Masjid Yang Harusnya Kita Bongkar, Sebuah Telaah Kontekstual atas Fenomena Masjid Dhirar

Gambar Masjid Yang Harusnya Kita Bongkar, Sebuah Telaah Kontekstual atas Fenomena Masjid Dhirar
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu melaksanakan shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sungguh, mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih pantas kamu melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. at-Taubah [9]: 107-110)

Sesungguhnya Islam tidak mengenal benturan peradaban. Proses pembentukan peradaban bukanlah hasil perbenturan sebagaimana prinsi Darwinisme Ilmu Sosial. Dalam Islam, sebuah peradaban dipandang lahur dari proses dialog antar-peradaban yang mendewasakan sebagaimana firman Allah yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kami dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (QS. Al-Hujuraat [49]: 13).

Namun, benturan peradaban bisa saja terjadi jika ada kepentingan di luar Islam yang memancing terjadinya benturan. Dalam kasus seperti itu, umat Islam diperbolehkan berperang untuk “sekedar” mempertahankan diri. Hal itu pernah beberapa kali terjadi dalam sejarah Islam pada masa kehidupan Rasulullah.

Menurut Hamka dalam kitab tafsirnya, turunnya ayat 107 hingga 110 surah at-Taubah, waktunya hampir bersamaan dengan gerakan tiga puluh ribu tentara Islam di bawah pimpinan Nabi  Muhammad SAW menuju Tabuk hendak menghadang tentara Romawi. Dari para “intel” diketahui bahwa Romawi telah bersiap-siap dengan tentara besar hendak menyerang Madinah. Penyerangan Romawi iru sendiri lebih didasarkan “asumsi” bahwa munculnya peradaban baru di Madinah bisa menimbulkan ancaman keamanan bagi kekuasaan Romawi. Asumsi itu sengaja dihembuskan oleh sekelompok orang yang sejak awal menginginkan terjadinya benturan peradaban.

Adapun sekelompok orang yang merancang skenario benturan peradaban itu dipimpin oleh Abu ‘Amir ar-Rahib. Ia adalah penduduk asli Madinah berasal dari kabilah Khazraj yang sudah lama berhubungan erat dengan penguasa Romawi. Sejak lama ia memang tidak suka dengan Islam—barangkali karena dianggapnya ajaran itu merupakan budaya rendah sebab lahir di kalangan “jahiliyah”, berbeda dengan tradisi Romawi yang dianggapnya adiluhung—meski Islam menjadi kekuatan yang faktual yang ada di masyarakat Madinah. Dari situ bisa dilihat bahwa peran yang diambil oleh Abu ‘Amir adalah perang politik yang biasa disebut komparador. Dalam sikapnya ia tidak tengah berperan sebagai tokoh adat dan tidak pula sebagai seorang agamawan.

Abu ‘Amir berharap agar kaumnya sudi menerima konsep budaya dan kekuasaan Romawi, bahkan rela jika nantinya Madinah akan dijadikan salah satu daerah jajahan imperium Romawi. Ia jelas-jelas menolak model peradaban baru sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.  Ia ingin kejayaan Romawi dan sekaligus menginginkan kehancuran kebudayaan Muhammad.

Namun sungguh sakit hatinya karena ternyata keinginannya tidak terpenuhi. Kenyataannya para pejuang peradaban baru semakin kuat di Madinah, dan bahkan dalam perang Badar mereka justru memperoleh kemenangan gilang gemilang. Maka dengan hati yang sakit,. Abu ‘Amir keluar dari Madinah secara sembunyi-sembunyi menuju Mekkah—pusat kekuatan musuh para pengikut Muhammad. Di sana, ia menghasut orang-orang Mekkah untuk segera menuntut balas kekalahan di Badar. Hingga akhirnya, Perang Uhud pun terjadi juga. Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak jika dibandingkan di saat Perang Badar, orang-orang Mekkah menyerang Madinah.

Penyerangan Madinah oleh orang-orang Mekkah di mata Abu ‘Amir tentu bukan untuk menguatkan peradaban jahiliyah orang-orang Mekkah di Madinah. Ketika Abu ‘Amir ikut barisan pasukan orang-orang Mekkah, ia tidak mewakili semangat pembelaan adat-istiadat Mekkah. Dukungan kepada Mekkah dalam kepala orang seperti Abu ‘Amir pasti hanyalah dalam rangka pelemahan kekuatan anti-imperium Romawi.

Menurut Ibnu Katsir, Abu ‘Amir-lah yang menggali lubang-lubang perangkap ketika orang-orang Mekkah menyerang Madinah pada Perang Uhud. Dalam salah satu lubang itulah, Nabi Muhammad SAW pada perang itu terjerembab dan nyaris dibunuh oleh pasukan Mekkah. Syukur beliau selamat meski dengan penuh luka-luka. Sampai-sampai, salah satu gigi beliau patah.

Dalam Perang Uhud, peran Abu ‘Amir ternyata tidak hanya membuat lubang-lubang jebakan. Di tengah kecamuk Perang Uhud, ia mendatangi suku Khahraj dan membujuk mereka agar mau membelot dari pasukan pejuang peradaban baru. Namun usahanya sia-sia. Semua orang yang didatanginya justru malah mengutuknya. Ia pun putus asa sehingga tanpa sadar berkata, “Demi Allah, kaumku telah berubah sejak aku tinggalkan!”

Menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, setelah usahanya memadamkan semangat pembentukan peradaban baru menggunakan orang-orang Mekkah gagal maka ia segera pergi menghadap Kaisar Romawi. Kedatangannya menghadap Kaisar itu tak lain adalah untuk meminta bantuan guna menghancurkan kekuatan baru yang tengah tumbuh . Lama ia mendekati Kaisar agar usulnya diterima, akhirnya ia mendapatkan berita yang melegakan. Kaisar Romawi memberinya harapan bahwa suatu waktu Madinah pasti akan diserang.

Sesungguhnya pengaruh Abu ‘Amir pada sukunya tidak hilang betul. Masih ada beberapa dari kalangan Anshar (terutama dari suku Khazraj) yang menjadi pegikutnya dan selalu berkomunikasi dengannya. Secara lahiriah pengikut Abu ‘Amir tetap tampak sebagai seorang pendukung peradaban baru. Namun dalam hati mereka masih berharap mendapat anugerah dari kebesaran peradaban Romawi. Karena itu mereka menunggu kabat dari ‘Abu Amir tentang perkembangan gerakannya.

Maka ketika Kaisar Romawi memberi harapan, tanpa membuang waktu lama Abu ‘Amir segera mengirimkan berita pada para pengikutnya. Dia menjanjikan bahwa suatu waktu tentara Romawi dengan kekuatan yang besar akan membebaskan Madinah dari cengkeraman Muhammad. Dan untuk menyiapkannya ia menganjurkan supaya para pengikutnya mendirikan suatu tempat berkumpul, yang di sana mereka dapat menerima kurirnya kalau dia mengirimkan berita. Tempat itu juga dirancang untuk bisa digunakan mengintip dan memperhatikan gerak-gerik Nabi dan para pengikutnya kalau kelak Abu ‘Amir dating ke Madinah.

Menurut Ibnu Katsir, itulah sebabnya para pengikut Abu ‘Amir mendirikan sebuah masjid tidak seberapa jauh dari masjid Quba—masjid yang pertama kali didirikan Nabi. Masjid bikinan pengikut Abu ‘Amir itu selesai didirikan tatkala Nabi hendak berangkat ke Tabuk. Tiba-tiba datang seorang Anshar yang sesungguhnya adalah pengikut Abu ‘Amir menghadap Nabi memohon beliau untuk mau sekali-kali shalat di masjid itu. Permohonan itu menyimpan maksud tersembunyi untuk menunjukkan pada khalayak bahwa Nabi Muhammad menyukai pendirian masjid tersebut. Dan dalam kesempatan itu Nabi tidak menolak permohonan itu, hanya karena beliau hendak berangkat ke Tabuk belum bisa memenuhinya. Insya Allah, sepulang dari Tabuk akan dipertimbangkan lagi permohonan itu.

Masjid itu menurut para pengikut Abu ‘Amir sebagaimana dikemukakan kepada Nabi Muhammad SAW adalah untuk orang-orang lemah dan sakit atau yang tidak bisa keluar malam di musim dingin. Namun semua itu sesungguhnya hanyalah kamuflase saja. Masjid yang di-imej-kan lahir dari swadaya masyarakat Khazraj tersebut tidak lain adalah pelayan dari kekuatan imperium Romawi. Meskipun bentuknya masjid, tapi landasan pendiriannya bukan karena ketakwaan. Karena itu, tidak mungkin mereka benar-benar memperhatikan nasib orang-orang lemah dan sakit atau yang yang tidak bisa keluar malam di waktu dingin. Sebab, sejak awal masjid swadaya masyarakat Khazraj tersebut tidak didesain untuk itu.

Menurut Ibnu Katsir, setelah beberapa hari pulang dari Tabuk, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu bahwa masjid yang beliau dimintai untuk “meresmikannya” itu ialah masjid dhirar (artinya: membahayakan), yaitu membahayakan bagi kaum muslimin, Pendiriannya dengan maksud jahat, bukan atas dasar iman. Tujuan sebenarnya adalah untuk memecah belah (tafriq) dan tenpat mengintip-intip (irshad) gerak-gerik Nabi.

Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari tafriq adalah memecah belah kaum muslimin yang sebelumnya bersatu (di Masjid Quba). Sejak awal kaum muslimin telah dipersatukan Nabi dengan pendirian masjid (Quba) yang persatuan itu dilandasi dengan takwa. Persatuan itulah yang ingin dihancurkan oleh Abu ‘Amir dan antek-anteknya dengan pendirian Masjid baru.

Sejak awal kaum muslimin telah dipersatukan Nabi dengan pendirian masjid (Quba) yang persatuan itu dilandasi dengan takwa
Sejak awal kaum muslimin telah dipersatukan Nabi dengan pendirian masjid (Quba) yang persatuan itu dilandasi dengan takwa (Sumber gambar : klik disini)

Dalam telaah kontekstual, membaca ayat di depan tadi ada baiknya kita sama-sama berkaca diri dan tak perlu banyak menunjuk-nunjuk orang lain. Karena jangan-jangan semua bangunan yang telah kita bikin, baik masjid, jamaah ahlus sunnah, universitas, padepokan, pesantren, partai politik, jaringan intelektual, lembaga swadaya masyarakat, adalah nama lain dari masjid dhirar.

Ada dua kata kunci yang melekat dari masjid dhirar, yaitu tafriq (memecah belah) dan irshad (memata-matai). Karena itu mari kita telisik semua apa yang kita buat, apakah memiliki kaitan dengan dua hal itu atau tidak.  Demikian juga segala penelitian, karya tulis, dan pewacanaan yang kita buat, apakah memiliki kaitan dengan tafriq dan irshad atau tidak. Juga segala aksi-aksi yang kita buat, memiliki mauatn tafriq dan irshad atau tidak. Mari kita cermati, dan jika memang kita temukan keterkaitan semua itu dengan pemecahbelahaan dan memata-matai maka segera kita bongkar, dan kita rujukkan kembali dengan dasar dan tujuan takwa sebagai pengabdian total kepada Allah.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait