Memahami Manhaj Da’wah Muhammadiyah (1)

(A) Pengertian Manhaj

Secara leksikal, manhaj (منهج) atau minhaj (منهاج) berarti “jalan yang jelas” (الطريق الواضح). Berasal dari kata nahaja al-thariqu (بمعنى وضح واستبان، وصار نهجا واضحا بينا نهج الطريق): “jalan tersebut jelas dan terang.” Dalam surat Al-Ma’idah ayat 48 terbaca sebagai berikut:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Al-Imam Al-Alusi dan Ibnu ‘Asyur menjelaskan “minhaj” sebagai jalan yang luas dan terang dalam agama.” Sementara menurut Ibnu Katsir dan Rasyid Ridla, tuntunan atau jalan yang mempermudah manusia menuju tujuannya tanpa tergelincir dan menyimpang.

Dengan penjelasan arti kata tersebut, manhaj dakwah dan tabligh Muhammadiyah dapat diartikan sebagai, “sejumlah rumusan yang menjadi pijakan, prinsip dasar (mabda’/munthalaq), tujuan (ghayah), metode (thariqah), model pendekatan (uslub) dalam menjalankan aktifitas tabligh dan dakwah Persyarikatan Muhammadiyah yang bersifat komprehensif dan integral mencakup seluruh persoalan dakwah; keilmuan, praktek, pemikiran, perilaku mubaligh/da’i termasuk seluruh organ amal usaha dan warga Persyarikatan dalam mewujudkan cita-cita suci Muhammadiyah: masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.”

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya : “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Yusuf: 108).

Manhaj Dakwah dan Tabligh Muhammadiyah bersumber pada Al-Quran al-Karim dan Sunnah Maqbulah, sebagaimana manhaj Muhammadiyah dalam ber-istidlal. Manhaj dakwah inipun bersifat terbuka dan toleran serta tidak mengklaim sebagai satu-satunya manhaj yang benar. Oleh karenanya manhaj ini selalu berpeluang untuk terus diperbaiki dan disempurnakan. Terlebih bahwa persoalan-persoalan dakwah dan tabligh akan semakin kompleks seiring dengan tantangan-tantangan multidimensional dan kemajuan hidup manusia di masa sekarang dan mendatang.

(B) Konsep Da’wah dan Tabligh Muhammadiyah

1. Pengertian dan Esensi Dakwah

Secara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab “دعوة” dari kata دعا-يدعوyang berarti “panggilan”, “ajakan” atau “seruan”. Ism Fa’il-nya ialah da’i /da’iyah (mufrad) dan du’at (jama’).

Ibnu Manzhur dalam kamus Lisan Al-‘Arab mengatakan: du’at adalah orang-orang yang mangajak manusia untuk bersumpah-setia (bai’at) pada petunjuk atau kesesatan. Bentuk tunggalnya adalah da’i atau da’iyah, yang artinya orang yang mengajak kepada agama atau bid’ah. Dalam kata da’iyah, huruf “ha” berfungsi sebagai mubalaghah (superlatif). Nabi SAW juga disebut sebagai da’i Allah SWT. Demikian pula seorang mu’adzin disebut sebagai da’i, dan Nabi SAW adalah da’i umat atau yang mengajak mereka kepada tauhidullah dan taat kepada-Nya.[1]

Atas dasar itulah kemudian, istilah da’i dan da’iyah bermakna orang yang mengajak kepada petunjuk atau kesesatan. Makna semacam ini dipertegas oleh hadis Nabi SAW berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya : Dari Sahabat Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, ia berhak mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim).

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyah menjelaskan bahwa setiap da’i memiliki ciri khasnya sendiri, tergantung pada apa yang didakwahkannya. Ketika kata tersebut disandarkan kepada lafdz al-jalalah (الله) sehingga menjadi “داعي الله” maka ia mengandung spesifikasi makna dan aksentuasi tersendiri; yakni para da’i yang khusus menyeru kepada agama Allah SWT, beribadah kepadanya, ma’rifat serta mahabbah kepadaNya. Mereka itu adalah “khawwash khalqillah” (makhluk Allah SWT yang istimewa), termulia dan tertinggi kedudukan dan nilainya di sisi Allah SWT.[2]

Menurut Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz, da’i ilallah adalah orang yang berusaha untuk mengajak manusia, dengan perkataan dan perbuatannya, kepada Islam, menerapkan manhajnya, memeluk akidahnya serta melaksanakan syariatnya.[3]

2. Beberapa nash al Qur’an dan Hadits terkait perintah da’wah

Beberapa nash (teks) berikut ini menunjuk kepada makna (da’wah); menyeru dan menganjurkan manusia untuk iltizam dan menggembirakan mereka dengan Islam serta mengarahkan mereka kepadanya dengan berbagai media dan metode yang sesuai dengan prinsip syariah.

a. Qs. Al-Ahzab ayat 45-46 :

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

Artinya : “Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.”

b. Qs. Al-Ahqaf ayat 31 :

يَاقَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَءَامِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Artinya : “Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.”

c. Qs. Yunus ayat 25

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 Artinya : “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”

d. Qs. An-Nahl ayat 125 :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

e. Qs. Al-Hajj ayat 67 :

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ

Artinya : “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.”

f. Hadis Rasulullah SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya : Dari Sahabat Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, ia berhak mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim).

Dengan penjelasan etimologis ini, Thayyib Barghuts, dalam karyanya “Manhaj Al-Nabiy fi Himayat al-Dakwah” mendefinisikan “dakwah” sebagai berikut:  “Sebuah kerja keras yang sistematis dan terstruktur bertujuan untuk mengenalkan hakekat Islam kepada semua manusia; melakukan sebuah perubahan yang mendasar dan seimbang dalam kehidupan mereka dengan jalan menunaikan segala kewajiban kekhalifahan untuk mencari ridla Allah dan menggapai kemenangan yang dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang shalih dalam kehidupan akherat.”[4]

Syekh Ali Mahfudz dalam kitab Hidāyat al-Mursyidīn mendefinisikan al-Da’wah al-Islamiyyah sebagai berikut:

حث الناس على الخير والهدى والارشادات والامر بالمعروف والنهى عن المنكر ليفوزوا بسعادة العاجل والآجل.

Artinya : “Upaya membawa (mendorong) manusia kepada kebajikan, petunjuk dan bimbingan-bimbingan (Ilahiyah), beramar makruf nahi munkar, untuk menggapai keberhasilan hidup dunia dan akhirat”.[5]

Prof. DR. H. Yunahar Ilyas,Lc.,M.Ag menjelaskan sebagai berikut:

الدعوة تحويل الجهالة إلى المعرفة ثم إلى الفكرة ثم إلى الحركة ثم إلى الغاية (مرضاة الله)

“Dakwah ialah transformasi kebodohan kepada pengetahuan. Dari pengetahuan kepada ide. Dari ide menuju gerakan, kemudian kepada tujuan (ghayah) yaitu keridlaan Allah SWT. atau meninggikan kalimat Alllah SWT.”[6]

Menurut Prof. H. M. Amien Rais, M.A : “Dakwah pada pokoknya berarti ajakan atau panggilan yang diarahkan pada masyarakat luas untuk menerima kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dakwah merupakan usaha untuk menciptakan situasi yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam di semua bidang kehidupan. Dipandang dari kacamata dakwah, kehidupan manusia merupakan suatu kebulatan. Sekalipun kehidupan dapat dibedakan menjadi beberapa segi, tetapi dalam kenyataan kehidupan itu tidak dapat dipisah-pisahkan.”[7]

Dalam perspektif tafsir maudlu’iy (tematik), kata “da’wah” ditemukan sebanyak 46 kali; 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak kepada neraka atau kejahatan. Berdasarkan makna yang terbaca dalam Al-Quran, secara terminologis, dapat didefinisikan sebagai “kegiatan mengajak, mendorong, dan memotivasi orang lain berdasarkan bashirah untuk meniti jalan Allah SWT dan istiqamah di jalan-Nya serta berjuang bersama meninggikan agama Allah SWT.”

Kata “mengajak”, “mendorong” dan “memotivasi” merupakan kegiatan dakwah yang berada dalam lingkup tabligh. Kata “bashirah” untuk menunjukkan bahwa dakwah harus dengan ilmu dan perencanaan yang baik. Kalimat “meniti jalan Allah SWT” untuk menunjukkan tujuan dakwah yaitu mardlatillah. Kalimat “istiqamah di jalanNya” untuk menunjukkan dakwah yang berkesinambungan. Sedangkan kalimat “berjuang bersama meninggikan agama Allah SWT” untuk menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya untuk menciptakan keshalehan pribadi, tetapi juga harus menciptakan keshalehan sosial.[8]

Manhaj dakwah inipun bersifat terbuka dan toleran serta tidak mengklaim sebagai satu-satunya manhaj yang benar
Manhaj dakwah inipun bersifat terbuka dan toleran serta tidak mengklaim sebagai satu-satunya manhaj yang benar
Catatan Kaki
  • [1] Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab XIV, hlm. 259
  • [2] Ibnu Qayyim Al-Jawziyah, Miftah Dar Al-Sa’adah.
  • [3] Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah : Studi atas Berbagai Prinsip dan Kaidah yang Harus Dijadikan  Acuan Dalam Dakwah Islamiyah, Terj. Abdus Salam Masykur (Solo: Intermedia, 2005), hlm. 27
  • [4] Thayyib Barghuts, Manhaj Al-Nabiy fi Himayat al-Dakwah wa Al-Muhafadhah ‘ala Munjazatiha Khilal al-Fatrah al-Makkiyah (Virginia USA: IIIT, 1995), hlm. 64-67
  • [5] Ali Mahfudz, Hidayatul Murshidin (Beirut: Dar al-Qalam, t.th), hlm. 12
  • [6] Disampaikan oleh Prof. DR. Yunahar Ilyas pada acara rakernas MTDK di Semarang, 20 Februari 2009.
  • [7] HM Amien Rais, “Dakwah Menghadapi Era Informasi” dalam Kata Pengantar pada “Dakwah Islam Kontemporer : Tantangan dan Harapan (Yogyakarta : MTDK-PPM, 2004), hlm. V.
  • [8] Dr. Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 3-4

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Manhaj Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait