Menebar dan Menabur

Wahai hamba – hambaku yang melampaui batas, janganlahberputus asa dari rahmatAllah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa – dosa kamu semua, sesungguhnya Dia maha Pengampun dan Maha Pengasih” (Qs. Az Zumar : 53)

Lebah satu dari sekian mahluk Allah yang tampaknya sederhana. Namun, ia memiliki rahasia-rahasia yang amat mengagumkan. Mungkin karena dari kehebatannya itulah, lebah (An Nahl) disebut dalam al Qur’an dan dijadikan nama bagi salah satu surat yakni surat ke 16, surat An Nahl. Pada ayat 68 dan 69 surat yang sama menyatakan : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu dan tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah- buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluarlah minuman (madu) yang bermacam-macam warna¬nya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat ayat (tanda kebesaran Allah) bagi orang yang mau memikirkan.”

Lebah yang dalam bahasan latinnya “Apis” terdiri dari beberapa jenis. Empat yang terkenal, semuanya penghasil madu yang baik, yaitu : Apis Dor Sata, Apis Trigona, Apis Indica dan Apis Mellifica Ligustica. Para biolog dengan tekun meneliti dan mempelajari hewan yang satu ini. Dari mulai jenis, ras, karakteristik, aktifitas, pengembangbiakan dan manfaatnya.

Lebah termasuk hewan sosial. Hidupnya selalu bergerombol sehingga orang menamakannya komunitas lebah, bahkan ada yang menyebutnya kerajan lebah. Sebutan ini, tentu tidak keliru sebab dimasyarakat lebah (The Apis Society) ada semacam sistem, undang-undang dan peraturan yang tidak tertulis, hal itu sesungguhnya perlu direnungkan dan disimak oleh kita manusia.

Manfaat yang langsung disebut Allah SWT, dari perut lebah keluar madu yang mengandung obat yang dapat menyembuhkan penyakit. Kini sudah banyak manfat yang dapat diambil manusia dari  lebah ini. Madunya dapat digunakan untuk pencampur makanan, minuman, obat-obatan dan alat kosmetika.

Dari kehidupan lebah kita memperoleh pembelajaran yang amat berharga : semangat mempertahankan diri, semangat kebersamaan, semangat ethos kerja, yang tidak mengenal lelah, disiplin dan cinta kasih. Lebah selalu mengambil yang baik-baik seperti harus sari bunga. Kemudian ia memberikannya yang baik kepada manusia berupa madu yang manis, lezat, harum dan menyehatkan. Keteladanannya yang lain ialah tidak pernah merusak, menyakiti atau pun menyenggat bunga-bunga yang dihisapnya.

Belajar Menebar dan Menabur Dari Lebah

Menebar dan menabur, adalah dua kata yang cukup familiar ditelinga kita. Keduanya mengandung arti aktif. Yakni upaya tidak statis, tidak diam namun adanya suatu dinamika dan kreatifitas disana. Menebar dan menabur bisa berarti negatip manakala yang ditebar dan ditabur adalah membawa mudharat dan kerugian. Sebaliknya ia berarti positif manakala yang ditebar dan ditabur adalah kebajikan, kebaikan dan membawa manfaat untuk masyarakat. Oleh karena itu, aktifitas kita dalam menebar dan menabur, tentu sesuatu yang memiliki makna kebajikan, yang terpenting adalah apa yang kita lakukan niatnya harus baik, caranya baik dan clear dari niat riya dan keinginan agar dipuji orang lain. Oleh karenanya, tidak ada salahnya jika mau belajar dari lebah.

Muhammad saw, Rasullah SAW junjungan dan teladan kita, pernah bersabda: “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia yang lain” (HR.Al Bukhori). Manusia yang bermanfaat tentu, manusia yang senantiasa menebarkan kebaikan agar bermanfaat. Nah, kebaikan jika demikian harus kita amalkan, kita berikan dan kita wariskan kepada orang lain kendati dalam aplikasinya setiap kita tidak bisa sama dan membutuhkan proses (sebagai ungkapan bijak: The everything need process), ia harus di bumikan secara bertahap. Karena berbuat kebaikan memang membutuhkan intervensi dari dzat yang Maha Pemberi Hidayah yaitu Allah Azza Wajalla. Yang bisa menggerakkannya. Dengan demikian kita telah bebuat baik kepada diri sendiri dan kepada orang lain atau tempat tinggal kita sebagaimana sinyal yang digetarkan oleh pesan suci al Qur’an : In ahsantum ahsantum, lianfusikum wa in asa’turn fa laha – jika kamu berbuat baik, maka perbuatan baik itu akan kembali pada dirimu sendiri, dan sebaliknya jika berbuat jahat (dzalim) juga berlaku hukum keselarasan – berbanding lurus, perbuatan jahat itu juga akan kembali padamu –. Demikian pesan moral dari al Qur’an untuk kita manusia, dan lebah boleh jadi menjadi salah satu teladan dan media pembelajaran bagi kita.

Ihsan dalam kehidupan

Tidak sedikit jumlah ayat-ayat al Qur’an yang menganjurkan kebaikan. Berbagai istilah digunakan seperti : Al Ihsan, Al Birr, Al Khairat, Al Ma’ruf dengan konotasi dan kaitan yang terkadang berbeda. Misalnya kata ‘al Ihsan‘ berkonotasi kepada sikap. Sikap kepada orang lain, kepada orang tua (Q.S. 2:83), sikap kepada pasangan hidup (Q.S. 2:229), sikap kepada keluarga atau karieb kerabat (Q.S. 16:90). Sedangkan kata ‘al birr‘ berkaitan dengan aneka kebajikan (Q.S. 2:177). Kata ‘al khairaat‘ terkadang berkaitan dengan kehartabendaan (Q.S. 2:180), sementara kata al Ma’ruf sering dikaitkan dengan keadilan dan kebijaksanaan (Q.S. 2:228).

Secara khusus, dalam konteks hadits Nabi Muhammad SAW ‘al Ihsan‘ dimaksudkan dengan : “engkau mengabdi kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihat Allah, pasti Ia melihatmu” (HR. Muslim dari Umar bin Khottob r.a.). apapun istilahnya, kebaikan, adalah hendaklah kebaikan yang dapat menimbulkan dan mendatangkan manfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain. Karena semuanya mendapat manfaat dari kebaikan, semua merasa tertolong, semuanya merasa ridho, senang dan tenang serta terhindar dari keresahan.

Hidup Berpacu Dengan Waktu

Hidup manusia di dunia ini terkurung oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu itu sendiri sesungguhnya sesuatu yang netral (hampa). Ia amat tergantung pada pengisi dan penggunanya. Manusia terkurung oleh waktu yaitu; diantara kelahiran dan kematian (natalitas dan mortalitas), dan itu yang kita punyai. Waktu sendiri sesuatu yang sangat asasi. Sebaliknya mensia-siakan waktu berarti mensia-siakan yang asasi pula. Jadi waktu sangat menentukan untung dan rugi seseorang. Untuk mengingatkan hal ini, Allah bersumpah : “Demi waktu, sesunguhnya manusia pasti berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman, beramal saleh dan saling bertaushiyah tentang kebenaran dan kesabaran” (Q.S. Al ashr : 1-3).

Namun sangat disayangkan, ayat ini baru dibaca dan dihafalkan oleh kita, dan belum sepenuhnya kita amalkan. Agenda kegiatan, rapat, atau apapun janji yang telah kita sepakati, pelaksanaannya sering beregeser mundur dari schedulenya. Padahal sedikit saja waktu hilang, sulit bisa diganti, sebab waktu beredar dan berjalan terus.

Kita ini hidup sesungguhnya berpacu, berpacu dengan waktu itu sendiri. Kalah dalam berpacu, artinya lebih banyak waktu yang lewat daripada langkah yang kita ayunkan, kita terbelakang. Realita berbicara bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kedisiplinan waktu yang tinggi. Oleh karena itu, supaya tidak tertinggal kita harus segera beramal dan bekerja. Sebagaimana wejangan KH. Ahmad Dahlan “hidup didunia ini hanya sekali, untuk bertaruh, akan bahagiakah atau sengsarakah kita”. Oleh karena itu hidup sepanjang mengikuti kemauan Islam harus menjadi tujuan kita sebagai Muslim. Ulam bijak tersebut, tampaknya paham betul akan ungkapan Allah SWT dalam Q.S. Al Imran : 133 firman-Nya : “Dan bersegeralah kamu menuju ampunan Tuhanmu dan kepada surga-Nya yang luasnya, seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang yang bertaqwa”.

Ahmad Musthofa al Maraghi menerangkan, bahwa yang dimaksud ayat diatas ; “Peringatan bagi manusia khususnya bagi orang yang beriman agar cepat dan berlomba-lomba beramal saleh dan segera bertaubat manakala berbuat dosa dan kesalahan. Jangan ditunda-tunda sehingga banyak waktu yang hilang terbuang. Jika manusia pandai menjaga dan mengisi waktunya dengan sebaik-baiknya maka sebenarnya yang berumur panjang belum tentu lebih beruntung dari yang berumur pendek asal memanfatkan usianya” (Tafsir al Maraghi Juz I)

Rasulullah saw pernah bersabda : “Khiyaarukumwa athwalukum ‘umuuran wa ahsanakum ‘amaalan” – sebaik-baik kamu adalah yang panjang usia dan baik amalnya -. Hal ini berarti seburuk-buruk manusia yang panjang usianya, tetapi buruk amalnya.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Manhaj Majalah Mentari terbitan MPI PDM Kota Yogyakarta No. 09 tahun ke – 10, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaMeluruskan Niat
Artikel BerikutnyaKeluarga Peduli Lingkungan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait