Menyoal Kembali Fungsi Keluarga

PENULIS H. Nur Ahmad Ghojali, MA (Wakil Ketua PDM Jogja)

Kehidupan dan kualitas keluarga merupakan miniatur kehidupan dan kualitas masyarakat dan negara, merupakan cerminan budaya dan peradaban manusia. Ukuran keberhasilan berbagai upaya pembangunan akan terlihat dalam kehidupan keluarga. Pembangunan keluarga di Indonesia menempatkan keluarga sebagai unit sosial terkecil, institusi utama dan pertama bagi pembangunan sumberdaya manusia, karena di keluarga lah seorang individu tumbuh dan berkembang, dimana tingkat pertumbuhan dan perkembangan tersebut menentukan kualitas individu yang kelak akan menjadi penerus dan pemimpin bangsa.

Indonesia mengakui peran penting keluarga dalam program pembangunan nasional. Sejak tahun 2004, Pemerintah Indonesia telah menetapkan tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Peringatan Harganas ini diadakan untuk mengajak seluruh keluarga Indonesia agar melakukan introspeksi dan berbenah diri guna berbuat yang terbaik bagi keluarganya. Lebih lanjut, Indonesia bahkan mengeluarkan  Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Dalam Undang-undang tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. Sementara keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam lima hingga lima belas tahun ke depan, yaitu pada tahun 2020 – 2030, kita akan mengalami bonus demografi. Jumlah penduduk pada periode tersebut akan didominasi oleh penduduk usia produktif pada kisaran 70 persen,  sedangkan jumlah penduduk pada usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun hanya sekitar 30 persen.  Melimpahnya jumlah penduduk usia produktif tersebut merupakan modal besar untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di segala bidang. Ini merupakan potensi yang menjanjikan, namun sebaliknya, apabila tidak dikelola dan ditangani dengan baik sejak usia dini, maka sumber daya manusia yang besar tersebut bisa menjadi bencana bagi bangsa ini. Oleh karena itu, untuk mempersiapkan langkah-langkah menghadapi bonus demografi, pemerintah sangat memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia, yang dalam hal ini sangat diperlukan keterlibatan keluarga-keluarga Indonesia untuk menyadari betapa pentingnya membangun kualitas diri anak-anak kita.

Pemberdayaan Fungsi Keluarga

Salah satu tantangan bagi pembangunan sumber daya manusia saat ini adalah menurunnya fungsi dan peran keluarga dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berdaya saing unggul. Padahal upaya membentuk generasi yang berakhlak mulia, mandiri, bermartabat dan berdaya saing unggul, pondasinya ada pada keluarga. Keluarga merupakan tempat yang sangat ideal untuk mengembangkan karakter seseorang, karena sejak anak usia dini orang tua sudah dapat mengajarkan karakter kepada anaknya masing-masing sesuai dengan potensinya dan kearifan yang berkembang di lingkungannya.

Kehidupan dan kualitas keluarga merupakan miniatur kehidupan dan kualitas masyarakat dan negara, merupakan cerminan budaya dan peradaban manusia. Ukuran keberhasilan berbagai upaya pembangunan akan terlihat dalam kehidupan keluarga. Pembangunan keluarga di Indonesia menempatkan keluarga sebagai unit sosial terkecil, institusi utama dan pertama bagi pembangunan sumberdaya manusia, karena di keluarga lah seorang individu tumbuh dan berkembang, dimana tingkat pertumbuhan dan perkembangan tersebut menentukan kualitas individu yang kelak akan menjadi penerus dan pemimpin bangsa.

Keluarga dengan delapan fungsinya yaitu: 1. fungsi agama, 2. pendidikan, 3. cinta kasih, 4. perlindungan, 5. reproduksi, 6. sosial dan budaya, 7. ekonomi, dan 8. lingkungan memegang peran sangat krusial dalam membangun perubahan mental yang dibutuhkan oleh Indonesia. Agar keluarga dapat berperan aktif melakukan perubahan mental, maka setiap keluarga harus memahami dan menerapkan berbagai fungsi keluarga. Menghadapi tantangan penurunan fungsi dan peran keluarga saat ini, maka diperlukan revitalisasi fungsi-fungsi keluarga yang sekaligus sebagai upaya implementasi gerakan revolusi mental. Revitalisasi fungsi-fungsi keluarga ini seyogyanya dijalankan secara terpadu, menyeluruh, dengan memperkuat koordinasi.

8 Fungsi Keluarga adalah fungsi-fungsi yang menjadi acuan dan pola hidup setiap keluarga dalam rangka terwujudnya keluarga Sejahtera dan berkualitas.  Bukan hanya sebagai simbol, tetapi menjadi pijakan dan tuntunan keluarga dalam menjalani roda kehidupannya.

1. Fungsi Agama

Keluarga  dikembangkan untuk mampu menjadi wahana yang pertama dan utama untuk melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan  YME. Betapa prihatinnya ketika penulis menjadi mediator perkara perceraian di Pengadilan Agama, karena istri yang berumur 58 tahun mengatakan suaminya selama ini tidak pernah menjadi imam, baik imam sholat maupun imam keluarga. Istri mengatakan bahwa suaminya tidak pernah menjalankan sholatnya.

2. Fungsi Sosial Budaya

Keluarga dikembangkan menjadi wahana untuk melestarikan budaya nasional yang luhur dan bermartabat. Mari kita mulai budaya baik dari keluarga kita terlebih dahulu. Bila semakin banyak keluarga Indonesia yang memiliki budaya luhur, niscaya akan terbiasa dan menyebar sebagai budaya bangsa. Sebagai contoh kegiatan dongeng untuk anak, memiliki manfaat : mendekatkan emosional antara Ibu dan anak, komunikasi efektif dengan anak, membangun karakter anak, kepribadian maupun kecerdasan anak, menanamkan budi pekerti dan etika .

Kemudian keluarga juga menyempatkan untuk mengunjungi Wisata Budaya Indonesia Melihat keanekaragaman suku, bahasa dan tradisi di Indonesia. Manfaat yan diraih antara lain : melihat keanekaragaman suku, bahasa dan tradisi di Indonesia, Melihat baju, rumah dan makanan tradisional di Indonesia, Melestarikan budaya Indonesia di mata internasional.

3. Fungsi Cinta Kasih

Keluarga menjadi wahana pertama dan utama untuk menumbuhkan cinta kasih antar sesama anggotanya, antar orangtua dengan pasangannya, antar anak dengan ortu dan sesama anak sendiri. Suasana rumah akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi anak dan seluruh penghuninya. Anak akan menjadi anak yang lembut dan penurut.  Memberi kesempatan kepada anak untuk melihat rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan orang tua mereka terhadap nenek dan kakek mereka.

4. Fungsi Perlindungan

Keluarga menjadi pelindung yang pertama, utama dan kokoh dalam memberikan kebenaran dan keteladanan kepada anak-anak dan keturunannya. Keluarga harus memberikan rasa aman, tenang, dan tenteram bagi anggota keluarganya.

5. Fungsi Reproduksi

Keluarga menjadi pengatur reproduksi keturunan secara sehat dan berencana, sehingga anak-anak yang dilahirkan menjadi generasi penerus yang berkualitas.

6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan

Keluarga berfungsi sebagai sekolah dan guru yang pertama dan utama dalam mengantarkan anak-anaknya untuk menjadi panutan masyarakat luas dan dirinya sendiri.

Fungsi Orangtua dalam Mendukung Pendidikan Anak :

  1. Membangun komunikasi dengan guru di sekolah.
  2. Memperhatikan kebutuhan akademis anaknya, misalnya apakah anak memiliki kesulitan belajar?
  3. Bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak
  4. Membimbimbing anak dalam belajar di rumah.
  5. Menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah.
  6. Mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani   proses belajar di lembaga pendidikan.

7. Fungsi Ekonomi

Keluarga menyiapkan dirinya untuk menjadi suatu unit yang mandiri dan sanggup untuk meningkatkan kesejahteraan lahir dan batinnya dengan penuh kemandirian.

8. Fungsi Lingkungan

Keluarga siap dan sanggup untuk memelihara kelestarian lingkungan untuk memberikan yang terbaik kepada anak cucunya dimasa yang akan datang.

Semua perilaku kita sekarang sebenarnya adalah pohon yang kita tanam, yang buahnya akan dinikmati anak cucu kita di masa yang akan datang.

Revitalisasi Fungsi-Fungsi Keluarga

Kita harus sepakat bahwa tidak ada pilihan lain kecuali bangsa ini harus membangun komitmen bersama untuk berusaha secara gotong royong dalam membangun keluarga sejahtera. Setiap keluarga agar dianjurkan terus belajar, terus memperkuat ketrampilan hidup,  mendidik dan mengasuh anak dengan penuh cinta dan tanggung jawab, dan selalu  berupaya menjadikan mereka berakhlak mulia. Kepada para remaja dihimbau agar tidak buru-buru menikah, dan agar membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan agar lebih siap menghadapi persaingan yang makin keras. Setiap generasi muda harus sanggup mengisi kemerdekaan dan memanfaatkan setiap kearifan dan sumber daya lokal untuk pembangunan, dan banyak hal lainnya yang harus kita giatkan.

Dengan revitalisasi fungsi-fungsi keluarga, diharapkan semakin banyak terbentuk keluarga-keluarga yang selalu meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, saling mencintai sesama, memberikan perlindungan kepada keluarganya, membangun budaya hidup sehat dan ber-KB, menyekolahkan dan mempersiapkan anak-anak mereka untuk bekerja secara cerdas dan keras, serta memelihara lingkungan dan memberi dukungan dan manfaat kepada masyarakat. Keluarga-keluarga seperti ini adalah keluarga yang melaksanakan revolusi mental yang akan menghasilkan generasi yang berakhlak mulia, mandiri, bermartabat dan berdaya saing unggul, yang pada akhirnya menciptakan Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.

Orang tua menemani anak membaca
Menghadapi tantangan penurunan fungsi dan peran keluarga saat ini maka diperlukan revitalisasi fungsi-fungsi keluarga (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Menyoal Kembali Fungsi Keluarga
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...