McDonaldisasi dan Tantangan Dakwah Muhammadiyah

Gambar McDonaldisasi dan Tantangan Dakwah Muhammadiyah
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Problematika dakwah yang dihadapi Muhammadiyah semakin hari semakin penuh tantangan. Kemajuan zaman yang sedemikian cepat, mengharuskan para pimpinan dan kader Muhammadiyah terus mematangkan ide kemajuannya untuk menjawab tantangan dakwah yang semakin maju juga. Salah satu tantangan dakwah sekarang ini adalag apa yang kita sebut dengan fenomema McDonaldisasi.

1. Fenomena McDonaldsasi

Seorang sosiolog bernama George Ritzer mengenalkan fenomena yang disebut dengan McDonaldisasi merujuk pada menyebarnya restoran McDonald Amerika ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Pendekatan dasar McDonald diciptakan oleh dua bersaudara, Mac dan Dick McDonald, yang membuka restoran pertama mereka di pasadena California pada tahun 1037. Mereka mendasarkan restoran pada prinsip kecepatan tinggi, volume besar dan harga yang murah. Untuk menghindari kekacauan mereka menawari pelanggan dengan menu yang sangat terbatas. Bukan layanan personal dan teknik memasak tradisional, McDonald bersaudara menggunakan prosedur alur perakitan untuk memasak dan menyajikan makanan. Sebagai ganti koki yang terlatih, “menu yang terbatas membuat mereka menguraikan penyiapan makanan menjadi tugas yang sederhana dan berulang sehingga bisa dipelajari dengan cepat bahkan oleh mereka yang baru saja menapaki dapur komersial untuk pertama kali.” Mereka mengembangkan peraturan yang menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan dan bahkan apa yang seharusnya dikatakan oleh para pekerja.

Pada tahun 1961, Ray Kroc mengambil alih McDonald dan mengembangkan sesuai yang diinginkannya. Kroc mengawali serangkaian pengembangan yang kemudian semakin merasionalisasi bisnis makanan cepat saji. Prinsip-prinsip rasionalisasi itu menciptakan keseragaman tentang menu standar, porsi satu ukuran, harga yang sama, dan kualitas yang sama di setiap toko. Keseragaman ini membuat McDonald mampu membedakan dirinya dengan pesaingnya, yang makanannya umumnya tidak konsisten. McDonald juga memimpin bidang tersebut dengan menerapkan menu yang terbatas (awalnya 10 item), dengan standar yang ketat untuk jumlah kandungan lemak dalam hamburgernya, dengan mengubahnya menjadi hamburger beku dan kentang goreng beku, dengan memperkerjakan inspektur untuk mengecek keseragaman dan kesesuaian. Pusat pelatihan bisnis untuk mendukung penyeragaman itu didirikan pada tahun 1967 yang disebut Hamburger University dan menawarkan “gelar” Hamburgerologi. Sekarang ini hampir ratusan ribu manajer di restoran McDonald telah lulus dari Hamburger University yang menerima 5000 siswa setiap tahunnya. Dengan semua itu, orang akan merasakan sajian yang sama ketika makan hamburger di restoran McDonald Jakarta maupun di restoran McDonald Kuala Lumpur, Washington, Paris, Baghdad, dan di belahan dunia manapun.

Ritzer mencatat bahwa McDonalisasi bukan hanya fenomena penyebaran restoran cepat saji ke seluruh dunia, namun sebuah proses di mana berbagai prinsip restoran cepat saji hadir untuk mendominasi lebih banyak sektor kehidupan Amerika serta belahan dunia lain. Proses itu terdiri dari 4 dimensi, yaitu efisiensi, daya hitung, daya prediksi, dan kontrol. McDonalidisasi mewujudkan diri sebagai proses yang tidak terelakkan, mencakup institusi (misal agama) dan wilayah di dunia (misal negara-negara Eropa seperti Perancis) yang tampaknya tak tersentuh. Ritzer mencatat seribu tiga ratus delapan puluh gereja besar di Amerika memainkan peran utama dalam hal McDonaldisasi agama. Sebagai contoh gereja McLean Virginia berencana perluasan dengan membuka lokasi satelit (cabang) di sekitar lingkaran Washington. Jika mungkin ada beberapa variasi, beberapa tambahan dari satu satelit ke satu satelit (music live, pastor lokal), namun semuanya mendengar ceramah yang isinya tak jauh berbeda.

2. Mc Donaldisasi dalam Beragama

Beberapa area, selain sebagai model bisnis, Ritzer mencatat Mc Donadlisasi yang mendunia ini mempengaruhi beberapa area lain termasuk agama dan McDonaldisasi aqidah. McDonaldisasi bisa menjadi gejala dalam dakwah (agama dan aqidah) karena memang sifatnya yang bisa menyebarkan gaya hidup yang mendunia. Sifat McDonaldisasi ini berhubungan erat dengan globalisasi karena melibatkan proses yang tidah hanya menyebar ke seluruh Amerika, tapi juga mencakup seluruh dunia. Dalam McDonaldisasi dakwah disebarkan oleh rumah belajar atau pondok yang berfungsi seperti restoran cepat saji. Pondok-pondok McDonaldisasi tersebut mendapat support dari pusat jaringan yang bersifat internasional di negara asalnya berupa dana dan racikan yang siap saji materi keagamaan. Racikan tersebut berbentuk fatwa-fatwa ulama perseorangan dan bahasan mereka atas suatu kitab yang menjadi penopang materi standar yang diajarkan.

Untuk konsumsi umum, pondok-pondok McDonaldisasi menghasilkan produk dakwah yang mirip makanan cepat saji. Produk dakwah berupa sajian instan agama yang tinggal disantap saja tanpa orang perlu tahu lebih jauh proses penyajian yang seringkali memenggal al-Qur’an dan hadits sehingga lepas dari konteks sesungguhnya untuk mendukung standar yang disajikan. Orang dibuat merasa tak perlu membaca redaksi lengkap hadits yang diriwayatkan dalam kitab shahih bukhari misalnya, lebih-lebih lagi akan merasa tak perlu membaca kitab penjelasan (syarah) shahih bukhari, dalam memahami makna sebuah hadits. Menu cepat saji yang diproduk oleh pondok-pondok McDonaldisasi ini bisa berupa buletin, buku-buku praktis, dan tulisan-tulisan praktis yang tersebar di situs-situs internet. Sifat model produk dakwah cepat saji ini salah satunya adalah menciptakan keseragaman, bukan hanya dalam ibadah-ibadah madhloh saja tapi bahkan masuk dalam hal muamalah seperti masalah pengobatan dan cara berpakaian.

3. Dakwah Muhammadiyah

Dakwah berasal dari akar kata “da’a-yad’u-da’wata”, artinya “memanggil”, “menyeru”, dan “menjamu”. Yakni memanggil, menyeru, dan menjamu orang agar mau berada di jalan Allah menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Artinya, dakwah dalam pandangan
dan praksis apapun meniscayakan pendekatan, strategi, dan cara yang berproses secara terbuka dan timbal-balik, bukan yang tertutup dan monolitik. Dakwah itu harus cerdas-bijaksana (bil-hikmah), edukatif yang baik (wal al-mauidhat al-hasanah), dan dialogis yang unggul (wa jadil-hum bi-Iatiy hiya ahsan) sebagaimana dititahkan Allah (Qs. An-Nahl: 125).

Dakwah dalam pemahaman Muhammadiyah memiliki pengertian yang luas, yakni upaya untuk mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar memeluk dan mengamalkan ajaran Islam ke dalam kehidupan yang nyata sebagaimana tergambar dala konsep masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dakwah yang demikian tersebut dapat bermakna pembangunan kualitas sumber daya insani, pengentasan kemiskinan, mencerdaskan masyarakat. Juga, dapat berarti perluasan penyebaran rahmat Allah, seperti telah ditegaskan bahwa Islam merupakan rahmatan lil ‘alamin (PP Muhammadiyah, Dakwah Kultural Muhammadiyah Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2004, hlm. 20-21).

Muhammadiyah tentu saja perlu belajar kepada fenomena McDonaldisasi ini untuk bisa mengambil sisi-sisi baiknya, terutama bagaimana menyajikan materi keagamaan pada masyarakat yang “tidak punya banyak waktu” mempelajari agama lewat situs-situs internet. Tapi tentu saja dengan menghindari model menu cepat saji yang kurang baik bagi kesehatan beragama. Buku seperti HPT dan Tanya Jawab Agama yang lebih komprehensif mengulas berbagai persoalan umat karena tidak sekedar fatwa perseorangan melainkan melibatkan ulama tarjih dari beberapa bidang keilmuan yang berkaitan dengan yang ditanyakan, perlu dipromosikan dengan lebih baik. Selanjutnya bagaimana distribusi pemikiran keagamaan juga bisa tersosialisasi dengan baik.

Dalam sebuah kesempatan (alm.) Dr. H. Abd. Fattah Wibisono, MA, Ketua PP Muhammadiyah 2010 -2015, mengingatkan bahwa untuk kepentingan dakwah ke depan, di samping secara terus menerus mengoptimalkan aktivitas yang sudah ada, beberapa pilihan dapat dilakukan Muhammadiyah untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Pertama, melakukan revitalisasi keluarga sebagaimana ada dalam pesan Al-Qur’an surat al-Hasyr (66) ayat 7 yang menegaskan keharusan memelihara dan menjaga diri dan keluarga. Kedua, optimalisasi mesin persyarikatan dalam bentuk pemberdayaan ranting dan amal usaha secara maksimal sebagai media dakwah. Ketiga, pemanfaatan media elektronik dan teknologi informasi unuk dakwah Muhammadiyah. Keempat, memandang tempat keramaian seperti misalnya maal (pusat perbelanjaan) adalah sebagai obyek dakwah. Kelima, melakukan sinergi dengan berbagai majlis dan lembaga di lingkungan Muhammadiyah.

McDonaldisasi bisa menjadi gejala dalam dakwah karena memang sifatnya yang bisa menyebarkan gaya hidup yang mendunia
McDonaldisasi bisa menjadi gejala dalam dakwah karena memang sifatnya yang bisa menyebarkan gaya hidup yang mendunia (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait