Memahami Makna Al Fatihah Sebagai Obat [Madarijus Salikin, Juz I, Hal. 52-74]

Gambar Memahami Makna Al Fatihah Sebagai Obat [Madarijus Salikin, Juz I, Hal. 52-74]
Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kecamatan Keraton periode 2015 - 2020, Pengisi tetap di kajian Baitul Hikmah PDM Kota Yogyakarta untuk kajian Kitab Madarijus Saalikhin

Beberapa waktu yang lalu, kita pernah mengkaji makna QS asy-Syuarâ/26 : 80,

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan (diri)-ku”

terkait dengan QS al-Isrâ/17 : 82,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Qs. Ash Shoff :2-3).

yang bisa kita simpulkan bahwa Allah adalah asy-Syâfî (penyembuh) dan al-Quran adalah ad-Dawâ’ (obat) untuk setiap penyakit yang kita deriat. Dan kali ini ini kita kaji makna QS al-Fâtihah sebagai obat.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa kandungan QS al-Fâtihah bisa memberikan efek kesembuhan bagi hati yang sakit.

Beliau berpendapat bahwa sumber penyakit hati dan deritanya ada dua macam: “Ilmu yang rusak dan tujuan yang rusak”. Dari dua sumber ini muncul dua penyakit lain: “Kesesatan dan Kemarahan”.

Kesesatan merupakan akibat dari ilmu yang rusak, sedangkan kemarahan merupakan akibat dari tujuan yang rusak. Dua jenis penyakit ini merupakan inti dari semua jenis penyakit hati. Hidayah ke jalan yang lurus menjamin kesembuhan dari penyakit kesesatan. Karena itu memohon hidayah ini merupakan doa yang paling wajib bagi setiap hamba, yang juga diwajibkan atas dirinya setiap malam dan siang, dalam setiap shalat dan saat terdesak keperluan.

Sedangkan penegasan iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în secara ilmu dan ma’rifat, amal dan kondisional, menjamin kesembuhan dari penyakit hati dan tujuan yang rusak. Sebab tujuan yang rusak ini berkaitan dengan sasaran dan sarana. Siapa yang mencari tujuan yang pasti akan terputus dan fana, menggunakan berbagai macam sarana untuk dapat meraihnya, maka hal itu justru akan menjadi beban baginya dan tujuannya jelas salah.

Inilah keadaan setiap orang yang tujuannya untuk mendapatkan hal-hal selain Allah dari kalangan orang-orang musyrik, orang-orang yang hanya ingin memuaskan nafsunya, para tiranyang menopang kekuasaannya dengan segala cara, tak peduli benar maupun batil. Jika ada kebenaran yang menghambat jalan kekuasaannya, maka mereka mendepaknya. Jika tidak mampu mendepaknya, mereka akan menepis kebenaran itu, layaknya pemelihara sapi yang menyingkirkan sampah di kandang. Jika mereka tidak bisa melakukannya, mereka menghentikan langkah di jalan itu lalu mencari jalan lain. Dengan cara apa pun mereka siap menolaknya. Jika ada kebenaran yang mendukung kekuasaan, mereka mendukungnya, bukan karena itu merupakan kebenaran, tetapi karena kebenaran itu yang kebetulan sejalan dengan tujuan dan nafsunya.

Karena tujuan dan sarana yang dipergunakan rusak, maka mereka adalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi, jika tujuan yang mereka raih, ‘meleset’. Merekalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi di dunia, yaitu jika kebenaran dikatakan benar dan kebatilan dikatakan batil. Yang demikian ini seringkali terjadi di dunia. Penyesalan ini akan semakin nyata tatkala mereka meninggal dunia dan menghadap Allah serta berada di alam Barzakh.

Begitu pula orang yang mencari tujuan yang tinggi dan sasaran yang mulia, namun tidak menggunakan sarana yang mendukungnya untuk meraih tujuan itu, dia hanya mendugaduga sarana yang digunakannya itu akan mendukungnya. Keadaan orang ini tak jauh berbeda dengan orang yang pertama. Dia tidak akan mendapatkan kesembuhan dari penyakit ini kecuali dengan obat iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în.

Obat ini memunyai empat komposisi: Ibadah kepada Allah, perintah dan larangan-Nya, memohon pertolongan dengan beribadah kepada-Nya, tidak dengan hawa nafsu, tidak dengan pendapat manusia dan pemikirannya, tidak dengan diri manusia dan kekuatannya. Inilah unsur-unsur yang terkandung di dalam obat iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în. Jika unsur-unsur ini diramu oleh seorang dokter yang berpengalaman, tentu akan menjadi obat yang sangat mujarab.

Hati itu mudah terjangkiti dua macam penyakit yang kronis. Jika seseorang tidak mengobatinya, tentu dia akan binasa, yaitu riyâ’’ dan takabbur.

Obat riyâ’ adalah iyyâka na’budu, sedangkan obat takabbur adalah iyyâka nasta’în. Seringkali kami mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Iyyâka na’budu menolak penyakit riyâ’, dan iyyâka nasta’în menolak penyakit takabbur.”

Jika seseorang diberi kesembuhan dari penyakit riyâ’ dengan iyyâka na’budu, diberi kesembuhan dari penyakit takabbur dan ‘ujub dengan iyyâka nasta ‘in, diberi kesembuhan dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan ihdinash-shirâthal-mustaqîm, berarti dia telah diberi kesembuhan dari segala macam penyakit. Namun di antara orang-orang yang mendapat kenikmatan juga ada yang mendapat murka. Mereka adalah orang-orang yang tujuannya rusak, yang sebenarnya mengetahui kebenaran namun menyimpanginya. Ada pula di antara mereka yang adh-dhâllîn (sesat), yaitu mereka yang memiliki ilmu yang rusak dan tidak mengetahui kebenaran.

Tentang QS al-Fâtihah yang mengandung obat bagi penyakit badan, maka akan kami jelaskan seperti yang telah dijelaskan as-Sunnah dan dikuatkan ilmu kedokteran serta berdasarkan pengalaman.

Di dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan dari hadits Abul-Mutawakkil an-Najiy, dari Abu Sa’id al-Khudriy,

أَنَّ نَاسًا ، مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانُوا فِي سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ فَعَرَضَ لِإِنْسَانٍ مِنْهُمْ فِي عَقْلِهِ أَوْ لُدِغَ فَقَالُوا لأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ : نَعَمْ أَنَا ، فَأَتَى صَاحِبَهُمْ فَرَقَى بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ وَأُعْطِيَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهُ ، حَتَّى أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا رَقَيْتُهُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَضَحِكَ وَقَالَ : مَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ : خُذُوا الْغَنَمَ وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ

Beberapa orang sahabat Nabi (Muhammad) Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengadakan safar (perjalanan), ketika mereka melewati salah satu perkampungan Arab, mereka hendak bertamu namun mereka enggan menerimanya. Lalu ada di antara penduduk itu terkena sengatan (hewan), dan akhirnya mereka bertanya kepada sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah ada di antara kalian yang bisa meruqyah?” Maka salah seorang sahabat Nabi menjawab; “Ya”.Kemudian ia menemui orang yang terkena sengatan dan meruqyahnya dengan membacakan surat al-Fatihah, dan orang itu pun sembuh. Maka ia pun diberi beberapa ekor kambing, namun ia enggan menerimanya hingga ia bertemu dengan Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, ketika sampai, ia pun menceritakan kejadian tersebut kepada beliau, dan berkata; “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak meruqyahnya kecuali hanya dengan membacakan surat al Fatihah, ” Abu Sa’id al-Khudriy berkata: Beliau lalu tertawa, dan bersabda: “Apa engkau tahu bahwa surat al-Fatihah adalah ruqyah?” Abu Sa’id al-Khudriy berkata; “Kemudian beliau bersabda: “Ambillah kambing (pemberian) itu dan berikan untukku satu bagian bersama kalian.” [Hadits Riwayat an-Nasâiy, As-Sunan al-Kubrâ, juz VII, hal. 71, hadits no. 7491, dan Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz III, hal. 2, hadits no. 10998, dari Abu Sa’id al-Khudriy]

Hadits ini menjelaskan khasiat QS al-Fâtihah yang bisa menyembuhkan penyakit yang terjadi karena sengatan hewan, sehingga ia berfungsi sebagaimana obat, atau bahkan lebih mujarab daripada obat itu sendiri. Padahal orang yang disembuhkan itu tidak terlalu tepat untuk disembuhkan dengan cara tersebut, entah karena penduduk kampung itu bukan muslim (orang islam) atau karena mereka orang-orang yang kikir. Lalu bagaimana jika yang disembuhkan tidak seperti mereka?

Sedangkan dari teori medis, dapat dibuktikan sebagai berikut, bahwa sengatan itu berasal dari hewan yang memunyai racun, yang berarti memunyai jiwa yang kotor dan terbentuk karena amarah, lalu menyalurkan unsur racun yang panas lewat sengatan itu. Jika jiwa yang kotor ini terbentuk bersamaan dengan terbentuknya kemarahan, maka ia akan merasa senang jika dapat menyalurkan racun ke tempat yang layak menerimanya, sebagaimana orang jahat yang merasa senang jika dapat menyalurkan kejahatannya terhadap orang yang layak menerimanya. Bahkan dia merasa tersiksa jika tidak bisa menyalurkan kejahatannya itu kepada seseorang.

Prinsip penyembuhan ialah dengan menggunakan kebalikannya dan menjaga dengan sesuatu yang serupa. Kesehatan dijaga dengan sesuatu yang serupa dan penyakit disembuhkan dengan kebalikannya. Ini merupakan hukum sebab-akibat yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Namun hal ini tidak akan berhasil kecuali dengan kekuatan jiwa pelakunya dan reaksi penerimanya. Jika jiwa orang yang disengat tidak layak menerima ruqyah itu dan jiwa yang membacakan ruqyah tidak mampu memberikan pengaruh apa-apa, maka kesembuhan tidak akan berhasil.

Jadi di sini ada tiga unsur: (1) Kesesuaian obat dengan penyakit, (2) kesungguhan orang yang mengobati dan (3) orang yang diobati bisa menerimanya. Jika tidak ada kelaikan pada salah satu unsur ini, maka kesembuhan tidak akan terjadi.

Siapa yang bisa memahami hal ini, tentu dia bisa memahami rahasia ruqyah tersebut, bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dan bisa mencocokkan obat dengan penyakit yang hendak diobati, seperti penggunaan pedang untuk memotong barang yang memang bisa dipotong dengan pedang itu.

Sedangkan dari kesaksian pengalaman, maka cukup banyak orang yang mengalaminya. Saya sendiri pernah memunyai pengalaman dalam penggunaan al-Fâtihah sebagai ruqyah ini dengan hasil yang benar-benar menakjubkan, terutama pada saat-saat saya menetap di Makkah. Suatu saat saya sakit yang benar-benar amat menyiksa, hingga hampir-hampir saya tidak bisa menggerakkan badan karenanya. Padahal saat itu saya harus mengerjakan thawaf dan lain-lainnya. Maka saya segera membaca al-Fatihah, lalu mengusapkan telapak tangan ke bagian-bagian tubuh yang sakit. Seakan-akan dari bagian yang sakit itu ada kerikil yang jatuh. Pengalaman seperti ini tidak terjadi hanya sekali saja, tetapi beberapa kali. Pernah juga saya mengambil air Zamzam lalu membacakan al-Fâtihah pada air itu dan saya meminumnya. Hasilnya, saya merasa mendapat kekuatan baru yang tidak pernah kurasakan yang seperti itu. Tentu saja semua ini harus didasari kekuatan iman dan keyakinan yang benar.

Inilah penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyah di seputar kegunaan QS al-Fâtihah sebagai obat.

Wallâhu allamu bish-shawâb.

Obat

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...