Maunya Sih Sekolah di Muhammadiyah Tapi …..?

PENULIS Tri Khotimah Sholikhah (Guru SD Muh. Kleco, Ketua TP PKK)

Awalnya obrolan itu biasa-biasa saja terdengar di sekeliling saya. Namun ternyata banyak sekali cerita yang saya tampung menjadi sesuatu yang menarik untuk disajikan sebagai bahan pemikiran kita semua. Bukan sesuatu yang kebetulan, jika setiap menjelang akhir tahun pelajaran seperti sekarang ini, saya selalu menyisipkan isian dalam pertemuan PKK maupun pengajian ibu-ibu di kampung , tentang manfaat pendidikan agama bagi putra putri kita. Pendidikan agama yang bisa didapat dari sekolah-sekolah yang sudah ada. Saya mencontohkan sekolah Muhammadiyah sebagai alternative yang bisa diambil.

Dari tahun ke tahun ada saja yang terlontar dari para ibu anggota PKK maupun jamaah pengajian kami ini yang menyatakan bahwa mereka ingin menyekolahkan putra putri mereka di sekolah Muhammadiyah, dari mulai masuk TK, SD, bahkan melanjutkan ke sekolah lanjutan berikutnya. Namun masalah klise yang muncul, yaitu biaya yang tinggi dan bayangan-bayangan suram tentang sekolah swasta yang menjadikan keraguan muncul di benak mereka.

Diantara para ibu ini membandingkan dengan sekolah negeri yang tanpa biaya sedikitpun alias gratis. Sementara di sekolah Muhammadiyah, semakin besar sekolah itu semakin mahal biaya yang harus dibayar calon wali siswa. Sehingga ada sedikit kesan miring tentang keberadaan sekolah Muhammadiyah yang sepertinya sudah mulai melakukan bisnis pendidikan. Dalam pertemuan yang lain saya sempat tergelitik dengan pendapat seorang ibu yang ingin sekali menyekolahkan putranya di sekolah Muhammadiyah. Namun apa daya beliau adalah seorang lulusan SD dan sekarang aktifitasnya  berdagang di pasar. Artinya beliau yang termasuk aktif di kegiatan pengajian ini, seperti mengeluh jika harus menyekolahkan di sekolah Muhammadiyah yang berbiaya agak tinggi menurut beliau. Ada lagi, putra seorang ketua Aisyiyah harus menelan pil pahit saat tidak bisa diterima di Muhammadiyah karena biaya yang harus dibayarkan masih kurang.

Ingin sekali saya menjelaskan segamblang-gamblangnya tentang kendala yang mereka rasakan ketika ingin menyekolahkan ke sekolah Muhammadiyah tempat saya berjuang di dalamnya itu. Tentunya tidak sepenuhnya benar jika sekolah Muhammadiyah itu mahal. Karena mahal itu relative. Jika kita bisa menunjukkan rincian pembiayaan yang kita bebankan kepada calon wali siswa, dengan mencantumkan hal-hal apa saja yang nantinya akan diterima kembali oleh siswa setelah bersekolah di sekolah Muhammadiyah  secara proporsional, Insya Allah semua bisa memahami. Betapa sekolah swasta dalam hal ini sekolah Muhammadiyah harus berjuang menghidupi sekolah mereka dengan penuh pertimbangan. Saat sekolah muhammadiyah ini berada di lingkungan masyarakat kecil dengan penghasilan di bawah kecukupan, Tidak mungkinlah kita membebankan standar biaya yang melambung tinggi, sebesar dan selengkap apapun fasilitas sekolah itu.

Alangkah lucunya, jika sekolah Muhammadiyah bisa berdiri megah di tengah-tengah masyarakatnya, namun sedikit sekali putra-putri warganya yang bersekolah di sekolah itu. Artinya, alangkah bijaksananya jika ada dispensasi khusus terutama dalam pembiayaan bagi warga yang bertempat tinggal di sekitar sekolah. Sehingga tidak ada lagi keluhan bagi orang tua yang ingin menyekolahkan putranya di sekolah Muhammadiyah di sekitar tempat tinggal mereka. Jika seperti itu keadaannya, maka tidak akan terjadi sekolah Muhammadiyah yang satu siswanya berlebih jumlahnya, sementara sekolah Muhammadiyah lainnya tidak ada peminatnya.

Pemberdayaan dan pemerataan bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah sepertinya harus mulai dilakukan. Sehingga di setiap ranting pengajian bisa dipromosikan sekolah Muhammadiyah yang terdekat. Jika semua ranting bergerak, dengan meyakinkan jamaah pengajiannya, maka dimanapun sekolah Muhammadiyah itu berada insya Allah akan menjadi tujuan para orang tua untuk menyekolahkan putra putrinya. Tentunya hal ini membutuhkan kerja sama yang manis dari Majlis dikdasmen khususnya di masing-masing cabang hingga daerah.

Jika perlu, memberikan fasilitas yang standar bagi sekolah Muhammadiyah dimanapun tempatnya. Hal ini bisa menjadi unggulan bagi sekolah Muhammadiyah pada umumnya. Kenyataan yang terjadi adalah masing-masing sekolah Muhammadiyah saling bersaing habis-habisan mencari calon siswa sebanyak-banyaknya. Jika sudah banyak mendapatkan siswa, lalu mencari yang inputnya berkualitas, sehingga harapannya bisa mendongkrak nama sekolah menjadi sekolah yang hebat karena bisa menghasilkan siswa yang berkualitas. Lalu apa yang dirasakan masyarakat kecil terutama di sekitar kita? “Tidak mungkin lah kita bisa menyekolahkan anak kita ke sana, di sana hanya untuk yang koceknya tebal”. Demikian yang sungguh-sungguh saya dengar.

Memang, kualitas itu tidak mungkin gratis. Namun bagaimana kita bisa meyakinkan kepada masyarakat luas, bahwa sekolah di sekolah Muhammadiyah manapun akan menghasilkan siswa yang berkualitas yang bisa terukur, baik kognitif, afektif maupun psikomotornya. Membuat sebuah  target minimal pencapaian bagi lulusan sekolah Muhammadiyah akan  meyakinkan  para orang tua bahwa sekolah di sekolah muhammadiyah menjadi sebuah pilihan nomor satu. Dengan harapan dapat mencapai kualitas out put seperti yang diharapkan, dengan berkeyakinan biaya yang dikeluarkan merupakan sebuah amal jariyah mereka.

Ada kalanya sekolah Muhammadiyah saling menjatuhkan, dalam arti kata tidak saling  mendukung dalam hal pemerataan jumlah siswa yang diterima. Alangkah indahnya jika kuota yang ditentukan sudah terpenuhi, maka diarahkan ke sekolah Muhammadiyah yang lain dengan tidak membanding bandingkan antar sekolah Muhammadiyah satu dengan sekolah Muhammadiyah yang lain.

Lalu mengapa masalah biaya menjadi kendala? Kemungkinan karena masing-masing sekolah Muhammadiyah saling melengkapi fasilitas yang akan diberikan ke siswanya. Maka otomatis biaya yang dibutuhkan semakin hari semakin membengkak, karena tidak ada standar maksimal untuk sekolah. Sehingga semakin lengkap fasilitas, maka semakin banyak siswa yang akan bersekolah di sekolah tersebut. Lalu bagaimana dengan sekolah Muhammadiyah di tengah kampung yang sedikit peminatnya? Adakah semakin hari akan semakin terlibas dengan adanya sekolah Muhammadiyah besar yang letaknya sangat jauh, dan keberadaan sekolah negeri yang gratis dengan BOS nya?

Sekali lagi, maka peran ranting sangatlah besar dalam hal ini. Unit organisasi yang terbawah ini jika konsisten menghimbau pada para jamaahnya untuk berbondong-bondong bersekolah di sekolah Muhammadiyah di sekitar mereka, maka insya Allah tidak akan ada sekolah Muhammadiyah yang kekurangan siswa. Pemberian dispensasi bagi warga sekitar, juga bagi  putra putri para aktifis organisasi, terbukti berpengaruh terhadap hubungan harmonis sekolah dan masyarakat. Tentunya sumberdaya guru dan fasilitas sekolah ada standar minimal dan maksimalnya, sehingga subsidi silang antar sekolah Muhammadiyah dirasa perlu dilakukan demi pemerataan kualitas sekolah Muhammadiyah.

Kembali lagi, setiap jamaah Muhammadiyah, terutama para ibu seperti saya, sebisa mungkin berkiprah di sekitar tempat tinggal mereka dengan menyampaikan sebanyak-banyaknya tentang manfaat bersekolah di amal usaha Muhammadiyah. Karena ibu termasuk seorang penentu putra putrinya nanti akan bersekolah di mana. Melalui berbagai wahana,, bisa jadi ‘Aisyiyah, pertemuan PKK dari tingkat desa hingga dasa wisma, atau melalui pengajian-pengajian rutin lainnya. Dengan demikian tidak akan terdengar lagi keragu raguan dari masyarakat ketika ingin menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah Muhammadiyah.

siswa SMP Muh 10 Yogya
Sebagian siswa SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2012, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Maunya Sih Sekolah di Muhammadiyah Tapi …..?
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...