Media Agitasi Justru Lewat Media Sosial Bukan Melalui Masjid.

Berikut wawancara Fuad Hasyim dari redaksi Majalah Mentari dengan Azman Latief selaku Ketua Takmir Majid Gedhe Kauman Yogyakarta seputar seruan dari Menteri Agama tentang politisasi Masjid.

Azman Latief (Ketua Takmir Majid Gedhe Kauman Yogyakarta)
Azman Latief (Ketua Takmir Majid Gedhe Kauman Yogyakarta)

Terkait dengan seruan Menteri Agama, apakah selama ini  memang telah muncul ajakan-ajakan agitatif dari tempat ibadah, khususnya masjid?

Saya yakin selama ini tidak pernah ada hal seperti itu, saya tidak tahu muncul seruan seperti itu yang menandakan bahwa selama ini terjadi agitasi dan lain sebagainya. Itu tidak beralasan seruan seperti itu. Tidak pernah ada pesan dari masjid yang mengajak disintegrasi bangsa. Justru dari masjid muncul pesan persatuan umat, kebinekaan. Saya yakin masjid tidak keluar dari konteks ajaran agama islam. Islam justru berpesan kepada perdamaian.

Apakah bapak melihat motif lain dari seruan menteri agama?

Itu hanya reaksi atas kekalahan calon gubernur yang didukung oleh pemerintah. Seruan itu reaktif dan spontan dan akan dilupakan begitu saja.

Dengan kejadian bom di Kampung melayu, apakah itu bisa menjadi pembenaran dari seruan Menteri Agama tersebut?

Saya yakin pembinaan orang seperti itu menjadi teroris tidak di masjid. Warga masjid itu beragam, kalau ada teroriss pasti sudah akan dilaporkan. Itu semua tidak dilakukan di masjid dan tidak akan pernah.

Apakah ada intervensi politis dari seruan menteri tersebut?

Saya kira memang politis dan sementara dan situasional karena terjadi pilkada yang penuh polemik dengan warna agama. Menteri akan malu sendiri dengan seruan itu dan tidak akan digubris.

Apakah seruan itu sasarannya adalah umat islam?

Iya sangat jelas karena dalam kaca mata mereka hasil pilkada DKI itu kental dengan nuansa keagamaan, kekalahan dianggap pada sisi lain oleh non muslim disebabkan oleh agitasi keagamaan di masjid, sehingga seruan tersebut ingin membebaskan dari kegiatan seperti itu. Padahal agama mengajarkan hal itu ada atau tidak ada pilkada.

Apakah pendapat bapak menafikan adanya para dai dari kalangan radikal?

Saya kira para takmir masjid sudah memiliki aturan dan standar. Masyarakat tidak mau diajak seperti itu. Media agitasi justru lewat media sosial. Bukan melalui masjid. Kita juga memiliki standar dalam memilih kriteria dai tertentu.

Bagaimana pesan bapak untuk para takmir masjid agar para dai tidak menyampaikan hal yang kontra produktif?

Saya kira standar pengelolaan masjid jelas, sejauh yang disampaikan berdasarkan al quran tidak akan masalah. Masalahnya adalah orang yang menangkap lain. Misal al quran menyatakan agama yang benar adalah islam sementara yang lain tidak. Sementara tafsir muncul beragam.

Bagaimana dengan adanya aparat yang melarang salah satu muballigh yang sering menyampaikan materi yang dipandang sebagai hasutan?

Aparat memang selalu curiga, biarkan saja karena tugasnya seperti itu, masyarakat tidak akan bodoh karena ada filter sendiri dengan tema- tema hasutan. Jadi seruan menteri tidak efektif dan salah sasaran karena masih ada persoalan lain yang lebih penting. Bagaimana masjid punya fasilitas yang lebih bagus.

Bagaimana respon masjid dengan seruan tersebut?

Seruan itu biasa tidak mengikat. Kalau tidak merasa yang sudah kita abaikan.

Bagaimana dengan rencana follow up sertifikasi muballigh?

Itu tidak jelas. Karena menjadi seorang dai bukan profesi yang berbeda dengan guru dan dosen. Sehingga tidak perlu sertifikasi. Ada juga sisi positifnya tetapi tergantung warna dari penguasa. Masalahnya adalah ide tersebut muncul bersamaan degan rasa rendah kepercayaan masyarakat terhadap institusi penguasa serta kriminalisasi ulama. Ide memang bagus kalau sesuai dengan konteks saat itu dikeluarkan.

Apakah peran mubaligh sangat besar terhadap tatanan masyarakat?

Sangat besar, pengaruh terbesar di masyarakat ada dua, pertama adalah  muballigh yang kedua adalah gali. Jadi masyarakat masih sangat mempertimbangkan kepemimpinan kultural. Ketika masyarakat menghadapi masalah larinya kepada para muballigh dan ulama. Hal yang sama pernah muncul pada saat orde baru waktu terjadi hubungan yang tidak baik antara pemerintah dan umat islam. Hal ini pernah disuarakan pada waktu itu. Ada semacam pembatasan ruang dan materi yang dapat disampaikan dipublik. Jadi bukan kali ini saja.

Bagaimana pengalaman masjid gedhe agar para dai berceramah yang konstruktif?

Kita tetap yakinn bahwa rel agama itu akan senantiasa sejalan dengan rel kebangsaan. Pemahaman kita kepada agama pasti dalam rangka membangun bangssa. Jadi kalau ada para muballigh yang seperti itu hanya oknum kecil saja.


Daftar Laporan Khusus “Pesan Ramah Di Tempat Ibadah”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait