Menanti Ketok Palu Pimpinan

Berbicara tentang sekolah lanjutan favorit di Kota Jogja saat ini, barangkali perhatian kita akan tertuju pada SMP Negeri 5 Yogyakarta. Sebagai sekolah favorit, sekolah tersebut memiliki magnet yang sangat kuat terhadap warga jogja dan sekitarnya. Berbagai upaya pun dilakukan oleh orang tua demi menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut. Tidak ada yang istimewa dari program pembelajaran yang dikembangkan. Satu hal spesial barangkali adalah input siswanya, karena mereka adalah pilihan terbaik dari masing- masing Sekolah Dasar. Termasuk alumni terbaik dari SD Muhammadiyah, seperti Sapen, Sokonandi, Wirobrajan 3, atau Suronatan. Maka sudah menjadi pemandangan umum jika ada satu kelas di SMP Negeri 5 Jogja itu yang hampir semua siswanya adalah alumni SD Muhammadiyah, khususnya Sapen.

Barangkali tidak berlebihan jika kita mengatakan SD Muhammadiyah Kota menjadi supplier utama siswa terbaik di SMP Negeri favorit. sebut saja SMP N 5 (Lima), 8 (Delapan), 9 (Sembilan) dan 1 (satu). Fakta ini tentu menjadi keprihatinan bersama karena ini juga menunjukkan sisi pendidikan lanjutan yang masih timpang. Capaian prestasi SD Muhammadiyah faktanya memang belum dapat diikuti oleh SMP Muhammadiyah, sehingga alumni berprestasi condong menjatuhkan pilihan pendidikan lanjutannya ke sekolah negeri.

Mendirikan SMP lanjutan sistem pendidikan SD Muhammadiyah favorit adalah solusi tepat untuk persoalan ini. Kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan SD Muhammadiyah semestinya dipertahankan melalui sekolah dengan brand yang sama. Menurut Pak Rinto, dengan adanya dua sekolah yang benar- benar baru, setidaknya ada dua brand yang bisa dikembangkan secara bersamaan. Pertama adalah prestis sekolah favorit sekaligus biaya yang terjangkau. Brand yang kedua menjadi penting untuk menyasar segmen wali murid dengan darai kalangan menengah kebawah. Hal ini mengingat sekolah negeri juga dijadikan pilihan karena biaya pendidikan yang murah. Sementara, jika Muhammadiyah tidak menerapkan pendidikan yang terjangkau maka upaya menarik anak didik berprestasi menjadi semakin sulit. “kalangan menengah ke bawah justru butuh sekolah yang murah dan gratis. Saat ini pemerintah telah memberikan BOS, baik dari pusat, Provinsi, dan kota. Menurut pemerintah kalau untuk sekedar operasional sekolah sudah cukup. Jadi kalau Muhammadiyah menarik dana untuk pengembangan sistem.” Ujar Pak Rinto.

Mengingat begitu urgenya pengembangan sistem pendidikan berkelanjutan tersebut maka pertanyaanya adalah, sejauh mana tindakan yang telah diambil oleh pimpinan sebagai pengambil kebijakan? Terkait pertanyaan itu, masih menurut Pak Rinto, pimpinan PDM telah melakukan pembicaraan walau belum intensif dilakukan. Belum intensifnya pembahasan di tingkat pimpinan tersebut ditengarai karena pemahaman yang belum padu terhadap gagasan tersebut. Alhasil yang muncul adalah kekhawatiran- kekhawatiran yang tidak semestinya. Kecuali itu, masih menurut Pak Rinto, pembicaraan seputar gagasan tersebut belum masuk pada ranah yang serius.” Kalau PDM sudah sepakat bisa berjalan begitu saja. Pembicaran di tingkat pimpinan tidak intens. Jika pengin kita fokus bahas itu; apakah membuat sekolah baru atau meningkatkan yang telah ada. Itu semua harus ada putusannya. Tidak hanya omong-omongan.” Tegas Pak Rinto.

Sementara di tingkap pimpinan belum dibicarakan secara intensif, di sisi lain Majelis Dikdasmen belum cukup daya untuk menginisiasi gagasan tersebut. Walaupun condong dengan pendekatan yang berbeda, pada dasarnya, Majelis Dikdasmen memandang gagasan ini perlu secepatnya direalisasikan. Namun di tengah konsolidasi SDM internal yang masih belum kuat, menurut Pak Ariswan, Majelis Dikdasmen belum mampu mengkoordinasi sekolah potensial untuk bekerjasama mewujudkan program tersebut.” Problemnya adalah SDM kita.  Juga kebijakan PDM karena tidak semua pimpinan kita paham pendidikan. Kita di majelis paham masalah tetapi sibuk semua dengan banyak pikiran. Kemudian pendanaanya ada di PDM yang kadang tidak match. Kita punya banyak anggota di Majelis tetapi yang aktif itu- itu saja.” Ungkap Pak Ariswan.

Alhasil kita menunggu potical will dari pimpinan ataupun Majelis Dikdasmen untuk segera mengambil langkah strategis untuk merealisasikan gagasan tersebut. Persoalan kebutuhan finansial dan infrastruktur mestinya tidak menjadi persoalan ketika masing- masing stake holder memiliki kesadaran dan kesepahaman bersama.

Gedung PDM Kota Yogyakarta
Barangkali tidak berlebihan jika kita mengatakan SD Muhammadiyah Kota menjadi supplier utama siswa terbaik di SMP Negeri favorit

Daftar Laporan Khusus “Sistem Terpadu perguruan Muhammadiyah“.

Reporter : Fuad Hasyim

Liputan ini pernah dimuat di Rubrik Fokus Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Menanti Ketok Palu Pimpinan
Fuad Hasyim, S.S, M.A
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Yogyakarta, Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia, Pimpinan Redaksi Majalah Mentari

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...