Mengenal Lebih Dekat Perkara Bid`ah

Kita sering mendengar istilah bid’ah yang dikaitkan dengan amalan-amalan budaya masyarakat di mana kita tinggal. Ada yang berusaha mengihindari perbuatan bid’ah tersebut, ada yang merasa terganggu dengan istilah bid’ah yang sudah menjadi kegiatan rutin, bahkan mereka menjadi pelopor dan tokohnya, baik dalam kegiatan yasinan malam jum’at, tahlilan untuk kirim pahala, kelahiran anak, tingkeban dan tahlilan saat menempati rumah baru. Sehingga tidak mau tahu tentang apa istilah bid’ah, dan bagaimana sebenarnya akibat dan bahaya bid’ah itu.

Untuk tulisan yang kedua ini, akan dijelaskan tentang karakteristik bid’ah, sebagai usaha memberikan informasi tentang istilah bid’ah. Diharapkan kepada warga  Muhammadiyah akan mendapat pencerahan didalam memahami istilah bid’ah untuk bekal dalam mengamalkan agama dalam kehidupan sehari-hari.

1. Pengertian Bid`ah

1.1. Menurut Bahasa

البِدْعة اسمٌ من ابتدَع الأمرَ إذا ابتدأه وأحْدثه (المغرب في ترتيب المعرب – ج 1 / ص 62)

Bid’ah adalah bentuk isim (kata benda) berasal dari fi’il (kata kerja) ibtada’al amra yang berarti ia telah memulai suatu perkara dan mengadakannya/menciptakannya yang baru

البدعة: كل محدث جديد على غير مثال سابق (معجم لغة الفقهاء – ج 1/ص 104)

Bidah ialah sesuatu yang diadakan, yang baru dengan tidak ada contoh yang mendahuluinya.

Dari kata bidah, terbentuklah lafadz al-Badi sebagai salah satu nama Allah swt yang berarti Pencipta sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

Allah swt berfirman:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (البقرة:117)

Artinya : Allah Pencipta (yang sebelumnya tidak ada) langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” lalu jadilah ia.

Lafadz bidah juga digunakan oleh Allah swt untuk menjelaskan keberadaan Nabi Muhammad saw bahwa beliau bukanlah seorang bidan (orang yang tidak didahului Rasul sebelumnya)

Allah swt berfirman:

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ (الأحقاف : 9)

Artinya : Katakanlah Aku bukanlah Rasul yang pertama (tidak ada sebelumku) di antara rasul-rasul.” 

Bidah dalam pengertian bahasa dibagi menjadi 2, bidah yang baik (hasanah) dan bidah yang buruk (sayyiah). Jika ia sesuai dengan sunnah, maka itu yang baik tetapi jika bertentangan dengan sunnah maka itulah bidah yang buruk.

1.2. Menurut Istilah

a. Menurut Al-Jauhariy, bidah ialah :

الحدث في الدين بعدالاكمال

Artinya : “Sesuatu yang baru dalam agama sesudah sempurna”.

b. Menurut Al-Fairuzabadiy, bid’ah ialah :

 الحدث في الدين بعدالاكمال اومااستحدث بعدالنبي ص.م. من الاهواء الاعمال

Artinya : “Sesuatu yang baru dalam agama sesudah sempurna, atau sesuatu yang baru diadakan sesudah Nabi saw, karena ingin memperturutkan hawa nafsu atau memperbanyak amal”.

c. Abu Syamah berkata :

وقد غلب لفظ البدعة على الحدث المكروه في الدين وهومالم يكن في عصرالنبي ص.م.ممافعله اواقر عليه اوعلم من قواعدشريعته

Artinya : “Lafadz bid’ah itu biasa digunakan untuk menyebut sesuatu yang baru, yang dibenci di dalam agama; bid’ah ialah apa saja yang tidak ada pada masa Nabi saw, baik berdasarkan pelacakan terhadap apa yang ia perbuat atau yang ia tetapkan ataupun berdasarkan apa yang dapat diketahui dari kaidah-kaidah agamanya.

d. Sebagian Ulama Hadis mengatakan :

البدعة هي الأمرالمحدث في الدين : عقيدة اوعبادة اوصفة للعبادة لم يكن عليهارسول الله وسلم

Artinya : “Bid’ah ialah urusan yang diada-adakan dalam agama, baik berupa aqidah, ibadah ataupun sifat ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw”.

e. Sebagian Ulama lagi mengatakan :

البدعة هي الزيادة في الدين اونقصان منه الحادثان بعدالصحابة بغيراذن من الشارع لاقولاولافعلاولاصريحاولااشارة ولايتناول العادات اصلا بل تقتصر على بعض الاعتقادات وبعض صورالعبادات

Artinya : “Bid’ah ialah tambahan dalam agama atau pengurangan dari agama yang baru terjadi sesudah masa sahabat tanpa izin dari pembuat syariat, tidak dengan perkataan, perbuatan, terang-terangan dan tidak pula dengan isyarat. Jadi ia tidak mencakup urusan-urusan adat sama sekali, tetapi terbatas pada sebagian urusan Itiqad dan rupa-rupa ibadah.

Dari tarif-tarif tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bidah itu sesuatu yang baru dalam agama, baik berupa itiqad maupun ibadah atau sesuatu yang menyerupai ibadah, yang belum pernah ada atau belum pernah terjadi pada masa Nabi atau pada masa sahabat. Atau tambahan atau pengurangan dalam agama yang terjadi sesudah masa sahabat dengan tidak mendapat dukungan dari Allah atau Rasulullah, baik dukungan perkataan ataupun perbuatan, baik dukungan pernyataan ataupun isyarat. Bidah sama sekali tidak mencakup urusan adat. Ia hanya mencakup urusan itiqad dan ibadat.

Dengan perkataan lain, bidah ialah:

الأمرالدينى الذى لم يكن في عصرالنبي ص.م. ولافي عصرالصحابة

Artinya : “Urusan agama yang pada masa Nabi dan pada masa sahabat tidak ada”.

Atau

الأمرالدينى الذى لم يكن النبي صل الله عليه وسلم عليه واصحابه

Artinya : “Urusan agama yang tidak diajarkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya”

Atau

الأمرالدينى الذى لم يدل عليه دليل شرعي سواء اكان من الكتاب اومن السنة اومما اجتهد عليه الصحابة

Artinya : “Urusan agama yang tidak ditunjukkan oleh dalil syara, baik dari Al-Kitab, dari As-Sunnah ataupun dari hasil ijtihad para sahabat.

2. Unsur – Unsur Bid`ah

Suatu perkara dikatakan bidah jika terhimpun di dalamnya 3 unsur, yakni:

Pertama, Al-ihdats sesuatu yang baru

Yang dimaksud dengan al-ihdats adalah mendatangkan, membuat-buat sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya.

Rasulullah saw bersabda :

فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة (رواه أبو داود و غيره)

Artinya : Sesuatu yang baru itu disandarkan pada ad-din (agama).”

Rasulullah saw :

 من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد (صحيح البخاري – ج 2 / ص 959)

Artinya : “Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara  dalam urusan (agama)  kami ini yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak.”

Yang dimaksud dengan amruna  (urusan kami)  dalam Hadist di atas adalah amru ad-din (urusan agama) dan syari’atnya, sesuai dengan tugas diutusnya Rasulullah saw. Jadi, suatu perkara dikatakan bid’ah jika  sesuatu yang baru tersebut disandarkan kepada syari’at dan dihubungkan dengan ad-din (agama) dalam salah satu sisinya. Makna tersebut bisa tercapai bila mengandung salah satu dari tiga unsur berikut ini. Pertama, perkara tersebut dilakukan dalam rangka ta’abbudi (beribadah) dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan. Kedua, perkara tersebut keluar/ menentang (aturan) agama. Ketiga, perkara tersebut juga mencakup segala hal  yang dapat menggiring kepada terciptanya bid’ah baru.

Maka, hal-hal yang baru dalam masalah-masalah materi dan perkara-perkara dunia  yang tidak menjadi tugas terutusnya Rasulullah saw, tidak termasuk bid’ah.

Dalam hal ini beliau mengatakan:

أنتم أعلم بأمور دنياكم (جامع الأحاديث – ج 41 / ص 494)

Artinya : “Kamu sekalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.”

Begitu juga perbuatan-perbuatan maksiyat dan kemungkaran-kemungkaran yang baru, yang belum pernah terjadi pada masa dahulu, bukan dikatakan bid’ah, kecuali jika ia dilakukan dengan tujuan atau cara yang menyerupai taqarrub kepada Allah swt atau ketika melakukannya bisa menyebabkan adanya anggapan bahwa hal itu termasuk bagian agama.

Kedua, hal yang baru tersebut tidak berlandaskan syari’at, baik secara khusus maupun umum.

Rasulullah saw bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد (رواه مسلم)

Artinya : “Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak.”

Dengan batasan ini maka tidak termasuk dalam pengertian bid’ah hal-hal baru yang berhubungan dengan agama yang mempunyai landasan syar’i yang umum ataupun yang khusus.  Landasan syar’i yang umum adalah hal-hal yang ditetapkan melalui al-mashalih al-mursalah, seperti pengumpulan al-Qur’an oleh para sahabat. Adapun contoh yang khusus adalah pelaksanaan shalat tarawih secara berjamaah pada zaman Umar bin Khatab.

Bid’ah sama sekali tidak mencakup urusan adat. Ia hanya mencakup urusan i’tiqad dan ibadat
Bid’ah sama sekali tidak mencakup urusan adat. Ia hanya mencakup urusan i’tiqad dan ibadat (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2012 dan dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait