Membangkitkan Etos Gerakan Muhammadiyah

Kita telah usai memperingati resepsi milad Muhammadiyah 100 tahun masehi / 103 tahun hijriyah di empat (4) kota secara kolosal dan semarak yakni GBK (Gelora Bung Karno– Jakarta), Sportorium UMY (DI.Yogyakarta), Gedung Dome UMM ( kota Malang) dan Auditorium ‘al Amien’ UM Makasar (Kota Makassar). Tema milad pun begitu mantap (dalam lingkar syahadat) Sang Mentari  Tiada Berhenti Bersinar. Sebuah tema yang menunjukkan optimisme para pelaku gerakan persyarikatan Muhammadiyah dan tentu disana menyiratkan sebuah semangat bahwa kita  Pimpinan dan warga persyarikatan  tetap punya keinginan yang kuat untuk berkhidmat dan berkarya dan bekerja. Tentu dengan kerja – kerja ala genarasi awal Muhammadiyah yaitu kerja ikhlas, kerja cerdas dan kerja tiada henti untuk kemaslahatan umat, bangsa dan Negara dengan di landasi mencari ridho Allah SWT tentunya. Maka semangat bekerja menjadi sesuatu yang penting untuk bahan renungan kita pimpinan dan warga persyarikatan dalam membangun etos gerakan yang mencerahkan.

Etos spirit radikal dari sebuah gerakan.

Kata ”etos” mengandung arti ”pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial”. Dalam studi antropologi, “etos”  berarti ”watak khas dari suatu golongan kebudayaan”. Jika ada istilah “etos kebudayaan” maka berarti suatu nilai, sifat, adat istiadat yang khas dan memberi watak atau cirri khas pada kebudayaan dari suatu masyarakat atau golongan dalam masyarakat. Jadi yang dimaksud dengan “etos Muhammadiyah”  yaitu “sifat, nilai, dan tradisi yang menjadi watak khas Muhammadiyah dalam melakukan gerakannya sebagai organisasi dakwah dan tajdid”.

Etos gerakan Muhammadiyah merujuk pada sesuatu yang menyangkut ciri khas Muhammadiyah seperti Kepribadian yang teraktualisasi dan melekat dalam denyut kehidupan orang-orang Muhammadiyah. Itulah etos kesalihan. Dalam pemikiran Muhammadiyah bersifat tajdid. Itulah etos kemajuan.  Muhammadiyah juga memiliki cirri khas, yakni suka beramal. Itulah etos amaliah. Jika disimpulkan secara pendek, maka etos Muhammadiyah itu tiga. Pertama, etos kesalihan. Kedua, etos kemajuan. Ketiga, etos amaliah.

Adakah contoh etos Muhammadiyah yang teraktualisasi? Simaklah dengan cermat sosok Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kyai Dahlan menjunjung tinggi kesalihan, sehingga perilakunya seia sekata antara kata dan perbuatan, beliau tampak menjalankan praktik ihsan seperti tulisan di kamarnya yang sangat terkenal itu. Ciri kedua, Kyai Dahlan sangat berpikiran maju, seperti paham agama dan pandangannya tentang ilmu umum dan agama yang harus menyatu dalam pendidikan, yang melahirkan konsep pendidikan Islam modern. Sedangkan cirri amal tampak dalam kisah Al-Ma’un, yakni agama yang membebaskan dan menjadi praksis bagi gerakan amal Muhammadiyah. Kyai adalah sosok yang shalih, maju, dan gemar beramal. Maka Muhammadiyah menjadi gerakan Islam yang bersifat da’wah dan tajdid.

  1. Etos Keshalihan

`Etos keshalihan, yakni perilaku yang ihsan, yang memancarkan kebaikan. Kebaikan yang melambangkan pribadi yang uswah hasanah: tulus, jujur, sederhana, amanah, tetapi juga gigih, berani, dan cerdas. Keshalihan yang dinamis, bukan keshalihan pasif. Bukan shalih jika baik untuk diri sendiri. Sebagaimana namanya, perilaku shalih ialah perilaku yang membuahkan tindakan serba kebajikan, serba maslahat, serba jernih atau bersih. Lawannya perilaku fasad, yang destruktif, merusak, dan kotor.

Jika merujuk pada keteladanan Rasulullah dan para pendahulu maupun sosok baik orang Muhammadiyah, maka keshalihan yang menjadi etos Muhammadiyah atau orang Muhammadiyah tidak simbolik. Jadi keshalihan dan sosok orang shalih tidak ditunjukkan oleh atribut-atribut luar, baik pakaian maupun asrsoris tubuh seperti selama ini sering jadi kebanggan sebagian orang yang merasa sebagai alim atau shalih. Keshalihan harus mencerminkan kejernihan dan kebaikan hati, ucapan, dan tindakan secara utuh. Apalah artinya menunjukan symbol-simbol luar sebagai sosok shalih manakala hatinya kasar, ucapan vulgar, dan tindakan menyakitkan orang dan tidak menggambarkan kemuliaan akhlak Nabi.

Keshalihan yang hakiki bahkan tidak tampak menonjolkan diri, seperti pepatah tentang zuhud: “khaira zuhd, ihfa al-zuhdi”, sebaik-baiknya zuhud ialah zuhud yang tidak ditampak-tampakkan kepada orang lain. Tangan kanan memberi, tangan kiri tak tahu. Sifat Rasul yang empat ialah sidk, tabligh, amanat, dan fathanah. Jadi shalih tidak cukup satu aspek, harus merupakan keutuhan. Jika dibaca kitab “Min Akhlaq al-Nabiy”, di sana ada duapuluhsatu sifat Nabi yang dapat dijadikan teladan.

Jadi keshalihan orang Muhammadiyah tidak boleh semu seperti konsep “sufisme” atau “salafisme” yang parsial.  Lebih-lebih jika tidak konsisten. Di luar tampak shalih, tetapi praktiknya jauh panggang dari api. Hanya sebatas formalistic, semata atribut luar. Apalagi merasa diri paling shalih ketimbang orang lain, malah dapat menggugurkan nilai keshalihan itu sendiri. Jika ada orang yang menampak-nampakkan diri dan merasa diri paling shalih, maka perlu dipertanyakan hakikat keshalihannya. Zuhud dan shalih tidak harus sama dengan kumuh, tertinggal, pasif, dan terbelakang.

Keshalihan orang Muhammadiyah juga harus dinamis, tidak boleh pasif dan fatalis. Tidak hanya mengurus spiritual, tetapi juga moral dan intelektual. Shalih tidak harus bodoh dan tertinggal. Shalih tidak harus melarikan diri dari dunia. Shalih justeru harus maju, harus dinamis. Itulah keshalihan yang membawa maslahat. Keshalihan yang berkemajuan. Keshalihan yang aktif dalam kehidupan untuk memakmurkan dan memaslahatkan kehidupan. Keshalihan orang Muhammadiyah  ialah kebaikan yang bekemajuan.

  1. Etos Kemajuan

Ciri khas Muhammadiyah justeru pada kemajuannya. Etos kemajuan. Etos tajdid. Kata Kyai Dahlan, jadi orang Islam, orang Muhammadiyah, haruslah maju. Tidak boleh terbelakang. Karena etos Muhammadiyah ialah etos kemajuan, maka orang Muhammadiyah secara perseorangan maupun kolektif harus selalu memiliki watak khas maju. Maju dalam pemikiran dan amal. Tidak boleh jumud atau beku, apalagi serba taklid. Jadi jika sejak awal Muhammadiyah memberantas taklid dalam beragama, maka berarti Muhammadiyah mengajarkan etos kritis, etos kemajuan. Bukan sebaliknya, membiarkan kejumudan dan ketaklidan.

Bacalah tujuh falsafah dan tujuhbelas ayat yang diajarkan Kyai Dahlan karya Kyai Hadjid. Betapa Kyai Dahlan menjunjungtinggi etos kemajuan. Etos berpikir kritis. Etos berakal pikiran. Jadi, kalau orang Muhammadiyah takut dengan akal pikiran dan pengembangan pemikiran hanya karena bayangan buruk sekularisme dan liberalisme Barat, maka sikap seperti itu kurang proporsional dan tidak menunjukan karakter khas atau etos Muhammadiyah yang aseli. Muhammadiyah yang aseli justeru yang berwatak kemajuan. Jangan takut berpikiran maju.

Dalam alam sekarang, etos kemajuan haruslah menjadi perhatian Muhammadiyah dan orang-orang Muhammadiyah. Tentu saja kemajuan yang mencerminkan ruh Islam, yang memang berwatak maju. Al-Quran, Sunnah Nabi yang maqbulah, dan ijtihad, merupakan sumber dan mozaik dasar bagi kemajuan orang Muhammadiyah. Mengenai pikiran sesat cukup mudah untuk diuji secara objektif dengan merujuk pada sumber-sumber pemikiran dasar Muhammadiyah, sumber pemikiran Islam. Hanya saja, jangan menuruti pendapat sendiri, harus diuji secara jama’iy, secara kolektif. Sebaik-baik pendapat satu orang, apalagi tidak memiliki dasar ilmu yang luas dan mendalam, akan kalah oleh pendapat kolektif yang didukung referensi dan ilmu yang luas.

  1. Etos Amaliah

Ciri khas Muhammadiyah yang lain dan menonjol ialah etos beramal. Orang-orang Muhammadiyah sejak generasi awal hingga saat ini suka beramal. Bahkan istilah amal usaha memiliki konotasi ganda, yang satu perbuatan yang dinamik, yang kedua memiliki sifat jariyah atau berkhidmat untuk kemaslahatan orang banyak. Di sini maka amal usaha Muhammadiyah selain harus maju, juga harus bermanfaat atau maslahat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Tidak cukup maju jika sekadar untuk diri sendiri seperti etos kapitalisme, tetapi maju untuk kemaslahatan orang banyak sebagai wujud rahmatan lil-‘alamin.

Karena itu seluruh amal Muhammadiyah harus berkualitas. Harus lebih daripada yang lain. Harus unggul. Tapi, jangan serba berorientasi profit gaya kapitalisme. Kemajuan bukan untuk kemajuan, tetapi untuk kemaslahatan. Di sinilah seluruh amaliah Muhammadiyah baik berupa usaha, amal usaha, program, dan kegiatan haruslah menunjukan karakter maju sekaligus maslahat. Unggul dan di depan pun tidak sekadar untuk dirinya sendiri, tapi untuk kepentingan da’wah dan tajdid gerakan Muhammadiyah. Amal usaha Muhammadiyah pun harus menyatu dengan gerak Persyarikatan, bukan jalan sendiri-sendiri.

Dari mana belajar etos Muhammadiyah? Dari Kyai Haji Ahmad Dahlan dan para pendahulu Muhammadiyah, baik dari para tokoh maupun warga biasa, tanpa kecuali. Juga belajar dari tokoh dan warga Muhammadiyah saat ini, yang memberikan contoh kebajikan dalam menggerakkan Muhammadiyah. Sebagai manusia biasa, para pendahulu itu memiliki kelemahan manusiawi, tetapi kita belajar dari kebajikan mereka dalam bermuhammadiyah, baik dari pemikirannya maupun amaliahnya. Lebih jauh lagi, etos Muhammadiyah pasti harus meneladani sosok Muhammad Rasulullah.

Karena itu, etos Muhammadiyah yang menunjukkan tiga sifat yaitu keshalihan, kemajuan, dan amaliah, maka etos tersebut harus diaktualisasikan dalam kenyataan. Kini Muhammadiyah dan orang-orang Muhammadiyah memerlukan kebangkitan kembali dalam membangun etos gerakan. Dengan kata lain, diperlukan gerakan menyeluruh untuk membangkitkan kembali etos Muhammadiyah: etos keshalihan, etos kemajuan, dan etos amaliah. Apalagi ketika mulai muncul gejala melemahnya atau lunturnya keikhlasan, pengkhidmatan, dan kemajuan karena faktor-faktor internal dan eksternal.

Karena etos itu merupakan sesuatu yang teraktualisasi, maka tidak ada warisan dalam etos Muhammadiyah. Jadi misalnya, jangan anggap karena anak tokoh Muhammadiyah, maka dengan sendirinya memiliki etos Muhammadiyah yang tinggi. Karena itu sangatlah tepat jika di Muhammadiyah tidak ada ”darah biru“. Jika tidak menunjukkan keteladanan dalam etos pemikiran dan amal, maka biarpun anak tokoh Muhammadiyah, tidaklah dapat dijadikan contoh. Bahkan jika pun dari tokoh Muhammadiyah, jika kata tak seia dengan perbuatan, maka hilanglah nilai etos Muhammadiyah.

Jadi, etos Muhammadiyah itu milik bersama dalam persyarikatan. Jangan ada orang yang merasa paling benar dalam bermuhammadiyah, paling lurus dalam bermuhammadiyah, paling militan dalam bermuhammadiyah. Harus dilihat praktik hidupnya sehari-hari, baik pemikiran maupun amalnya. Kalaupun benar-benar memiliki etos tinggi, baik amal maupun pemikiran, tidak boleh merasa paling hebat atau paling segala-galanya dan kemudian menganggap orang lain salah jalan, keliru, lemah, dan tidak bermuhammadiyah. Itu namanya keangkuhan, riya, dan ujub yang tidak sesuai akhlak Islam.

Membangkitkan kembali etos Muhammadiyah juga harus dalam kerangka gerakan. Jadi etos Muhammadiyah baik watak keshalihan, kemajuan, maupun amaliah, haruslah selalu memiliki karakter gerakan. Harus selalu bergerak. Tidak boleh diam atau statis. Di mana pun orang Muhammadiyah berada harus senantiasa menunjukan kesalihan, kemajuan, dan amaliah yang dinamis, yang selalu bergerak. Bukankah Muhammadiyah memakai nama gerakan? Jika setiap orang Muhammadiyah apakah itu anggota, kader, lebih-lebih pimpinannya selalu bergerak di atas etos keshalihan, kemajuan, dan amaliah maka insya Allah saat ini dan ke depan Muhammadiyah akan semakin tumbuh dan berkembang. Muhammadiyah yang memberi kemaslahatan sebagai gerakan Islam yang membawa rahmat bagi kehidupan.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Manhaj Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2012, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait