Misi Keilmuan Gerakan Dakwah Ranting Muhammadiyah

Gambar Misi Keilmuan Gerakan Dakwah Ranting Muhammadiyah
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58] 11).

Selain mengemban misi sosial, dakwah Ranting Muhammadiyah juga mengemban misi keilmuan. Jika kita telaah dengan seksama, setidaknya ada empat bagian penting dalam misi keilmuan yang diemban oleh dakwah Ranting Muhammadiyah, yaitu: 1) pengajaran akhlak dan ibadah; 2) pengembangan cara berfikir; 3) peningkatan skill / ketrampilan; dan 4) pemberian santunan pendidikan. Adapun yang dimaksud misi keilmuan dalam dakwah Ranting Muhammadiyah ini adalah amanah untuk menguatkan iman dan menyebarkan ilmu yang manfaat kepada umat sebagaimana inspirasi Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 di atas.

1. Pengajaran Akhlak dan Ibadah

Nabi SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallohu anhu, Rasulullah bersabda; “Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan keshalehan akhlak.” (HR. Ahmad dan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Dengan demikian misi keilmuan yang penting dilakukan oleh para pewaris Nabi ialah pengajaran akhlak. Pelajaran aqidah, ibadah, dan fiqh muamalah, haruslah memunculkan akhlaqul karimah atau akhlak yang mulia. Para penggerak dakwah Ranting Muhammadiyah haruslah memiliki akhlak yang mulia serta mengajarkan umat untuk berperilaku dengan akhlak yang mulia. Akhlak mulia ini mencakup 3 hal, yaitu: a. Akhlak kepada Allah dan rasul-Nya; b. Akhlak kepada sesama manusia, dan c. Akhlak kepada alam semesta.

Akhlak mulia, adalah karakter unggul menurut agama. Memahami karakter unggul ini akan memudahkan kemana arah pegajaran akhlak harus difokuskan. Beberapa hadits berikut bisa memberi panduan bagaimana menjalankan misi keilmuan dengan fokus pengajaran akhlak mulia tersebut

      • Dari Masruq dia berkata; “Kami pernah menemui Abdullah bin ‘Amru ketika kami tiba di Kufah bersama Mu’awiyah, kemudian dia ingat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Beliau tidak pernah berbuat kejelekan dan tidak menyuruh untuk berbuat kejelekan.” Lalu Abdullah bin Amru berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Bukhari  no. 5569)
      • Dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari no 11).
      • Dari Utsman radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no 4693)
      • Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu—dan ia saya mendengar-marfu’—kannya bahwa; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Shalat apakah yang paling utama setelah shalat Maktubah (wajib)? Dan puasa apakah yang paling utama setelah puasa Ramadlan?” maka beliau menjawab: “Seutama-utama shalat setelah shalat Maktubah (wajib) adalah shalat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utama puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharram.” (HR Muslim no. 1983)
      • Dari Abu Burdah dari Abu Musa berkata: ‘Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Siapa yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya”. (HR Bukhari no. 10)
      • Dari Abu Hurairah ia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” maka beliau pun menjawab: “Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu, ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si Fulan.” (HR. Muslim no. 1713)
      • Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa salam bersabda: “Kalian akan temui manusia beragam asal-usulnya (dan kwalitas perilakunya) maka orang-orang yang baik pada zaman jahiliyyah akan menjadi baik pula pada zaman Islam bila mereka memahami (Islam), dan akan kalian temui pula manusia yang paling baik dalam urusan (khilafah/pemerintahan) ini, yaitu mereka yang tidak selera terhadap jabatan dan akan kalian temui orang yang paling buruk dalam urusan ini adalah mereka yang bermuka dua, dia datang kepada satu golongan dengan wajah (pendapat) tertentu dan datang kepada kelompok lain dengan wajah (pendapat lain) lain”. (HR. Bukhari no. 3234).
      • “Barangsiapa yang memperoleh harta dengan jalan halal dan membelanjakannya pada jalan yang benar, maka itulah sebaik-baik pertolongan. Namun barangsiapa yang memperolehnya dengan jalan yang tidak halal, maka ia seperti halnya orang yang makan tapi tidak pernah merasa kenyang.” (HR. Muslim no. 1743)
      • Saya mendengar Abu ‘Amru Asy Syaibani berkata; telah mengabarkan kepada kami pemilik rumah ini, sambil menunjuk kerumah Abdullah dia berkata; saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: “Shalat tepat pada waktunya.” Dia bertanya lagi; “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dia bertanya; “Kemudian apa lagi?” beliau menjawab: “Berjuang di jalan Allah.” Abu ‘Amru berkata; “Dia (Abdullah) telah menceritakan kepadaku semuanya, sekiranya aku menambahkan niscaya dia pun akan menambahkan (amalan) tersebut kepadaku.” (HR. Bukhari no. 5513)
      • Aku mendengar [‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhuma] berkata,, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apakah benar kamu berpuasa dahr (sepanjang masa) dan shalat sepanjang malam?” Aku jawab; “Benar”. Beliau berkata: “Jika kamu kerjakan itu nanti matamu akan mengantuk dan fisikmu menjadi lemah. Tidak ada nilai puasa bagi siapa yang mengerjakan puasa sepanjang masa. Puasa tiga hari (dalam sebulan) sama nilainya dengan puasa sepanjang jaman”. ‘Abdullah bin ‘Amru berkata: “Sungguh aku mampu lebih dari itu”. Beliau berkata: “Kalau begitu puasalah dengan puasanya Nabi Daud ‘alaihi salam, yang dia berpuasa sehari dan berbuka sehari sehingga dia tidak akan kabur ketika berjumpa dengan musuh”. (HR. Bukhari no. 1843)
      • Dari ‘Amru bin Aus ast-Tasaqafiy dia mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Puasa yang paling Allah cintai adalah puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam, yaitu dia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari dan shalat yang paling Allah sukai adalah shalatnya Nabi Daud ‘Alaihissalam pula, yaitu dia tidur hingga pertengahan malam lalu bangun mendirikan shalat pada sepertiga malam dan tidur lagi di akhir seperenam malamnya”. (HR. Bukhari 3167)
      • “Dari [Abu Hurairah] dia berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menagih hutang seekor unta, maka beliau bersabda: “Berilah dia unta yang lebih tua dari usia untanya.” Beliau melanjutkan: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi hutang.” (HR. Muslim no. 3005)

Ringkasnya, hadits-hadits di atas adalah memberikan beberapa karakter unggul menurut Rasulullah. Yaitu poinnya adalah: 1) Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya; 2) Islam yang paling baik ialah memberi makan (orang miskin) serta mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan yang tidak dikenal; 3) Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya; 4) Seutama-utama shalat setelah shalat Maktubah (wajib) adalah shalat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utama puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharram; 5) Islam yang paling utama adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya; 6) Sedekah yang paling besar pahalanya adalah bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin dan saat berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya; 7) Manusia yang paling baik dalam urusan (khilafah/pemerintahan) ini, yaitu mereka yang tidak selera terhadap jabatan; 8) Barangsiapa yang memperoleh harta dengan jalan halal dan membelanjakannya pada jalan yang benar, maka itulah sebaik-baik pertolongan; 9) Amalan yang paling dicintai Allah ialah shalat tepat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, dan kemudian berjuang di jalan Allah; 10) Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalatnya Nabi Daud; 11) Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi hutang

1.a. Akhlak kepada Allah dan rasul-Nya

Inti Akhlak kepada Allah dan  Rasulullah adalah ketundukan dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah. Allah berfirman:

Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali-Imroon [3]: 32)

Pengajaran Akhlak kepada Allah dan Rasulnya meliputi persoalan aqidah dan bimbingan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Pengajaran aqidah dilakukan untuk menanamkan keimanan (iman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab suci, kepada rasul Allah, kepada hari akhir, serta kepada qadha dan qadhar) yang dihubungkan dengan konsekuensi keimanan itu dalam akhlak sehari-hari. Persoalan aqidah yang membicarakan tentang keyakinan haruslah memiliki dampak pada akhlak kehidupan sehari-hari. Jangan sampai ada orang yang bisa bercerita tentang keimanan, mengetahui sifat-sifat Allah dan hafal beberapa dalil-dalil dari al-Qur’an, namun dalam kehidupannya memiliki akhlak yang jauh dari kemuliaan.

Bimbingan ibadah diberikan kepada jamaah di kampung atau desa setempat agar mereka bisa beribadah dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah. Beribadah secara benar adalah salah satu hal yang sangat penting dalam akhlak kepada Allah dan Rasulullah. Janganlah sampai terjadi tradisi yang berlebih-lebihan dalam beribadah hingga justru melenceng dari ajaran Rasulullah. Buku-buku terbitan Majelis tarjih bisa dijadikan rujukan dalam membangun akhlak kepada Allah dan Rasulullah ini.

1.b. Akhlak kepada sesama manusia

Manusia adalah makhluk sosial yang bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Ia tidak bisa lepas dari lingkungannya, ini adalah tabi’at dan fitrah yang diberikan Allah kepada manusia.  Ada beberapa prinsip yang perlu dikembangkan berkaitan dengan akhlak kepada sesama manusua ini, yaitu: 1) Husnudhon (berprasangka baik); 2) Tawaduk (rendah hati); 3) Tasamuh (tenggang rasa, saling menghormati dan saling menghargai sesama manusia, yang ini hanya sebatas hubungan manusia dengan manusia dan tidak boleh melebihi aturan-aturan agama, serta tidak berkaitan dalam masalah peribadatan.); dan 4) Ta’awun (tolong menolong, gotong royong, bantu membantu dengan sesama manusia).

Dalam misi keilmuan untuk membangun akhlak mulia kepada sesama manusia didalamnya mencakup pengajaran akhlak kepada sesama muslim, akhlak dalam rumah tangga, akhlak bertetangga, dan akhlak bernegara. Ayat-ayat al-Qur’an yang banyak mengajarkan akhlak perlu untuk dijadikan sumber kajian. Demikian juga berbagai kitab akhlak dari buku-buku karya para ahli hadits, terutama Imam Bukhari dan Muslim, bisa menjadi rujukan dalam kajian akhlak ini.

1.c. Akhlak kepada alam semesta

Dalam ajaran Islam, akhlak kepada alam seisinya dikaitkan dengan tugas manusia sebagi khalifah di muka bumi. Allah berfirman:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al Baqarah[2] : 30).

Akhlak manusia terhadap alam bukan hanya semata-mata peduli pada alam, tetapi lebih dari itu yaitu untuk memelihara, melestarikan dan memakmurkan alam ini. Dengan ketiga hal itu bisa diharapkan lahir kemakmuran, kesejahteraan, dan keharmonisan hidup manusia di alam semesta ini.

Kerusakan alam adalah akibat perbuatan manusia, dan oleh karena itu ia (manusia) harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia dan akhirat. Prinsip ini didasarkan pada firman Allah:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (Q.S. al-Rum, [30]: 41).

Dari ayat ini dapat difahami, bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, baik dalam bentuk kerugian karena perbuatan manusia, ataupun bencana yang menimpa manusia adalah karena perbuatan manusia sendiri. Akhlak kepada alam ini bisa digolongkan dalam akhlak individu dan akhlak sosial atau jamaah. Sebuah kerusakan besar, lahir dari akhlak sosial yang tidak benar. Karena itu misi keilmuan dalam akhlak kepada alam ini harus bisa menyentuh akhlak berjamaah atau akhlak sosial.

2. Pengembangan cara berpikir

Pengembangan cara berpikir ini pada dasarnya adalah usaha untuk melakukan tajdid atau pembaharuan dalam cara keberagamaan di Ranting Muhammadiyah. Pembaharuan tersebut mencakup dua hal, yaitu: Pertama, pembaharuan dalam artian usaha mengantarkan masyarakat untuk ber-Islam dengan tuntunan yang sesuai dengan Qur’an dan sunnah. Kedua, pembaharuan dalam perbaikan cara, sistem, taktik perjuangan, dan semacamnya, yang sifatnya berubah-ubah, disesuaikan dengan situasi dan kondisi/ruang dan waktu.

Pembaharuan yang pertama adalah yang menyangkut masalah ibadah dan aqidah. Sedang pembaharuan yang kedua menyangkut masalah muamalah dan aspek-aspek bersifat teknis untuk mencapai tujuan. Termasuk yang kedua ini adalah perbaikan sistem pemungutan dan penyaluran zakat infaq dan shodaqoh. Juga metode penentuan awal romadhon serta usaha untuk membuat kalender Islam. Untuk pengembangan cara berpikir dalam pembaharuan yang pertama bisa dengan merujuk buku-buku ushul fiqh dan berbagai ulasan berkaitan dengan manhaj tarjih. Sedang pengembangan pembaharuan yang kedua bisa merujuk buku-buku pengetahuan terbaru sesuai dengan bidang yang dibutuhkan. Sarana dalam mengembangkan cara berpikir ini bisa melalui kajian ushul fiqh dan pengembangan budaya membaca, minimal mengajak anggota Muhammadiyah berlangganan Majalah Suara Muhammadiyah.

3. Pengembangan skill / ketrampilan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan?‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari).

Menggerakkan dakwah Ranting Muhammadiyah benar-benar harus memiliki kesadaran berjamaah, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Ada banyak bidang yang harus ditangani, tidak bisa semua dilakukan sendiri. Karena itu untuk bisa menangani berbagai bidang yang berbeda-beda maka dibutuhkan beberapa ahli untuk menangani bidangnya masing-masing.

Ada beberapa skill yang berkaitan dengan dakwah Ranting Muhammadiyah: .a. Ketrampilan kepemimpinan dakwah (penyusunan pengurus/kepanitiaan, teknik pengambilan keputusan, penyusunan program, monitoring dan evaluasi program); b. Ketrampilan administrasi keorganisasian (keuangan, surat menyurat, dan pengarsipan); c. Ketrampilan berbicara (untuk khatib jumah dan mubaligh umumnya); d. Ketrampilan  resolusi konflik ; e. Ketrampilan membuat jaringan; f. Ketrampilan membaca dan menghafal al-Qur’an.

Semua ketrampilan tersebut bisa dilatih melalui kursus-kursus atau pelatihan bagi kader-kader penggerak dakwah Ranting Muhammadiyah. Di kampung atau desa hal itu bisa diadakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah atau atas nama takmir masjid / mushola di bawahnya.

4. Pemberian santunan pendidikan

Santunan pendidikan adalah wujud kepedulian Pimpinan Ranting Muhammadiyah pada keberlangsungan pendidikan bagi warga di kampung atau desa bersangkutan. Bentuk santunan itu bisa berupa bantuan pendidikan kepada sekolah (untuk honor guru atau sarana pendidikan), bea siswa untuk pelajar miskin, program orang tua asuh, dan fasilitas pendidikan bagi ustadz atau imam masjid.

Pimpinan Ranting Muhammadiyah bisa menggerakkan donatur tetap untuk santunan pendidikan ini atau mengkoordinir program orang tua asuh. Ada baiknya program santunan ini juga diikuti dengan progam pembinaan sehingga mereka yang tersantuni bisa terbantu mencapai prestasi. Dalam periode tertentu perlu dilakukan pertemuan para donatur atau orang tua asuh dengan penerima santunan, bisa dikoordinir oleh LAZIS, untuk melakukan evaluasi program.

Selain mengemban misi sosial, dakwah Ranting Muhammadiyah juga mengemban misi keilmuan
Selain mengemban misi sosial, dakwah Ranting Muhammadiyah juga mengemban misi keilmuan (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di ubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait