Melahirkan Kader Muhammadiyah PEKA Yang IPM

Gambar Melahirkan Kader Muhammadiyah PEKA Yang IPM
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Dalam sebuah kesempatan berbicara di hadapan peserta Sekolah Advokasi yang diadakan oleh Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kota Yogyakarta, saya menyampaikan pentingnya kemunculan kader Muhammadiyah yang PEKA. Maksud PEKA tersebut bukan sekedar peka yang bermakna memiliki sensitivitas, namun merupakan singkatan dari Peduli, Enerjik, Kritis, dan Anti Anarkhis. Kata PEKA sebenarnya tercantum dalam tema kegiatan Sekolah Advokasi tersebut, namun panitia memanjangkan singkatan PEKA itu sebagai Peduli, Empati, Kritis, dan Anti Apatis.

Saya memandang kata Empati dan Anti Apatis memiliki kesamaan, atau setidaknya sedikit banyak bisa diwakili, dengan kata Peduli. Kata Enerjik saya masukan mewakili semangat pantang menyerah dan tak mudah putus asa, selalu bergerak dinamis untuk berkreasi. Adapun Anti Anarkhis sangat penting untuk dimasukkan sebagai idiom yang disematkan pada kader Muhammadiyah, disebabkan potensi kreatif manusia yang sangat mungkin terjebak pada penyaluran anarkhis. Lebih jauh lagi, sesungguhnya sifat Peduli, Enerjik, Kritis, dan Anarkhis tersebut saya pahami adalah sifat-sifat unggul yang tersirat dalam semangat Islam Berkemajuan sebagaimana yang diusung oleh Muhammadiyah selama ini.

Barangkali akan ada pembaca yang kritis bertanya dalam keputusan Muhammadiyah atau fatwa yang mana pemikiran tentang PEKA sebagai sifat-sifat unggul yang tersirat dalam semangat Islam Berkemajuan bisa ditemui. Juga pemikiran tentang akhlak IPM (Inspiratif, Penyantun, dan Makrifat), yang terkuak di akhir tulisan ini, mungkin akan ada yang mempertanyakan sumber keputusannya. Saya tegaskan sejak di awal ini, bahwa posisi tulisan ini adalah wacana yang terlontar untuk memperkaya berbagai dokumen yang telah ada di Muhammadiyah seperti misalnya Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Pentingnya wacana ini adalah untuk memberi kemudahan para kader  Muhammadiyah dalam memahami gagasan Islam Berkemajuan dan memprak­tikannya dalam kehidupan sehari-hari.

A. Kader Muhammadiyah PEKA

Empat sifat PEKA (Peduli, Enerjik, Kritis, dan Anti Anarkhis) sangat dibutuhkan untuk mengaktualkan Islam menjadi problem solver dari berbagai krisis kemanusiaan dewasa ini. Sebagai sebuah ajaran agung yang diturunkan Allah melalui Nabi SAW, Islam pada dasarnya berisi petunjuk-petunjuk bagi manusia untuk mengatasi berbagai problematika kemanusiaan yang dihadapinya. Adapun Islam yang berkemajuan, yang didalamnya ada empat sifat di atas, bisa dipahami sebagai ungkapan untuk menyebut sebuah model Islam yang selalu berusaha memberi solusi bagi berbagai problematika manusia.

Sebagai nilai yang terkandung dalam semangat Islam berkemajuan, sifat PEKA (Peduli, Enerjik, Kritis, dan Anti Anarkhis) sangat penting untuk ditanamkan kepada generasi muda. Sekolah advokasi atau berbagai aktivitas kepemudaan di Muhammadiyah perlu memberikan porsi yang besar untuk empat sifat tersebut guna menjaga semangat Islam Berkemajuan. Tentu saja materi-materi aqidah, fiqh dan siyasah, tidak boleh ditinggalkan. Justru secara bersamaan materi-materi aqidah, fiqh, dan siyasah itu bisa sekaligus untuk menanamkan empat sifat tersebut.

Sifat pertama, peduli. Sifat ini adalah perwujudan dari kesadaran bahwa keimanan seorang muslim memiliki konsekuensi sosial berupa kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya. Dalam mengajarkan surah al-Maa’uun KHA Dahlan menyuruh murid-muridnya mempraktikkan kepedulian itu dalam bentuk nyata. Surah Al-Maa’uun sendiri menjelaskan bahwa orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin adalah pendusta-pendusta agama. Itu artinya orang yang sungguh-sungguh beriman adalah mereka yang suka menyantuni anak yatim dan menganjurkan memberi makan orang-orang miskin.

Tentu saja kepedulian bukan hanya bermakna sosial ekonomi. Peduli, lekat dengan perha­tian pada suatu masalah. Kepedulian bermakna kemauan terlibat pada masalah orang lain, bukan untuk menambah rumit masalah, namun untuk memberikan solusi atau setidaknya ikut meringankan mereka-mereka yang menangung masalah. Nah, karena masalah itu tak melulu berkaitan dengan sosial ekonomi maka kepedulian tak selalu bermakna sosial ekonomi. Jika masalah yang ditemui adalah disebabkan oleh kurangnya pendidikan yang tertimpa masalah maka kepedulian itu berarti mendidik atau mengajarkan ilmu. Kalau masalah yang ditemui adalah diakibatkan adanya lingkungan hidup yang tidak sehat maka kepedulian bisa berarti suatu aksi nyata untuk mengubah lingkungan menjadi lebih sehat. Demikian pula kalau masalahnya adalah bengkoknya aqidah umat maka kepedulian berarti usaha untuk meluruskan aqidah umat.

Sifat kedua, enerjik. Seorang beriman itu pantang putus asa sebagaimana firman Allah melalui perkataan Ya’qub dalam QS. Yuusuf [12] ayat 87 yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Sifat putus asa hanya akan melemahkan, sedang sifat enerjik akan menguatkan. Sebab sifat enerjik ini sesungguhnya adalah buah dari sikap memelihara harapan (ar-rajaa’) yang terus tumbuh seiring dengan rasa optimis (tafaaul) dalam diri orang beriman. Adanya harapan dan optimisme itu dalam sifat enerjik tersebut membuat seorang yang beriman tak pernah berhenti untuk bertakwa, yaitu terus berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.

Sifat ketiga, kritis. Sifat kritis ini penting untuk mencermati dua hal, yaitu terhadap tradisi dan terhadap kabar berita. Tradisi atau kebiasaan, sangat perlu dikritisi. Seorang yang beriman seharusnya membiasakan yang benar dan bukan justru membenarkan yang biasa. Benar itu bukan karena banyak orang yang melakukannya. Tetapi sesuatu bisa disebut benar jika memang ada dalil-dalil  atau argumentasi yang dapat membenarkannya. Karena itu Allah dalam QS. Al-Maaidah [5] ayat 100 memerintahkan kepada Nabi SAW untuk mengatakan kepada manusia: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberun­tungan”. Demikian pula sifat kritis itu sangat penting terhadap kabar berita karena sangat mungkin berita itu sesungguhnya datang dari orang-orang fasiq yang ingin mengambil keuntungan dengan perbuatan yang merusak. Hal itu diingatkan Allah dalam QS. al-Hujuraat [49] ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Sifat kritis ini bermakna mampu memilah mana yang benar dan salah, tidak hanya melihat berdasarkan pencitraan semata. Aksi nyatanya bisa melalui tabayyun, yaitu proses penelitian yang baik, namun tak menutup kemungkinan melalui istikharah. Tabayyun yang dilakukan merupakan serangkaian usaha menemukan data-data yang valid dari sumber yang terpercaya disertai usaha merangkai data tersebut menjadi suatu kesimpulan yang bisa diyakini kebenarannya.

Sifat kempat, Anti Anarkhis. Orang yang beriman dengan keimanannya mereka berbuat baik untuk mengadakan perbaikan. Allah berfirman dalam QS. al-A’raaf [7] ayat 56 yang artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” Sikap anarkhis jelas bukan sifat-sifat orang yang beriman. Allah juga berfirman dalam QS. Shaad [38] ayat 28 yang artinya: “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat.

Kader Muhammadiyah, melalui Sekolah Advokasi maupun kegiatan-kegiatan lainnya, sudah seharusnya menanamkan sifat PEKA. Fenomena pancingan-pancingan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab agar sekolah-sekolah Muhammadiyah terlibat tawuran atau perkelahian pelajar tidak akan berpengaruh apa-apa jika sifat Anti Anarkhis telah tertanam dalam jiwa para kader Muhammadiyah. Mereka tidak mudah diprovokasi untuk terlibat perusakan dan kerusuhan karena memiliki sifat kritis. Justru mereka akan telibat dalam usaha-usaha mencegah terjadinya tawuran, perusakan,  dan kerusuhan, karena sifat peduli mereka. Tak jemu-jemu mereka menggerakkan aktivitas positif karena adanya sifat enerjik dalam diri mereka.

B. Akhlak Yang IPM

Dalam kesempatan yang sama dihadapan para peserta Sekolah Advokasi yang diadakan oleh Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kota Yogyakarta itu, saya sampaikan bahwa selain menanamkan sifat Peduli, Enerjik, Kritis, dan Anti Anarkhis, pembinaan kader Muhammadiyah seperti Sekolah Advokasi seperti itu harus memunculkan akhlak IPM pada para pesertanya. IPM di sini bukan singkatan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. IPM adalah singkatan dari Inspiratif, Penyantun, dan Makrifat, yaitu akhlak yang seharusnya dihasilkan oleh berbagai pembinaan kader Muhammadiyah.

Inspiratif, artinya setelah selesai menjalani pembinaan kader Muhammadiyah tersebut, pada kader Muhammadiyah harus selalu bisa memberi inspirasi bagi perbaikan-perba­ikan di lingkungannya. Akhlak inspiratif ini jauh dari sifat anarkhis, dan justru melahirkan ide-ide segar yang solutif. Ide-ide segar tersebut lahir dari sifat peduli dan kritis yang ditanamkan melalui berbagai kegiatan positif. Melalui ide-ide segar tersebut kader-kader Muhammadiyah tak jemu-jemu, bersifat enerjik, melakukan perbaikan lingkungan alam maupun lingkungan sosial.

Peduli, artinya melibatkan diri pada usaha-usaha meringankan beban orang lain. Akhlak kepedulian ini lahir dari peduli, sebagai sifat, dan sifat anti anarkhis. Adapun cara meringankan beban orang lain sebagai wujud dari akhlak penyantun ini bisa melalui tiga aksi penyantunan, yaitu: 1. (Sekedar) memberi; 2. Mendidik; dan 3. Memberdayakan.

Cara pertama penyantunan, yaitu dengan (sekedar) memberi, adalah cara paling gampang dan bisa dilakukan oleh siapa pun termasuk orang awam. Kuncinya adalah kemauan saja, memberi itu adalah kemauan membagikan apa yang kita miliki kepada orang yang kita anggap membutuhkan. Tentu saja selain kemauan harus juga ada yang diberikan, namun sebenarnya kita tak pernah kehabisan sesuatu yang bisa diberikan orang lain. Jika tak ada barang yang bisa kita berikan, cukup memberi senyuman penuh perhatian dan doa yang menguatkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu” (HR. Muslim)

Cara kedua penyantunan, yaitu dengan mendidik, berangkat dari kesadaran bahwa kebaikan berupa tindakan yang sekedar memberi kadang dirasa kurang tepat. Pandangan ini didasarkan atas kenyataan bahwa seringkali masalah yang muncul dalam diri manusia bukan karena mereka tidak punya, namun pola hidup mereka yang tak tepat sehingga timbul masalah. Pandangan ini sering menggunakan istilah beri kail dan jangan beri ikan. Dalam hal ini, mendidik adalah sebuah usaha untuk mengubah pola hidup orang-orang yang dididik agar dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi masalah-masalahnya. Tanpa pendidikan (atau pengetahuan) seringkali orang tidak bisa memanfaatkan kekayaan yang dimilikinya untuk mengatasi masalahnya. Sebagai contoh, penduduk yang memiliki lahan yang subur tidak akan bisa memanfaatkan kesuburan lahannya kalau dia tak dididik cara bercocok tanam dan mengetahui tanaman apa yang cocok di lahannya serta hasil yang bisa dijualnya.

Cara ketiga penyantunan, yaitu dengan memberdayakan, berangkat dari kesadaran bahwa seringkali persoalan yang timbul itu bukan karena faktor pribadi orang yang bermasalah tetapi karena faktor-faktor dari luar. Sebagai contoh seorang petani yang tetap miskin dan tidak bisa berkembang itu tidak mesti karena ia malas atau tak berpendidikan. Bisa jadi karena ada kekuatan di luar dirinya yang memain-mainkan harga pupuk, ketersediaan bibit unggul, atau pemasaran hasil pertanian. Contoh lain adalah persoalan tawuran pelajar di kota Yogyakarta, sangat mungkin tawuran itu bukan sekedar disebabkan darah panas anak-anak muda. Beberapa indikasi menunjukkan adanya provokasi pihak-pihak luar yang memantik tawuran itu. Entah provokasi itu bertujuan untuk menghancurkan citra Jogja sebagai kota pelajar atau ada motif lain, tentu butuh penelitian lebih lanjut.

Kunci pemberdayaan adalah penyadaran hak hidup dan berkembang sekelompok orang yang tidak boleh diambil oleh orang atau kelompok lain yang lebih berkuasa, baik kekuasan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Cara-cara pemberdayaan bisa berupa pengorganisasian, pelatihan advokasi menuntut hak, pembuatan jaringan kerja, dan pengembangan prosedur kerja alternatif. Tujuan pemberdayaan adalah penguatan orang atau kelompok untuk bisa mandiri atau berdikari.

Makrifat, menurut al-Gazali, ialah pengetahuan yang meyakinkan, yang hakiki, yang dibangun di atas dasar keyakinan yang sempurna (haqq al-yaqin). Ia tidak didapat lewat pengalaman inderawi, juga tidak lewat penalaran rasional, tetapi semata lewat kemurnian qalbu yang mendapat ilham atau limpahan nur dari Allah sebagai pengalaman ‘irfanii. Sebagai sebuah akhlak, makrifat bisa dirumuskan dengan perilaku yang lahir dari sudut pandang atau perspektif yang melihat setiap kejadian selalu memberi pelajaran atau manfaat. Salah satu doa mereka terekam dalam al-Qur’aan Surah Ali Imraan [3]: 191: Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baatila, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar (“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.).

Dengan demikian mereka yang berakhlak makrifat sadar bahwa selalu ada manfaat atau pelajaran dalam setiap kejadian yang dihadirkan Allah kepadanya. Artinya, mereka selalu mampu melihat manfaat dalam setiap kejadian yang dialaminya, atau minimal bisa mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian tersebut. Alhasil, mereka yang berakhlak makrifat ini semakin lama semakin tangguh karena bisa mengambil manfaat atau mengambil pelajaran dari seluruh kejadian yang dihadirkan Allah kepadanya itu.

Akhlak inspiratif, penyantun, dan makrifat, sungguh penting dimiliki oleh kader-kader Muhammadiyah. Jika kader-kader Muhammadiyah benar-benar bersifat PEKA dan berakhlak IPM, tentu saja tak akan ada yang perlu takut keberlangsungan gerakan Muhammadiyah. Mari kita tunggu kader-kader harapan Muhammadiyah itu, kader harapan bangsa, dan kader harapan umat.

Sifat peduli adalah perwujudan dari kesadaran bahwa keimanan seorang muslim memiliki konsekuensi sosial berupa kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya
Sifat peduli adalah perwujudan dari kesadaran bahwa keimanan seorang muslim memiliki konsekuensi sosial berupa kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2014 , dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...