Membangun Manajemen

Gambar Membangun Manajemen
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Beberapa dasa warsa yang lalu, saat Indonesia di akhir sistem Pembangunan model Orde Baru, Amerika Serikat sudah masuk dalam tubir jurang kegagalan ekonomi. Beberapa Negara di Eropa yang semula sangat berkarib dengan Amerika, satu demi satu sudah mulai melepas ketergantungan ekonomi dan politiknya. Melemahnya rantai ikatan dalam mengelola pembangunan ekonomi dunia, tak lain karena kecongkakan Amerika sendiri. Disatu sisi Uni Sovyet atau Rusia yang menjadi sparing partner untuk berebut pengaruh dengan Negara-negara lain, secara terbuka dan satria menerima asas keterbukaan. Ideologi komunis ternyata tidak mampu membendung dalam arus keterbukaan. Jadilah negeri Paman Sam sebagai jawara dalam menguasai setiap segmen kehidupan.

Namun sikap terlena yang dialami oleh Amerika Serikat mulai menunjukkan muka bopengnya. Jepang yang kalah dalam perang dunia, telah mempersiapkan diri untuk beradu dalam bidang ekonomi. Pabrik-pabrik simbol masyarakat modern di Amerika mulai mendapat tantangan yang serius dari negeri Sakura. Dengan semangat shogun berangkatlah anak-anak Jepang menyeberang lautan atlantik untuk meraih pendidikan yang lebih baik. Mereka tak lagi mengangkat samurai, tetapi pena sebagai bekal untuk meraih cita-cita membangun negeri.

Hanya berselang beberapa puluh tahun, sang samurai sudah bisa menunjukkan tajinya. Serangkaian penemuan-penemuan elektronika maupun otomotif, mereka mulai menggempur pasaran ekonomi yang sebelumnya didominasi oleh Amerika dan Eropa. Kantong-kantong ekonomi di kota besar belahan dunia telah dikepung dengan menawarkan barang yang lebih efektif dan efisien serta dengan harga yang cukup murah. Di ranah elektronika, Jepang maju dengan sang komandan SONY menyulap dunia impian menjadi kenyataan. Gaya hidup lebih bermakna dengan hadirnya kelengkapan kebutuhan manusia.

Apakah perseteruan akan berakhir? Ternyata tidak. Bahkan di era sekarang lebih ekstrim lagi. Jepang yang telah berhasil mengeruk keuntungan dari teknologi elektronika dan otomotif, seperti tertidur. Kekuatan tersembunyi telah bangun. Muncul saat orang lain terlena. Korea dan China memiliki kekuatan ekonomi yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka ikut bermain, karena memiliki visi kebangsaan yang kuat. Berkeyakinan bahwa bangsa yang kuat harus ditopang dengan ekonomi yang kuat.

Apakah dengan visi dan misi yang baik akan mengantar menjadi bangsa yang disegani? Apakah dengan modal warisan budaya yang adi luhung akan menjadikan bangsa yang terhormat? Ternyata tidak. Untuk menunaikan dan mengarahkan tujuan kebangsaan harus diikuti dengan tata kelola yang baik dan berkesinambungan. Semua sumber daya yang dimiliki harus diolah menjadi energi. Memanfaatkan potensi yang dimiliki manusia, menjadi salah satu unsur pembangunan. Setiap elemen kehidupan mesti membutuhkan manajemen yang handal.

Manajemen yang selalu kekinian. Ingat! Ada pepatah bahwa kelompok yang banyak tanpa diorganisir akan dikalahkan dengan kelompok yang kecil tetapi terorganisir.

Dari persaingan untuk memperebutkan agar keberadaan Negara memiliki eksistensi yang kuat, maka bisa ditarik benang merah, bahwa apapun yang dimiliki oleh sebuah Negara, bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kefakiran dalam bidang apapun. Bahkan kasus di beberapa Negara akan menimbulkan perpecahan. Negara menjadi tergadai, demikian juga warga negaranya. Wujud negerinya ada, namun pemerintahannya tiada. Sekalipun Negara itu telah merdeka.

Bangsa dan Negara serta semua yang dimilikinya harus memakai manajemen yang sesuai dengan kondisinya. Karena masing-masing memiliki karakter tersendiri. Manajemen yang baik, akan membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Manajemen tentu harus disesuaikan dengan tradisi dan budaya setempat. Oleh karenanya tidak ada sebuah manajemen yang menjadi acuan tunggal. Manajemen orang timur berbeda dengan orang barat. Karena manajemen tak bisa dipisahkan dari tradisi dan budaya. Namun bukan berarti manajemen menjadi sub dari budaya. Ada kalanya manajemen justru menuntun perjalanan masyarakat tertentu.

Bangsa dan Negara serta semua yang dimilikinya harus memakai manajemen yang sesuai dengan kondisinya
Bangsa dan Negara serta semua yang dimilikinya harus memakai manajemen yang sesuai dengan kondisinya (Sumber gambar : klik disini)

Indonesia adalah salah satu bangsa di dunia ini. Kedudukannya sama dengan bangsa lainnya. Beberapa ahli mengatakan bahwa bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang besar. Saat ini, belum memiliki suatu bentuk/format yang pas mengenai gaya (Style) manajemennya, bila dibandingkan dengan Jepang, Cina atau Amerika dan negara-negara Eropah, yang tampaknya sudah menemukan bentuk gaya manajemen yang dijalankannya selama ini. Hal tersebut bukan berarti bahwa pengelolaan administrasi negara Indonesia tidak memakai konsep manajemen. Para pimpinan Negara yang dibantu dengan pimpinan administrasi negara masih sering mengadopsi bentuk menajemen Amerika, Jepang, Cina serta bentuk lainnya, atau bahkan ada yang memadukan berbagai bentuk gaya manajemen tersebut dalam menjalankan organisasinya. Sehingga dengan demikian, gaya manajemen yang asli dan khas Indonesia belum kelihatan.

Pakar manajemen, Peter F. Drucker, mengatakan : manajemen itu menyandang fungsi sosial. Manajemen tidak dapat dipisahkan dari masyarakat atau bagian dari masyarakat yang dilayaninya, sehingga tak terlepas dari kaitan budaya (kultur) yang disandang oleh masyarakat yang dilayaninya. Kultur itu bahkan tampil sebagai bagian terpadu dalam keseluruhan manajemen tersebut, hingga saat ini kita mengenal sebutan Manajemen Gaya Amerika, Manajemen Gaya Cina, Manajemen Gaya Jepang, Manajemen Gaya Barat dan sebagainya.

Ada catatan sejarah yang bisa ditelusuri bahwa secara empiris bangsa Indonesia sejak merdeka hingga saat ini, memperlihatkan betapa banyaknya salah urus (mis-managemen) dalam kehidupan sehari-hari. Di bidang apapun. Ekonomi, sosial, keamanan, budaya bahkan politik. Meskipun para pendiri bangsa ini telah bersusah payah untuk meletakkan dasar-dasar bernegara. Mereka telah berhasil membuat garis besar bagaimana manajemen bangsa ini hendak dituju. Bahkan di beberapa segi tampak sangat jelas arah bangsa yang akan digapai. Namun usaha ini tak diteruskan oleh anak bangsanya sendiri.

Ada titik-titik cerah yang bisa kita andalkan. Mencuatnya perusahaan multi nasional yang unjuk gigi dalam pentas dunia. Mereka berkibar diantara bendera Negara lain. Sekalipun dalam bidang ekonomi, paling tidak keberadaan korporasi ini akan merambah ke bidang yang lain. Walau sedikit, olahragawan kita mampu menjadi bagian dari pilar pembangunan bangsa. Tetes-tetes keringat mereka bagai kucuran air sebagai sumber kehidupan. Manajemen olah raga memang belum merata. Ada yang sudah mampu berbicara di tingkat Internasional, sementara masih ada yang tergolek dihamparan jalan yang berlumpur. Terpilihnya beberapa kepala daerah yang mampu mengembangkan potensi daerah juga turut mewarnai manjemen kebangsaan. Daerah seperti ini sudah mampu berdiri sendiri tanpa mengandalkan topangan dari pusat.

Mengelola masyarakat yang tadinya dibawah kungkungan kepala daerah yang penuh nepotisme, menuju kemandirian bukanlah persoalan yang mudah. Ada dua tahapan yang mesti dilalui yaitu pengobatan dan kebangkitan. Tahap pengobatan, adalah situasi yang krusial karena mengembalikan kepercayaan. Masyarakat yang tadinya apatis terhadap keberadaan pemerintahan, dengan berbagai catatan luka, menuju masyarakat yang turut membangun daerahnya adalah segmen kepercayaan. Masyarakat hanya perlu contoh nyata.

Sangat perlu, bangsa ini memiliki manajemen yang berkarakter Nusantara. Sangat mendesak untuk mengembangkan kekuatan imbangan yang ada pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, yaitu beberapa pengembangan manajemen yang berciri khas Indonesia. Hal ini sangat penting, sebab bila tidak demikian, maka gaya manajemen dari luar yang sebenarnya tidak cocok untuk Indonesia dipaksakan diterapkan, sehingga mengakibatkan kegagalan pengelolaan administrasi negara dan swasta seperti pada periode yang lalu. Gagal atau berhasinya manajemen Indonesia, tentunya sangat tergantung dari cara penyaringan dari berbagai budaya (suku/etnis) yang ada di masyarakat Indonesia serta penerapannya dalam kehidupan organisasi.

Ada aspek positif datang dari barat yang harus kita serap dari kegiatan manajemen diantaranya : Disiplin, efisien, menghargai waktu, hormat dengan sesama. Perilaku inilah yang harus diresapi oleh setiap warga Negara. Sementara dari Timur, menawarkan perilaku : Solidaritas terhadap kelompok (perusahaan) yang tinggi, dedikasi terhadap kelembagaan. Kesetiaan, nasionalisme yang tinggi, dan hormat tergadap atasan. Indikator inilah yang menyebabkan bangsa menjadi maju.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait