Mengevaluasi 40 Nilai Yang di Kembangkan di Sekolah – Sekolah Muhammadiyah

Gambar Mengevaluasi 40 Nilai Yang di Kembangkan di Sekolah – Sekolah Muhammadiyah
Wahyu Wijayanta, S.Sy, S.Pd.I
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015

Dalam kurikulum yang dimiliki oleh Muhammadiyah, terdapat 40 nilai yang wajib dikembangkan di sekolah/madrasah Muhammadiyah, yaitu: berpihak pada mustadl’afin dan dlu’afa, berpikiran maju, bersahaja, bertanggungjawab, bijak, damai, dinamis, disiplin, hemat, kasih sayang, kebahagiaan, kebebasan, kebersihan, keikhlasan, kejujuran, kerjasama, kesederhanaan, keseimbangan (tawasuth atau moderat), keteladanan, komitmen, kreatif, layanan, loyalitas, membaca, menghargai, nasionalisme, pembaharuan (tajdid), percaya diri, persatuan, proaktif, qanaah, rendah hati, sabar dan bersyukur, santun, sikap kritis, suka beramal saleh, teliti dan cermat, toleransi dan ulet.[1]

Mencermati begitu banyaknya nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan di Muhammadiyah, tentu harapan terhadap lulusan yang diinginkan sangatlah ideal, seperti yang tercantum dalam tujuan pendidikan Muhammadiyah, yaitu Pendidikan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab secara umum bertujuan untuk:

  1. Menumbuh kembangkan akidah Islam melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Al-Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah s.w.t., sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah;
  2. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlakul karimah, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, kreatif, inovatif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya Islami dalam komunitas sekolah/madrasah sesuai Al-Qur’an dan As- Sunnah;
  3. Menanamkan, menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran peserta didik untuk mengamalkan ajaran Islam serta mendakwahkannya secara berorganisasi sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menanamkan rasa tanggung jawab peserta didik melalui pemahaman gerakan, organisasi Muhammadiyah dan amal usahanya, untuk menjadi kader Muhammadiyah yang merupakan pelopor, pelangsung, penerus dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah;
  4. Menumbuhkan kecintaan dan kemampuan dasar berbahasa Arab peserta didik meliputi kemampuan mendengar, menyimak, membaca, dan menulis untuk memahami sumber-sumber ajaran Islam dan mengamalkannya, serta melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[2]

Tujuan pendidikan Muhammadiyah yang sangat ideal itu, membutuhkan perjuangan dan usaha yang tidak ringan. Sehingga pada kenyataannya, pembinaan kualitas manusia yang mengacu pada tujuan dari pendidikan dalam UU Sisdiknas maupun tujuan pendidikan Muhammadiyah, menurut penulis belum sepenuhnya terealisasikan dalam sistem, proses, dan pelaksanaan pendidikan agama Islam. Hal ini dapat dilihat dalam realitas kehidupan, dimana perilaku peserta didik kita masih belum menampilkan sosok pribadi yang sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam.

Kalau pada awal era reformasi, kita menyaksikan fenomena maraknya berbagai kerusuhan, kebringasan sosial, pelanggaran hukum dan moral, pelanggaran hak asasi manusia, dan benturan antara pemeluk agama, bahkan kita dikejutkan dengan ambruknya Orde Baru ternyata diantara faktor penyebabnya ialah adanya dosa struktural (pelanggaran HAM dan budaya KKN).[3]

Khususnya pendidikan di Muhammadiyah yang nota bene sebagai pendidikan yang berciri khusus, karena diajarkannya pendidikan agama sebanyak 7 jam atau tujuh mata pelajaran dalam satu minggu, tentu dapat dihasilkan pribadi-pribadi yang sangat kuat pada aspek spiritual dan akhlaknya.

Namun pada kenyataannya, fakta yang dapat dilihat tidak menunjukkan seperti pada tujuan pendidikan Muhammadiyah yang dikemukakan. Terlepas di mana yang salah dalam sistem pendidikan kita, namun kenyataan secara nasional bahwa dalam kehidupan keberagamaan kita selama ini, yang dibanggakan sebagai masyarakat religius, ternyata agama belum menampilkan peranannya sebagai faktor sublimatif dan faktor integrative kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. [4]

Kurang berhasilnya pendidikan agama di sekolah secara khusus dan di masyarakat pada umumnya adalah masih adanya pemahaman agama yang tidak dibarengi dengan perilaku nyata yang mencerminkan nilai-nilai agama.

Di samping itu, menurut Amin Abdullah (1996: 47), tidak maksimalnya pendidikan agama yang diajarkan oleh peserta didik, karena adanya kecenderungan proses pendidikan yang berorientasi hanya kepada aspek kognitif, dan kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu terinternalisasikan dalam diri peserta didik melalui berbagai pendekatan, cara dan media pembelajaran.

Begitu juga menurut Towaf (1999 :20), bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan agama Islam yang berlangsung saat ini antara lain;

  1. Pendekatan masih cenderung normative, dalam arti pendidikan agama menyajikan norma-norma yang seringkali tanpa ilustrasi social budaya, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian.
  2. Kurikulum pendidikan agama Islam yang dirancang di sekolah sebenarnya menawarkan minimum kompetensi atau minimum informasi, tetapi guru PAI seringkali terpaku padanya, sehingga semangat untuk memperkaya kurikulum dengan pengalaman belajar yang bervariasi kurang tumbuh.
  3. Sebagai dampak yang menyertai situasi tersebut di atas, maka guru kurang berupaya menggali berbagai metode yang mungkin bisa dipakai untuk pendidikan agama, sehingga pelaksanaan pembelajaran PAI cenderung monoton.
  4. Keterbatasan sarana prasarana, sehingga pengelolaan cenderung seadanya. Pendidikan Agama Islam yang sering diklaim sebagai aspek penting dalam membentuk keimanan dan ketaqwaan serta watak kepribadian seringkali kurang diberi prioritas dalam urusan fasilitas.

Di samping pendapat yang dikemukakan oleh Towaf tersebut, pendekatan yang seharusnya digunakan oleh para guru dalam mengajar PAI melalui pendekatan, antara lain :

  1. Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.
  2. Pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran Islam.
  3. Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini, memahami dan menghayati dalam ajaran agamanya.
  4. Pendekatan rasional, yaitu usaha untuk memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agamanya.
  5. Pendekatan fungsional, yaitu menyajikan ajaran agama Islam dengan menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari, sesuai dengan tingkat perkembangannya.[5]

Kelemahan-kelemahan dalam pengajaran pendidikan agama Islam yang mempengaruhi kurang optimalnya keberhasilan mencetak peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam, tentu tidak lepas dari kompetensi pendidik itu sendiri.

Pengajaran PAI kepada anak didik
Memberikan pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan merupakan salah satu pendekatan mengajar PAI (Sumber gambar : klik disini)
Catatan Kaki
  • [1] Ibid,hal.2
  • [2] ibid
  • [3] Achmadi, reformasi system pendidikan agama Islam dalam era reformasi, Yogyakarta (Pustaka Pelajar) hal.153.
  • [4] Ibid,hal.154.
  • [5] Ibid, hal. 163

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Bulan 8 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...