Membangun Karakter Melalui Dongeng

Penulis : Murmiyati Hadi Santso
Penulis : Murmiyati Hadi Santso (Pendidik SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta)

Hari sudah malam, seorang anak masih  asyik di depan televisi. Karena terlalu asyik nonton televisi akhirnya esok paginya bangun kesiangan. Sang Ibu memperingatkan untuk segera tidur.

“Sudah waktunya bobo Nak, ayo bobok dulu agar besok tidak kesiangan…” / “Nanti aja. Belum ngantuk.” / “Ini sudah jam 09.00 malam Nak.” / “Aku belum ngantuk Bund…” / “Mau dengar dongeng Bunda?” / “Mau… mau…” / “Ayoo segera kalau mau.” / “Dongeng apa Bunda?” / “Sabar dong…” / “Sikat gigi dulu, kemudian cuci tangan dan kaki, Bunda tunggu di kamar ya…”

Anak yang semula masih asyik menonton acara di televisi, mau beranjak untuk berangkat tidur setelah diiming-iming dengan dongeng.

Siapa yang tidak mengenal dongeng? Siapa yang tidak suka dongeng? Hampir semua anak, akan senang sekali saat dibacakan dongeng atau mendengar dongeng. Bukan hanya anak-anak, bahkan orang dewasapun menyukai dongeng. Ketika di sekolah, guru mengatakan akan mendongeng, maka anak-anak akan duduk dengan tertib, menunggu suara guru mendongeng. Dongeng ternyata mampu menarik minat banyak orang, dongeng dapat menghinoptis anak untuk memperhatikan apa yang akan disampaikan oleh guru. Bahkan sering terjadi anak melakukan  tawar menawar dengan guru, mereka minta sebelum  pelajaran  guru  mendongeng terlebih dahulu.

Dongeng adalah sebuah cerita rekaan yang berkembang secara lisan sehingga tidak diketahui siapa yang membuat dongeng tersebut. Dongeng tersebar dari mulut ke mulut, kalaupun ada pada sebuah buku maka dongeng tersebut adalah cerita yang dituliskan kembali.  Sejak kapan dongeng lahir? Tidak diketahui dengan pasti, karena tidak ada satupun buku yang bisa menunjukkan dengan jelas.  Dongeng berkembang di seluruh lapisan masyarakat. Baik kaya maupun miskin. Dongeng adalah sebuah rekreasi yang murah meriah, tidak perlu dana yang besar untuk mendongeng.

Buku kumpulan dongeng
Dongeng adalah sebuah cerita rekaan yang berkembang secara lisan sehingga tidak diketahui siapa yang membuat dongeng tersebut (Sumber gambar : klik disini)

Dongeng yang berkembang di masyarakat adalah berupa fabel, yaitu dongeng yang menggunakan tokoh utama binatang. Dalam dongeng tersebut dikisahkan bahwa hewan-hewan tersebut dapat bertingkah laku sebagaimana manusia. Melalui perbuatan dan tingkah laku tokoh itulah dongeng mendidik pendengarnya.

Bagaimana dongeng bisa membangun karakter? Sebuah dongeng selalu sarat dengan pesan. Baik pesan itu tersurat maupun tersirat. Dalam dongeng selalu menampilkan tokoh baik dan tokoh yang tidak baik.  Tingkah laku, sikap, cara berpikir tokoh yang baik bisa digunakan sebagai teladan. Demikian pula tokoh yang tingkah laku, sikap dan cara berfikirnya tidak baik dijadikan contoh yang sebaiknya tidak ditiru. Pada umumnya dalam dongeng ditampilkan dengan jelas tentang pribadi tokoh masing-masing. Tokoh yang baik maka akan tetap baik dan tokoh yang tidak baik biasanya tetap dalam keadaan yang tidak baik.

Dongeng yang kita dongengkan pada anak tidak harus dongeng yang sudah banyak beredar di kalangan masyarakat. Kita bisa menggali kreatifitas, membuat dongeng sendiri, memilih tokoh sendiri dan menentukan pesan apa yang akan kita sampaikan pada anak saat itu. Seperti apapun dongeng yang kita berikan pada anak, pasti akan diterima anak dengan senang hati. Semua tergantung pada bagaimana cara kita menyampaikan dongeng tersebut pada anak.

Ketika kita ingin anak-anak menjadi anak yang rajin sholat misalnya. Kita bisa menceritakan bagaimana tokoh hewan yang kita ambil juga rajin sholat. Seekor belalang pedang yang berkaki panjang dan berwarna hijau, tersesat di sebuah kampong. Kebetulan kampong tersebut adalah kampong santri, kita bisa menyusun cerita sedemikian rupa hingga belalang tersebut yang semula malas beribadah menjadi rajin, karena setiap mendengar suara Adzan semua penghuni kampung itu melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Belalang pedang tak ketinggalan, dia juga ikut shalat berjamaah karena banyak temannya. Dia tak mau kesepian dan kehilangan teman.

Membentuk karakter anak melalui dongeng sangat bermanfaat. Selain karakter kita dapatkan, imajinasi anak juga berkembang. Hal ini tentu juga akan meningkatkan kreatifitas anak dalam kehidupan sehari-hari. Selamat mendongeng.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 7 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Membangun Karakter Melalui Dongeng
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE