Memilih Pasangan Hidup

Al-Qur’an tidak menentukan secara rinci tentang siapa yang hendak dinikahi, tetapi hal tersebut diserahkan kepada selera dan kehendak manusia masing-masing pribadinya. Manusia diberikan kebebasan mutlak untuk memilih pasangan hidupnya. Dengan pilihan itu bertujuan untuk kekal abadi hingga maut menjemput. Setiap kita diberikan kehendak memilih sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dalam QS An-Nisa [4]: 3) :

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

Artinya  : “maka kawinilah siapa yang kamu senangi dari wanita-wanita” (QS An-Nisa : 3).

Sebagaimana perkawinan merupakan sebuah bentuk ibadah kepada Allah, Islam memberikan gambaran karakteristik dalam memilih codoh yang ideal. Memilih pasangan yang ideal menjadi keharusan bagi setiap pasangan, agar terjamin semua kehidupan lahir dan batin. Dalam Islam yang menjadi pertimbangan utama hendaklah agama, baik perempuan dan lelaki jika hendak memilih pasangan hidup hendaklah yang memiliki kesamaan agama. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai keunggulan pasangan baik dalam kecerdasan (keturunan), keharta bendaan (kekayaan) atau kecantikan dan ketampanan pasangan. Sebagaimana yang di sabdakan oleh Nabi Muhammad Saw;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya  : Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Ubaidullah] ia berkata; Telah menceritakan kepadaku [Sa’id bin Abu Sa’id] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “biasanya wanita dinikahi karena hartanya, atau keturunannya, atau kecantikannya, atau karena agamanya. Jatuhkan pilihanmu atas yang beragama, (karena kalau tidak) engkau akan sengsara” diriwayatkan melalui Abu Hurairah hadist nomor 4700).

Dijelaskan lebih lanjut bagaimana kita harus mengutamakan agamanya dalam memilih pasangan, kemudian baru dari segi lainya dari Ibnu Majah menjelaskan bahwa;

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ الْمُحَارِبيُّ وَجَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ عَنْ الْإِفْرِيقِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ

Artinya  : Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Abdurrahman Al Muharibi] dan [Ja’far bin Aun] dari [Al Ifriqi] dari [Abdullah bin Yazid] dari [Abdullah bin Amru] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: janganlah kamu mengawini perempuan karena kecantikannya sebab kecantikannya itu mungkin akan menjerumuskan kepada kerendahan budi; jangan pula kamu mengawininya karena kekayaan sebab kekeyanannya itu mungkin akan menariknya kepada perbuatan tidak layak, tetapi kawinilah perempuan atas dasar pertimbangan kekuatan agamanya; sesungguhnya budak perempuan yang kuat agamanya, meski terbelah telinganya dan berkulit hitam, lebih utama dikawini (dari pada perempuan merdeka, cantik dan kaya tetapi tidak kuat agamanya).” (Hadist Ibnu Majah Nomor 1849).

Dengan demikian sebagai seorang muslim yang menjadi faktor utama dalam memilih jodoh adalah kualitas agamanya. Ketika seorang muslim kuat dalam menjalankan perintah agama dengan demikian dia akan memahami hak dan kewajibannya sebagai pasangan. Agama menjadi jalan hidup di dunia. sebagaimana yang digambarkan dalam hadis diatas bahwa “kawinilah perempuan atas dasar pertimbangan kekuatan agamanya; sesungguhnya budak perempuan yang kuat agamanya, meski terbelah telinganya dan berkulit hitam, lebih utama dikawini”.

Hadis Nabi riwayat At-Turmudzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim lebih lanjut memaparkan bagaimana kepribadian dan kekuatan agamanya hendaklah menjadi faktor utama memilih pasangan hidup;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Artinya  : “Apabila datang kepadamu laki-laki yang kamu rasakan menyenangkan dari segi akhlak dan agamanya (untuk meminang anak perempuan), kawinkanlah dia; apabila tidak kamu lakukan, akan terjadi fitnah diatas bumi ini dan kerusakan yang besar.” (hadist Ibnu Majah Nomor 1957, hadist Tirmidzi 1005, hadist Bukhari 1372).

Berdasarkan ajaran Nabi Muhammad Saw, maka teranglah bahwa dalam memilih pasangan perkawinan sangat menekankan kekuatan agamanya. Demikianlah ajaran Islam dalam menekankan memilih pasangan hidup calon istri ataupun mencari calon suami. Bagi kaum muslimah (perempuan Islam) hanya dibenarkan memilih pasangan hidup yang beragama Islam sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Mumtahanah [60]:10.

Berdasarkan ajaran Nabi Muhammad Saw, maka teranglah bahwa dalam memilih pasangan perkawinan sangat menekankan kekuatan agamanya
Berdasarkan ajaran Nabi Muhammad Saw, maka teranglah bahwa dalam memilih pasangan perkawinan sangat menekankan kekuatan agamanya (Sumber gambar : klik disini)

Sedangkan lelaki menurut Al-Qur’an masih di perbolehkan memilih pasangan dari ali kitab dituliskan dalam surah (QS Al-Maidaah [5]:5). Walaupun demikian lelaki muslim ini harus memiliki kekuatan iman yang kuat sehingga tidak dikuatirkan akan tertarik pada agama pasangannya.

Dan dengan catatan bahwa lelaki yang hendak menikah dengan ahli kitab harus berperan dalam rumah tangga untuk mendidik anaknya agama Islam, serta menginisiasi untuk mengajarkan agama Islam kepada Istrinya supaya tertarik dan mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam. tentulah tidak dengan paksaan, namun kesadaran akan dirinya sendiri. Sebab tidak di benarkan jika kita memaksanya; QS Al-Baqarah [2]:256 memberikan pesan,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ

Artinya  : “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) …”

Sedangkan perkawinan diluar ahli kitab bagi laki-laki mukmin tidak dibenarkan sebagaimana di jelaskan dalam QS Al-Baqarah [2]:221 melarang laki-laki muslim mengawini wanita musyrik dan melarang wali perempuan muslimah mengawinkannya dengan laki-laki musyrik.

Pemilihan pasangan hidup yang kemudian akan menjadi keluarga, dan kemudian keluarga menjadi komunitas yang lebih besar yang kita sebut dengan masyarakat. oleh karenanya salah satu anjuran memilih jodoh dengan pendekatan agama adalah guna menghasilkan lingkungan masyarakat yang baik dan taat kepada Allah. Hal yang demikian ini adalah suatu usaha untuk membentuk generasi umat yang baik.

Sebagaimana harapan kita bahwa masyarakat yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w  di Madinah untuk membentuk masyarakat Islam, masyarakat yang dicita-citakan guna menegakkan sunnah (tradisi) yang akan menjadi tauladan di kemudian hari. Dengan pondasi agama yang kuat, dan anggota masyarakat yang kuat secara pribadi-pribadinya, memahami hakikat dirinya maka dengan demikian kedamaian dan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

Karena masyarakat terus silih berganti karena usia manusia yang terbatas. Yang tua akan meninggalkan dunia dan yang muda akan menggantikan dan kemudian juga akan meninggalkan dunia begitu seterusnya hingga hari kiamat datang. Oleh karenanya, tugas umat manusia harus menciptakan generasi umat yang baik, sehingga kehidupan di dunia akan baik pula.

Sebagaimana yang diterangkan oleh Hamka dalam tafsirnya adapun orang laki-laki beriman hanya mencari jodoh orang perempuan beriman, begitupula perempuan yang beriman akan mencari lelaki yang beriman pula, agar kehidupannya kelak mendapat ridha Allah. Oleh karenanya dalam membangun rumah tangga tidak hanya didasarkan dengan istilah ‘cinta’ melainkan kepada dasar yang lebih tinggi dan mulia, yaitu amanat Allah.

Begitu pentingnya seorang muslim mempertimbangkan calon pasangan di dunia ini. Maka, hanya kualitas manusia yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik, begitu juga jika kualitas manusia buruk tak menutup kemungkinan mendapatkan pasangan yang buruk. Oleh karenannya Islam mengajarkan untuk memilih kualitas manusia yang baik, dengan baiknya kualitas diharapkan mampu mengemban amanah sebagai khalifah di bumi membawa misi “baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur”.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 7 – 8 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait