Memberi Upah dan Menjual Daging / kulit Hewan Kurban

PERTANYAAN : Dalam melaksanakan penyembelihan hewan qurban sering panitia mempertanyalkan tentang hukum menjual kulit dan daging kurban serta memberi upah tukang jagal dengan daging atau kulit hewan kurban? bagaimana menurut Muhammadiyah?

Pada prinsipnya, kulit hewan kurban tidak boleh dijual tetapi harus dibagikan bersama dengan dagingnya. Dalam hal ini ada beberapa persoalan yang perlu diperhatikan shahibul qurban :

  1. Shahibul qurban boleh memanfaatkan kulit hewan qurban.
  2. Shahibul qurban tidak boleh menjual daging hewan qurban, kulit dan pakaiannya (jilal)
  3. Shahibul qurban tidak boleh menukarkan kulit hewan qurban dengan yang lainnya, seperti daging dan lainnya. Tetapi mustahiq  selain shahibul qurban boleh menerima, menukarkan kulit dan daging dan boleh pula menjual kulit dari jatah pembagian hewan qurban yang sudah menjadi hak miliknya.

Ketentuan ketiga hal tersebut di atas berdasarkan hadits:

قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى : أَخْبَرَنِي زُبَيْدٌ ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ ، أَتَى أَهْلَهُ فَوَجَدَ قَصْعَةً مِنْ قَدِيدِ الأَضْحَى ، فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَهُ ، فَأَتَى قَتَادَةَ بْنَ النُّعْمَانِ فَأَخْبَرَهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فَقَالَ :إِنِّي كُنْتُ أَمَرْتُكُمْ أَنْ لاَ تَأْكُلُوا الأَضَاحِيَّ ، فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ لِتَسَعَكُمْ ، وَإِنِّي أُحِلُّهُ لَكُمْ ، فَكُلُوا مِنْهُ مَا شِئْتُمْ ، وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْيِ ، وَالأَضَاحِيِّ فَكُلُوا ، وَتَصَدَّقُوا ، وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا ، وَلاَ تَبِيعُوهَا [رواه أحمد]

Artinya  : Sulaiman bin Musa berkata: Zaid bercerita kepadaku bahwa Abu Sa’id al Khudry ra telah mendatangi keluarganya, kemudian ia mendapati semangkok besar dendeng dari daging qurban dan ia tidak mau makan dendeng tersebut. Kemudian Abu Sa’id al Khudry ra mendatangi Qatadah bin Nu’man, lalu ia menceritakan bahwa Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya aku memerintahkan agar tidak makan (daging) hewan qurban lebih dari tiga hari karena untuk mencukupimu, dan sekarang aku menghalalkannya bagimu. Oleh karena itu, makanlah bagian dari qurban tersebut sekehendakmu dan janganlah kamu menjual daging qurban. Makanlah olehmu, sedekahkanlah dan manfaatkanlah kulit-kulit hewan qurban tersebut dan janganlah kamu menjualnya” [HR. Ahmad]

أَنَّ عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ أَخْبَرَهُ. أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا فِى الْمَسَاكِينِ وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا [رواه البخارى و مسلم]

Artinya  : “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib ra menceritakan; bahwa Nabi saw memerintahkan agar ia melaksanakan qurban Nabi dan memerintahkan pula agar ia membagikan semua daging, kulit dan pakaiannya pada orang-orang miskin dan tidak memberikan sedikitpun dari hewan qurban kepada penjagal (sebagai upah)” [HR. Bukhari dan Muslim]

Memberikan Daging Qurban kepada Panitia dan Jagal Sebagai Upah

Pada prinsipnya, qurban itu hendaknya dilakukan sendiri oleh shohibul qurban, namun jika tidak bisa atau ingin menyerahkan kepada orang lain, maka hal itu juga dibenarkan. Namun demikian, jika melihat hadits-hadits Nabi saw tentang pelaksanaan qurban, maka tidak dijumpai adanya kepanitiaan secara khusus.

Berbeda halnya dengan masalah zakat yang secara tegas disebutkan adanya panitia zakat (Amil Zakat) sebagaimana yang termaktub dalam surat at-Taubah ayat: 60. Tetapi, dalam rangka efektifitas dan efesiensi pelaksanaan qurban, lembaga kepanitiaan tersebut boleh saja diadakan. Hal ini dapat difahami dari hadits Nabi saw sebagai berikut:

أَنَّ عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ أَخْبَرَهُ. أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا فِى الْمَسَاكِينِ وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا [رواه البخارى و مسلم]

Artinya  : “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib ra menceritakan; bahwa Nabi saw memerintahkan agar ia melaksanakan qurban Nabi dan memerintahkan pula agar ia membagikan semua daging, kulit dan pakaiannya pada orang-orang miskin dan tidak memberikan sedikitpun dari hewan qurban kepada penjagal (sebagai upah)” [HR. Bukhari dan Muslim]

Jelaslah bahwa dalam penyelenggaraan penyembelihan hewan qurban dapat dilaksanakan oleh sebuah kepanitiaan, tetapi kedudukan mereka berbeda dengan amil dalam penyelenggaraan zakat. Karenanya, sebagai panitia, mereka tidak berhak menerima upah dari hewan qurban. Tetapi sebagai individu, mereka berhak mendapatkan bagian sebagaimana mustahiq pada umumnya.

Begitu pula halnya dengan tukang jagal (penyembelih), mereka tidak boleh menerima bagian dari hewan qurban sebagai upah. Namun boleh mendapatkan upah dari sumber lain, seperti beaya operasional dan lain sebagainya. Tukang jagal boleh menerima daging qurban dalam kapasitasnya sebagai mustahik, dan bukan sebagai upah.

Dalam hadits Nabi saw ditegaskan:

عن على بن أبى طالب رضى الله عنه قال: أمرنى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أقوم على بدنه وأن أقسم لحومها وجلودها وجلالها على المساكين، ولا أعطي فى جزارتها شيئا منها [متفق عليه]

Artinya  : Dari Ali bin Abi Thalib ra. Ia berkata: “Rasulullah saw memerintahkan kepada saya agar saya mengurus unta qurban beliau, membagikan dagingnya, kulitnya dan barang-barang yang merupakan pakaian unta itu kepada orang-orang miskin, dan saya tidak menerima upah sembelihan dari padanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

عن على رضى الله عنه قال: أمرنى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أقوم على بدنه وأقسم جلودها وجلالها وأمرنى أن لا أعطي الجزار منها شيئا وقال: نحن نعطيه من عندنا [رواه أبو داود]

Artinya  : Dari Ali ra berkata: “Bahwa Rasulullah saw memerintahkan kepadaku agar membantu (mengurus) hewan-hewan qurbannya dan membagikan keseluruhan daging, kulit dan pakaiannya dan Nabi-pun memerintahkan agar saya tidak memberikan sedikitpun (dari hewan qurban) dalam pekerjaan jagal. Ali berkata; kami memberi upah kepada jagal dari harta kami sendiri” [HR. Abu Dawud]

أن علي بن أبى طالب أخبره أن نبى الله صلى الله عليه وسلم أمره أن يقوم على بدنه وأمره أن يقسم بدنه كلها لحومها وجلودها وجلالها فى المساكين ولا يعطى فى جزارتها منها شيئا [رواه البخارى ومسلم]

Artinya  : “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib ra menceritakan; bahwa Nabi saw memerintahkan agar ia melaksanakan qurban Nabi dan memerintahkan pula agar ia membagikan semua daging, kulit dan pakaiannya pada orang-orang miskin dan tidak memberikan sedikitpun dari hewan qurban kepada penjagal (sebagai upah)” [HR. Bukhari dan Muslim]

Kesimpulannya

  1. Sebagai panitia, dan sebagai jagal tidak berhak menerima upah dari hewan qurban. Namun boleh mendapatkan upah dari sumber lain, seperti biaya operasional dan lain sebagainya.Tetapi sebagai individu, mereka berhak mendapatkan bagian sebagaimana mustahiq pada umumnya.
  2. Bagi mustahiq  selain shahibul qurban, boleh menukarkan kulit dan daging dan boleh pula menjual kulit dari jatah pembagian hewan qurban yang sudah menjadi hak miliknya.
ibadah qurban
Bagi mustahiq selain shahibul qurban, boleh menukarkan kulit dan daging dan boleh pula menjual kulit dari jatah pembagian hewan qurban yang sudah menjadi hak miliknya
Gambar Memberi Upah dan Menjual Daging / kulit Hewan Kurban
Redaksi Utama
REDAKSI MEDIA ONLINE PDM KOTA YOGYAKARTA; Alamat Sekretariat / Kantor : Jalan Sultan Agung Nomor 14 Kota Yogyakarta. Kode Pos 55151; pdmjogja@gmail.com

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...