Meretas Pokok – Pokok Pikiran Kyai Sang Pencerah

Mukaddimah

Sejarah berdirinya suatu organisasi tidak dapat dipisahkan dari gagasan dan pikiran pendirinya. Sebab orang-orang yang kemudian bergabung menjadi anggota secara sadar telah menyepakati dasar dan tujuan organisasi tersebut yang pada hakikatnya merupakan perwujudan dari gagasan pendirinya. PSII tidak mungkin dipisahkan dengan HOS Cokroaminoto. NU tidak mungkin dipisahkan dengan Hasyim Asya’ari. Demikian juga Muhammadiyah tidak mungkin dipisahkan dari sosok kyai sang pencerah Allahu yarhamhu KH. Ahmad Dahlan.

Dengan demikian maka warga persyarikatan perlu mempelajari gagasan dan pikiran pendiri persyarikatan Allahu yarhamhu KH.Ahmad Dahlan. Baik yang berkaitan dengan masalah aqidah,akhlaq, ibadah maupun mu’amalah duniawiyah, hal itu tidak dimaksudkan untuk mengikuti jejaknya secara dokmatik tetapi untuk memberi makna kreatif guna penerapannya pada masa kini. Sebab gagasan dan pikiran Allahu yarhamhu KH. Ahmad Dahlan jelas merupakan gagasan dan pikiran kretif dan inovatif. Sedangkan gagasan dan pemikiran KH.Ahmad Dahlan yang diungkapkan oleh Allahu yarhamhu KH.R.Hajid, murid langsung beliau, menuturkan bahwa KH.Ahmad Dahlan dalam berorganisasi berpegang pada prinsip: Pertama,senantiasa menghubungkan diri (mempertanggung­jawabkan tindakannya) kepada Allah SWT. Kedua, perlu adanya ikatan persaudaraan berdasar kebenaran (sejati). Ketiga, perlunya setiap orang, terutama para pemimpin terus-menerus menambah ilmu, sehingga dapat mengambil keputusan yang bijaksana. Keempat, Ilmu harus diamalkan.  Kelima, perlunya dilakukan perubahan apabila memang diperlukan untuk menuju keadaan yang lebih baik. keenam, mengorbankan harta sendiri untuk kebenaran, Ikhlas dan bersih.

Tentu akan sangat ironis manakalah kita sebagai warga persyarikatan Muhammadiyah mengabaikan sama sekali gagasan dan pikiran pendiri organisasinya ini. Seorang tokoh yang gagasannya telah menghasilkan salah satu organisasi terbesar di Indonesia dan sekarang banyak kalangan menikmatinya walaupun dalam berbagai gaya plus bermacam-macam ragam, kepentingan (dalam tanda kutip), baik dalam amal usaha maupun dalam persyarikatan Muhammadiyah. Gagasan pikiran cemerlang tersebut, jelas tidak layak untuk diabaikan.

Pembaharuan Gerakan Keagamaan

Perlu diketahui, nama-nama seperti Ibnu Taimiyah, Jama­ludin al Afghani dan Muhammad Abduh, di kalangan umat Islam dikenal sebagai ulama penggerak pembaharuan (mujaddid). Gagasan dan pikiran Kyai Sang Pencerah KH. Ahmad Dahlan dikenal juga sebagai gagasan yang dipengaruhi oleh ulama-ulama tersebut.

Oleh karena itu kyai yang cerdas, tawadhu dan berfikiran futuristik tersebut oleh banyak pakar sering dinyatakan sebagai tokoh pembaharu (mujaddid) dan Muhammadiyah dinyatakan sebagai gerakan pembaharuan (gerakan tajdid). Akan tetapi perlu dicatat bahwa gerakan pembaharuan yang dilakukan ketiga tokoh tersebut                   di laksanakan di negara-negara di mana institusi keagamaan dan fasilitasnya sudah tersedia dengan lengkap.

Bahkan Syaikh Muhammad Abduh sendiri adalah salah seorang ulama di Mesir yang mempunyai kedudukan terhormat sebagai syaikh atau rektor di Universitas al Azhar dan Darul Ulum yang merupakan perguruan Tinggi yang sangat berwibawa dalam keilmuan agama Islam, tidak saja di negerinya sendiri Mesir, tetapi juga seluruh dunia Islam. Dengan demikian gagasan pemabaharuan Muhammad Abduh didukung oleh dua Universitas besar tersebut, sehingga cenderung merupakan gagasan intelektual.

Sedangkan gagasan pembaharuan yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan sama sekali tidak memperoleh dukungan dari lembaga pendidikan apapun. Sebab pada waktu itu belum ada sebuah sekolah pendidikan dasar sekalipun di kalangan umat Islam, sehingga dapat difahami kalau gerakan pembaharuan KH. Ahmad Dahlan bersifat praksis_Implementatif, yaitu mengembangkan gagasan dan pikiran sekaligus mengusahakan fasilitas pendukung untuk melaksanakan gagasan dan pikiranya itu.

Sinopsis Perkembangan Dakwah Kyai Pencerah

Lahir tahun  1868 dengan nama Muhammad Darwis, Ahmad Dahlan adalah anak ke 4 dari 7 bersaudara, Ayahnya bernama KH. Abu Bakar, imam dan khatib Masjid besar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang merupakan keturunan ke-11 dari Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik/Sunan Giri) seorang penyebar agama di Jawa Timur. Ibunya bernama Siti Aminah adalah putri Kyai Haji Ibrahim yang pernah menjabat penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dahlan di usia 21 tahun (1889) menikah dengan Siti Walidah yang masih sepupunya, dan dikaruniai 6 orang putra, Siti Walidah yang selanjutnya dikenal dengan Nyai Hajjah Ahmad Dahlan ini mendampingi Kyai hingga wafatnya. Saat usia 22 tahun (th. 1890) Dahlan menunaikan haji, di Mekah ini digunakan untuk belajar kepada Imam Syafi’i Sayyid Bakir Syantha dan sejak itu namanya diganti menjadi Ahmad Dahlan.  Pada tahun 1892 ada seseorang yang memberi modal 500 goden untuk berdagang, tetapi oleh beliau digunakan untuk membeli buku-buku dan kitab. Menginjak  usia 28 tahun (1896)  diangkat menjadi khatib dengan gelar Khatib Amin di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. setahun kemudian mempelopori MUSYAWARAH ALIM ULAMA di Yogyakarata. Pada waktu berlangsung Musyawarah Alim Ulama, membahas tentang arah kiblat Masjid Besar Ngayogyakata Hadiningrat dan Kyai berpendapat agar kiblat Masjid untuk dibetulkan.  Untuk beberapa lama Kiblat Masjid besar tetap seperti semula, tetapi akhirnya diubah seperti yang ada sekarang.

Tahun 1899 Kyai merehab langgar (surau/mushola) yang dikenal dengan nama langgar kidul di samping rumahnya di Kauman sekaligus membetulkan kiblat Surau tersebut, tetapi oleh ulama dan masyarakat ditentang bahkan suraunya sampai dirobohkan. Untuk menghindari bentrok fisik Kyai memilih pergi ketika Suraunya dirobohkan. Tetapi dikemudian hari ulama dan masyarakat yang merobohkan surau inilah yang menjadi pendukung fanatik gerakan pembaharuan  KHA. Dahlan.

Dalam ilmu agama KH.Ahmad Dahlan tidak pernah sekolah formal, sedang ilmu yang dimilikinya sebagian besar merupakan hasil otodidaknya. Membaca dan menulis didapat dari ayah dan saudara iparnya. Menjelang dewasa belajar ilmu Fiqh kepada KH.Muhammad Shaleh, Ilmu Nahwu kepada KH.Mukhsin, Ilmu Falaq kepada KH.Raden Dahlan (putra K.Termas), Ilmu hadits kepada K.Mahfud dan Sjech Khayyat, ilmu Qiroatul Qur’an kepada Syech Amin dan Sayid Bakri Satock, ilmu pengobatan dan racun binatang kepada Syech Hasan. Sedang guru-guru yang lain  RNg.Sosro Soegondo, R.Wedono Dwijo Sewoyo dan Syech Jamil Jambek dari Bukitinggi.

Pada tahun 1903 menunaikan haji yang ke-2 kali bersama putranya yang berumur 13 tahun. Dalam menunaikan haji ini beliau mukim di Mekah  selama 1,5 tahun untuk memperdalam Ilmu Fiqh dan Hadits. Dan ketika itulah belau bertemu dengan ulama-ulama Indonesia yang mukim di Mekah seperti  Syech Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, Kyai Mas Kumambang dari Gresik, dalam pertemuan ini juga digunakan untuk belajar tukar pikiran.  Disampin  berguru langsung  KHA. Dahlan banyak juga belajar dari kitab-kitab yang cukup banyak tentang ilmu kalam ahli sunnah wal jama’ah, kitab fiqhnya Imam Syafi’i, tasawufnya Imam Ghozali, kitab Syech Muhammad Abduh dan Ibnu Taimiyah dan lain-lain.

Sekitar tahun 1904-1905  KHA. Dahlan mendirikan pemondokan untuk menampung siswa yang sedang belajar di Yogya dan disinilah beliau menyebarkan/mengajarkan agama, yang waktu itu di Sekolah  Belanda diajarkan agama Kristen. Pada tahun 1909 beliau memasuki BOEDHI OETOMO yang merupakan organisasi kaum ningrat Jawa, dengan maksud dapat mengajarkan Islam kepada anggota Boedhi Oetomo.

Sekitar tahun 1908-1909 mendirikan Sekolah yang pertama secara formal di rumah beliau pada ruang tamu yang berukuran 4m x 6m.  Inilah sekolah yang pertama dibangun dan dikelola oleh pribumi secara mandiri yang diatur dengan perlengkapan modern menurut ukuran waktu itu (memakai meja, bangku, papan tulis dan lain-lain) yang pengajarannya secara klasikal. Murid sekolah ini pertama kali hanya 6 orang, setengah tahun kemudian naik 300 % menjadi 20 orang.

Keanggotaan KHA.Dahlan di Boedhi Oetomo inilah yang memperlancar pengesahan berdirinya Moehammadiyah oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda yaitu 3 tahun kemudian. Proses pengesahan berdirinya Muhammadiyah oleh Pemerintah Hindia Belanda menyimpan sesuatu yang menarik, karena terbitnya pengesahan berdirinya Muhammadiyah diperlukan rekomendasi Boedhi Oetomo. Sedang Boedhi Oetomo bersedia memberikan rekomendasi jika pengurus Muhammadiyah masuk menjadi anggota Boedhi Oetomo Pemerintah Hindia Belanda. Persyaratan ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan integritas Kyai dalam mengembangkan da’wah dan pendidikan yang dimulai sejak tahun 1904/1905. Boedhi Oetomo melihat pengaruh soasial Kyai dan tokoh Muhammadiyah lainnya terhadap masyarakat. Setelah mempertimbangkan secara masak akhirnya 7 orang pengurus Muhammadiyah menjadi anggota Boedi Oetomo pada tahun 1909.

Muhammadiyah memproklamirkan berdirinya pada bulan Desember 1912 dengan upacara resmi di Malioboro yang dihadliri oleh 70 orang. Tempat ini sekarang menjadi gedung DPRD DIY.  Dua tahun kemudian (1914) Pemerintah Hindia Belanda memberikan surat pengesahan.  KH. Ahmad Dahlan memimpin persyarikatan Muhammadiyah secara langsung hanya selama 11 tahun hingga wafatnya tahun 1923.

Pokok Pikiran Kyai Sang Pencerah

Dari kesimpulan pengamatan santri-santri kyai sang pencerah, baik sebelum maupun sesudah mendirikan persyarikatan Muhammadiyah, maka Pokok-pokok pikiran KH. Ahmad Dahlan dapat dirumuskan sebagai berikut :

Pertama, dalam bidang aqidah sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama salaf. Kedua, beragama adalah beramal, beramal berarti berkarya dan berbuat sesuatu. Melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman Qur’an dan Sunnah. Orang yang beragama ialah orang yang menghadapkan jiwa dan hidupnya hanya kepada Alloh SWT, yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti rela berqurban baik dengan harta miliknya maupun dirinya, serta bekerja dalam kehidupannya untuk Alloh. Ketiga, dasar pokok hukum Islam ialah Al Qur’an dan Sunnah dan dari keduanya tidak diketemukan kaidah hukum yang eksplisit maka ditentukan berdasarkan penalaran dengan mempergunakan kemampuan berpikir logis (akal pikiran) serta ijma’ dan qiyas. Keempat, terdapat lima jalan untuk memahami Al Qur’an, yaitu  : (1) mengerti artinya (2) .Memahami tafsir dan maksudnya. (3) Jika mendapat larangan, bertanyalah kepada diri sendiri apakah larangan itu sudah ditinggalkan. (4) Jika mendapati ammar/perintah, bertanyalah kepada diri sendiri apakah perintah itu sudah dilaksanakan. (5) Jika keempat tersebut belum diamalkan, janganlah membaca ayat yang lain. Kelima dalam kaitan dengan metodologi memahami al Qur’an dan kehidupan duniawi, KH. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa tindakan nyata adalah wujud kongkret dari penerjemahan al Qur’an, dan organisasi adalah wadah dari tindakan nyata tersebut. Untuk itu manusia perlu mempergunakan dan mempertajam kemampuan akal fikiran dengan Ilmu mantiq(Logika). Keenam, landasan agar seseorang suka dan senang serta gembira dalam beramal, maka orang tersebut harus yakin bahwa : (1) Mati adalah bahaya, akan tetapi lupa kepada kematian merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari pada kematian itu sendiri. (2). Keikhlasan hati dalam beramal adalah landasan moral, gairah dan gerak hati seseorang untuk maju. Ketujuh, kunci persoalan untuk meningkatkan kemajuan Ummat Islam ialah pemahaman terhadap berbagai Ilmu Pengetahuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat. Oleh karena itu menjadilah Insinyur, Guru, Master dan kembalilah berjuang dalam Muhammadiyah. Kedelapan, dalam membina dan menciptakan kader, perlu ditempuh methode kaderisasi dengan jalan melakukan binaan secara langsung generasi muda, untuk menyiapkan fungsionaris Gerakan Organisasi Muhammadiyah. (Dalam hal ini Kyai mendirikan HW, pengajian pemuda/remaja dan lain-lain). Kesembilan Pendekatan yang perlu dilakukan dalam menghadapi perubahan dan perkembangan dunia modern adalah : (a). Kembali rujuk kepada al Qur’an dan Sunnah. (b) Menghilangkan sifat fatalisme. (c) Menjauhkan diri dari sikap taklid melalui jalan menghidupkan jiwa dan semangat ijtihad, meningkatkan kemampuan berfikir logis rasional, membebaskan diri dan pemikiran dari otoritas tradisi, kembali kepada al Qur’an dan memperhatikan kenyataan hidup. Kesepuluh, rakyat kecil, kaum fakir-miskin, para hartawan dan para intelektual adalah merupakan medan dan sasaran gerakan da’wah Muhammadiyah. Semoga kita bisa meneladani beliau.

Foto Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah
Foto Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Manhaj Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait