Mengatasi Kecanduan Gadget

Gambar Mengatasi Kecanduan Gadget
Lady Farhana, S.Si, M.Psi
Psikolog Muda, Sekretaris LPB PDM Kota Yogyakarta 2015 - 2020

Gadget adalah sebuah perangkat elektronik kecil yang memiliki teknologi terbaru yang memiliki suatu fungsi yang khusus. Contoh gadget misalnya handphone, smartphone, dan tablet yang memiliki akses ke dunia internet. Dikutip dari laman Kementrian Komunikasi Dan Informatika (KOMINFO) Republik Indonesia, Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang dari total penduduk berjumlah 250 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Menurut data 2014 yang dikeluarkan KOMINFO, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang anak-anak gunakan. Selain itu, dari penelitian yang dilakukan hampir semua anak tidak setuju terhadap isi pornografi di internet. Namun, sejumlah besar anak dan remaja telah terekspos dengan konten pornografi, terutama ketika muncul secara tidak sengaja atau dalam bentuk iklan yang memiliki bernuansa vulgar yang keluar dari gadget mereka dan bagi anak yang kecanduan gadget, hal ini dapat menjadi porsi bersar anak cenderung terjerumus pada konten pornografi.

Kedua, kecanduan gadget akan mengurangi interaksi orangtua dan anak karena anak akan dengan mudah bermain sendiri tanpa merasa dibatasi. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di The New York Times, Dr. Gary Small mengatakan bahwa jika anak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menggunakan teknologi dan sedikit waktu dengan orang, hal itu menghambat interaksi dan mengganggu perkembangan keterampilan komunikasi normal pada anak-anak.

Ketiga, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2011, kecanduan gadget dianggap berisiko terkena radiasi dari gadget tersebut. Pada bulan Desember 2013, Dr. Anthony Miller dari Sekolah Tinggi Kesehatan Masyarakat Universitas Toronto mengungkapkan bahwa paparan frekuensi gagdet jelas merupakan ancaman bagi anak-anak.

Keempat, kecanduan gadget akan membuat anak menjadi lebih pemarah dan agresif. Sebagai orangtua, tentu akan merasa tidak nyaman ketika anaknya terus menerus bermain gadget dan menjadi hal wajar saat menegurnya. Namun, bagi anak yang kecanduan gadget mereka akan menjadi pemarah dan agresif ketika ada yang melarangnya, bahkan dalam satu kasus, amarahnya ini hingga undercontrol hingga permintaannya dipenuhi.

Kelima, kecanduan gadget menyebabkan rutinitas anak menjadi terganggu. Ketika ada memiliki kebiasaan belajar setelah maghrib, atau memiliki jam tidur teratur anak akan lebih senang bermain gadgetnya daripada melakukan kewajibannya. Sebuah laporan mengungkapkan bahwa orangtua bahkan tidak menyadari bahwa anak-anaknya kecanduan internet dan gadget sehingga hal tersebut cenderung dibiarkan saja.

Bila kita renungi, sudahkah kita mengamati kebiasaan menonton TV dan bermain gadget anak? Apakah normal atau apakah anak mengetahui segala hal tentang saluran atau programnya. Pernahkah kita mengamati berapa banyak waktu yang anak habiskan di depan gadgetnya? Pernahkah kita mencoba untuk memeriksa apa yang membuat anak begitu sibuk hanya dengan isi gadgetnya atau apakah isi gadgetnya yang seharusnya tidak anak lihat?

Kapan terakhir kita melihat anak pergi bermain dengan teman? Apakah remaja kita berbaur dengan orang seusianya? Apakah dia suka pergi ke luar rumah atau asyik berada di sofa dengan gadgetnya? Kapan anak kita terakhir berkumpul dengan keluarga kita dengan sepenuh hati? Atau malah kita menemukannya duduk dengan gadget dan headsetnya?

Jika salah satu dari semua pertanyaan yang dikutip di atas kita ‘iya’kan, inilah tanda anak kita menjadi pecandu, pecandu gadget.

Sekarang apa yang harus kita lakukan? Apakah harus membaatasi anak sepenuhnya?  Memarahinya ketika menggunakan gadget? Haruskah menemui konselor?

Anak-anak dengan kecanduan gadget sering menjadi gelisah dan mudah tersinggung. Kurangnya konsentrasi dan ketidakpedulian terhadap belajarnya. Anak yang menghabiskan lebih banyak waktu sendirian di depan TV atau gadget atau kurangnya minat dalam aktivitas adalah pemicu umum terhadap kecanduan gadget. Salah satunya cara untuk mengendalikannya adalah terlibat dalam interaksi dan kegiatan anak dan membatasi waktu menggunakan gadget, jika sesuatu yang penting dan perlu durasi lebih lama, orang tua harus dilibatkan secara bersamaan untuk mendampinginya.

Terlibat. Seorang anak sejatinya membutuhkan waktu bersama orangtuanya, yang merupakan pemberian terbaik yang bisa kita berikan kepada anak. Libatkanlah anak dalam percakapan yang menarik, masalah sehari-hari, mendiskusikan buku, hal yang disukai yang menarik minat mereka, lalu jadilah pendengar yang baik untuk anak-anak.

Jika memang anak membutuhkan gedget, hindari memberi gadget dengan terlalu banyak fitur; youtube, instagram, facebook, games, dan lain sebagainya. Tetap awasi anak dengan cara yang ramah karena ketika terlalu ketat akan berdampak buruk bagi anak.  Jika orangtua menemukan konten yang tidak sesuai untuk anak, maka jangan memarahinya.

Tetapkan batas waktu. Orangtua harus menetapkan batas waktu ketika anak menggunakan gadget untuk mengendalikan dan tetap memeriksa penggunaan gadget dengan bijak. Waktu ideal untuk memberikan gadget pada anak jangan lebih dari satu jam dan tanyalah kebutuhan ketika menggunakan gadget itu.

Orangtua harus menetapkan batas waktu ketika anak menggunakan gadget untuk mengendalikan dan tetap memeriksa penggunaan gadget dengan bijak
Orangtua harus menetapkan batas waktu ketika anak menggunakan gadget untuk mengendalikan dan tetap memeriksa penggunaan gadget dengan bijak (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...