Memoles Klething Kuning dan Mendorong Integritas Ande – Ande Lumut

Membincangkan Komunikasi Politik dan Jihad Politik Muhammadiyah

Gambar Memoles Klething Kuning dan Mendorong Integritas Ande – Ande Lumut
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Pelajaran Strategi komunikasi politik pertama kali dalam hidup, saya dapat dari kisah legenda Klething Kuning dan Ande-ande Lumut. Dulu saya mengira, kisah Klething Kuning adalah kisah perjuangan wanita desa yang sederhana mendapatkan pria muda bangsawan rendah hati. Setelah dewasa baru saya tahu bahwa kisah Ande-ande Lumut adalah satu kesatuan dengan cerita cinta Panji Asmarabangun dan Dewi Sekarjati dalam setting Kerajaan Kediri dan Jenggala.

Yang saya ingat dulu ketika remaja, yang namanya Klething kuning itu adalah gadis cantik anak angkat seorang janda yang juga memiliki beberapa anak gadis yang genit-genit, yaitu Klething Abang, Klething Biru, dan Klething Ijo. Sedang Ande-ande Lumut adalah anak muda keturunan bangsawan yang diangkat anak oleh mbok rondho (janda) Dadapan. Suatu saat terdengar kabar sampai ke telinga para Klething bahwa di desa Dadapan ada seorang anak muda tampan keturunan bangsawan yang tengah mencari istri, bernama Ande-ande Lumut. Maka berangkatlah Klething Abang, Klething Biru, dan Klething Ijo seijin ibunya hendak ngunggah-ungahi (menaikkan derajat hidup menikah dengan lelaki bangsawan) Ande-ande Lumut. Dalam perjalanannya mereka terhalang sungai yang besar, dan hanya bisa menyeberang atas bantuan mahluk bernama Yuyu Kangkang. Sayangnya, sang Yuyu hanya mau menyeberangkan jika mereka memberi imbalan diambung (jawa; dicium). Mereka pun mau menerima syarat Yuyu Kangkang itu dengan harapan bisa segera ke desa Dadapan menjadi istri Ande-ande Lumut. Sayangnya si Ande-ande Lumut, yang digambarkan tinggal di rumah panggung yang tinggi, pada akhirnya menolak mereka karena ia tahu bahwa para Klething itu adalah para perempuan yang tidak setia dan sudah lagi tidak suci akibat ulah Yuyu Kangkang.

Klething Kuning yang oleh ibu angkatnya diposisikan seperti pembantu pada mulanya tidak punya ambisi untuk ikut berkompetisi “ngunggah-unggahi” Ande-ande Lumut. Namun atas bujukan burung bangau putih Klething Kuning pun ikut berkompetisi, dan sang burung memberinya bekal sebuah benda pusaka bernama “sada lanang”. Ketika Klething Kuning minta ijin kepada ibu angkatnya oleh ibu angkatnya itu Klething Kuning dibedaki telek lencong (kotoran ayam yang masih hangat) dengan alasan dirias wajahnya biar menarik. Padahal motif ibu angkatnya agar Klething Kuning yang cantik tidak akan terpilih mengalahkan anak-anaknya karena siapapun yang mendekat padanya akan mencium aroma kotoran ayam. Di tepi sungai besar, Yuyu Kangkang tidak mau menyeberangkan karena tak kuat dengan aroma kotoran yang melekat di tubuh Klething Kuning. Dipukulkannya pusaka Sada Lanangngya ke permukaan air maka tiba-tiba permukaan air langsung kering. Alhasil Klething Kuning inilah yang berhasil memenangkan kompetisi “Ngunggah-unggahi” Ande-ande Lumut. Pelajaran yang saya dapat adalah bahwa sangat mungkin “wong ndeso” dengan modal keberanian dan dukungan orang-orang baik di sekitarnya, serta dengan kemampuan komunikasi politik yang baik, bisa sukses mendapatkan kedudukan yang tinggi di panggung politik masyarakat. Kisah tersebut menjadi inspirasi utama dalam menjelaskan konsep komuniasi dan jihad politik Muhammadiyah dalam tulisan ini. Perlu pembaca ketahui bahwa tulisan ini pada awalnya adalah makalah yang saya presentasikan dalam Seminar Komunikasi Politik yang dikemas menjadi Focus Discussion Group oleh Program studi Ilmu Komuniasi FSBIKUniversitas Ahmad Dahlan 19 september 2015.

Berpolitik Tanpa Masuk Gelanggang Politik

Sekarang ini beberapa kader Muhammadiyah ada yang alergi mendengar kata politik, bahkan ada yang sampai pada pandangan “pokoke” (jawa; bagaimanapun juga) Muhammadiyah itu tidak boleh berpolitik. Pandangan seperti ini jelas salah karena dari pedoman-pedoman organisasi persyarikatan dan bagi warga Muhammadiyah, justru menekankan peran politik yang harus diambil oleh Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah. Pandangan yang menjauhkan Muhammadiyah dari persoalan politik bisa jadi karena ketidaktahuan atau bisa jadi karena kekhawatiran jangan sampai Muhammadiyah hanya menjadi tunggangan politik beberapa gelintir kadernya yang harus dijawab. Kemungkinan pertama jawaban itu berupa sosialisasi nilai-nilai perjuangan dan pedoman-pedoman persyarikatan Muhammadiyah. Kemungkinan jawaban yang kedua adalah rumusan konsep bagaimana model perjuangan politik, atau saya menyebutnya jihad politik, Muhammadiyah.

Untuk yang pertama perlu disampaikan adanya Khittah Perjuangan Muhammadiyah yang mendorong perang politik Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah. Ambil satu contoh, dalam Khittah Perjuangan Muhammadiyah (Makassar) disebutkan bahwa Muhammadiyah harus dapat membuktikan secara teoritis konsepsionil, secara operasionil dan secara kongkrit riil, bahwa ajaran Islam mampu mengatur masyarakat dalam Negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 menjadi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera, bahagia, materiil dan spirituil yang diridlai Allah SWT. Dalam melaksanakan usaha itu, Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada kepribadiannya.

Selanjutnya dalam Sembilan Butir Pernyataan Pokok Khittah Muhammadiyah dalam Berbangsa dan Bernegara (Khittah Denpasar tahun 2002) pada butir pertama menyebutkan bahwa Muhammadiyah meyakini bahwa politik dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu aspek dari ajaran Islam dalam urusan keduniawian (al-umur ad-dunyawiyat) yang harus selalu dimotivasi, dijiwai, dan dibingkai oleh nilai-nilai luhur agama dan moral yang utama. Pada butir kedua menyebutkan Muhammadiyah meyakini bahwa negara dan usaha-usaha membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, baik melalui perjuangan politik maupun melalui pengembangan masyarakat, pada dasarnya merupakan wahana yang mutlak diperlukan untuk membangun kehidupan di mana nilai-nilai Ilahiah melandasi dan tumbuh subur bersamaan dengan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, ketertiban, kebersamaan, dan keadaban untuk terwujudnya “BaldatunThayyibatunWa Rabbun Ghafur”. Pada butir lima lebih tegas lagi disebutkan bahwa Muhammadiyah senantiasa memainkan peranan politiknya sebagai wujud dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar dengan jalan mempengaruhi proses dan kebijakan negara agar tetap berjalan sesuai dengan konstitusi dan cita-cita luhur bangsa. Muhammadiyah secara aktif menjadi kekuatan perekat bangsa dan berfungsi sebagai wahana pendidikan politik yang sehat menuju kehidupan nasional yang damai dan berkeadaban.

Selanjutnya pada butir ke 8 Pernyataan Pokok Khittah Muhammadiyah dalam Berbangsa dan Bernegara (Khittah Denpasar tahun 2002) disebutkan bahwa Muhammadiyah meminta kepada segenap anggotanya yang aktif dalam politik untuk benar-benar melaksanakan tugas dan kegiatan politik secara sungguh-sungguh dengan mengedepankan tanggungjawab (amanah), akhlak mulia (akhlaq al-karimah), keteladanan (uswahhasanah), dan perdamaian (ishlah). Aktifitas politik tersebut harus sejalan dengan upaya memperjuangkan misi Persyarikatan dalam melaksanakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. Lalu pada butir 9 disebutkan bahwa Muhammadiyah senantiasa bekerjasama dengan pihak atau golongan mana pun berdasarkan prinsip kebajikan dan kemaslahatan, menjauhi kemudharatan, dan bertujuan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara kearah yang lebih baik, maju, demokratis dan berkeadaban. Semua butir-butir dalam Khitah Perjuangan dan Khittah Muhammadiyah dalam Berbangsa dan Bernegara di atas menunjukan pentingnya Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah dalam politik.

Oleh karena itu ditegaskan dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah bahwa “Warga Muhammadiyah perlu mengambil bagian dan tidak boleh apatis (masa bodoh) dalam kehidupan politik melalui berbagai saluran secara positif sebagai wujud bermuamalah sebagaimana dalam bidang kehidupan lain dengan prinsip-prinsip etika/akhlaq Islam dengan sebaik-baiknya dengan tujuan membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (point H 1).” Sedang kader Muhammadiyah didorong untuk berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud ibadah kepada Allah dan ishlah serta ihsan kepada sesama, dan jangan mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentingan diri sendiri dan kelompok yang sempit (point H 3). Beberapa pinsip dalam berpolitik yang harus ditegakkan dengan sejujur-jujurnya dan sesungguh-sungguhnya oleh kader Muhammadiyah juga telah dirumuskan dalam point H 2 Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah.

Semua hal di atas menyampaikan pesan yang sangat penting kepada seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah bahwa pada dasarnya Muhammadiyah menganggap penting perjuangan politik. Perjuangan politik tersebut wujudnya adalah “berpolitik tanpa masuk gelanggang politik”. Oleh karena itu kita bisa menyebut jihad politik Muhammadiyah pada dasarnya seperti tagline di atas, yaitu: berpolitik tanpa masuk gelanggang politik.

Legenda Ande-ande Lumut dan Model Jihad Politik Muhammadiyah

Dalam legenda Ande-ande Lumut, Ciri dari Klething Kuning dalam tafsir politik adalah politisi yang tidak ambisius dan bersedia maju berkompetisi karena dorongan ulama (bangau putih), pekerja keras yang tahu penderitaan rakyat banyak (ditempatkan sebagai pembantu oleh ibu angkatnya), mampu bertahan dalam perang pencitraan (dirias dengan telek lencong), bermodal keberanian (sada lanang), dan tidak terjebak pragmatisme politik (mau diambung/dicium) Yuyu Kangkang. Sementara Ande-ande Lumut dalam tafsir politik adalah jabatan publik yang selalu menyerap aspirasi rakyat bawah (Desa Dadapan), memiliki integritas kuat untuk menyelenggarakan pembangunan menyeluruh yang benar-benar berpihak pada rakyat (tidak mengandalkan penampakan fisik administratif, dan setia/konsisten pada konsep birokrasi yang bersih berwibawa melayani. Keduanya memiliki kesesuaian dengan karakter moral Kader Muhammadiyah yang terjun dalam dunia politik.

Meminjam istilah dalam legenda Ande-ande Lumut di atas, saya menyebut model jihad politik Muhammadiyah bisa terdiri dari dua hal, yaitu: 1) Memoles Klething Kuning; dan 2) Mendorong integritas Ande-ande Lumut. Model pertama bersifat internal, masuk dalam ranah Muhammadiyah. Sedang model jihad politik kedua bersifat eksternal.

Memoles Klething Kuning, yaitu usaha meneliti ada tidaknya kader-kader Muhammadiyah yang potensial untuk berkiprah dalam dunia politik dan membuatkan forum untuk memantapkan ideologi, mengasah kemampuan manajerial politik, dan membekali wawasan sosial berkemajuan kader-kader tersebut. Forum yang bisa digunakan untuk itu adalah Pelatihan Kader bangsa dari warga Muhammadiyah (Training Ideopolitor Khusus), Sekolah Pamong, diskusi kebijakan publik atau berbagai forum lainnya. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tujuan forum-forum itu selain meneliti ada tidaknya kader-kader Muhammadiyah yang potensial untuk berkiprah dalam dunia politik juga menjadi ajang untuk memantapkan ideologi, mengasah kemampuan manajerial politik, dan membekali wawasan sosial berkemajuan kader-kader bangsa dari warga Muhammadiyah.

Mendorong integrtitas Ande-ande Lumut, yaitu usaha  untuk menciptakan pemerintahan/birokrasi yang aspiratif, memiliki integritas kuat untuk menyelenggarakan pembangunan menyeluruh yang benar-benar berpihak pada rakyat, dan setia/konsisten pada konsep birokrasi yang bersih berwibawa melayani. Ibaratnya, jika jihad model pertama adalah menyiapkan para pejuang maka jika jihad kedua ini menyiapkan sarana perjuangan. Kedua model jihad politik ini harus seiring sejalan. Jika tak ada kader yang berjuang di dunia politik maka disangsikan akan lahirnya produk-produk kebijakan publik yang mencerminkan nilai-nilai Islam sebagaimana diyakini Muhammadiyah. Namun jika jihad politik kedua tidak dilakukan maka sangat mungkin kader-kader yang baik tidak akan mampu menyuarakan nilai-nilai Islam yang diyakininya karena akan selalu ada kambatan-hambatan birokrasi. Bahkan sangat mungkin kader-kader yang baik menjadi rusak karena masuk dalam birokrasi yang memaksa mereka korupsi. Untuk itu birokrasi juga harus diperbaiki. Jihad kedua ini salah satu yang telah dilakukan wujudnya berbentuk jihad konstitusi yang mengawal konstitusi negara agar jangan merugikan kebanyakan rakyat Indonesia

Stategi Komunikasi Politik Muhammadiyah

Demokrasi politik sekarang ini bertumpu pada jumlah suara yang tidak memperdulikan kualitas. Dalam demokrasi seperti itu orang yang terjun dalam dunia politik tidak perlu belajar banyak untuk menjadi pemimpin. Orang hanya harus belajar retorika untuk membujuk, agitasi untuk memanas-manasi hati, dan sedikit pengetahuan sehingga orang lain akan terkesan dengan kecerdasannya. Demokrasi politik sekarang ini tidak berangkat pada “serahkan urusan pada ahlinya” sebab yang diperlukan adalah suara. Sama saja harganya suara seorang buta huruf dengan suara seorang profesor.

Dalam kondisi seperti itu perlu adanya penyadaran bagi umat bahwa konsep pemimpin yang “beriman dan bertakwa” harus diturunkan sebagai pemimpin yang berakhlak mulia atau berintegritas dan memiliki keahlian sesuai bidang yang diurusinya. Bagi gerakan politik tanpa masuk gelanggang politik seperti Muhammadiyah, pemimpin yang seperti itu dilahirkan melalui usaha pendidikan dan dakwah yang berorientasi pada penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk itu, perlu ditegaskan strategi komunikasi politik ini tidak berorientasi kekuasaan. Strategi komunikasi politik Muhammadiyah berpedoman pada jihad politik Muhammadiyah yang berorientasi pada penyiapan SDM dan perbaikan kondisi birokrasi pemerintahan.

Strategi komunikasi politik Muhammadiyah dilakukan pada dua level, yaitu pada level Pimpinan Muhammadiyah dan pada level kader bangsa dari warga Muhammadiyah. Pada level Pimpinan Muhammadiyah dilakukan melalui silaturahmi, koordinasi, dan diskusi dengan kader bangsa dari warga Muhammadiyah, dengan sesama pejuang dakwah, dan dengan seluruh aktor dan kekuatan politik jaringan Muhammadiyah untuk menyampaikan pesan moral berkaitan dengan kebijakan publik yang menjadi perhatian Muhammadiyah. Tentu saja dengan sebelumnya Pimpinan Muhammadiyah melakukan komunikasi internal dengan warga Muhammadiyah sendiri guna menemukan dan mendidik kader bangsa dari warga Muhammadiyah yang akan menjadi SDM unggul guna memberikan sumbangsih terbaiknya bagi bangsa dan negara.

Sedang pada level kader bangsa dari warga Muhammadiyah strategi komunikasi dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan Pimpinan dan warga Muhammadiyah juga dengan masyarakat umum serta aktor dan kekuatan politik lainnya melalui media silaturahmi langsung serta melalui berbagai media komunikasi yang sangat banyak ragamnya. Inti komunikasi pada level kedua ini  adalah diterimanya mereka sebagai bagian dari aktor politik yang aspiratif, memiliki integritas kuat untuk mendorong terselenggaranya pembangunan yang benar-benar berpihak pada rakyat, dan konsisten pada penyelenggaraan birokrasi yang bersih berwibawa melayani.

Pelebaran Jihad Politik Muhammadiyah

Dalam praktik politik di DIY, terjadi pelebaran jihad politik Muhammadiyah sebagaimana dimaksud di atas. Ada mekanisme Musypimwil dan musypimwilsus yang melibatkan PWM, PDM, dan PCM yang membahas dan memutuskan keterlibatan Muhammadiyah DIY dalam pemilu dengan mendukung salah satu kader bangsa dari warga Muhammadiyah sebagai satu satunya calon DPD RI yang didukung Muhammadiyah. Selanjutnya seluruh Pimpinan Muhammadiyah di wilayah DIY terlibat aktif dalam usaha memenangkan hasil keputusan Musypimwilsus itu.

Jika dicermati hal itu merupakan suatu pelebaran dari Jihad Politik, dimana Pimpinan Muhammadiyah tidak hanya meneliti dan membekali kader serta mendorong penyelenggaraan birokrasi yang bersih berwibawa melayani namun juga terlibat mengkampanyekan untuk terpilihnya kader bangsa dari warga Muhammadiyah sebagai senator mewakili DIY. Dalam hal ini, Muhammadiyah tidak hanya “memoles Kleting Kuning” tapi ikut terlibat aktif mendukung perjalanan Klething Kuning untuk bisa bersanding dengan Ande-ande Lumut di rumah panggung yang tinggi. Kepada sang “Klething Kuning” juga dititipkan amanah untuk mendorong integritas “Ande-ande Lumut” di senayan sana.

Pelebaran jihad politik Muhammadiyah di DIY tersebut banyak mendapat tanggapan positif karena berada di ranah aman yaitu mengusung anggota DPD RI yang justru bisa merekatkan kader dengan segenap keragaman afiliasinya pada partai politik. Selain itu pelebaran jihad politik itu juga memiliki potensi untuk menjalankan konsolidasi gerakan Muhammadiyah di tingkat DIY. Konsolidasi tersebut bukan hanya berdampak bagi pemenangan calon anggota yang didukung, tapi juga menjadi media sosialisasi nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah kepada warga Muhammadiyah dan masayarakat secara luas.

Kesimpulannya, pelebaran jihad politik Muhammadiyah DIY dalam ranah mengantarkan kader Muhammadiyah menjadi anggota DPD RI sungguh merupakan pilihan cerdas. Namun untuk kemaslahatan umat dan kepentingan persyariakatan hal tersebut harus tetap selalu dievaluasi. Baik evaluasi apa pentingnya dan bagaimana sistem yang ideal agar lebih bisa menggairahkan kehidupan persyarikatan serta menjadi bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Adapun yang paling penting, ekplorasi jihad politik Muhammadiyah dengan berpolitik tanpa masuk gelanggang politik sudah harus menjadi kesadaran seluruh Pimpinan Muhammadiyah. Tidak mustahil jika nanti Muhammadiyah menyodorkan nama-nama kader yang potensial untuk menduduki jabatan-jabatan publik kepada seluruh partai politik yang berada dalam gelanggang politik. Hal itu adalah usaha menyediakan SDM untuk memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara, bukan menjadi bagian politik yang berorientasi pada kekuasaan karena tugas Muhammadiyah bukan di gelanggang politik praktis. Sebagaimana disebutkan dalam butir 4 Pernyataan Pokok Khittah Muhammadiyah dalam Berbangsa dan Bernegara (Khittah Denpasar tahun 2002) bahwa Muhammadiyah hanya perlu mendorong secara kritis atas perjuangan politik yang bersifat praktis atau berorientasi pada kekuasaan (real politics) untuk dijalankan oleh partai-partai politik dan lembaga-lembaga formal kenegaraan dengan sebaik-baiknya menuju terciptanya sistem politik yang demokratis dan berkeadaban sesuai dengan cita-cita luhur bangsa dan negara.

Dongeng Ande - ande lumut sangat pas untuk mneggambarkan jihad politik Muhammadiyah
Dongeng Ande – ande lumut sangat pas untuk mneggambarkan jihad politik Muhammadiyah (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait