Meluruskan Sudut Pandang Sejarah Majapahit

Gambar Meluruskan Sudut Pandang Sejarah Majapahit
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Dalam beberapa diskusi tentang Majapahit saya menemukan beberapa argumentasi yang membeberkan adanya proses Indianisasi nuswantara dengan memaparkan fakta-fakta masyarakat Hindu di Bali. Argumentasi tersebut dibuat untuk memperkokoh periodesasi yang dibuat oleh ilmuwan-ilmuwan kolonial, bahwa nuswantara pernah melalui sebuah periode yang disebut Hindu-Buddha. Argumentasi ini juga sering dipakai dalam pemikiran agama para ulama di Nuswantara, tidak sedikit di antara mereka yang mengkritik atas suatu praktik masyarakat tradisional karena dianggap bagian dari tasabuh mencontoh perilaku agama Hindu.

Dalam tulisan sebelumnya saya telah mengungkapkan bahwa sebelum awal abad ke-19 kemungkinan adanya “pengaruh india” tidak pernah terpikir oleh pengarang eropa sebelum awal abad ke19. Raffles mengangkat Indianisasi menjadi topik yang digemari, mungkin untuk mengaitkan Jawa dengan kemaharajaan “Hindia” Inggris. Dalam literatur kolonial kasus penemuan “agama Hindu” pada masyarakat Jawa sebenarnya merupakan temuan baru. Baru di tahun 1787 agama Hindhu disebut dalam tulisan-tulisan para orientalis, dan Budha baru disebut di awal abad 18. Sebelumnya para orientalis awal Eropa seperti Stavorius (1760) menyebut agama Jawa dengan istilah “Javanese Heathen”, atau Dirk van Hogendrof menyebut “old heathen religion”, yakni semacam agama pagan.

Kehadiran “agama Hindu atau budaya hasil penetrasi India” belum begitu terasa di Bali sampai tahun 1952. Kenyataan keagamaan di Bali sampai tahun 1952, sebagaimana disebutkan Ramstendt (2004), ketika Departemen Agama mulai menerapkan kebijakan K.H. Wahid Hasyim selaku Menteri Agama, mayoritas penduduk Bali tidak banyak yang mengenal agama Hindu. Berdasarkan assesment dari utusan kementerian yang telah dikirim ke Bali sejak tahun 1950 maka kementerian agama pada waktu itu sampai pada kesimpulan bahwa “di bawah polesan tipis konsep Hindu dan Buddha” didapatkan fakta kehidupan keagamaan pada tahun 1952 di Bali sebagian besar terdiri dari penganut animisme lokal dan praktik politeisme yang heterogen.

Dalam pelacakan sejarah kalau “polesan tipis konsep Hindu dan Buddha” di atas dipahami sebagai hasil penetrasi kebudayaan India di nuswantara, maka perlu ditemukan data sejarahnya yang bisa membenarkannya. Nyatanya dari tiga teori umum penetrasi India yang banyak dipakai semuanya, menurut Munoz (2013), tidak didasarkan atau didukung dengan sumber-sumber historis. Catatan sejarah kita yang pasti tentang penetrasi kebudayaan India di Nuswantara, dan yang menandai “kehadiran agama Hindu India”, hanya akan sampai pada kehadiran pemenang Nobel dan pendidik dari India, Rabindranath Tagore pada tahun 1927 yang diundang pemerintah kolonial Belanda untuk mengunjungi masyakarat Hindu di pulau Bali. Berdasar surat-surat yang ditulisnya, kita dapat informasi bahwa dalam kunjungannya itu Rabindranath Tagore berjanji akan mengirim ahli Sanskrit ke Bali. Janji ini nampaknya dipenuhi Tagore, pada tahun 1928, seorang ahli Sanskrit dan pakar Indologi terbaik, Prof Sylvain Levi, yang sebelumnya menjadi pengajar tamu di Santiniketan, datang ke Bali dan melakukan riset yang lebih mendalam terhadap Surya Sewana dan berbagai teks Sansekerta yang ada di lontar-lontar Bali dan melakukan interview mendalam ke para padanda (pandita) di Bali.

Namun jika kedatangan Rabrindath Tagore dan diikuti dengan kedatangan Prof Sylvain Levi merupakan bagian penetrasi kebudayaan India, itu hanya sampai pada sebagaimana disebutkan Ramstendt: under a thin varnish of Hindu and Buddhist concepts, Balinese religious life predominantly consisted of heterogeneous local ‘animist’ and polytheistic practices. Lebih jauh lagi, sebagaimana diungkapkan Ramstendt, orang Bali bahkan tidak dapat menyetujui nama umum untuk tradisi agama mereka yang beragam, apalagi pada kitab suci otoritatif atau seorang nabi untuk melegitimasikannya. Karenanya, oleh Departemen Agama waktu itu, orang Bali diklasifikasikan sebagai penganut aliran kepercayaan dan disebut sebagai ‘orang-orang masih tanpa agama’.

Lalu bagaimana proses yang terjadi di Bali dari klasifikasi sebagai ‘orang-orang masih tanpa agama’ itu lalu berubah menjadi mayoritas beragama Hindu? Martin Ramstedt menuliskan sebagaimana berikut : Hence, Balinese were classified as adherents of aliran kepercayaan and therefore as ‘people still without religion’. At the same time, they were declared as targets for Muslim and Christian proselytizing. Deeply shocked and frightened by this prospect, the local government of Bali in 1953 responded by unilaterally proclaiming the island an ‘autonomous religious area’ (dinas agama otonom). Forced by circumstances and resolved to get their religious tradition recognized as Agama Hindu Bali, the leaders of the instantaneously proliferating Balinese religious reform organizations agreed to turn to India to eventually arrive at a common redefinition of their religious tenets and practices along the lines of the criteria put forward by the Indonesian Ministry of Religion. Taking advantage of stipends of the Indian government offered to Indonesian students in general, a few young Balinese intellectuals were subsequently sent to India to study at Shantiniketan Vishva Bharaty University, founded by Rabindranath Tagore, the Banaras Hindu University, the foundation of which in 1910 had been inspired by the then president of the Theosophical Society Annie Besant, and the International Academy of Indian Culture, established by the widely known Indian intellectual Raghu Vira. Balinese–Indian relations were, however, far from being a one-way affair. Apart from short-term visits of various Indian scholars, there was especially one Indian intellectual, Narendra Dev Pandit Shastri, who was staying on, finally taking a Balinese wife and settling permanently in Bali.

Kenyataan yang disampaikan Ramstedt di atas memberikan suatu informasi bahwa penetrasi India yang kuat di Nuswantara (Bali), atau kehadiran agama Hindu dari India di Nuswantara, yang benar-benar nyata dan bisa dilacak datanya baru terjadi setelah tahun 1950-an. Hal-hal di atas perlu diungkapkan untuk menegaskan kesalahan ilmiah yang menjadikan kebudayaan India sebagai cara pandang untuk membaca kebudayaan Nuswantara pada umumnya, termasuk sejarah Majapahit. Juga ini sekaligus kritik pada kesalahan umum fiqih tasabuh yang memandang berbagai budaya tradisional lahir dari pengaruh agama Hindu.

Dalam periodesasi kolonial berdasar tafsir kebudayaan India, peradaban Nuswantara itu menjadi sangat muda. Kerajaan paling awal di Nuswantara disebutkan berdasar prasasti adalah kerajaan Kutai dengan Kudungga sebagai rajanya yang ada pada abad ke-5 Masehi. Padahal dalam cerita tutur dan kemudian direkam dalam berbagai versi penulisan Jangka Jayabaya, nenek moyang orang Jawa meyakini bahwa mula pertama yang datang ke Nuswantara adalah para utusan Gusti Kanjeng Nabi Ibrahim jauh sebelum masehi dan mereka mengembangkan peradaban Nuswantara selama berabad-abad yang hal ini bisa dibenarkan dalam berbagai prasasti masa Kutai dan Tarumanegara.

Prasasti-prasasti Kutai dan Tarumanegara jelas menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan Abrahamik (warisan Nabi Ibrahim), bukan kebudayaan (Hindu) India. Dalam prasasti Kutai disebutkan Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi. Demikian juga dalam prasasti Tugu pada masa Tarumanegara disebutkan Raja Purnawarman kenduri (selamatan) dengan menyembelih 1000 sapi. Penyembelihan sapi itu mengingatkan kita pada tradisi Qurban yang diajarkan Nabi Ibrahim dan dilaksanakan umat Islam hingga sekarang pada hari raya Idul Qurban. Tradisi menyembelih sapi pasti bukan tradisi Hindu (India). Bagi Agama Hindu (India) sapi merupakan hewan suci dan keramat sehingga penyembelihan sapi dilarang. Penyembelihan sapi adalah tradisi agama Abrahamik.

Lebih jauh lagi jika kita melihat penyematan tapak kaki pada prasasti Kerajaan Tarumanegara maka itu lebih menegaskan keberadaan kebudayaan Abrahamik ini. Tradisi menyematkan tapak kaki pada batu atau prasasti adalah tradisi simbol agama Abrahamik seperti terlihat dalam Maqam Ibrahim. Umat Islam yang berhaji selalu berjumpa dengan simbol telapak kaki nabi Ibrahim ini di sekitar Ka’bah di Mekkah.

Dengan semua fakta tersebut maka menjadi janggal mengartikan kata Wishno / Vishno dalam prasasti Ciaruteun sebagai dewa Wisnu. Mengartikan “Wishnoriwa padadwayam” menjadi “Ini (bekas) dua kaki yang seperti Dewa Wisnu” sebagaimana dikutip Suwardono dari Prof. Poerbatjaraka sungguh tidak tepat dan tidak memiliki data artefak pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan. Kata Wishnu itu tidak bisa langsung diartikan Dewa Wishnu, apalagi dalam pengertian teologis. Akan lebih tepat jika diartikan “Ini dua telapak kaki bagaikan utusan dari langit”. Dalam istilah Sansekerta Wishnu berasal dari kata waishnawa yang artinya “yang diturunkan”. Pengertian Wishnu sebagai “yang diturunkan” itu memiliki makna sebagai utusan dari langit, yang beserta penyematan telapak kaki pada prasasti tersebut dan tradisi qurban sapi yang dilakukan sangat jelas menghubungkan Raja Purnawarman dengan tradisi Abrahamik.

Semua data di atas menyiratkan bahwa seharusnya melihat segala macam arca di Candi-candi di Nuswantara lahir dari tardisi Abrahamik,  bukanlah bagian unsur ritual pemujaan agama Hindu. Dalam Kisah Nabi-Nabi kita tahu bahwa peradaban arca sudah ada sejak zaman nabi Ibrahim dan ia menghancurkan banyak arca berhala, tetapi membiarkan arca yang terbesar sebagai media pendidikan. Dalam logika kebudayaan maka itu bisa dibaca bahwa dalam tradisi Abrahamik arca yang ada bukanlah bagian dari ritual pemujaan. Arca-arca itu bisa dilihat sebagai simbol kebudayaan dalam bentuk pendarmaan atau pemuliaan pada yang dihormati dalam bentuk dewa/dewi (bukan patung manusia) yang mewakili sifat tingkat kemanusiaan kedua dari sosok tersebut. Adanya pendarmaan para tokoh ini disebutkan dalam Pararaton dan kitab tersebut tidak menyebutkan sedikitpun adanya pemujaan para dewa dalam pendarmaan tersebut. Dalam logika Abrahamik pendarmaan itu tiada lain sebagai media kasogatan atau pendidikan.

Semua data di atas menyiratkan bahwa seharusnya melihat segala macam arca di Candi-candi di Nuswantara lahir dari tradisi Abrahamik
Semua data di atas menyiratkan bahwa seharusnya melihat segala macam arca di Candi-candi di Nuswantara lahir dari tradisi Abrahamik (Sumber gambar : klik disini)

Mendengar kata Dewa saya selalu terngiang ungkapan Anand Khrisna dalam diskusi dengan Kali Ma bahwa Dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semua frekuensi lebih tinggi, kata Anand Khrisna, disebut dewa. Bahkan konon di dalam kitab suci Wedha sendiri menjelaskan bahwa Dewa bukanlah Tuhan tetapi merupakan makhluk ciptaan. Karena itu berkaitan dengan konsep Dewa dalam budaya Jawa saya setuju apa yang disampaikan oleh Sinung Janutama berdasarkan penulisan istilah dalam huruf Jawa bahwa kata Hyang (transformasi dari ywang / wong / orang) atau Dewa (dwa / dva dan dwi / dvi) dalam epistemologi Jawa bukan Tuhan, tapi kualitas kemanusiaan kedua. Dengan pengertian tersebut dewa-dewa yang dihadirkan dalam pasugatan wayang kulit oleh Walisanga, dan juga arcanya yang ada di Candi-candi, bukanlah simbol pemujaan. Dalam kajian konsep pendarmaan maka simbol-simbol dewa di Candi tidak lain adalah sandi yang bisa dibaca sebagai nomenklatur untuk menyampaikan kedudukan atau identitas dari sosok yang “dimonumenkan” kepada generasi mendatang. Seperti misalnya arca Dewa Siwa secara nomeklatur bisa dibaca agar generasi kemudian memahami bahwa yang dimonumenkan itu adalah seorang Raja besar dan arca Dewa Wisnu secara nomeklatur bisa dibaca adalah petunjuk bahwa yang dimonumenkan itu adalah seorang keturunan utusan dari langit / Rasul (Ibrahim dan penerusnya).

Pengertian Dewa ini penting untuk dipahami dalam pembacaan kitab Nagara Krtagama khususnya berkaitan dengan arti Parwata Natha atau Giri Natha. Disebutkan bahwa penulisan kitab Nagara Krtagama ini, yang banyak dijadikan rujukan utama dalam memahami sejarah Majapahit, dipersembahkan kepada Parwata Natha atau Giri Natha. Oleh Prof. Kern dan DR TH Pigeaud, lalu dilanjutkan oleh Prof. Slamet Muljana dan Prof. Ketut Riana, Giri Natha ini diartikan sebagai Bhatara Guru yang tak lain adalah Dewa Siwa, suatu hal yang mengada-ada. Dalam pembahasan sebelumnya saya telah memastikan bahwa arti dari Parwata Natha atau Giri Natha itu tidak lain adalah Sunan Giri Prapen. Kitab Nagara Krtagama, yang banyak menjadi rujukan utama penulisan sejarah Majapahit, ditulis sebagai persembahan Mpu Prapanca (atau bisa dibaca Para Panyaca) kepada Sunan Giri atau Giri Natha. Maka membaca Nagara Krtagama, dan juga sejarah Majapahit, dengan cara Hindu adalah suatu kesalahan fatal.

Referensi:

  • Janutama, Herman Sinung. 2010. Kasultanan Majapahit Fakta Sejarah Yang Tersembunyi. Yogyakarta: LHKP
  • Lombard, Denys, 2005, Nusa Jawa Silang Budaya 3 (Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Munoz, Paul Michael, 2013. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Media Abadi.
  • Ramstedt, Martin. 2004. Introduction: negotiating identities – Indonesian ‘Hindus’between local, national, and global interests dalam Ramstedt, Martin, (Ed.). 2004. Hinduism In Modern Indonesia: A minority religion between local, national, and global interests, New York: Routledge Curzon.
  • Suwardono, 2013, Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha, Yogyakarta: Ombak.
  • https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/tag/jataka/
  • http://ketuhanan-hindu.blogspot.co.id/2013/11/intisari-bhagawad-gita_20.html
  • http://www.tatkala.co/2017/05/09/catatan-catatan-rabindranath-tagore-tentang-bali/

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...