Mengelola Mobilisasi Massa

Gambar Mengelola Mobilisasi Massa
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Muhammadiyah di Yogyakarta merupakan Muhammadiyah yang unik jika dipandang dari sudut geografi. Karena di Yogyakarta khususnya kota, mulai dari Pimpinan Ranting hingga Pimpinan Pusat ada semua. Sehingga kalau tidak jeli, setiap penyelenggaraan kegiatan orang akan mengalami kebingungan. Level mana yang punya aktifitas.

Dalam waktu-waktu tertentu, Muhammadiyah tampak glamor dalam memobilisasi massa. Pertama saat pelaksanaan milad, kedua medio bulan syawal, ketiga saat jelang musyawarah. Ketiga waktu itu ditengarai sebagai ajang pamer (bahasa dalam Muhammadiyah : syiar) untuk menunjukkan jati diri kepada masyarakat. Aksi massa yang memang harus dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat. Tanpa kehadiran turun jalan, Muhammadiyah ibarat sebuah kekuatan namun tersembunyi. Masyarakat tidak mengetahui kiprah Muhammadiyah dalam membangun pilar-pilar bangsa.

Aksi massa yang dilakukan oleh Muhammadiyah bukanlah aksi yang sering kita dengar seperti demo atau tuntutan kepada lembaga tertentu atau pemerintah agar keinginannya bisa tercapai. Muhammadiyah turun ke jalan atau mobilisasi massa karena mempertanggung jawabkan kepada masyarakat yang telah mempercayakan Muhammadiyah sebagai gerakan amar makruf nahi mungkar. Bukan hanya silaturrahmi basa basi, namun lebih dari sekedar hasil kreatifitas Muhammadiyah yang terpanggil untuk turt serta menata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Aksi massa, dalam pengertian umum merupakan suatu metode perjuangan yang mengandalkan kekuatan massa dalam menekan pemerintah atau lembaga lain untuk mencabut atau memberlakukan kebijakan yang tidak dikehendaki massa. Aksi massa merupakan bentuk perjuangan aktif dalam rangka merubah kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak massa.

Aksi ini lahir karena masyarakat ingin ada perubahan. Gerakan ini biasanya dilatar belakangi adanya kebutuhan primer seperti makanan, pakian atau kebutuhan pokok lainnya. Kedua, karena kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan yang mendukung dari kebutuhan primer seperti : pendidikan, komunikasi, hubungan masyarakat. Ketiga kebutuhan spiritual. Yaitu keinginan masyarakat yang bersifat kerohanian, metafisik seperti : kerinduan akan ketentraman dalam melaksanakan peribadatan.

Ketiga jenis tuntutan tersebut, Muhammadiyah telah mempelopori aksinya sesui dengan versi Muhammadiyah. Cirinya, lebih menusuk ke pusat kelembagaannya. Langsung menemui penanggung jawab kebijakan. Tidak merusak tatanan sosial, tidak merusak fasilitas umum namun gaungnya lebih terasa di masyarakat. Ciri lainnya memanfaatkan teknologi komunikasi dan media. Sarana ini telah dibangun oleh Muhammadiyah dan akan terus dikembangkan. Dengan kedua alat ini, dampak sosialnya lebih terasa.

Mobilisasi massa yang dilakukan oleh Muhammadiyah akan tetap terus dilakukan manakala melihat kemungkaran. Muhammadiyah akan tetap terus berada dalam garis depan saat melihat ketidakadilan. Muhammadiyah akan tetap terus melakukan aksinya dengan cara-cara yang santun, jauh dari kegaduhan, dan sebisa mungkin langsung ke sumber kebijakan. Dengan motode seperti ini, Muhammadiyah tidak akan lepas dari jati diri. Muhammadiyah harus tetap mampu mengendalikan diri di tengah maraknya aksi massa yang kadang masyarakat sendiri merasa kecewa terhadap pengunjuk rasa. Untuk itu Muhammadiyah harus bijak memilah dan memilih caranya :

(a) Isu

Hal utama dalam mengelola mobilisasi masa adalah isu. Topik yang hangat dan menjadi pembicaraan dalam masyarakat menjadi sajian utama atau tema. Orang akan tertarik jika isu yang hangat diperbincangkan secara umum dan transparan. Dengan begitu masyarakat turut ambil bagian dari sebuah kebijakan. Masyarakat lebih memiliki arti fungsi subyek.

Di Muhammadiyah, mengelola sebuah isu hampir dipastikan dibungkus dalam bentuk pengajian atau forum kajian. Materinya bisa lebih dipertanggungjawabkan dari pada penyelenggaraan dalam bentuk pengerahan massa bak kampanye. Pengajian atau kajian selalu dibahas dengan kepala dingin, setiap kalimat bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dampaknya tidak hanya sesaat. Publikasinyapun lebih mengarah pada bentuk solusi bukan reaktif.

(b) Tujuan

Sebelum melakukan mobilisasi massa hendaknya perlu ditegaskan mau kemana aksi massa akan dibawa. Jangan sampai hanya sebatas mengumpulkan massa tanpa tujuan yang jelas. Dengan arah yang jelas, massa akan menerima makna yang jelas pula. Tujuan memobilisasi massa hendaknya juga mempertimbangkan batasan umur dan kadar intelektualnya. Strata umur, perbedaan gender, latar belakang sosial, pendidikan dan usia akan menyangkut juga isi materi yang hendak disampaikan. Bagi Muhammadiyah, penguatan visi dan misi organisasi harusnya memang dengan mengerahkan massa yang sebanyak-banyaknya.

(c) Waktu dan Tempat

Inilah barangkali problem Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Semua level pimpinan ada di kota. Mulai dari Pimpinan Pusat sampai pada Pimpinan Ranting atau bentuk pengajian-pengajian yang ada di Masjid. Belum lagi dengan beberapa ortom yang biasanya juga mengerahkan massa.

Barangkali memang harus ada komunikasi yang berkesinambungan antar jenjang pimpinan. Jangan sampai di setiap lapis pimpinan menyelenggarakan kegiatan dengan pengerahan massa dalam waktu yang hampir bersamaan. Perlu batasan yang tegas antar pimpinan manakala akan mengerahkan massa.

Memang yang tidak bisa dihindari kalau jelang milad Muhammadiyah atau musyawarah. Hampir setiap jenjang pimpinan atau amal usaha mengadakan kegiatan dengan memobilisasi massa. Yang selalu menjadi obyeknya adalah anggota. Dipandang dari sudut pengelolaan massa sebenarnya kurang efektif. Karena tujuannya memiliki kesamaan.

(d) Liputan

Jangan sampai, mobilisasi massa akan sia-sia hanya karena tidak ada publikasi. Mengerahkan massa butuh biaya tidak sedikit, dana yang cukup besar, persiapan yang matang. Pendokumentasian kegiatan sangat penting bagi sebuah organisasi. Dokumentasi kegiatan bisa dijadikan tolok ukur organisasi dalam menjalankan fungsinya sebagai himpunan beberapa orang yang akan mencapai tujuan. Liputan sebuah mobilisasi massa juga sebagai sarana publikasi yang efektif, bahwa organisasi itu benar-benar ada dan bermanfaat keberadaannya dalam masyarakat.

Liputan juga bisa dijadikan sebagai daya tawar untuk organisasi yang lain. Dalam politik, mobilisasi massa menjadi kewajiban sebagai motor penggerak dalam organisasi politik. Memobilisasi massa dalam kadar yang tinggi menjadi daya tawar dalam dialog dan komunikasi politik dengan lawan politik maupun pemerintah. Bagi Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat daya tawarnya selalu berpegangan pada keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah.

Mobilisasi massa sangat diperlukan agar syiar Muhammadiyah diikuti oleh warganya
Mobilisasi massa sangat diperlukan agar syiar Muhammadiyah diikuti oleh warganya (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 1 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait