Mengatasi Kebiasaan Berbohong pada Anak

PENULIS Liswati (SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta)

Anak adalah anugerah amat bernilai. Secara fitrah anak-anak  merupakan perhiasan kehidupan, kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga diharapkan menjadi penyejuk mata, kebanggaan orangtua dan penerus cita-cita. Tidak sedikit orangtua mendambakan anaknya mampu meraih derajat tinggi sehingga kehormatan diri dan keluarga terangkat. Akan tetapi anak juga amanah, titipan paling berharga yang harus dijaga, dididik dan dibesarkan hingga di kemudian hari menjadi pribadi yang kuat dan tangguh dalam mengarungi samudera kehidupan.

Motif Anak Berbohong

1. Beralasan Karena Terpojok

Terkadang anak merasa terpojok disebabkan oleh kesalahannya sendiri, sehingga mengambil jalan keluar untuk berbohong demi terhindar dari amarah orangtua. Jika anak pernah dipojokkan dan merasa “terhukum” ketika bersalah, anak akan memilih opsi berbohong untuk menghindari hukuman, tanggung jawab, atau takut disalahkan oleh orang-orang disekitarnya.

2. Anak Merasa tidak punya pilihan lain

Berbagai cara orangtua untuk mendidik anaknya agar menurut, bahkan ada juga yang cenderung otoriter. Pada pola asuh yang kontrolnya terlalu kuat atau disebut juga orangtua otoriter, anak selalu berpikir kesalahan adalah sesuatu yang tidak terampuni sehingga anak merasa tidak punya pilihan lain selain berbohong. Inilah beberapa ciri jika orangtua otoriter, kalau misalnya anak selalu salah, apapun yang mereka lakukan, dan hal ini membuat mereka apatis, atau sebaliknya memberontak habis-habisan, ada kemungkinan kita telah bertindak otoriter.

3. Anak ingin terlihat hebat

Tidak jarang para orangtua membandingkan sang kakak dengan si adik. Mungkin tujuan orangtua untuk mensuport sang kakak namun terkadang anak salah faham. Anak merasa tidak nyaman merasa diremehkan sehingga berusaha menutupi hal yang sebebnarnya. Rasa kurang percaya diri membuat anak bereaksi ingin mencitrakan dirinya lebih dari yang ia miliki sekarang.

4. Anak tidak ingin mengecewakan orangtua

Semua orang tua pasti menginginkan putranya menjadi anak yang paling sempurna. Untuk merealisasikan harapan itu sampai orang tua berusaha memberikan apapun yang diinginkan si anak. Sehingga anak berfikir bahwa orangtua selalu menyayanginya, memberikan apa saja yang dimintanya, karena takut mengecewakan mereka maka dengan terpaksa berkata bohong ketika nilai ulangan di cek orangtua.

5. Merasa dirinya tidak dihargai

Orang tua yang hanya melihat hasil akhir kerja si anak tanpa memperhatikan proses meraih hasil akhir itu membuat anak berusaha dengan berbagai cara termasuk cara yang tidak baik sekalipun. Saat sang anak mendapat nilai ulangan tinggi ia pun mendapat hadiah. Sedangkan ketika anak sudah berusaha, namun hasil jelek kemudian kena marah. Anak menjadi tidak tahu makna sebuah proses usaha, ia hanya belajar tentang hasil akhir yang memuaskan. Demi nama baiknya anak berbohong, karena ia ingin dihargai atas prestasinya. Meskipun itu bukan murni kemampuannya sendiri.  Ini membuat anak suka berbohong ketika merasa tidak mendapat reward.

6. Bertujuan untuk memperdayakan orang lain

Bohong yang biasa digunakan untuk memperdayakan orang lain adalah bohong egois. Dengan berbohong, seorang anak merasa lebih mudah memanfaatkan orang lain untuk memenuhi semua keinginannya. Ironisnya bohong jenis ini juga terjadi di kalangan orang dewasa, bukan hanya pada anak-anak.

Mengatasi Anak Suka Berbohong

1. Memberikan teladan

Orangtua adalah madrasah bagi anaknya. Lingkungan pertama yang membentuk karakter anak adalah keluarga. Orangtua menjadi modeling bagi putra-putrinya. Secara tidak sadar kadang kita telah membuat anak berpikir kalau berbohong itu tidak apa-apa karena kita yang seharusnya jadi teladan, mengajarkan hal yang demikian. Misalnya ketika anak samapi larut malam belum mau tidur ibu berkata, “Ayo tidur, diluar ada macan nanti digigit loh.” Secara tidak sadar ternyata orangtua telah mendidik berbohong. Alangkah lebih baik katakana, “Adik mari tidur, kalau tidur terlalu malam takut bangun kesiangan. Malukan masak matahari terbit baru sholat subuh. Apalagi kalau sampai sekolahan terlambat pasti malu juga kan?”

Berhati-hatilah dalam bertuturkata, bertingkahlaku serta bersikap kepada orang lain. Anak meskipun terlihat diam tapi mereka sebenarnya memperhatikan kemudian menerapkan konsep tersebut pada diri mereka.

2. Stop marah, bersikaplah sabar

Berusahalah bersikap wajar dan tidak memarahi anak. Apalagi orangtua yang notabene pendidikannya tinggi mustinya mempunyai cara didik yang lebih mulia, lebih terpelajar/lebih mendidik. Kemarahan terkadang justru membingungkan anak dan bukan menjadi cara efektif untuk mencegah anak untuk tidak berperilaku bohong lagi. Dalam beberapa kasus, anak yang kurang mendapat perhatian, justru akan mengulangi hal yang tidak disukai orangtua agar ia dimarahi. Baginya, dimarahi orangtua menjadi salah satu bentuk perhatian. Sayangnya demi sedikit perhatian saja harus rela di marahi oleh orangtua sendiri

3. Mendengar alasan anak

Anak berbohong bukan tanpa alasan, pasti ada sebabnya. Mencari tau penyebab anak berperilaku demikian, doronglah untuk berbicara jujur bersedialah untuk mendengarkan kebenaran meskipun terasa pahit. Setelah itu baru kita terangkan efek buruk dari sikap bohong dan arahkan untuk selalu berperilaku baik disertai keuntungan bersikap jujur.

4. Hindari hukuman fisik

Tanpa disadari orang tua sebenarnya hukuman fisik seperti memarahi, mencubit, memukul, menjewer, menyentil dan sebagainya dapat menciptakan emosi negatif. Perasaan marah, sedih, ditolak, tertekan, takut, terluka pada anak  biasanya dipendam tidak berani mengungkapkan pada orangtua. Rasa tertekan tersebut dapat berkembang menjadi perasaan permusuhan atau bahkan dendam terhadap orangtua.

Selain itu saat anak melakukan kesalahan kemudian orangtua menghukum secara fisik membuat anak tidak belajar tentang pengendalian emosi. Mereka berasumsi bahwa menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain menuruti keinginan kita adalah boleh dilakukan sehingga anak cenderung mencontoh. Jadi hindarilah hukuman fisik yang berefek tidak baik tersebut

5. Bersikap fleksibel

Sekalipun orangtua menginginkan anak bersikap patuh, namun perlu memahami juga bahwa ketidakpatuhan anak dalam batas wajar adalah sesuatu hal yang normal. Tidak berarti orangtua selalu menerapkan harga mati untuk suatu peraturan. Sebagai orangtua, kita mempunyai kewajiban membimbingnya, namun jangan lupa untuk perlahan-lahan melepaskan kendali kita, memberinya kebebasan semakin banyak saat ia menjadi dewasa dan telah mampu bertanggung jawab.

6. Hindari memberi label buruk

Orangtua berharap dengan melontarkan label, anak mudah mengerti sifat buruk mana yang harus diubahnya. Akan tetapi, penggunaan label berisiko membuat anak mengembangkan konsep diri sesuai dengan sifat buruk yang terkandung pada label tersebut. Ini disebabkan karena label begitu mudah diingat anak. Selain itu, anak cenderung percaya pada kata-kata orang dewasa, sehingga ketika mendengar orangtua mengatakan bahwa dirinya mempunyai sifat buruk tersebut, anak melihat bahwa dirinya memang memiliki sifat buruk seperti itu.

Pinokio anak berbohong
Anak berbohong seperti dongeng pinokio (sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Child Education Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Mengatasi Kebiasaan Berbohong pada Anak
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...