Metodologi Pemahaman Islam (1)

Gambar Metodologi Pemahaman Islam (1)
Muhammad Wiharto, S.Sy, S.Pd.I, M.A
Sekretaris I PDM Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2015 - 2020

I. Pengenalan Istilah

Dalam tulisan ini, terdapat beberapa peristilahan yang perlu diterangkan terlebih dahulu, agar terhindar dari kesalahpahaman mengenai makna istilah yang akan digunakan, yaitu istilah metodologi penelitian, pemahaman, dan penghayatan.

Metodologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata Meta, Hodos, dan Logos. Meta berarti melalui atau melampaui; hodos berarti jalan, sedangkan logos artinya ilmu atau cara. Jadi metodologi artinya ilmu atau cara tentang bagaimana sesuatu dicapai, atau melalui jalan mana sesuatu bisa dicapai.

Sedangkan kata penelitian, dalam penggunaannya sehari-hari, lebih mengandung konotasi akademik, yaitu usaha untuk mengungkap sesuatu secara benar menurut ukuran-ukaran tertentu dengan melalui pengujian ilmiah. Di sini faktor objektifitas lebih diutamakan. Pihak peneliti berusaha mengutarakan apa adanya tanpa berusaha menjadi­kan apa yang ditemukan itu menjadi bagian dari dirinya.

Berbeda dengan penelitian, kata pemahaman mengandung konotasi yang lebih dari sekedar mengungkap dan menyajikan sesuatu apa adanya. Di samping mengung­kapkan sesuatu, dalam pemahaman diikuti pula dengan upaya untuk lebih mendalami, dan meresapi apa yang ditemukan. Dengan demikian, unsur subjektifitas dimungkinkan larut dalam apa yang diketahuinya. Jadi, tidak hanya menangkap aspek-aspek superfisial dari obyek, tetapi menukik pada apa yang ada di baliknya.

Sementara kata penghayatan mengandung konotasi suatu usaha untuk mengetahui sesuatu, yang selanjutnya apa yang diketahui itu terinternalisasi atau mendarah daging pada pribadi si subjek, dan pada gilirannya akan mampu menggerakkan krenteg dalam diri individu untuk mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atas nama pengetahuannya itu. Maka pengetahuan di sini mengantar si subjek pada tingkat keya­kinan tertentu.

Penjelasan konstruks istilah tersebut di atas juga dimaksudkan untuk menun­jukkan perbedaan gradual dari kata penelitian, pemahaman dan penghayatan dalam konteks ke-Islaman. Atau lebih jelasnya, kalau seseorang dengan metode-metode tertentu bermaksud sekedar mengetahui Islam, maka tingkatannya adalah pada tingkat penelitian. Di sini siapapun sah untuk melakukan kajian Islam. Sedangkan pada tingkat pemahaman dan penghayatan, hanya mereka yang dengan sengaja akan menjadikan apa yang diketahui dari Islam itu menjadi bagian dari system keyakinannya (belief system).

II. Kawasan Keislaman

Kawasan Ke-Islaman, sebagaimana dikemukakan oleh Prof.Dr.H.Mukti Ali, MA., Allahu yarhamhu terdiri dari dua kawasan besar, yaitu kawasan doktrinal dan kawasan fenomenal.

(a) Kawasan Doktinal

  1. Aqidah (Keyakinan Islam)

Istilah ini berasal dari bahasa Arab ‘aqada yang berarti mengikat. Dengan demikian, aqidah dapat diterjemahkan dengan ikatan atau buhul. Dan jika dikaitkan dengan Islam (Aqidah Islam), maka pengertiannya adalah bahwa teguh pada ajaran-ajaran.

  1. Syari’ah (Hukum Islam)

Penerjemahan syari’ah sebagai Hukum Islam sering memancing pengertian yang sempit, terutama jika dikaitkan dengan istilah fiqh. Syari’ah dalam konteks fiqhiyah itu terkesan sebagai hukum-hukum fiqh seperti wajib, sunat, makruh, mubah, halal, dan haram. Pembatasan ini bisa menjebak seseorang dalam pemahaman Islam yang sempit. Dan, selanjutnya ia cenderung untuk menangkap ajaran Islam dalam pola ‘hitam-putih’, ‘boleh dan tidak boleh’.

Syari’ah berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan. Kota “The Way of Life” yang lazim digunakan di kalangan masyarakat Barat, mungkin lebih tepat sebagai makna syari’ah ketimbang sekedar diterjemahkan sebagai Hukum Islam dalam artian yang sempit. Istilah The Way of Life boleh jadi juga identik dan analog dengan kata “Law” yang tidak sekedar berarti hukum, tetapi juga mencakup segenap aturan yang mendasari perilaku, budaya dan seluruh aspek kehidupan manusia.

  1. Akhlak (Etika Islam)

Penggunaan istilah akhlak secara terbatas juga akan menimbulkan kesan trikotomia yang tajam dalam pokok bahasan Islam. Ketika Aisyah r.anha (istri Nabi Muhammad SAW) ditanyakan “apakah akhlak Rasul”? maka jawaban yang tersedia adalak “Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an”. Dari jawaban itu, dapat dipahami bahwa dasar akhlaq Islam sama dan sebangun dengan landasan Syari’ah Islam. Tegasnya, orang yang meniti jalan hidupnya atas dasar pijakan syari’ah, sebenarnya ia sekaligus mewujudkan perilaku etika yang berlandaskan Islam, Jadi setiap perbuatan yang berlandas syari’ah dan akhlak tersebut merupakan yang manifestasi dari keyakinan seseorang. Dengan kata lain, setiap Muslim telah mengikrarkan syahadatain kalimat Tauhid dengan sendirinya dituntut untuk memilih cara hidup (The Way of Life) dan prinsip-prinsip etika yang berpijak pada nilai-nilai Islam (Al-Qur’an dan Sunnah al Maqbullah)).

(b) Kawasan Fenomenal

Ajaran Islam terwujud dalam berbagai macam gejala kehidupan yang muncul dari perilaku ummat Islam. Termasuk didalamnya adalah aspek kognitif mereka terhadap Islam. Aspek kognitif ini merupakan titik pijak kehadiran berbagai perilaku umat Islam, baik perilaku yang bersifat vertikal maupun perilaku yang bersifat horisontal. Dalam istilah tehnis yang lazim digunakan, rumusan itu disebut dengan Habl Min, Allah (hubungan vertikal) dan Habl Min al-Khaliq (Hubungan horisontal).

  1. Habl min Allah (Hubungan vertikal)

Yaitu fenomena hubungan dengan Allah yang sering disebut dengan “Ibadah Mandloh” atau ibadah yang tats caranya telah ditetapkan oleh Allah; dalam barryak hal, rincian fenomena yang tampak dari ibadah ini tidak dapat terjangkau rasio. Jadi, setiap muslim lebih dituntut untuk melakukannya atas dasar keyakinan, bukan pembuktian empiris. Wudhu dengan segenap syarat dan rukunnya merupakan syarat syahnya ibadah shalat. Bahkan dalam banyak hal, shalat itu juga tidak tertangkap nalar meskipun makna fungsionalnya dapat menjadi objek penelitian empiris.

Dalam kaitannya dengan persoalan itu, Ali r.a. pernah berkata: “Seandainya seluruh rincian aturan agama mesti terjangkau oleh akal niscaya dasar kuffain lebih pantas untuk diusap”.

  1. Habl min al-Khalq (Hubungan horisontal)

adalah hubungan antara manusia dengan sesama makhluk. Termasuk didalamnya adalah hubungan antara ma­nusia dengan sesamanya dan hubungan antara rnanusia dengan alam sekitar­nya: hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung, laut, dan sebagainya. Dalam menja­lin hubungan horisontal ini manusia dituntut untuk mendayagunakan rasio­nya. Ia dikenai kewajiban untuk mendayagunakan segenap potensi kemanu­siannya untuk melakukan penelitian-penelitian empiris, sehingga mampu menghasilkan produk-produk penelitian yang positif dan berguna bagi proses peningkatan kualitas dirinya dimata Sang Pencipta (Allah) maupun alam sekitar.

III. Metode Pemahaman Islam

Meminjam Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, Allahu yarhamhu terdapat tiga cara dalam memahami Islam, yaitu secara naqli (tradisional), aqli (rasional), dan kasyfi (mistis). Dalam pandangan Prof. Mukti Ali, ketiga pendekatan dalam memahami Islam tersebut tampaknya sudah ada dalam pikiran Nabi Muhammad SAW, dan terus dipergunakan oleh nama-nama Islam setelah beliau wafat. Kadang-kadang ada pendekatan lain, tetapi bagaimanapun juga meskipun dalam tingkatan yang berbeda-beda, tiga pendekatan itu terdapat dalam cara ulama-ulama Islam dalam tingkatan memahami agama Islam. Tradisi dalam bentuk yang kaku sekarang ini hanya terdapat dalam kalangan Wahabiyah di Arab Saudi dan Tarekat As-Sanusiah di Afrika Utara. Akal menjadi pembantu dalam pemahaman ilmu kalam (teologi), sedang pendekatan secara rohani dari kaum sufi mengambil banyak bentuk sejak dari paham yang panteistik sampai kepada kezuhudan biasa.

Tetapi dalam Islam, tiga pendekatan itu masih terus berlangsung hingga sekarang ini. Pengikut-pengikut Ahmad bin Hambal (Hanabilah) dalam memahami agama, mempertahankan pendekatan secara tradisional. Mereka berjuang berabad-abad lamanya menentang pemikiran­-pemikiran yang bebas yang berusaha untuk melampaui pemikiran-pemikiran ulama-­ulama dulu. Bahkan mereka menentang dengan keras ilmu kalam, dan menerima mengulang-ulangi ajaran-ajaran aqidah kuno dalam bentuk-bentuk yang kuno pula. Juga mereka menentang pendekatan agama secara mistis dalam segala tindakan.

Sebaliknya, Abu Hanifah (hanafi) cenderung kepada rasionalisme dan spekulasi dalam bidang aqidah dan hukum dan pengikut-pengikutnya mengikuti cara pendekatan ini. Pendekatan mistis juga dipergunakan dalam bidang politik. Hal itu berkembang di antara golongan Syiah, yang berusaha  mencari arti yang tcrsembunyi dari Al-Qur’an, dan keterikatannya terhadap Ali dan Ahlul Bait dan kepada misinya yang dianggap suci, tetap menghidupkan pikiran bahwa Allah terus bicara kepada manusia dan adanya orang pilihan yang sangat dekat kepada Tuhan.

Perkembangan teologi dalam Islam, juga jurisprodensi tidak memulai kecuali setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Selama ia masih hidup dan menerima wahyu untuk menyelesaikan pelbagai macam masalah yang dihadapi oleh ummat, sudah barang tentu tidak akan ada sistem teologi yang bisa dibentuk atau bahkan dipikirkan pembentukannya. Juga pada duapuluh atau tigapuluh tahun pertama setelah wafat Nabi Muhammad SAW, ummat Islam terlalu disibukkan untuk penyiarkan Islam, hingga ajaran Islam itu. Dengan itu maka semangat untuk mempertanyakannya ajaran-ajaran Islam timbul agak kemudian dan kalau toh ada maka untuk beberapa waktu lamanya dapat dikatakan sebagai masalah-masalah pribadi. Dengan itu maka apa yang dikatakan golongan, mazhab, firqah, belumlah timbal.

Menurut Prof. Mukti Ali, perkembangan pemikiran Islam di dunia Islam kemu­dian mengalami pertumbuhan laksana bandul, kadang-kadang berat ke tradisi (naqli), kadang-kadang berat ke rasio (aqli). Di tengah perkembangan yang demikian muncul pemahaman Islam secara kasyfii (tasawuf, mistis), yang makin lama makin kuat terutama setelah mengalami akomodasi dari pemikiran tasawuf yang ekstrem seperti faham kezuhudan (eskestisme), pasif terhadap dunia (quietisme), dan faham yang sama sekali membenci dunia (mistisisme). Tokoh pemikiran Islam yang mengembangkan pende­katan kasyfi secara akomodatif tersebut adalah Al-Ghazali.

Al-Ghazali menurut Mukti Ali adalah tokoh pemikiran yang paling simpatik dalam sejarah Islam, dan satu-satunya pemikir yang oleh umat Islam ditempatkan sejajar dengan empat Imam Mazhab. la adalah sama pentingnya dengan Agustinus dalam filsafat dan teologi, dan sejajar dengan ahli-ahli filsafat Aristoteles dalam Islam, maka orang seperti Ibn Rusyd dan lain-lainnya adalah merupakan penghimpun pikiran pemikir-pemikir Muslim saja. Hanya al-Farabi, dan hal itu karena tasawufnya, dapat mendekati Al-Ghazali, ia hidup dalam waktu yang pelbagai macam  aliran pemikiran Islam timbul. Ia memikirkan itu semua, dan kcyakinan agamanya ditimbulkan dari pengalaman itu. Ia meninggalkan semua sistem dan klasifikasi, kata-kata dan Argumentasi, dan fakta-fakta hidup yang ia temukan dalam jiwanya yang ia pegang. Manakala karangannya selesai, maka ungkapan dari mistik (Kasy) bukan hanya merupakan pokok dalam struktur teologi Islam. Pokok itu, karena karangan-karangan Mutakalimun, adalah kurang mendapat perhatian. Dia menolak ilmu kalam lama, karena hanya dianggap tambal sulam dari metafisika dan logika dan sebagaian filsafat. Pengetahuannya dan pemahamannya tentang masalah-masalah yang dihadapi dan obyek filsafat adalah lebih penting mendalam dan lebih terperinci daripada pemikir-pemikir Islam lainnya setelah dia, barangkali juga hingga sekarang ini. Masyarakat Islam tidak bisa sepenuhnya me­mahaminya, persia seperti orang-orang kristen juga tidak dapat sepenuhya memahami Agustinus. Namun lama setelah makin jelas terhadap pemikiran-pemikirannya. Lalu da­tanglah ilmu kalam baru hingga sekarang ini.

Dalam kerangka pernahaman Islam secara naqli, aqli, dan kasyfi, ada usaha besar telah dilakukan untuk mengkompromikan pendekatan itu, umpamanya yang dilakukan, oleh Al-Asy’ari dalam mengkompromikan antara pendekatan tradisionalis dengan rasio­nalis, dan usaha yang dilakukan Al-Ghazali dalam mengharmoniskan antara pendekatan tradisionalis dan mistis. Meskipun orang yang disebutkan belakangan ini berusaha untuk menggabungkan tiga-tiganya pendekatan, tetapi perjalanan sejarah pemikiran dunia Islam menunjukkan bahwa itu tidak terwujud. Bahkan orang mempunyai kesan bahwa pengaruh Al-Ghazali dalam pemikiran dunia Islam adalah kepada pendekatan agama secara mistis, dan pendekatan secara rasional ditinggalkan. Sudan barang tentu ini bukan maksud Al-Ghazali, tetapi itulah kecenderungan pemikiran dunia Islam, juga di lndonesia ini. (Mukti Ali, 1990).

Pemahaman Islam yang dilakukan secara komprehensif dengan memadukan pen­dekatan-pendekatan yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam, dalam perkembangan sejarah pemikiran Islam tampaknya merupakan jalan yang banyak ditempuh, lebih-lebih dalam menghadapi kehidupan yang semakin kompleks. Menurut Buya A.Syafii Maarif, dalam memahami Islam merupakan keharusan untuk mngembangkan pendekatan teologis, hukum, filsafat, sufi (tasawuf), bahkan pendekatan secara historis dan sosiologis. (Prof.Dr.H.A..Syafii Maarif, 1990). Meskipun untuk pendekatan yang terakhir (sosiologis), perlu dilakukan secara hati-hati, karena dalam betas tertentu pendekatan yang demikian tidak selalu relevan seperti dalam memahami dan memecahkan masalah hukum Islam. Sebab secara prinsip hukum Islam adalah perintah Allah, bukan produk masyarakat. Tujuan syariat Islam tidak lain untuk kemaslahatan atau kebaikan hidup manusia. Nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dalam memberikan tatanan kehidupan individual maupun sosial telah mengandung tujuan tersebut. Tidak ada tempat bagi pertimbangan maslahat yang akan berakibat terdesaknya nash yang telah mengandung maslahat bagi kehidupan manusia. Maslahat yang bertentangan dengan nash bukan maslahat yang hakiki, tetapi semu. (Ahmad Azhar Basyir, 1988).

Terdapat tiga cara dalam memahami Islam yaitu secara naqli, aqli, dan kasyfi
Terdapat tiga cara dalam memahami Islam yaitu secara naqli, aqli, dan kasyfi (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Manhaj Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...