Manajemen Pendidikan Berbasis Mutu Terpadu

Gambar Manajemen Pendidikan Berbasis Mutu Terpadu
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Setiap kata pembangunan diungkap, maka akan selalu muncul dua kata yaitu “taraf hidup”. Untuk menuju ke tingkat taraf hidup yang sebenarnya diperlukan jalan industrialisasi. Apabila kita berbicara tentang industrialisasi, maka yang ada dalam benak kita, bukan hanya mengumbar sejuta teori, melafa­lkan bicara, menyadur pendapat sang ahli secara membabi buta, namun yang diper­lukan adalah penerapan teori yang diwujudkan dalam tingkah nyata (pendidikan).

Industrialisasi merupakan batu pijakan berikut setelah masa agraris. Yang semula dikerjakan dengan mengandalkan kekuatan otot, maka era industrialisasi diderapkan dengan segenap mesin. Kehandalan otot menjadi memudar, sebaliknya mengandalkan otak menjadi kewajiban. Masyarakat yang masuk dalam pusaran industrialisasi berarti ia telah terjun dalam ritme yang telah diatur oleh kecanggihan mesin. Masyarakat yang masuk dalam lingkaran alur mesin, dapat terjerembab manakala tidak melakukan persiapan sedari awal. Namun ada kalanya sebagian masyarakat justru mampu mengendalikan putaran indus­trialisasi, karena mereka telah memper­siapkan diri dengan sepenuh tenaga dan kemampuan.

Masyarakat yang mampu mengelola peralihan jaman inilah yang mampu merekayasa dan mengidentifikasi masa­lah secara tepat dan cepat. Masyarakat inilah yang kita inginkan bersama, agar cita-cita luhur dapat mengenai sasaran. Bidang pendidikan sangat berperan dalam mengantarkan pergeseran dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri.

Majalah Tempo dalam laporan edisi khusus 10 – 16 Desember 2012 memetakan bahwa ada pergeseran paradigma belajar abad 21. Lihat tabel berikut:

Ciri Abad 21 Model Pembelajaran
Informasi (tersedia dimana saja, kapan saja) Pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberitahu
Komputasi (lebih cepat memakai mesin) Pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya) bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab)
Otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin) Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis (pengambilan keputusan) bukan berfikir mekanistis (rutin)
Komunikasi (dari mana saja, ke mana saja) Pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah

Pendidikan bukan hanya sebagai alat untuk mengembangkan perilaku masya­rakat, dan bukan hanya sebagai penopang dalam meraih budaya industri, namun pendidikan bisa juga sebagai alat pem­beda dalam persaingan. Globalisasi yang ditandai dengan perkembangan tekno­logi, semakin manancapkan kukunya bagi setiap bangsa yang berperan dalam arus globalisasi. Artinya, bahwa globalisasi mensyaratkan mutlak tentang penyiapan sumber daya manusia.

Oleh karenanya melalui pendidikan, ada beberapa hal yang akan diperoleh, diantaranya selalu eksis dalam arus globalisasi, tidak menjadi kelas terjajah, namun pendidikan dapat pula sebagai sumber energi untuk memperoleh mutu. Jadi, sumber daya manusia yang disiap­kan tak hanya berjalan seiring dengan Negara lain, tapi SDM sebagai pembangkit untuk memperoleh mutu. Persoalan yang timbul adalah:

  1. Apa kriteria yang harus dipenuhi dalam memperoleh mutu terpadu?
  2. Model pendidikan yang bagaimana supaya mencapai tataran bermutu?
Pendidikan bukan hanya sebagai alat untuk mengembangkan perilaku masya­rakat, dan bukan hanya sebagai penopang dalam meraih budaya industri
Pendidikan bukan hanya sebagai alat untuk mengembangkan perilaku masya­rakat, dan bukan hanya sebagai penopang dalam meraih budaya industri

Kriteria Mutu Terpadu

Mutu terpadu tidak muncul sekali dan seketika. Sekali muncul dan hilang. Mutu hanya dapat diperoleh dengan jalan terus menerus sehingga orang lain dapat memperoleh manfaat secara berkesinambungan. Ingat! Modern saat ini, menit berikutnya tidak bisa dikatakan modern lagi. Inovasi adalah kata kunci.

Dengan melakukan gerakan inovasi, mutu akan terus terjaga. Beberapa produk nasional atau multi nasional bisa terkapar, ketika kompetitor hadir dengan mengusung kebutuhan konsumen. Tidak sedikit perusahaan kelas wahid bisa bertahan karena mereka selalu berino­vasi.

Taktik dan strategi yang dapat dikembangkan dalam dunia pendidikan adalah, institusi yang bisa menempatkan diri sebagai kelembagaan dengan pondasi jasa. Atau kata lain sebagai industri jasa.

Karakteristik manajemen mutu meli­puti:

  1. Melibatkan agen dan pelanggan
  2. Bertujuan untuk perbaikan terus menerus
  3. Concern terhadap produk dan proses
  4. Bertanggungjawab terhadap seluruh pekerja
  5. Disampaikan melalui teamwork

Model Pendidikan Bermutu Terpadu

Di lingkungan pendidikan, semua unsur yang ada dalam sekolah memiliki tanggung jawab yang sama untuk meraih tingkat mutu terpadu. Kepala Sekolah, komite, guru, karyawan, orang tua dan lingkungan. Manakala menafikan salah satu unsur tersebut, jangan pernah ber­harap mutu hinggap dalam pendidikan.

Dahulu, Manajemen Berbasis Seko­lah (MBS) menjadi idola dalam kalan pendidik maupun pemerhati pendidikan. MBS lahir karena tuntutan otonomi daerah. Seiring dengan perjalanan waktu, MBS akan terkubur tanpa pernah kita melayat. Meskipun dalam Sistim Pendi­dikan Nasional pasal 51 masih tercantum.

Model saat ini dan yang akan datang merujuk pada sifat-sifat abad 21, yaitu informasi, komunikasi, otomasi dan komunikasi. Lembaga pendidikan yang mampu meraih, mengelola dan menge­mas keempat ciri tersebut, maka dapat ditasbihkan sebagai model pendidikan yang bermutu terpadu.

Model pendidikan masa depan

Founding Fathers Negara ini adalah mereka yang mengenyam perjuangan mengusir penjajah. Mereka memiliki nasionalisme, patriotisme yang kuat. Dasar-dasar Negara ini lahir dari tangan mereka. Disusul generasi berikutnya yaitu mereka yang memiliki intelek­tualisme dan urbanisme. Mereka lahir untuk menjabarkan dasar-dasar Negara dalam bentuk pembangunan nasional. Jejak mereka dapat dideteksi hingga menjelang tahun 2000 an.

Tahun 2000 hingga 2015, lahir generasi yang inlelektual kreatif, indus­trialisasi, globalisasi. Karya cipta mereka dapat dinikmati saat ini. 20 tahun mendatang, karya mereka sudah usang. Diganti dengan karya yang inovatif, mengedepankan moral dan menjunjung tinggi kesenian.

Seperti pada paparan di depan, inovasi menjadi kata kunci dalam bentuk apapun. Teknologi, sosial dan juga budaya. Inovasi merupakan langkah yang dapat menimbulkan motivasi. Moral menjadi pijakan dalam setiap mengambil keputusan. Sehingga humanis bukanlah kata-kata, namun realistik. Kesenian bukan menjadi barang murahan. Kese­nian dapat menjadi jembatan antara kekuatan intelektual dan moralitas.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari terbitan MPI PDM Kota Yogyakarta No. 09 tahun ke – 10, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaKomunikasi Organisasi
Artikel BerikutnyaMengembangkan karir pribadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait