Menjaga Kesehatan Ekologis

Pembangunan (developmentalism) yang berlangsung tanpa memperhatikan kesehatan lingkungan hidup (ekologis)  sejatinya merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat serius. Kerusakan lingkungan hidup akan memberikan dampak negatif  yang serius, kompleksitas dan memiliki efek domino (menjalar). Kerusakan itu dapat menimbulkan bencana alam, bencana sosial serta bencana kemanusiaan.

Surat Kabar Harian (SKH) Kompas (21/03) memberitakan bagaimana pembangunan seringkali mengabaikan dan mengesampingkan lingkungan. Seperti apa yang diberitakan bahwa aspek Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) seringkali di abaikan oleh para mazhab developmentalism. Disisi lain, kawasan hutan terus menyempit seiring dengan alih fungsi hutan untuk aspek kegiatan ekonomi seperti perkebunan, perumahan, pabrik dan pertambangan.

Memang suatu pembangunan itu tidak mungkin untuk di hambat, sebab merupakan indikator percepatan pertumbuhan ekonomi negara. Dengan demikian kita patut mengembangkan paradigma pembangunan bangsa berorientasi pada kesehatan ekologis.  Maka paradigma kesehatan ekologis, akan mengantarkan pembangunan bangsa yang berkelanjutan dan berkemajuan.

Ketika kesehatan ekologis dalam pembangunan itu dinihilkan, maka penyakit (bencana) akan dirasakan. Pertama, penyakit yang benar akan terjadi dan telah kita rasakan adalah seperti banjir, longsor, udara bersih tercemar, air yang tercemar, serta aspek yang lebih besar yaitu Global Warming (pemanasan Global). Kedua, yaitu persoalan sosial, Penambangan yang ceroboh akan mengakibatkan bencana sosiap seperti Lumpur Lapindo. Ketiga, yaitu bencana kemanusiaan, seperti kasus pembunuhan salim kancil di Lumajang. Berapa banyak mengatasnamakan pembangunan dengan proses penggusuran, ini merupakan praktek dehumanisasi.

KORPORATOKRASI

Adalah John Perkins dalam ‘Confessions of an Hit Man’ (2004) dengan teori Korporatokrasi yang menjelaskan bagaimana keserakahan kaum manusia melalui penguasaan aspek ekonomi dengan berbagai pola dan cara di berbagai belahan dunia. Dalam konteks Indonesia, M. Amien Rais menerangkan karakter korporatokrasi itu sebagai mesin kekuasaan yang bertujuan untuk memuluskan dan merebut kekuatan ekonomi dan politik global.

Sebuah mala petaka jika pembangunan itu mengikuti mazhab korporatokrasi. Konsekuensinya adalah aspek lingkungan tentu akan terabaikan. Penganut mazhab ini mengabaikan adanya kesehatan ekologis, sebab dalam sifatnya hanya fokus penguasaan sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik.

Sebagai penghuni muka bumi, sudah selayaknya manusia merawat bumi manusia ini untuk tetap seimbang. Memanfaatkan kayu di hutan dengan bijak, serta menanam bibitnya kembali. Mengurangi alih fungsi hutan, dan dengan tidak membakar hutan. Menjaga ekosistem pantai dan laut serta membangun pabrik dan bangunan yang ramah lingkungan.

Sebagai penghuni muka bumi, sudah selayaknya manusia merawat bumi manusia ini untuk tetap seimbang
Sebagai penghuni muka bumi, sudah selayaknya manusia merawat bumi manusia ini untuk tetap seimbang (Sumber gambar : klik disini)

GERAKAN LINGKUNGAN

Suharko (1998) dalam artikelnya ‘model-model gerakan NGO lingkungan’, memaparkan bagaimana gerakan lingkungan (sosial movement) terus tumbuh dan berkembang. Gerakan ini muncul seiring dengan kesadaran atas masa depan dan keberlangsungan ekosistem dunia serta munculnya aksi gerakan mengusung isu lingkungan. Aktivis lingkungan semakin sadar bahwa dunia telah diselimuti berbagai krisis lingkungan seperti, penipisan ozon, hilang unsur hara tanah pernanian subur, degradasi dan penggundulan hutan, susahnya suplai air bersih, serta menipisnya daerah tangkapan ikan.

Di Indonesia, kesadaran lingkungan hidup telah berlangsung sejak sekitar 1970-an yang memasukkan lingkungan hidup dalam salah satu point di dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dan kemudian di tindaklanjuti dengan keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 1982 tentang pokok-pokok pengelolaan lingkungan hidup.

Gerakan lingkungan dapat kita lakukan dengan berbagai model gerakan mulai dari tataran normatif hingga aplikatif gerakan. pertama, gerakan yang mengawal kebijakan terkait lingkungan, dapat melakukan kajian normatif dan mengajukan judial review ke mahkamah Konstitusi (MK), atau dengan mengempanyekan kebijakan lingkungan kepada masyarakat luas. Kedua, yaitu gerakan dengan aplikatif gerakan, seperti misalnya gerakan menanam pohon, gerakan penjaga ekosistem laut dan lain sebagainya.

Salah satu lembaga yang konsen dalam lingkungan adalah Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), lembaga ini memfokuskan gerakannya dalam mengawal lingkungan hidup. Para aktivis bergerak untuk melakukan gerakan hijau, mulai dari menanam bibit hingga advokasi kebijakan lingkungan.

Aktivis gerakan lingkungan terus tumbuh dan menjamur baik di tataran pemerintah ataupun swasta, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah membentuk gerakan nasional dengan nama Gerakan Nasional Penyelamat Sumber Daya Alam (GNPSDA). Dari aktivis Nahdhatul Ulama’ membentuk lembaga Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Sedangkan di Muhammadiyah ada, Majelis Lingkungan Hidup (MLH). Gerakan Lingkungan diatas menggambarkan bagaimana pentingnya merawat dan menjaga SDA untuk kesimbangan ekosistem dunia.

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Lingkungan Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah
Artikel SebelumnyaBuah Hati (Anak)
Artikel BerikutnyaCahaya Muhammadiyah Tanpa Batas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait