Memaknai “Aku Titipkan Muhammadiyah Kepadamu”

Menapaki umur ke-105 (menurut hitungan hijriyah), tepatnya 2 Oktober 2014, umur sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah belumlah tua benar. Kedewasaan organisasi diukur dari kemampuan organisasi tersebut dapat bermanfaat bagi anggota-anggotanya dan masyarakat luas. Sebagaimana manusia yang telah memasuki gerbang dewasa, adalah mereka yang mampu menjaga stabilitas dalam masyarakat. Kemanfaatan organisasi akan selalu dirindukan dalam setiap langkah menebar kerahmatannya, itulah disebut sebagai salah satu indikator keberhasilan organisasi.

Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi amar ma’ruf nahi mungkar selalu merujuk kepada akhlak pendirinya. Tidak salah yang dikatakan oleh H. Jarnawi Hadikusumo, bahwa “Ruh Ahmad Dahlan menghadap Ilahi dengan aman, karena misinya berhasil. Kader-kader yang dipeliharanya ternyata berbuah lebat. Muhammadiyah maju pesat dengan memberikan jasa-jasa yang tidak ternilai kepada umat Islam dan kemajuan Bangsa Indonesia dalam lapangan sosial dan pendidikan, juga dalam kebangunan serta pembaharuan Islam”.

Untuk membesarkan dengan menitik beratkan pada kemanfaatan Muhammadiyah yang bisa mengemban amanah sesuai dengan tujuannya, tidak sekedar hanya mengikuti budaya yang dikembangkan oleh Muhammadiyah. Perlu ada sebagian orang yang menganalisa ucapan-ucapan Kyai Dahlan. Mengapa perkataan beliau masih tetap relevan meski digulung usia lebih dari satu abad. Bahkan ucapan itu menjadi mantra untuk melecut motivasi dalam menggerakkan Muhammadiyah.

Aku Titipkan Muhammadiyah kepadamu, merupakan salah satu pesan yang diucapkan kala beliau telah lanjut usia. Beliau sadar fisiknya tunduk pada hukum alam. Oleh karenannya, salah satu harta kekayaan yang beliau miliki yaitu Muhammadiyah, perlu dirawat. Karena keyakinan beliau, bahwa Muhammadiyah merupakan salah satu media untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.

Di kalangan kader, kalimat “Aku Titipkan Muhammadiyah Kepadamu” merupakan sumber inspirasi dan motivasi. Inspirasi karena segala aktifitasnya bagai mimpi yang bisa direalisasikan Motivasi karena merupakan sumber energi dalam menggalang kekuatan organisasi. Motivasi dalam berorganisasi bukan hanya penting untuk ditumbuh suburkan, namun motivasi menjadi daya dorong untuk menggerakkan.

Motivasi dapat dikatakan sebagai keinginan untuk melakukan sesuatu karena adanya dorongan dan tekanan akibat dari kebutuhan yang tidak terpuaskan. Motivasi barawal dari kebutuhan yang tidak terpenuhi sehingga terjadi keadaan yang ketegangan, dalam bahasa masa kini sering disebut dengan stress, yang menimbulkan dorongan- dorongan dalam diri seseorang. Tekanan ini menimbulkan usaha untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhan, yang pada akhirnya tekanan tersebut dirasakan menurun. Pada saat tekanan mulai menurun, maka motivasi juga akan menurun. Oleh karena itu, tekanan yang proporsional harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan agar dorongan untuk melakukan sesuatu selalu hidup dalam diri seseorang.

Motivasi bisa dibangkitkan secara individual, yaitu dengan menciptakanan tekanan untuk kepentingan individu itu sendiri. Cara seperti ini lebih mudah dilakukan bila individu yang bersangkutan terikat dalam sebiah organisasi. Ada fase seseorang masuk dalam lingkaran persaingan atau kompetisi yang mempunyai tujuan untuk mendapatkan sesuatu. Perebutan untuk mendapatkan kedudukan harus disertai dengan penghargaan dari organisasi itu sendiri. Jenis penghargaan dapat berupa materi atau sebuah kedudukan non materi namun memiliki keistimewaan. Sehingga kalau seseorang mendapatkan kedudukan tersebut, ada jaminan bahwa organisasi dapat berkembang atau yang lebih mulia, mendapat apresiasi dari masyarakat.

Ada kalanya motifasi justru datang dari luar. Hal ini timbul oleh sebab, merasa tersaingi, merasa mendapat perlakuan yang kurang menguntungkan atau karena pihak luar menginginkan agar seseorang dapat bangkit. Dorongan dari luar dalam katagori ini lebih susah untuk dideteksi. Karena berbagai macam sebab antara lain, individu yang bersangkutan sudah tidak memiliki kepekaan terhadap tujuan, orang yang bersangkutan sudah merasa nyaman, individu dalam organisasi merasa tidak memerlukan nilai-nilai yang datang dari luar.

Kaitan antara motivasi yang datang dari dalam atau dari luar, menjadi sangat penting untuk dikaji slogan “Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu”. Kyai Dahlan adalah orang yang paling tahu Muhammadiyah. Mengapa beliau mendirikan, mengapa beliau sedemikian total menghayati tiap ayat dalam Al-Quran dan sunnah Rasul, hendak dibawa kemana Muhammadiyah. Memilih kalimat yang tepat disaat suasana yang tepat, terlontarlah kalimat tersebut.

Muhammadiyah perlu memacu diri dengan melakukan segala aktifitas yang dapat menimbulkan motivasi. Dari pimpinan, anggota dan simpatisannya. Memilih metode motivasi yang sesuai dengan karakter, tempat dan waktu menjadi sangat penting, agar tidak salah sasaran. Mengkaji perjalanan para pimpinan yang telah teruji, adalah cara yang mudah untuk internalisasi nilai-nilai individual. Mengkaji produk yang telah dihasilkan oleh Muhammadiyah dengan melakukan analisis kekinian akan diperoleh benang merah. Bagian mana yang harus direkonstruksi. Menggalakkan masa yang tidak hanya sekedar pengajian, namun dapat berupa kajian, tata sosial kemasyarakatan, intensifitas kaderisasi.

Persyarikatan juga sangat membutuhkan silaturrahmi dengam berbagai kalangan masyarakat dan organisasi. Melalui dialog yang intensif, Muhammadiyah akan mampu menyerap informasi yang datang dari kalangan masyarakat. Di lain pihak Muhamadiyah harus bertindak tegas, manakala menemui gerakan masyarakat yang menuju pada kehancuran tata masyarakat. Inilah yang perlu dilakukan oleh Muhammadiyah agar selalu terjadi dialog yang membangun. Bila dialog dengan pihak lain dilakukan dengan infensif, kemungkinan besar Muhammadiyah akan semakin menancapkan pondasinya sebagai gerakan amar makruf nahu mungkar dan gerakan kultural. Menerima kritik yang konstruktif untuk mendorong motivasi. Sebuah organisasi yang diidamkan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pesan KH Ahmad Dahlan
Pesan KH Ahmad Dahlan (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah
PenulisAMK Afandi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait