Membaca Yuk !

PENULIS Murmiyati Hadi Santoso

Iqro, membaca. Iqro bissmirobbikalladzii kholaq. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.

Membaca merupakan salah satu kegiatan yang selalu kita lakukan. Setiap saat kita terlibat dalam kegiatan membaca. Membaca iklan di jalan-jalan, membaca pamflet, membaca brosur, membaca petunjuk, membaca undangan, membaca pengumuman, membaca nota, atau membaca buku tabungan. Bahkan ketika kita menonton tayangan televisipun, kita juga masih berkegiatan membaca, yaitu membaca berita berjalan pada tayangan tersebut. Kegiatan membaca tidak terlepas dari kegiatan sehari-hari kita.

Kegiatan membaca tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa atau pelajar saja. Anak-anak balitapun sudah diajar dan diajak untuk membaca. Kegiatan membaca juga tidak terbatas pada ruang tertentu. Di dalam rumah, di kantor, di sekolah, di perpustakaan, di terminal, di tempat wisata, di mall-mall, bahkan dalam kendaraan pun bisa menjadi untuk membaca. Baik itu membaca yang disengaja maupun tidak disengaja. Dikatakan sengaja karena membutuhkan informasi dari bahan bacaannya. Sedangkan membaca yang tidak sengaja adalah membaca informasi yang ditangkap oleh mata secara kebetulan.

Pada saat ini masih jarang sekali kita lihat masyarakat yang gemar membaca. Budaya baca kita kalah dengan budaya tonton. Kita jarang melihat orang asyik membaca buku di tempat umum. Kita hanya melihat orang membaca buku di sekitar sekolah, kampus atau di perpustakaan. Ketika kita berada dalam kendaraan umum, atau di terminal, di ruang tunggu, berapa banyak kita melihat orang membaca. Mereka akan lebih asyik menonton tayangan televisi yang memang disediakan sebagai sarana mengisi waktu menunggu.

Budaya baca sangat dipengaruhi oleh latar belakang orang perorang. Berawal dari keluarga, lingkungan dan pendidikan. Seberapa besar peran keluarga dalam mempengaruhi seseorang untuk suka membaca. Pada keluarga yang gemar membaca maka akan tumbuh anak-anak yang gemar membaca pula. Di sini peran keluarga sangat penting. Karena lingkungan pertama yang dikenal anak adalah lingkungan keluarga. Baru setelah itu lingkungan masyarakat dan sekolah. Lingkungan masyarakat dan sekolah juga memegang peranan penting dalam membentuk anak agar gemar membaca.

Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan di lingkungan sekolah untuk memacu budaya baca. Pada dasarnya setiap mata pelajaran membutuhkan kemampuan membaca. Kemampuan membaca ini akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa terhadap mata pelajaran. Hampir semua mata pelajaran selalu menggunakan bacaan. Bacaan disini bisa berwujud buku, handout, LKS, atau yang lainnya. Bacaan-bacaan ini butuh untuk dipahami semuanya. Maka dari itu kemampuan membaca harus baik agar bisa belajar dengan baik.

Kegiatan meningkatkan budaya baca sebenarnya sudah sering dilakukan di sekolah. Dari mengajak siswa untuk rajin membaca koran dinding, mengajak siswa untuk berkunjung ke perpustakaan, serta menugaskan siswa untuk membaca buku dan membuat ringkasan. Namun dari sekian banyak cara yang sudah diusahakan, ternyata belum mampu meningkatkan minat baca siswa secara maksimal. Kegiatan membaca yang dilakukan oleh siswa baru sekedar membaca karena ada tugas semata. Belum tumbuh kesadaran bahwa mereka butuh membaca. Hal ini juga terbukti saat siswa diberi tugas membaca, yang banyak terdengar adalah suara keluhan. Mengeluh karena harus membaca tapi bukunya tebal atau karena tidak punya waktu. Padahal alasan yang mereka sampaikan sebenarnya adalah belum adanya minat untuk membaca.

Salah satu cara meningkatkan budaya baca adalah dengan gerakan membaca surat kabar 10 menit setiap hari. Setiap pagi, atau siang, bila memungkinkan  secara bersama-sama siswa diajak untuk membaca surat kabar. Didampingi wali kelas atau guru yang mengajar jam pertama atau pada jam yang sudah ditentukan. Surat kabar disediakan oleh sekolah. Jadi pada saat jam yang sudah ditentukan, wali kelas atau guru membawa surat kabar ke kelas masing-masing. Kemudian membagikan kepada masing-masing siswa. Wali kelas atau guru mendampingi siswa dalam melaksanakan kegiatan pembiasaan membaca. Mengamati siswa yang tidak melakukan kegiatan membaca serta mencari alasan mengapa tidak membaca. Dalam posisi ini wali kelas atau guru pendamping wajib menyadarkan siswa untuk melaksanakan kegiatan membaca.

Dalam kegiatan ini mungkin tidak akan langsung terasa hasilnya. Namun kegiatan ini bila dilakukan secara rutin maka akan menimbulkan pembiasaan. Dari pembiasaan inilah kita berharap akan menjadikan siswa merasa butuh untuk membaca. Dalam kegiatan membaca surat kabar ini siswa dibebaskan memilih judul berita atau artikel yang hendak dibaca. Dengan diberi kebebasan diharapkan siswa tidak merasa tertekan sehingga mereka merasa nyaman dalam membaca. Bagi siswa yang belum melakukan kegiatan membaca diberi dorongan dan semangat untuk mau membaca. Siswa  diminta untuk sekedar melihat-lihat isi surat kabar secara menyeluruh. Kemudian diarahkan untuk membaca berita-berita yang pendek terlebih dahulu. Pada prinsipnya dalam kegiatan ini siswa harus merasa senang dan nyaman. Kebebasan dan kenyamanan dalam membaca akan menjadi poin penting dalam meningkatkan kegemaran membaca. Ketika siswa diminta membaca kemudian diharuskan untuk menceritakan kembali artikel atau berita yang dibaca maka keinginan kita untuk menimbulkan pembiasaan akan macet dan menghambat pembiasaan yang akan kita lakukan.

Kendala yang mungkin dihadapi adalah ketika harus menyiapkan banyak surat kabar yang akan dibaca oleh siswa. Namun hal ini bisa diatasi dengan membaca secara bergantian tiap kelas, sehingga cukup disediakan surat kabar sebanyak jumlah siswa di kelas. Surat kabar yang harus disediakan tidak harus surat kabar terbitan baru. Yang penting berita atau artikel yang bisa dibaca oleh siswa bisa bermacam-macam. Untuk menghindari kejenuhan siswa saat menemukan surat kabar yang sama, maka ada baiknya surat kabar dibendel tiap kelas. Pada bendel tersebut diberi nama kemudian dibuatkan jadwa penggunaan. Contoh klas 7a bendel Kartini, kelas 7B bendel Ki Hajar, kelas 7c bendel Diponegoro dan sebagainya. Untuk hari berikutnya kelas 7a bendel Diponegoro, kelas 7b bendel Kartini dan 7c bendel Ki Hajar dst. Dengan adanya jadwal maka setiap hari siswa bisa mendapatkan bendel yang berganti-ganti hingga surat kabarnya pun berganti pula. Bila itu disamaikan diseluruh kelas dan semua terjadwal dengan baik, maka kemungkinan siswa menemukan surat kabar yang sama akan sangat kecil.

Apakah harus surat kabar? Tidak. Kita juga bisa menggunakan majalah atau tabloit yang tepat untuk siswa kita. Bila bisa berganti-ganti antara surat kabar dan majalah, maka akan lebih menarik perhatian siswa. Hal ini juga bisa menjadi salah satu kiat untuk meningkatkan  budaya baca.

Dengan kegiatan membaca surat kabar atau majalah selama sepuluh menit perhari diharapkan siswa menjadi terbiasa membaca. Karena membaca sudah menjadi semacam kebutuhan bagi dirinya. Membaca memang harus dimulai dari biasa membaca baru kemudian akan meningkat menjadi butuh membaca. Mari kita membaca agar kita tak ketinggalan dunia.

Anak lebih suka menonton TV
Budaya baca kita kalah dengan budaya tonton (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Edukasi Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Membaca Yuk !
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...