammadiyah dilakukan untuk efisiensi dan efektivitas organisasi dakwah. Yang dimaksud dengan efisiensi disini adalah pengukuhan penggerak dakwah secara lebih spesifik sehingga tidak tumpang tindih dan tidak banyak membuang energi untuk hal-hal yang  tidak perlu. Sedang efektivitas ialah ketepatan sasaran karena telah dispesifikkan atau dikhususkan pengelolaannya.

Contoh organisasi otonom dalam Muhammadiyah adalah Aisyiyah untuk wadah penggerak dakwah ibu-ibu. Ada pula NA untuk wadah penggerak dakwah pemudi dan remaja putri. Ada PM untuk penggerak dakwah pemuda dan remaja putra. Ada juga IPM untuk penggerak dakwah di kalangan pelajar. Serta ada IMM untuk penggerak dakwah di kalangan mahasiswa.

Pembentukan organisasi otonom di Ranting Muhammadiyah dilakukan untuk efisiensi dan efektivitas organisasi dakwah
Pembentukan organisasi otonom di Ranting Muhammadiyah dilakukan untuk efisiensi dan efektivitas organisasi dakwah (Sumber gambar : instagram @pdpmjogja)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait