Menunaikan Syahadah dalam Kemerdekaan Bangsa

Maju mundurnya bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh umat Islam. Karena penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam. Jadi apabila umat Islam di negara ini maju maka negara Indonesia akan maju, begitu pula sebaliknya. Oleh sebab itu, kondisi seperti ini harus ditangkap sebagai peluang maupun tantangan bagi umat Islam agar selalu sungguh-sungguh dalam berjuang untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang jumlah pengikutnya mencapai puluhan juta juga merasa bertanggung jawab terhadap hal tersebut. Melalui kader-kader terbaiknya, Muhammadiyah telah mewakafkan bagi negeri ini baik sebelum maupun sesudah negara Indonesia ini telah merdeka.

Beberapa tokoh dan kader  Muhammadiyah yang membantu perjuangan bangsa seperti Jendral Sudirman memimpin perang gerilya mengusir penjajah kolonial Belanda dan Jepang. Terus KH. Ahmad Dahlan  pendiri persyarikatan Muhammadiyah berjuang melalui keagamaan dan pendidikan. Kemudian  Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo yang merumuskan dasar negara Pancasila. Apalagi sekarang ini muhammadiyah telah memutuskan sikap politik kebangsaan terhadap pancasila.

Kasman Singodimejo salah satu tokoh Muhammadiyah perumus Pancasila
Kasman Singodimejo salah satu tokoh Muhammadiyah perumus Pancasila (sumber gambar : klik disini)

Dalam hal ini, Muhammadiyah memandang pancasila dasar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Darul Al-Ahdi Wa Syahadah. Yaitu negara pancasila ini lahir karena ada kesepakatan atau perjanjian dari seluruh elemen bangsa untuk keluar dari penjajahan untuk menentukan sikapnya sendiri dalam rangka menuju tatanan kehidupan yang lebih baik (darul al-ahdi).

Sedangkan Wa Syahadah adalah setelah negara ini terbentuk karena maka Negara Kesatuan Republik ini menjadi persaksian atau pembuktian bagi kaum muslimin untuk mewujudkan cita-cita bangsa melalui perjuangan dan pengorbanan. Oleh sebab itu arti syahadah secara etimologi yaitu persaksian/pembuktian maka secara pengertian umumnya kami artikan dakwah kebangsaan.

Konsekuensi dari syahadah bagi muhammadiyah, baik organisasi maupun individu warga persyarikatan tidak boleh lelah berjuang dan berkorban demi bangsa. Yaitu demi terciptanya Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur (bangsa yang baik, aman, subur yang diberkahi dan diampuni). Sehingga dalam mewujudkan cita-cita NKRI tersebut Muhammadiyah telah mengusung semangat Islam Berkemajuan.

Jika Islam Berkemajuan maka Indonesia pun akan demikian. Itulah yang diyakini dan difahami oleh persyarikatan. Kader-kader Muhammadiyah dengan semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus menunjukan sebagai pribadi yang unggul, pribadi yang berprestasi, pribadi terbaik yang bersama dan bekerjasama sehingga memberntuk khairu ummah. Apabila itu berhasil maka menjadi kekuatan strategis bangsa dalam menjawab segala permasalahan bangsa.

Dakwah Kebangsaan

Afnan Hadikusumo, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DIY, menilai dakwah kebangsaan Muhammadiyah sifatnya harus santun dengan merangkul bukan memukul. Itulah yang diajarkan oleh Pak AR mantan ketua umum PP Muhammadiyah. Dengan merangkul pemerintah maka muhammadiyah bisa lebih mudah mengingatkan kepada pemerintah. Mengingatkan disini ada beberapa hal yaitu k mengingatkan bila jalannya pemerintah mulai tidak on the track ( jalan salah).

Kemudian  mengingatkan jalannya pemerintah yang sudah sesuai track (jalan baik). Dalam hal ini muhammadiyah meminta kepada pemerintah untuk mempertahakan sikap tersebut. Bahkan untuk meningkatkan. Selain itu dengan merangkul menjadikan pemerintah lebih mudah mengajak muhammadiyah untuk berpartisipasi secara aktif dan strategis dalam pengelolaan pemerintah baik di dalam maupun di luar.

Apalagi di tengah kondisi saat ini terjadi ketidakadilan hukum, politik, ekonomi. Kemudian sebagian elit-elit politik yang sering melakukan pelanggaran-pelanggaran undang-undang, peraturan dalam menjalankan pemerintah. Kemudian para pelanggar itu tidak mendapatkan sanksi dan ditambah situasi ekonomi yang sulit. “ Kondisi ini menjadi rakyat tidak banyak pilihan kecuali memilih atas dasar keuangan yang berkuasa. Ini memprihatinkan,” tegas cucu pahlawan nasional Ki Bagus Hadikusumo.

Atas dasar kondisi tersebut menurut Afnan, sapaan akrabnya, maka dakwah kebangsaan yang bisa ditempuh Muhammadiyah bisa dilakukan di dua hal. Pertama, dakwah kebangsaan dalam tataran masyarakat dengan melakukan penguatan-penguatan dan kemandirian kepada masyarakat. Apabila masyarakat bisa mandiri maka akan tidak terpengaruh pergantian kepemimpinan. Dan Muhammadiyah itu telah berhasil dalam hal kemandirian.

Manfaat dari kemandirian masyarakat, mereka tidak tergantung dengan pergantian kepemimpinan baik daerah maupun nasional. Kemudaian masyarakat juga tidak akan terkooptasi dengan kepentingan politik sesaat. Ciri dari kemandirian  itu adalah entrepreneurship sehingga nilai entrpreneur itu harus ditularkan kepada masyarakat. Selanjutnya yang tidak boleh dilupakan melakukan pengutan keimanan dan ketaqwaan.

Selain kemandirian, Muhammadiyah dalam kebangsaan bisa melakukan pendidikan politik kepada penguasa tentang pentingnya menjaga amanah. Pendidikan politik itu bagian dari gerakan penyadaran agar pemimpin tidak melenceng. Bentuk penyadaran itu dengan melakukan silaturahmi agar lebih mudah mengingatkan kepada pemerintah.

Hal lain yang bisa dilakukan Muhammadiyah adalah bisa melakukan kajian-kajian tentang berbagai kebijakan pemeritah yang tidak sesuai undang-undang atau tidak sesuai harapan masyarakat.  Dengan melakukan ini ke depan kebijakan, regulasi pemerintah sesuai harapan rakyat dan sesuai perundang-undangan berlaku.

Sedangkan menunaikan syahadah (dakwah kebangsaan) muhammadiyah menurut Royan Ustani adalah dengan menggiatkan ilmu. Apalagi kini perkembangan teknologi telah sangat maju. Supaya negara ini tidak tertinggal maka gerakan ilmu harus dihidupkan. Dengan ilmu maka kemajuan teknologi bisa diraih dan sudah saatnya indonesia menjadi negara maju  dari sisi teknologi.

Apalagi kini bertepatan dengan hari lahir Republik Indonesia yang ke-71. Sebaiknya dalam kemerdekaan ditunaikan syahadah (dakwah kebangsaan) dengan penuh kesungguhan dan kesebaran. Karena hanya dengan dua hal itu dari niscaya cita-cita Indonesia sebagai negara yang Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur akan terbentuk.


Daftar Laporan Khusus “Darul Ahdi wa Syahadah”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait