Menumbuhkan Karakter Siswa melalui Semangat Al-‘Ashr

Kita pasti ingat dengan Syair Lagu Nasyid “Demi Masa” yang dinyanyikan Raihan: “Demi masa sesungguhnya manusia kerugian / Melainkan yang beriman dan beramal sholeh / Demi masa sesungguhnya manusia kerugian / Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran / a a a….. / Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal / Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali / Ingat lima perkara sebelum lima perkara / Sihat sebelum sakit / Muda sebelum tua / Kaya sebelum miskin / Lapang sebelum sempit / Hidup sebelum mati”.

Surat Al-‘Ashr adalah satu di antara sekian surat dalam Al-Qur’an yang memiliki jumlah ayat minimalis. Namun demikian, tak berarti bahwa kandungan makna di dalamnya pun tidak penting. Imam Syafii berkata: “Kalau manusia seanteronya sudi merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya” (dikutip dari kitab tafsir Al-Azhar)

Surat ini sering dibaca pada forum-forum kajian maupun pengajian, bagi anak-anak sekolah surat ini juga tidak asing karena setiap akan pulang (selesai kegiatan belajar) selalu dibaca bersamaan denga do’a setelah belajar.  Pertanyaan yang mungkin tidak pernah kita ungkapkan adalah kenapa surat ini selalu dibaca?

Berikut terjemahan per ayat surat Al-‘Ashr yang dikutip dari tafsir Al-Azhar:

  1. Demi masa!
  2. Sesungguhnya manusia itu adalah di dalam kerugian.
  3. Kecuali orang yang beriman dan beramal yang shalih dan berpesan-pesanan dengan Kebenaran dan berpesan-pesanan dengan kesabaran.
  4. Abdul Malik Karim Karim Amrullah yang akrab disapa Hamka atau Buya Hamka dalam Tafsir al Azharnya juga mengulas tentang makna kandungan surat ke 103 ini. Surat yang diturunkan di Makkah ini kalau kita dalami dan kita hayati memang sarat dengan pesan yang luar biasa. Pesan yang dapat menumbuhkan karakter seorang mukmin yang hebat. Inilah yang sesungguhnya menjadi harapan bagi pendidik/guru.

Berikut ini sekilas ulasan tafsir surat al Ashr dari kitab al Azhar.

Ayat 1

 “Demi masa!” (ayat 1). Atau demi waktu `Ashr (Indonesia: Asar). Yaitu waktu petang hari seketika bayang-bayang badan sudah mulai lebih panjang daripada badan kita sendiri. Di saat inilah umat Islam diperintah untuk mendirikan sholat Asar.

Terdapat dua macam penafsiran terhadap ayat pertama ini.

Pertama, Syaikh Muhammad Abduh melalui Tafsir Juzu’ ‘Amma menerangkan bahwa telah menjadi adat bangsa Arab apabila hari telah sore mereka duduk bercakap-cakap. Mereka membicarakan soal-soal kehidupan dan lain-lain tentang urusan sehari-hari. Karena banyak percakapan yang ngelantur, kerap terjadi pertengkaran atau sakit hati sehingga menimbulkan permusuhan. Sehingga ada yang mengutuki waktu Asar (petang hari) dengan mengatakan: Waktu Asar waktu yang celaka atau naas, banyak bahaya terjadi di waktu itu. Turunlah ayat ini memberi peringatan “Demi waktu Asar”. Perhatikanlah waktu Asar. Bukan waktu Asar yang salah, melainkan manusia yang mempergunakan waktu itu untuk hal yang sia-sialah yang salah.  Padahal kalau digunakan untuk hal yang berfaidah tentulah waktu Asar itu akan membawa manfaat.

Kedua, “Demi masa!”. Artinya, masa atau waktu secara keseluruhan. Waktu yang kita dalam bahasa Arab bisa disebut dengan `Ashr. Suka-duka, naik-turun, muda-tua, dan hidup-mati dijalani melalui kurun waktu tertentu. Allah SWT bersumpah dengan waktu atau masa, agar kita tidak menyia-nyiakan atau mengabaikannya. Sejarah kemanusiaan ditentukan oleh edaran masa.

Ayat 2

“Sesungguhnya manusia itu adalah di dalam kerugian.” (ayat 2). Di dalam masa yang dilalui itu nyatalah bahwa manusia selalu berada dalam kerugian. Sehari mulai lahir ke dunia, di hari dan sehari itu usia sudah kurang satu hari. Setiap hari dilalui, sampai hitungan bulan dan tahun, dari muda ke tua, hanya kerugian jua yang dihadapi.

Di waktu kecil senanglah badan dalam pangkuan ibu, itu pun rugi karena belum merasai arti hidup. Setelah mulai dewasa kita bisa berdiri sendiri, beristeri, atau bersuami. Namun, kita tetap rugi  sebab hidup mulai bergantung kepada tenaga dan kegiatan sendiri, tidak lagi ditanggung orang lain. Demikian seterusnya selalu ada kekurangan atau kerugian selama masa hidup manusia.

Ayat 3

“Kecuali orang yang beriman,” (permulaan ayat 3). Ada yang tidak akan merasakan kerugian sepanjang  masa hidupnya. Mereka ialah orang-orang yang beriman. Orang-orang ini mempunyai kepercayaan bahwa hidupnya ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Iman menimbulkan keinsafan guna apa dia hidup di dunia ini, yaitu untuk berbakti kepada Maha Pencipta dan kepada sesamanya manusia. Iman menimbulkan keyakinan bahwa sesudah hidup ini ada lagi kehidupan akhirat . Itulah hidup yang sebenarnya, hidup yang baqa. Di sana kelak segala sesuatu yang kita lakukan selama masa hidup di dunia ini akan diberi nilainya oleh Allah.

“Dan beramal yang shalih,” (lanjutan ayat 3). Selanjutnya, ciri orang yang tidak merugi ialah mereka yang beramal shalih. Sinar Iman yang telah tumbuh dalam jiwa itu dan menjadi keyakinan dengan sendirinya menimbulkan perbuatan yang baik.

Dalam kandungan perut ibu tubuh kita bergerak. Untuk lahir ke dunia kita pun bergerak. Maka, hidup itu sendiri pun adalah gerak. Gerak itu adalah gerak maju. Berhenti sama dengan mati.

“Dan berpesan-pesanan dengan kebenaran.” Nyatalah sudah bahwa hidup yang bahagia itu adalah hidup bermasyarakat. Hidup menyendiri adalah hidup yang sangat rugi. Maka hubungkanlah tali kasih sayang dengan sesama manusia dan berilah peringatan apa yang benar. Dengannya hal yang benar itu dapat dijunjung tinggi bersama. Begitu pula sebaliknya. Peringatkanlah mana yang salah, supaya yang salah itu dijauhi. Dengan demikian beruntunglah masa hidup.

“Dan berpesan-pesanan dengan kesabaran.” (akhir ayat 3). Tidaklah cukup kalau hanya saling menasihati ihwal kebenaran. Sebab hidup di dunia itu bukanlah jalan datar saja. Kerapkali kaki ini terantuk duri atau teracung kerikil. Banyak orang rugi lantaran dia tidak tahan menempuh kesukaran dan halangan hidup. Dia rugi sebab dia mundur atau dia tidak berani maju. Dia berhenti di tengah perjalanan. Padahal berhenti artinya pun mundur. Sedang umur berkurang juga. Di dalam al-Quran banyak diterangkan bahwa kesabaran hanya dapat dicapai oleh orang yang kuat jiwanya. Lihat surat Fushshilat (41): 35. Orang lemah, maka merugilah ia.

Kesimpulan

Uraian singkat tersebut, menginspirasi bagi para guru/pendidik bagaimana memberikan pesan sebelum para siswa/anak didiknya meninggalkan ruang kelas untuk kembali ke lingkungan masing-masing. Pesan yang ingin disampaikan adalah sebuah harapan, harapan kepada anak didiknya akan pentingnya waktu dan harapan agar tidak menjadi golongan yang merugi.

Pesan pertama tentang pentingnya waktu, sangat jelas dari makna al ashr sendiri  “Demi masa” yang berarti menunjukkan saat atau bisa juga disebut waktu. Setiap manusia dalam kehidupannya akan melewati waktu dan waktu itu sendiri senantiasa berjalan dan tidak akan pernah kembali. Seperti diungkapkan sebelumnya, sebelum dewasa kita pernah menjadi anak-anak, ada suka ada duka, ada hidup ada mati, begitulah waktu berjalan terus. Maka apabila kita tidak dapat memanfaatkan waktu tersebut dengan baik yang kita dapatkan hanyalah kesia-siaan bahkan bisa mencelakakan diri kita sendiri. Seperti halnya pepatah arab mengatakan al waqtu ka syaif “waktu adalah pedang”. Hal itulah yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pendidik terhadap anak didiknya, yaitu pentingnya waktu.

Pesan kedua, tidak masuk menjadi golongan yang merugi. Disebutkan dalam ayat kedua “sesungguhnya manusia didalam kerugian”. Seolah memberikan pesan kepada kita semua, siapapun kita, apapun profesi kita, semua dalam kerugian. Kemudian agar kita tidak termasuk di dalamnya, maka kita harus masuk pada pengecualian seperti dalam ayat yang ketiga. Adapun pengecualian tersebut adalah:

  1. Iman. Iman merupakan keyakinan yang tertanam dalam hati. Keyakinan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah adalah keyakinan yang senantiasa harus dijaga dalam diri kita. Dengan pesan agar kita selalu menjaga keimanan kita, yakin akan pertolongan Allah Swt, akan menambah kemantapan kita dalam menuntut ilmu.
  2. Amal Shalih. Setelah kita memiliki keyakinan, tentu tidak berhenti sampai pada yakin saja tetapi pembuktian kita harus diwujudkan dengan amal shalih atau perbuatan baik. Seolah kita ingin mengatakan pada anak didik “wahai anak-anakku … kalau kalian tidak ingin rugi, maka jadikanlah diri kalian orang-orang yang beriman, orang-orang yang beriman itu akan selalu berbuat baik, oleh karena itu setelah kalian keluar dari ruangan kelas ini, berbuatlah kebaikan di dalam setiap langkahmu”.
  3. Saling menasihati dalam kebenaran. Semua peserta didik tentu tidak hidup sendiri, semua bermasyarakat atau hidup di dalam lingkungan masyarakatnya masing-masing. Kebahagiaan akan didapat dalam hidup bermasyarakat, sebaliknya bila kita hidup sendiri maka yang kerugian yang diperoleh. Dalam hidup bermasyarakat tentu harus saling tolong menolong, kasih mengasihi, dan saling menyayangi. Kebenaran harus selalu dijunjung tinggi bersama untuk mencapai bahagia, sehingga saling menasehati adalah jalan utama, yang benar katakan bahwa itu benar, dan yang salah katakan bahwa itu salah. Itulah cara dari saling menasehati dalam kebenaran. Apabila para pelajar melakukan hal samacam ini, mungkin yang namanya tawuran, kenakalan pelajar, atau perbuatan-perbuatan tercela lainnya bisa dihindari karena saling menasehati.
  4. Saling menasihati dalam kesabaran. Tidak cukup apabila dalam hidup bermasyarakat hanya saling menasehati dalam kebenaran. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang berliku dan penuh roman, ada suka ada duka, adakalanya menderita adakalanya berbahagia, semua itu romantika kehidupan yang harus dijalani. Namun, tidak semua orang berhasil atau sukses dalam menjalani semua itu. Maka jalan kesabaran sangat diperlukan. Kalau jalan kesabaran senantiasa tertanam pada setiap diri pelajar, tentu akan menjadi kendali dalam setiap gerak langkahnya.

Pesan-pesan itulah yang sesungguhnya ingin disampaikan para guru. Andaikan para guru memahami akan hal ini, tentu ketika bersama anak didiknya membaca surat al ‘Ashr tidak sekedar rutinitas bacaan saja tetapi akan lebih dihayati maknanya. Insya Allah kalau kita mau bersungguh-sungguh sebagai pendidik dan tentunya dengan kebersihan hati dan keikhlasan, maka akan memunculkan anak didik yang berkarakter seperti karakter al Ashr. Pendidik menjadi kunci keberhasilan pembentukan karakter anak didiknya. Sebagaimana K.H. Hasan Abdullah Sahal juga pernah mengatakan “Memang at-thariqah ahammu mina-l-maddah, namun al-mudarris (guru) jauh lebih penting dari sekadar thariqah (metode). Meskipun ada 11 orang Maradonna di lapangan, jika semuanya ayanen, maka tak akan ada seorang pun yang bisa memasukkan bola ke dalam gawang. Bukan sekadar guru, namun ruhu-l-mudarris (jiwa seorang guru) itu yang sebenarnya lebih penting dari keduanya (metode dan guru).”

Arti Quran Surah Al Ashr 1 - 3
Arti Quran Surah Al Ashr 1 – 3 (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 1 Tahun 2016 dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait