Memahami Manhaj Da’wah Muhammadiyah (2)

Dalam kaitan pengertian dan esensi dakwah tersebut sebagaimana tulis pada bulan yang lalu, berikut ini tafsir dan penjelasan beberapa ayat penting yang berkaitan dengan dakwah dan sering menjadi acuan dari gerakan Muhammadiyah maupun ortomnya, yaitu Qs. Ali Imran 104 dan 110, Qs.Yusuf : 108 dan Qs. An Nahl : 125

Tafsir ayat-ayat rujukan Muhammdiyah dalam konteks da’wah

(1) Tafsir Qs. Ali Imran ayat 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya  : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran : 104).

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran : 104).

Ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang sifat Ahlul Kitab yang lebih memilih jalan kesesatan dan kekafiran. Bahkan mengajak orang lain untuk memilih kesesatan dan kekafiran setelah keimanan mereka. Dilanjutkan dengan penjelasan pentingnya beri’tisham kepada agama Allah sebagai jalan menuju petunjuk Allah. Maka Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman untuk kembali bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang sebenarnya, berpegang teguh kepada tali-Nya (al-Islam: Al-Quran wa al-Sunnah), dan membangun ukhuwwah atas landasan taqwa dan i’tisham bi hablillah tersebut. (Ali Imran 100-103).[1]

Ayat 104 ini justru membicarakan bagaimana menegakkan dan memelihara masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah yakni dengan jalan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Maka pembahasan ayat ini biasa mencakup tentang cakupan kewajiban dakwah (berkaitan dengan pelaku dan obyek dakwah), materi dakwah, langkah-langkah dakwah (berkaitan metode dan sarana) dan tujuan akhir dakwah Islam.

Berkaitan dengan pembahasan yang pertama dalam beberapa tafsir disebutkan tentang apakah kewajiban dakwah tertuju kepada setiap individu atau sebagian individu yang memiliki kompetensi. Ini berkaitan dengan pembahasan tentang minkum (منكم), apakah min itu bermakna tab’id (ba’dhiyyah) atau tabyin (bayaniyyah).

Pendapat pertama yang melihat min sebagai ba’dhiyyah, maka kewajiban dakwah itu tidak tertuju kepada setiap individu, tetapi kepada sebagian yang memiliki kompetensi, baik kompetensi ilmu, visi dan ketrampilan menjalankan kegiatan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Pendapat yang kedua yang memandang min sebagai bayaniyyah, berimplikasi pada pemahaman bahwa kewajiban dakwah jatuh kepada setiap individu, tanpa kecuali. Pemahaman ini diperkuat dengan isyarat dalam surah al-’Ashr, yang menyatakan bahwa orang yang tidak ingin jatuh kepada kehancuran, kerugian, tidak ada jalan lain kecuali dengan beriman, beramal dan bertausiyah bil-haq dan bil-shabr.

Beberapa ulama mengkompromikan dua pendapat tersebut. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa jika dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang sempurna, yakni dakwah yang sistematis, terencana program dan langkah-langkahnya, maka hal itu menjadi kewajiban bagi mereka yang memiliki kompetensi untuk itu (wajib kifayah). Sedangkan jika dakwah dimaknai sebagai ajakan atau tausiyah tentang kebenaran (al-haq) sesuai dengan kemampuan masing-masing, maka dakwah adalah kewajiban individual (wajib ‘ain).[2]

Kajian berikutnya berkaitan dengan terminologi al-ummah al-da’iyyah. Al-Imam Al-Raghib al-Asfahani, menyebutkan bahwa kata al-ummah berakar pada kata al-umm yang berarti induk (asl al-mas’alah), ibu (orang tua perempuan, al-walidah). Ia mendefinisikan al-umm sebagai (كل شيئ ضم اليه سائر ما يليه يسمى أما).

Sementara kata al-ummah didefinisikan sebagai berikut:

الامة: كل جماعة يجمعهم أمر واحد إما دين واحد أو زمان واحد أو مكان واحد سواء كان ذلك الامر الجامع تسخيراأو اختيارا.[3]

Definisi yang terakhir ini agaknya sejalan dengan pemahaman Muhammadiyah yang memahami bahwa al-ummah sebagai organisasi yang tertib kepemimpinan, keanggotaan, dan hubungan antara keduanya.

Berkaitan dengan materi dakwah pembahasan diarahkan kepada penggalian makna al-khair, al-ma’ruf dan al-munkar.

Al-khair dalam ayat ini menurut Ibn Katsir dengan mengutip Sabda Rasul SAW adalah ittiba’ al-Quran wa al-Sunnah, mengikuti Al-Quran dan Al-Sunnah. Sementara Imam Al-Raghib al-Asfahani mendefinisikan al-khair sebagai berikut:

الخير ما يرغب فيه الكل كالعقل مثلا والعدل والفضل والشىء النافع وضده الشر

Kemudian ia membagi membagi al-khair dalam dua bentuk: al-khair al-muthlaq dan al-khair al-muqayyad. Al-Khair al-muthlaq diartikan segala yang dipandang baik dan tidak dapat ditolak kebaikannya oleh siapapun dan dalam keadaan apapun. Sementara al-khair al-muqayyad adalah sesuatu yang dipandang baik oleh sebagian orang tetapi dipandang kejelekan oleh yang lain.[4]

Tauhid dan ittiba’ al-Quran wa al-Sunnah, menurut tafsir Ibnu Abbas,[5] merupakan al-khair al-muthlaq. Dan dalam konteks ayat 104 di atas, al-khair sebagai materi utama dakwah sekaligus landasan dakwah, yakni tauhid dan ittiba’ al-Quran wa al-Sunnah.

Al-ma’ruf: menurut al-Maraghi adalah apa yang dianggap baik oleh syari’at dan akal, sedangkan al-munkar adalah lawannya. Al-Asfahani menjelaskan makna al-ma’ruf dan al-munkar sebagai berikut:

المعروف اسم لكل فعل يعرف بالعقل أو الشرع حسنه والمنكر ما ينكر بهما[6]

Quraish Shihab menjelaskan al-khair, al-ma’ruf dan al-munkar merupakan tema-tema pokok gerakan dakwah Islam. Al-khair dalam konteks ayat ini merupakan nilai kebajikan yang bersifat tetap dalam Islam, di mana setiap orang mesti menerimanya dan menjadi tolok ukur atas yang lainnya, yakni nilai-nilai al-ma’ruf dan al-munkar.

Kebajikan dalam al-ma’ruf merupakan nilai-nilai yang relatif terbuka untuk menerima perubahan, perkembangan dan perbedaan. Penerimaan dan adaptasi nilai-nilai al-ma’rufaat dan nilai-nilai al-munkaraat ini harus melibatkan al-khair sebagai filter dan tolok ukurnya.

Esensi dakwah Islam adalah tegaknya nilai-nilai al-khair yang bersifat tetap dan universal, dan al-ma’ruf yang bersifat dinamis terhadap perubahan dan perkembangan masyarakat, dan tereliminasikannya nilai-nilai al-munkarat, yang cakupannya juga berkembang sejalan dengan perkembangan nilai yang ada di masyarakat.

Sekumpulan (ummah) kaum mukminin yang dapat menggerakkan dan mensosialisasikan tegaknya al-khair dan menyuruh kepada al-ma’rufat dan mencegah al-munkarat itulah yang akan memperoleh kemenangan,dan kebahagiaan dunia-akhirat.

(2) Tafsir Qs. Ali Imran ayat 110

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya  : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Ali Imran : 110).

Kandungan ayat ini terkait erat dengan ayat-ayat sebelumnya, mengenai peringatan tentang perselisihan Ahlul Kitab atas petunjuk-petunjuk agama Allah, dan perintah kepada orang-orang beriman untuk bertaqwa, berpegang teguh pada tali Allah, menjalin ukhuwwah dan kesatuan ummah, serta membangun jamaah (ummah) yang menegakkan dakwah kepada al-khair, mengajak al-ma’ruf dan mencegah al-munkar. Seakan memberi pemahaman bahwa tuntutan dan perintah tersebut terlahir karena umat Islam adalah umat terbaik yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Atau dapat juga memberi pemahaman bahwa umat Islam dalam memenuhi tuntutan dan perintah tersebut merupakan prasyarat untuk menjadi ummat terbaik.

Kata kuntum (كنتم) dalam ayat di atas dipahami dalam dua pemahaman. Yang pertama memahami “kana” sebagai kata kerja yang sempurna (كان تامة), sehingga dipahami bahwa umat Islam itu wujudnya merupakan sebaik-baik ummat yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Yakni bahwa di mana dan kapan saja umat Islam yang ideal adalah sebaik-baik umat manusia. Sedangkan yang kedua, berpandangan bahwa kana bukanlah kata kerja yang sempurna (كان ناقصة), yang implikasi pemahamannya adalah bahwa wujudnya khaira ummah telah ada di masa lalu, tanpa penjelasan waktu kapan terjadinya dan tidak juga mengandung isyarat bahwa ia pernah tidak ada atau suatu ketika akan ada. Jika demikian, simpul Quraish, ayat ini bermakna kamu dahulu dalam ilmu Allah adalah sebaik-baik umat.[7] Dalam pemahaman ini khaira ummah sering dihubungkan dengan sabda Nabi SAW:

عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (رواه البخارى وغيره)[8]

Artinya  : Dari sahabat Abdullah, Rasulullah SAW bersabda,”Sebaik-baik masa ialah masaku, kemudian (masa) orang-orang berikutnya, kemudian orang-orang berikutnya.” (HR Bukhari).

Dengan demikian, khaira ummah adalah kondisi ideal umat Islam, yang akan ditegakkan dengan dakwah, yakni umat yang menegakkan al-amr bil ma’ruf dan al-nahy ‘ani al-munkar, dan beriman kepada Allah.

Al-Maraghi menjelaskan tentang syarat-syarat pelaku dakwah yang akan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu:

  1. Hendaknya memahami Al-Quran, al-Sunnah, Sirah Nabawiyah dan Sahabat (al-Khulafa al-Rasyidun).
  2. Hendaknya pandai membaca situasi orang-orang yang akan dan sedang menerima dakwahnya, meliputi minat, kemampuan, sosio-kultural, tabi’at dan akhlaknya. Memahami bahasa umat yang dituju oleh dakwahnya, termasuk kebudayaannya.
  3. Mengetahui agama-agama, aliran-aliran yang ada di masyarakat, agar juru dakwah dapat mengetahui dan menjelaskan kelemahan dan kekeliruan agama-agama dan aliran-aliran yang ada, dan menunjukkan keunggulan Dinul Islam.[9]

(3) Tafsir Qs. Yusuf ayat 108

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِين

Artinya  : Katakanlah “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs. Yusuf : 108).

Ayat ini kritik kepada kebanyakan manusia yang tidak mau memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan di bumi, yang menunjukkan Allah adalah Esa dan hanya kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar beliau menyampaikan bahwa jalan dan manhaj yang ditempuhnya adalah dakwah kepada agama Allah, bertauhid dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Dakwah itu juga digerakkan oleh para pengikut Rasulullah berdasarkan hujjah yang jelas dan nyata.

Sabil dalam ayat di atas adalah sabīlullāh, yakni thariq al-haqq. Majelis Tarjih mendefinisikan sabilullah adalah jalan yang mengantarkan kepada apa-apa yang diridhai oleh Allah, yaitu menjalankan perintah, menjauhi larangan dan segala perbuatan yang diijinkan oleh Allah dan Rasulullah.[10]

Basirah sebagaimana al-Maraghi bermakna al-hujjah wa burhan (argumen dan bukti-bukti). Ini menunjukkan bahwa Islam sebagai agama Allah yang hanif tidak sekedar menuntut agar manusia menerima begitu saja ajaran-ajaran dan doktrin-doktrinnya, tetapi ia adalah agama yang disertai hujjah dan burhan.[11] Sementara itu, Muhammad bin Salih a-Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud bashirah ada tiga hal, yaitu (a)’ilmu al-Quran wa al-Sunnah, (2) al-ilm bi al-ahkam al-syar’iyyah, yakni pengetahuan para da’i tentang ilmu al-ahkam al-syar’iyyah, dan (c) al-’ilm bi kaifiyah al-da’wah wa ahwal al-mad’uwin, ilmu tentang metode dakwah dan kondisi mad’u.[12] Di sini ada paralelisasi dengan konsep al-khair yang terdapat dalam Ali Imran 104, yaitu bahwa gerakan dakwah Islam harus menjadi gerakan dan amal jama’i, yang berlandaskan kepada basirah dan al-khair untuk menuju khaira ummah.

(4) Tafsir Qs. Al-Nahl ayat 125

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya  : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Nahl : 125).

Dalam ayat-ayat ini terdapat konsep-konsep yang berkaitan dengan metode dan strategi dakwah Islam, yaitu konsep al-hikmah, al-maw’izhah al-hasanah dan al-jidal.

Nasiruddin al-Baidhawi memaknai al-hikmah dengan perkataan yang kuat disertai dengan dalil yang menjelaskan kebenaran, dan menghilangkan syubuhat. Sedangkan al-maw’izhah al-hasanah adalah ungkapan-ungkapan jelas yang dapat memberi kepuasan kepada orang awam. Dan al-jidal al-ahsan sebagai percakapan dan perdebatan yang dapat mematahkan argumen dan memuaskan penentang.[13]

Pemaknaan al-Baidhawi di atas sejalan dengan penjelasan Syeikh Shālih al-Uthaimin dalam kitab Syarh Thalāthatul UÎūl, yang mengatakan bahwa tingkatan dakwah Islam berkaitan dengan metode dan pemahaman tentang kondisi mad’u ada tiga atau empat, sebagaimana ditunjukkan oleh QS. Al-Nahl: 125 dan Al-Ankabut: 46,[14] yaitu: (1) dakwah kepada orang-orang yang memiliki ilmu dan siap menerima kebenaran, maka kepada mereka dakwah dilakukan dengan al-hikmah, yakni dalil-dalil pasti yang dapat menjelaskan kebenaran dan menghindari kesalahpahaman. (2) dakwah kepada kaum awam yang kurang ilmunya tetapi siap menerima kebenaran, kepadanya diberikan al-maw’izah al-hasanah, (3) dakwah kepada kaum yang suka berdebat dan menentang atau menolak kebenaran dengan al-jidal al-ahsan. Dan yang keempat (4) yakni dakwah kepada orang-orang yang menolak dan memusuhi kebenaran Islam dan menzhalimi umatnya, maka dakwah kepada mereka dengan memerangi mereka.

Berkaitan dengan metode dan strategi dakwah ini, Yunahar Ilyas mengemukakan ada lima tahapan (marhalah) dakwah: (1) marhalah tabligh, penyampaian pesan, (2) marhalah ta’lim, pengajaran, (3) marhalah takwin, pembinaan, (4) marhalah tanzhim, pengorganisasian dan (5) marhalah tanfidz, pelaksanaan.[15]

Dalam tahapan-tahapan di atas, tabligh merupakan tahap awal dari kegiatan dakwah secara keseluruhan. Untuk dapat berhasil mengajak mad’u memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupannya, masih diperlukan tahap-tahap lanjutan setelah tabligh. Oleh sebab itu, dakwah tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, tetapi harus ada sinergi, bersama-sama dan bekerjasama satu sama lain dalam suatu manajemen yang kompak.

Penentuan media yang digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang ada serta kebutuhan dan kemampuan penerimaan sasaran dakwah. Apakah akan menggunakan media tradisional dan manusia atau akan menggunakan media modern, seperti teknologi informasi, elektronik ataupun audiovisual. Sedangkan metode dan pendekatan yang digunakan, selain mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi, tidak boleh dilupakan adalah bahwa semua metode dakwah yang digunakan haruslah sejalan dan tidak bertentangan dengan nas-nas Al-Quran dan al-Sunnah.[16]

Manhaj dakwah inipun bersifat terbuka dan toleran serta tidak mengklaim sebagai satu-satunya manhaj yang benar
Manhaj dakwah inipun bersifat terbuka dan toleran serta tidak mengklaim sebagai satu-satunya manhaj yang benar
Catatan Kaki :
  • [1] Ahmad Mustafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi al-Mujalad al-Thani, Juzu IV, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), hlm. 15
  • [2] Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbāh Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran. (Jakarta: Lentera Hati, 2006)  Cet. VII, Volume 2, hlm. 173-174
  • [3] Al-Raghib al-Asfahani. Mufradāt AlfāÐ al-Qurān. (Beirut: Dar al-Syamiyah dan Dimasyq: Dar al-Qalam, 1997), hlm. 86
  • [4] Al-Raghib al-Asfahani. Mufradāt AlfāÐ al-Qurān., hlm. 300
  • [5] Tanwir al-Miqbas, CD Rom Program Maktabah Syamilah, Juz 1. hlm. 67
  • [6] ibid. hlm. 561
  • [7] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah. Volume 2, hlm. 184-186
  • [8] Sahih al-Bukhari, Juz 9, hlm. 133, Juz  11, hlm 482, lihat juga Sahih Muslim, 12, hlm, 358 dalam CD Rom Program Maktabah Syamilah.
  • [9] Ahmad Mustafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi al-Mujalad al-Thani, Juzu IV, hlm. 22-23
  • [10] PP Muhammadiyah. Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah., hlm. 277
  • [11] Ahmad Mustafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi al-Mujalad al-Khamis, Juzu XIII, hlm. 52
  • [12] Muhammad bin Salih a-Uthaimin, Syarh Thalathah al-Usul. (Tanpa data penerbitan), hlm. 22
  • [13] Nasiruddin Abu al-Khair Abdullah bin Umar bin Muhammad al-Baidhawi. Anwa al-Tanzil wa Asrar al-Tawil. CD Rom Maktabah  Syamilah, Juz 3 hlm. 393
  • [14] Muhammad bin Salih a-Utsaimin, Syarh Thalathah al-Usul., hlm. 22
  • [15] Yunahar Ilyas. Cakrawala Al-Quran. (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003), hlm. 186
  • [16] Ibid.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Manhaj Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait