Membangun 4 Pilar Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah Melalui Gerakan Muhasabah Muhammadiyah

Arti sesungguhnya Muhasabah adalah meng-hisab diri sebelum di hisab amalnya pada hari akhir nanti. Namun Gerakan Muhasabah Muhammadiyah di PDM Kota Yogyakarta identik dengan Gerakan Penggiatan Sholat lail dan subuh berjamaah, yang didalamnya ada waktu merenung menunggu sholat subuh untuk mengkoreksi diri pribadi. Dalam praktinya, Gerakan Muhasabah Muhammadiyah didoring bisa membangun empat pilar Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ). Meski bisa berbeda-beda bentuknya, pada intinya dalam membangun Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah terdapat empat pilar: 1. Penguatan ikatan berjamah; 2. Penguatan ruhani anggota jamaah; 3. Penguatan intelektual (keilmuan) anggota jamaah; dan 4. Penguatan amal usaha berjamaah.

1. Penguatan ikatan berjamah.

Dengan safari sholat subuh berjamaah dari para inti jamaah (penggerak utama jamaah) berkeliling masjid-masjid yang ada di kampung setempat maka akan memperkuat ikatan anggota-anggota jamaah di masjid-masjid yang ketempatan dengan inti jamaah. Ikatan tersebut bukan dibentuk atas dasar instruksi atau administrasi, tapi ikatan yang lahir sebagai buah silaturahmi. Selain itu, penguatan ikatan berjamaah juga terjadi dalam internal jamaah masjid yang ketempatan dengan penegasan pentingnya sholat berjamaah. Dimulai dengan penggerakan subuh berjamaah, targetnya adalah setiap anggota jamaah menjadi tergerak hatinya untuk bisa selalu sholat lima waktu berjamaah. Jika tiap anggota jamaah menjadi aktif sholat lima waktu berjamaah di masjidnya masing-masing, insya Allah dengan begitu ikatan berjamaah akan semakin baik.

Gerakan subuh berjamaah menjadi media untuk memantapkan pada anggota-anggota jamaah bahwa sesungguhnya sholat itu bukan hanya kewajiban seorang muslim, namun merupakan kebutuhan setiap orang muslim. Sholat adalah ibadah yang mendatangkan pertolongan Allah. Allah berfirman yang artinya: “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 45-46)

Allah telah memberikan keistimewaan kepada ibadah sholat dan sabar sebagai kunci dan syarat datangnya pertolongannya. Banyak kita yang tahu itu, tapi kadang perlu diingatkan dan ditegaskan kembali dengan aktivitas seperti gerakan muhasabah tersebut. Betapa banyak masalah yang kita hadapi yang terus-menerus mengharapkan pertolongan Allah, namun tidak jarang yang mengabaikan sholat. Adapun sholat itu sendiri sebenarnya merupakan wujud dari kesabaran, karena orang tidak akan bisa sholat kecuali dengan kesabaran. Beribadah dan menaati Allah itu butuh kesabaran. Demikian juga menggerakan subuh berjamaah di setiap masayaakat sekitar masjid, sangat butuh kesabaran.

Penguatan ikatan berjamaah dalam gerakan muhasabah mendapat kekuatan dari nilai silaturahmi. Pada asalya yang dimaksud silaturahim adalah hubungan keluarga ber­dasarkan keturunan atau perni­kahan. Dan yang dimaksud menyambung kembali hubungan silaturahim yang terputus apabila ada permusuhan dalam hubungan ke­luarga lalu ada upaya untuk menyambung kembali. Namun dalam ajaran Islam, sesama orang beriman juga bersau­dara. Karena itu supaya saling didamaikan jangan terpecah belah. Dalam tafsir Ibnu Katsir tercatat sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Jarir, Ra­sûlullâh Saw., bersabda, “Nanti di hari kiamat diantara hamba-hamba Allâh ada sekelompok orang yang mendapat tempat istimewa di surga, mereka itu bukan para Nabi juga bukan Syuhada, malah para Nabi dan Syuhada tertarik dengan kedudukan mereka di sisi Allâh pada hari kiamat.” Mendengar pernyataan seperti para sahabat semangat untuk bertanya, “Ya Rasulullah, manusia macam apakah yang akan mendapat tempat istimewa di surga?” Nabi tidak menyebut nama juga kelompok, tapi menyebutkan sifat, mereka yang akan mendapatkan tempat isti­mewa di surga adalah yang ketika hidupnya di dunia saling mencintai, menyayangi dengan dasar karena Ruh Allah (keimanan, keislaman dan ketakwaan) bukan karena ikatan harta atau keturunan.

Bolehlah kalau ada yang tak sepakat perte­muan antar anggota jamaah dan dengan pengerak jamaah dalam kegiat­an Muhasabah disebut dengan silaturahim, demikian pula pertemuan pimpinan dan ka­der dari berbagai jenjang dalam forum tersebut, lalu hanya mau menyebutnya ukhuwah islamiyah. Namun, hendaknya jangan mengingkari pro­ses hubungan untuk menumbuhkan rasa sa­ling mencintai dan me­nyayangi karena Allah dengan kegiatan Muhasabah tersebut. Jangan pula melupakan kemuliaan hubungan saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan saling mena­sihati kesabaran dalam kegiatan tersebut. Nilai “silaturahim” kegiatan tersebut jika benar-benar kita realisasikan untuk me­numbuhkan rasa cinta dan sayang hanya ka­rena Allah, yang salah satu ujudnya adalah saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran, maka akan benar-benar men­jadi majelis dari orang-orang yang men­dapat tempat istimewa dihadapan Allah. De­mikian­lah, salah satu hasil yang diha­rapkan dari kegiatan Muhasabah seperti itu.

2. Penguatan ruhani anggota jamaah.

Selain penguatan ikatan berjamaah, gerakan jamaah dakwah jamaah haruslah ditopang oleh penguatan ruhani bagi anggota jamaah. Sholat malam adalah salah satu contoh penguatan ruhani tersebut. Seba­gai­mana di­sebutkan dalam QS al-Isroo’ [17] ayat 79 bahwa sholat malam bisa menjadi jalan untuk meng­ang­kat de­rajat­nya sampai pa­da ting­katan yang ter­puji. Kegiatan muhasabah seperti yang dilakukan di atas jelas bukan untuk mengajak-ajak sholat tahajud berjamaah, tetapi mengajak-ajak untuk membiasakan sholat tahajud setiap hari. Bukan saat kegiatan itu saja, namun di rumah-rumah sendiri tiap malam semua anggota jamaah mau membiasakan sholat malam.

Selain penguatan ikatan berjamaah, gerakan jamaah dakwah jamaah haruslah ditopang oleh penguatan ruhani bagi anggota jamaah, Sholat malam adalah salah satuNYA
Selain penguatan ikatan berjamaah, gerakan jamaah dakwah jamaah haruslah ditopang oleh penguatan ruhani bagi anggota jamaah, Sholat malam adalah salah satuNYA (Sumber gambar : IG @satria.mi.jo)

Salah satu ciri dari orang yang memeliki ruhani yang kuat adalah semakin ikhlas menjalani hidup dan dakwahnya. Orang ikhlas inilah yang bisa diharapkan mampu untuk menggerakkan dakwah jamaah secara total, sebab hanya orang ikhlaslah yang terbebas dari tipu daya setan. Sebagaimana difirmankan Allah: Iblis berkata: “Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka”. (QS. al-Hijr [15]: 39-40)

Sekali lagi perlu dipertegas, gerakan muhasabah sebagaimana format di atas bukanlah untuk mengajak-ajak sholat tahajud. Namun yang benar, gerakan tersebut dimaksudkan untuk mengajak-ajak membiasakan sholat tahajud. Kegiatan sebulan sekali itu, sekedar mengingatkan pentingnya membiasakan sholat tahajud serta kemudian bersama-sama melaksanakan sholat subuh berjamaah. Jika sholat tahajud telah menjadi kebiasaan di rumah masing-masing, insya Allah akan terbentuk pribadi ikhlas yang beribadah hanya karena Allah semata.

Kalau gerakan muhasabah hanya untuk mengajak-ajak sholat tahajud, maka dikhawatirkan justru yang muncul adalah riya’. Orang hanya akan sholat tahajud sebulan sekali di saat dilihat oleh banyak orang. Namun jika tahajud telah menjadi kebiasaan, dan kegiatan sebulan sekali hanya menjadi sarana untuk saling mengingatkan dan mempererat rasa kejamaahan, maka tidak peduli dilihat orang atau tidak dilihat orang tetap saja menjalankan tahajud. Orang yang tak peduli dilihat atau tidak dilihat orang dalam bertahajud itu adalah orang yang ikhlas.

Orang-orang yang tidak ikhlas dalam mengerakkan jamaah dan berdakwah jamaah maka akan menemui jalan yang sukar, sebagaimana firman Allah: “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. al-Lail [92]: 8-10).

Pada hakikatnya, harta dan keturunan itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan hati yang bersih. Sebagaimana firman Allah: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.“(QS. asy-Syu’araa’ [26]: 88-89).

3. Penguatan intelektual (keilmuan) anggota jamaah.

Media gerakan jamaah dakwah jamaah haruslah memperhatikan penguatan keilmuan anggota jamaah. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya.” (HR. Muslim)

Orang-orang yang menuntut ilmu, terutama yang berkaitan dengan al-Qur’an, mereka akan mendapatkan ketentraman dan rahmat dari Allah, serta malaikat akan mengelilingi dan menyanjung mereka. Allah pun mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana firmannya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah [58]: 11).

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir mengutip Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Abuth Thufail ‘Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin ‘Abdil Harits pernah bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab di Asafan. ‘Umar mengangkatnya menjadi pemimpin Makkah lalu ‘Umar berkata kepadanya: “Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” la menjawab: “Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka adalah Ibnu Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.” Maka ‘Umar bertanya: “Benar engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?” Dia pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah seorang yang ahli membaca Kitabullah (al-Qur-an), memahami ilmu fara-idh dan pandai berkisah.” Lalu ‘Umar berkata: “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum karena Kitab ini (al-Qur-an) dan merendahkan dengannya sebagian lainnya.”

Tidak salah lagi, media gerakan jamaah dakwah jamaah haruslah memberikan penguatan keilmuan anggota jamaah, terutama sekali pada pemahaman akan al-Qur’an. Dengan demikian dalam jamaah itu akan timbul ketentraman, rahmat dari Allah, dan ketinggian derajat dari Allah karena iman dan ilmunya. Lebih khusus lagi yang penting dalam penguatan keilmuan jamaah adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kewajiban seorang muslim, baik dalam hal aqidah dan ibadah, serta akhlak. Ilmu yang dapat membentuk akhlak mulia tidak boleh ditinggalkan, karena itulah sesungguhnya inti dari diutusnya Rasulullah. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah bersabda Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR Bukhari).

Islam meninggikan dan mengutamakan orang-orang yang mau menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling mulia akhlaknya” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan beliau juga bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempattinggalnyadenganku pada hari kiamat adalah yang paling mulia akhlaknya” (HR. Tirmidzi).

Dengan adab dan akhlak mulia pulalah kelak pada hari kiamat timbangan kebaikan seseorang bisa lebih berat daripada timbangan kejelekannya sebagaimana sabda Nabi, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia” (HR. Tirmidzi).

4. Penguatan amal usaha berjamaah.

Media gerakan jamaah dakwah jamaah idealnya sampai pada penguatan amal usaha berjamaah. Selain amal sosial pribadi-pribadi, amal sosial yang bersifat berjamaah sangat penting. Sebagai contoh masalah sedekah, bahwa sedekah secara pribadi-pribadi itu memang harus dijalankan namun harus diiukuti dengan pembuatan sistem pengelolaan Lazis (lembaga amil zakat, infaq dan sedekah) agar sumber daya anggota-anggota jamaah dapat dimanfaatkan secara optimal. Media gerakan jamaah dakwah jamaah bisa untuk menguatkan kesadaran pentingnya beramal usaha secara berjamaah. Dengan amal usaha yang dilakukan dengan kekuatan jamaah, sangat mungkin muncul balai kesehatan, sekolah, panti asuhan, dan semacamnya sebagai wujud amal usaha berjamaah.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 7 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Membangun 4 Pilar Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah Melalui Gerakan Muhasabah Muhammadiyah
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...