Membangun Hubungan Positif Bersama Keluarga

Dalam kehidupan ini, keluarga adalah tempat untuk membangun kebahagiaan dan ketentraman bathin. Bahkan, istilah baiti jannati atau rumahku surgaku merupakan gambaran betapa keluarga menjadi telaga dikala kehausan, pelipur lara kala kesedihan menimpa, dan inspirasi terbaik juga berkumpulnya kekuatan agar semakin dapat menghadapi kehidupan di luar sana yang sering tidak pernah terduga segala tantangan dan ujiannya.

Harapan dengan adanya keluarga, akan lahirlah generasi-generasi tangguh dan beriman kepada Allah agar dapat saling mengingatkan dan menguatkan diri di jalan kebaikan. Keluarga menjadi jalan bersama menuju surganya Allah karena ketaatan, ketundukan, dan amal bakti satu sama lain sehingga dapat saling menyelamatkan kelak di akhirat kelak. Seperti yang tertera dalam Qs. Ar-Ra’du ayat 23: “yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;”.

Namun, tentu keluarga ini tidak akan serta merta hadir ketika justru peran dan fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik. Buktinya, tidak sedikit anak yang merasa ditelantarkan orangtuanya akibat orangtua tidak hadir ketika dibutuhkan anak kapanpun. Orangtua merasa tugasnya telah selesai ketika memfasilitasi kebutuhan anak secara fisiknya: uang jajan, kebutuhan sekolah, pakaian, makan, dan lain sebagainya, namun lupa bahwa anak juga memerlukan peran orangtua yang dapat menyehatkan anak, yang tidak hanya secara fisik, namun juga secara psikologis, dan membimbing dalam peran sosial juga spiritualnya.

Ada empat hal, yang harus diperhatikan setiap anggota keluarga untuk membangun keluarga yang sehat dan positif, yaitu:

Pertama, keluarga yang dibangun dari rasa kasih sayang satu sama lain. Kasih sayang ini tentu tidak hanya sebatas kata-kata dan tentu tidak diragukan lagi jika orang tua ditanya soal menyayangi atau tidak pada keluarganya, pasti mengatakan ya. Namun juga hal yang lebih penting dari sekedar kata adalah dengan tindakan nyata menyayangi.

Tindakan nyata menyayangi ini dapat kita bangun dengan memberikan dukungan dan dorongan terhadap segala pencapaian atau perkembangan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga, khususnya yang mengarah pada kebaikan dan pencapaian prestasinya. Betapa keluarga kadang lupa bahwa dukungan ini akan sangat menguatkan pribadi mereka, dikala di luar sana tanpa terduga banyak yang mencemooh, menjatuhkan, dan merendahkan kemampuannya, maka dapat dibayangkan tatkala keluarga tidak saling mendukung, sedangkan di luar juga seperti itu, akan semakin jatuh mentalnya sebagai seorang pribadi berkembang.

Kedua, yang harus dibangun dalam keluarga adalah memiliki rasa kepedulian satu sama lain atau respect. Respect ini dapat kita bangun dengan komunikasi positif antar anggota keluarga. Manusia hakitatnya memiliki fitrah senang jika dihargai dan dihormati sehingga ini pun berlaku pada keluarga bahwa setiap anggota keluarga hakikatnya harus melakukan hal demikian di dalamnya. Komunikasi positif, adalah bagian dari rasa penghargaan ini karena didalamnya terdapat saling mendengarkan satu sama lain, memberikan pujian ketika kebaikan yang diceritakan, dan mendukung jika yang dilakukan menambah prestasinya. Bukan malah acuh dan tidak peduli.

 Kepedulian/respect  ini pun dapat kita lakukan dengan berinteraksi satu sama lain. Yang menjadi tantangan kita sekarang ini adalah keluarga kurang interaksinya tatkala gadget menjadi alat yang sulit ditinggalkan. Anggota keluarga menjadi lebih sibuk merespon yang diluar sana sehingga keluarga menjadi tempat yang tidak asyik lagi untuk berinteraksi. Akhirnya yang terjadi interaksi hanya sebatas jika sesekali memerlukan, bukan menjadi kebutuhan, inilah yang menyebabkan keluarga memiliki suasana yang kering.

Ketiga, yang tidak kalah pentingnya membangun keluarga yang positif dan sehat adalah kekuatan emosional. Kekuatan emosional yang dimaksud adalah setiap anggota keluarga harus memiliki kemampuan mengatasi masalah dan konflik yang terjadi ntah ketika dalam konflik keluarga ataupun ketika berada di luar. Kemampuan problem solving dapat dibiasakan dalam keluarga seperti anggota keluarga diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dengan terbiasa membuka ruang-ruang komunikasi dan diberikan pengarahan.

Cara lainnya, orangtua dapat membiasakan anak untuk miliki kemampuan manajemen konflik dengan bersosialisasi dengan teman sebayanya ketika bermain atau berinteraksi, lebih khususnya anak didorong mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Kegiatan organisasi hakikatnya mengasah individu untuk terbiasa mengatasi masalah sehingga tidak akan akan mudah stress ketika menghadapi satu masalah ke masalah lainnya.

Yang terakhir adalah buatlah suasana keluarga yang menyenangkan dan menjadi tempat kembali terbaik ketika anggota keluarga menghadapi kepenatan di luar rumahnya. Suasana ini dapat dibangun dengan saling bercanda satu sama lain, memberikan perhatian, dan saling bertanya tentang pengalaman dikesehariannya. Seringkali orangtua perlu memposisikan dirinya sebagai sahabat bagi anaknya yang merupakan teman ngobrol, teman curhat, dan tempat nyaman untuk mencari solusi kala menghadapi masalah di rumahnya.

Buatlah suasana keluarga yang menyenangkan dan menjadi tempat kembali terbaik ketika anggota keluarga menghadapi kepenatan di luar rumahnya
Buatlah suasana keluarga yang menyenangkan dan menjadi tempat kembali terbaik ketika anggota keluarga menghadapi kepenatan di luar rumahnya (Sumber gambar : klik disini)

Orangtua dapat pula menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk memberikan kenyamanan bagi anak ketika berkomunikasi, terlebih bagi yang telah menginjak remaja, misalnya dengan pertanyaan sederhana, “Bagaimana dek sekolahnya? Siapa teman yang dekat dengan adek? Guru-gurunya menyenangkan bukan?” dan lain sebagainya sehingga yang tertanam suasana penuh keakraban dan kedekatan tidak berjarak.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait