Menapak Karier

Tidak salah kalau ada orang yang mengatakan “gantunglah cita-citamu setinggi langit”. Banyak orang yang sukses berawal dari sebuah mimpi. Ada yang bisa menggapai mimpi, namun banyak pula yang terlanjur bermimpi tiada henti.

Dari sebuah mimpi timbul keajaiban. Kalimat ini perlu direvisi arti dan muatannya. Karena kata ajaib hanya terjadi hampir tanpa melibatkan usaha yang sungguh-sungguh dari manusia. Campur tangan Tuhan sangat menentukan.

Mimpi hanya bisa digapai dengan aktifitas yang melebihi rata-rata. Dapat diukur dengan statistik, dapat dirasakan dengan penuh keletihan. Dapat diraih tanpa harus mengandalkan koneksi yang bertalian gelap. Untuk menggapai mimpi, salah satunya  dapat ditempuh dengan meniti karier. Pembinaan pribadi untuk meniti karier yang transparan, akan dapat dicapai dengan kobaran semangat kompetisi. Semangat yang sebelumnya telah ditetapkan aturan terbuka dan disepakati bersama. Berikut ini adalah aturan yang dapat dijadikan pegangan untuk meniti karier baik secara kelompok maupun individu.

  1. Hubungan pegawai dan organisasi dalam suasana yang saling menguntungkan.

Bila hubungan pegawai dalam organisasi dapat diujudkan dalam kehidupan sehari-hari, maka produktifitas akan meningkat. Kalau produk meningkat, secara langsung dapat menambah pendapatan dalam organisasi yang selanjutnya akan disirkulasi ke karyawan.

  1. Karakter pribadi.

Kadangkala, menajemen karir pegawai terganggu karena adanya pegawai yang mempunyai personalitas yang menyimpang (terlalu emosional, apatis, terlalu ambisius, curang, terlalu bebal, dan lain-lain). Sangat dianjurkan, perusahaan memiliki tim psikolog. Tim konseling secara berkala bisa memantau motivasi karyawan.

  1. Kekuasaan.

Seorang pegawai memiliki hak untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi. Dengan prestasi tertentu (yang bisa diukur), seorang karyawan memiliki hak untuk mengembangkan pekerjaan yang diemban. Perusahaan perlu memiliki aturan yang jelas dan terukur secara indicator. Karena bisa jadi, seorang karyawan batal untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi  hanya karena ada drop dari luar perusahaan.

  1. Politicking Dalam Organisasi.

Dengan kata lain, bila kadar “politicking” dalam organisasi sudah demikian parah, maka manajemen karir hampir dipastikan akan mati dengan sendirinya. Perencanaan karir akan menjadi sekedar basa-basi.

  1. Sistem Penghargaan.

Organisasi yang tidak mempunyai sistem penghargaan yang jelas (selain gaji dan insentif) akan cenderung memperlakukan pegawainya secara subyektif. Pegawai yang berprestasi, akan dianggap sama dengan pegawai malas. Istilah “koncoisme” memang benar-benar menjadi benalu dalam sebuah organisasi.

  1. Jumlah Pegawai.

Semakin banyak pegawai maka semakin ketat persaingan untuk menduduki suatu jabatan, dan semakin kecil kesempatan (kemungkinan) bagi seorang pegawai untuk meraih tujuan karir tertentu. Disinilah perlu sekali seorang karyawan dapat mengembangkan sendiri profesi yang dia miliki. Karyawan tidak perlu menunggu pelatihan. Namun dengan usaha yang sungguh-sungguh pelatihan untuk meningkatkan ketrampilan dapat dilakukan secara pribadi.

  1. Ukuran organisasi.

Ukuran organisasi dalam konteks ini berhubungan dengan jumlah jabatan yang ada dalam organisasi tersebut, termasuk jumlah jenis pekerjaan, dan jumlah personel pegawai yang diperlukan untuk mengisi berbagai jabatan dan pekerjaan tersebut. Organisasi yang sedikit, biasanya akan gesit dalam pergerakannya. Organisasi yang besar, kalau alur manajemennya tidak jelas, akat terkesan lambat. Oleh karenanya tim work dalam organisasi yang besar sangat diperlukan.

  1. Kultur Organisasi

Seperti sebuah sistem masyarakat, organisasi pun mempunyai kultur dan kebiasaan-kebiasaan. Budaya organisasi yang senantiasa menjunjung tinggi pada prestasi karyawan dengan pondasi pada budaya setempat, karyawan akan merasa nyaman. At home.

  1. Tipe Manajemen.

Secara teoritis-normatif, semua manajemen sama saja di dunia ini. Tetapi dalam impelemntasinya, manajemen di suatu organisasi mungkin amat berlainan dari manajemen di organisasi lain. Setelah budaya organisasi terbentuk, maka macam atau tipe menejemen otimatis akan terbentuk dengan sendirinya. Dengan manajemen yang teratur dan transparanlah, sebuah organisasi akan melaju dan karyawan lebih terbuka luas dalam memilih jenjang karier.

Ilustrasi menapak karir
Ilustrasi menapak karir (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait