Meneguhkan Etos Kerja

Oleh : Saefudin Ahmad (Mahasiswa Pasca Sarjana FIAI UII)

Agama Islam merupakan agama yang universal, dimana ajarannya menganjurkan umatnya untuk bekerja. Hal ini mempunyai arti bahwa, merealisasikan fungsi kehambaan kepada Allah SWT dan menempuh jalan menuju Ridho-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain adalah suatu ajaran praktek nyata dalam membangun kehidupan di dunia ini. Namun demikian, Islam tidak mengajarkan orientasi manusia pada suati demensi dunia saja, Islam memberikan ajaran yang seimbang, selain memikirkan kehidupan dunia namun juga mementingkan kehidupan yang akan datang (akhirat). Hal ini Nampak Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Jumu’ah (62) ayat 10 yang menerangkan beribadah (sisi akhirat) dan bertebaran dimuka buni (sisi dunia).

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Artinya  : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dam carilah karunia Allah dan ingatlah sebangak-banyaknya supaya kamu beruntung” (Q.S. Al-Jumu’ah : 10).

Ayat diatas menerangkan agar selepas menjalankan ibadah kita harus bersegera melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk diri manusia itu sendiri atau untuk masyarakat, bangsa dan negara. Dapat dipahami bahwa Islam menekankan ibadah formal namun juga menekankan aktivitas manusia di muka bumi. Napak jelas dalam ajaran Islam menganut prinsip keseimbangan (mizan). Dengan demikian berbanding lurus bahwa seseorang yang taat ibadah maka kualitas aktivitas di dunia juga baik. Bentuk perintah diatas menerangkan sebuah kegiatan wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia muslim.

Dari ayat diatas juga dapatkan makna bagaimana umat manusia, khususnya umat Islam memiliki karakter pekerja keras untuk memperoleh suatu prestasi. Tafsiran ayat “fantasirru fil ardh”(bertebaran di muka bumi) merupakan suatu perintah yang wajib diamalkan oleh setiap manusia yang sejalan dengan kualitas batin (keshalehan) untuk memperoleh suatu prestasi (achievement) yaitu “carilah karunia Allah”. Ayat ini secara nyata betapa pentingnya umat islam memperhatikan kehidupan yang sekarang dan kehidupan yang akan datang. Dengan demikian kualitas hidup kita sekarang ini harus bermanfaat.

Toto Tasmara (1995: IX-X) mengartikan ayat diatas secara kontekstual sebagai bentuk perintah manusia agar memiliki karakter workable (kerja keras). Dengan demikian, klaim umat terbaik (khoiru ummah) sebagaimana yang difirmankan dalam surah ali-Imran ayat 110 benar adanya. dengan demikian umat Islam memiliki potensi untuk mencapai amal prestatif tinggi dan unggul di muka bumi ini yang memberikan sumbangsih besar untuk peradaban dunia. Lanjutnya, Jihad harus dimaknai sebagaimana aktivitas workable, menurutnya kandungan nilai-nilai etos kerja yang melahirkan dorongan semacam ‘kegilaan’ bagi setiap pribadi muslim untuk mengabdi dengan prestasi. Beliau menyebutkan sahabat Nabi Muhammad s.a.w yaitu Abdurrahman bin Auf layak memperoleh predikat sebagai tokoh yang memiliki etos kerja Islami. Hal ini dinilai olehnya, bahwa Abdurrahman terkenal piawai dalam berniaga dan disegani karena termasuk orang kaya di Mekkah. Abdurrahman rela meninggalkan segala kenikmatan, status sosial dan hartanya dengan ikut serta hijrah ke Madinah hanya berbekal pakaian ala kadarnya.

Makna hidup bagi seorang muslim tidak sekadar menampilkan eksistensi di dunia ini, namun lebih jauh lagi, hidup bagi seorang muslim harus memiliki nilai ibadah yang esensi. Karena itu sebuah manifestasi akan keberimanan manusia. Bukankan Islam yang kita anut adalah Islam agama lagit yang membumi. Dengan demikian bekerja dengan karakter workable menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim.

Bekerja merupakan manifestasi atas kekuatan iman, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zummar (39) ayat 39,

قُلۡ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَٰمِلٞۖ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ

Artinya  : “Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu masing-masing. Sesungguhnya akupun bekerja, maka kelak kamu akan mengetahui” (Q.S. Az-Zummar : 39).

Ayat ini mengandung makna perintah (fiil amr) dengan demikian menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Siapapun mereka yang secara pasif berdiam diri tidak berusaha untuk bekerja, maka termasuk orang yang telah melalaikan perintah Allah. Sifat yang demikian sesunggunya seseorang telah mempersiapkan kubur kenistaan bagi dirinya sendiri. Sedangkan seseorang yang memiliki kesadaran bekerja, aktif mencari rezeki, berkreasi secara positif, menampilkan cahaya  dengan demikian ia akan menciptakan sejarah dan peradaban yang baik untuk dirinya dan masyarakat. Pribadi-prbadi yang menghargai nilai kerja atau etos kerja yang tinggi maka ia akan mempu menjadikan masyarakat tangguh, begitu sebaliknya pribadi malas dan bermental pengemis hanyalah akan mengorbankan masyarakat dan meninggalkan generasi yang lemah.

Bekerja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani), dan didalam mencapai tujuannya tersebut dilakukan dengan kesungguhan guna mewujudkan prestasi optimal. Pemaknaan akan dinamis yaitu proses yang didalamnya terkandung suatu tantangan, selalu bergerak, mencari strategi, kreatif dan inovatif untuk terus menghasilkan nilai guna yang bermanfaat luas.

Bekerja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu
Bekerja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (Sumber gambar : klik disini)

Bekerja harus memiliki etos kerja yang tinggi. Etos kerja merupakan syarat mutlak untuk dapat mencapai kebahagian dunia dan akherat. Sebab dengan etos kerja yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula. Etos kerja yang tinggi dapat diraih dengan jalan menjadikan motivasi ibadah sebagai pendorong utama disamping motivasi penghargaan dan hukuman serta perolehan material.

Etos kerja adalah sifat, watak dan kualitas kehidupan manusia, moral dan gaya estetik serta suasana bathin. Etos kerja merupakan sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang merefleksikan dalam kehidupan nyata, sehingga etos kerja dapat diartikan sebagai pancaran dari sikap hidup manusia yang mendasar pada kerja. Akan tetapi jika etos kerja karyawan mengalami penurunan, maka kinerja yang menjadii tanggung-jawabnya pun tidak akan maksimal dan penurunan laju pertumbuhan yang akan didapatkannya.

Karena etos kerja behubungan dengan kejiwaan, hendaknya setiap pribadi muslim harus selalu mempertajam dan menjaga kualitasnya dengan kebiasaan-kebiasaan yang positif dan ada suatu dorongan motivasi untuk menampilkan pribadi yang unggul dan berkualitas yang ditampilkan melalui hasil kerja yang maksimal dan baik. Dengan demikian etos kerja harus mendarah daging di diri setiap pribadi muslim. Segala apa yang dikerjakan ia akan merasakan bahwa dengan menghasilkan pekerjaan yang terbaik, bahkan mencapai titik sempurna. Etos tidak sekadar dimaknai sebagai sifat, bisa lebih luas lagi yaitu suatu martabat, harga diri dan jati diri seseorang.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 7 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait